
Setelah kejadian memalukan yang dialami oleh Viola, Daniel dan Disty memutuskan untuk pergi dari rumah Raja.
Mereka berpamitan setelah Viola selesai mengisi perutnya dengan sedikit godaan yang dilayangkan oleh Daniel dan juga Disty.
Selepas kepergian Daniel, Raja dan yang lainnya kembali berkumpul diruang keluarga. Viola yang hendak kembali ke kamar dicegah oleh Mama Vivi karna dia ingin membicarakan sesuatu pada wanita itu.
"lebih baik kau menjaga jarak dari Disty, Viola. Wanita itu sama bahayanya dengan Ayahnya!" ucap Mama Vivi, terlihat jelas sorot kebencian dimata wanita paruh baya itu.
"aku sudah menjaga jarak kok Ma, bila perlu besok aku akan memakai masker dan mencuci tangan sampai bersih!" balas Viola membuat Alea dan Raja menahan tawa mereka saat mendengar apa yang dia ucapkan.
"kau pikir dia itu sejenis virus!" cibir Mama Vivi, wanita paruh baya itu lalu tertawa karna ucapan menantu keduanya itu.
"dia itu gadis yang licik, jika suatu saat nanti kau bertemu dengannya. Abaikan saja dan tolak apapun yang dia inginkan!" Raja juga memperingatkan Viola bahwa Disty adalah gadis yang sangat berbahaya.
Viola hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi apa yanh Raja ucapkan, kemudian dia berlalu pamit ke kamar untuk kembali istirahat karna memang tubuhnya terasa sangat lelah.
Raja yang melihat kepergian Viola ikut beranjak bangun dan berniat mengikuti wanita itu. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar panggilan dari Alea.
"apa kau bisa menemaniku belanja, honey?" tanya Alea, tetapi pertanyaannya itu lebih tepat untuk disebut dengan ajakan.
Raja yang awalnya ingin menolak ajakan Alea mengurungkan niatnya saat melihat tatapan wanita itu, dia lalu menganggukkan kepalanya dan berjalan kearah mobil sembari menyambar kunci mobilnya yang terletak di atas meja.
Senyum Alea merekah saat Raja bersedia untuk mengantarnya, dia lalu berjalan cepat kearah kamar untuk mengambil tas dan sedikit berdandan agar penampilannya terlihat semakin cantik.
Namun, pada saat melewati kamar Viola. Alea merasa bersalah pada wanita itu karna tidak sengaja menepis tangannya, dia yang berniat untuk mengetuk pintu kamar Viola mengurungkan niatnya saat teringat dengan suara-suara yang membuatnya menjadi emosi.
Sementara itu, Viola yang sedang berbaring di atas tempat tidur berdecak kesal saat mendengar dering ponselnya.
Dia bergegas bangun dan mengambil ponsel itu. "halo, Dokter?"
"bagaimana kabarmu, Viola?" tanya Rangga dari sebrang telpon, ternyata dialah manusia yang mengganggu ketentraman hidup Viola.
__ADS_1
"aku baik, Dokter. Bagaimana dengan Vedri?" tanya balik Viola, sudah cukup lama dia tidak bisa melihat sang Adik.
"apa tidak bisa Vi, kau bertanya tentang kabarku dulu?" suara Rangga terdengar sangat kesal karna sikap Viola yang tidak pernah berubah padanya, sementara Viola terkekeh pelan karna mendengar suara kesal lelaki itu.
"kabar anda sendiri bagaimana, Dokter? gimana, puas?" tanya Viola dengan tidak ikhlas, kali ini giliran Rangga yang tertawa lebar karna ulah wanita yang dia sukai.
"sudahlah! susah memang kalau bicara dengan perempuan macam kau gitu," balas Rangga.
Setelah saling bertukar kabar dan berbincang ria, Rangga kemudian mengatakan maksud dari telponnya kali ini membuat Viola seidkit khawatir.
Dia takut kalau kondisi sang Adik kembali turun walaupun selama dirawat diluar negeri, kondisi Vedri perlahan mulai membaik dan siap untuk menjalani operasi.
"3 hari lagi, pihak rumah sakit akan melakukan operasi pada Vedri,"
"O-operasi? apa, apa aku tidak salah dengar?" Tangan Viola bergetar saat mendengar apa yang Rangga ucapkan, matanya bahkan sudah berkaca-kaca dan merasa tidak percaya dengan ucapan Dokter itu.
"benar, Viola! Aku harap kau segera datang ke sini untuk melihat langsung bagaimana kondisi Vedri," jawab Rangga kemudian.
Viola benar-benar merasa sangat bahagia atas kabar yang dibawa oleh Rangga, dia bahkan mengucapkan banyak terima kasih pada Dokter itu karna sudah merawat sang Adik dengan baik.
"ada apa, Sayang? kenapa kau menangis?" tanya Mama Vivi saat melihat air mata yang terus mengalir membasahi wajah Viola.
Viola yang mendengar pertanyaan Mertuanya langsung menghamburkan diri ke tubuh Mama Vivi dan memeluk wanita paruh baya itu dengan erat membuat Mama Vivi diselimuti oleh kebingungan.
"terima kasih, Ma! terima kasih," ucap Viola dengan sesenggukan, dia benar-benar merasa berhutang budi pada kebaikan Mama Vivi.
Mama Vivi yang tidak mengerti akan maksud ucapan terima kasih Viola langsung mencecar wanita itu dengan berbagai macam pertanyaan, membuat Viola menceritakan tentang kondisi Vedri padanya.
"ini kabar yang sangat baik, Mama senang memdengar kondisi adikmu sudah membaik, Sayang!" ucap Mama Vivi, dia ikut senang dengan kabar baik yang disampaikan oleh Viola.
Viola juga mengatakan kalau dia harus pergi keluar negeri untuk melihat kondisi sang Adik yang langsung disetujui oleh Mama Vivi, dia bahkan menyarankan Viola untuk pergi bersama dengan Raja.
__ADS_1
"aku bisa pergi sendiri, Ma! lagi pula-"
"sudah! anggap saja ini untuk bulan madu kedua kalian," seru Mama Vivi sembari berjalan kearah dapur meninggalkan Viola yang sedang mematung ditempatnya.
"bulan madu kedua? bukannya baru bulan lalu aku pergi bulan madu!" lirih Viola, dia lalu mengikuti langkah mertuanya menuju dapur.
"tidak, Ma! terima kasih atas tawarannya, tapi aku ingin pergi sendirian. Lagipula-"
"udah, enggak ada tapi-tapian. Nanti Mama yang akan bilang pada Raja," lagi-lagi Mama Vivi pergi meninggalkan Viola tanpa menghiraukan apa yang wanita itu ucapkan.
"apa Mama sudah gila? untuk apa aku bulan madu lagi dengan Raja?" gerutu Viola.
Karna tidak mau ambil pusing dengan ucapan Mama Vivi, Viola lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar rumah. Dia ingin berkunjung kemakam kedua orangtuanya, dan memberitahu perihal kondisi kesehatan sang Adik.
"Ibu, Ayah. Aku datang, maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang menemui Ayah dan Ibu!" ucap Viola saat sudah sampai di depan makam kedua orangtuanya, dia mengusap nisan kedua orangtuanya dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
Kemudian Viola menceritakan tentang kesehariannya sebagai seorang istri kedua, dia menceritakannya dengan berbagai ekspresi yang kalau orang lain melihatnya pasti akan tertawa dengan kencang.
Terakhir, Zulaikha menceritakan tentang kondisi kesehatan Vedri yang tentunya menjadi kabar yang paling penting dan membahagiakan untuk semuanya.
Setelah selesai mencurahkan segala isi hatinya, Viola kembali pulang dengan meninggalkan dua buket bunga dimakam kedua orangtuanya.
Selepas kepergian Viola, seorang lelaki terlihat keluar dari balik pohon yang ada berada tepat di samping makam kedua orangtua Viola. Lelaki itu tampak tersenyum sembari memandangi buket bunga yang ada dihadapannya, dia kembali teringat dengan curahan hati wanita itu yang membuatnya merasa bersimpati.
"aku tidak menyangka kalau kita bisa bertemu lagi ditempat ini,"
•
•
•
__ADS_1
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘