Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 65. Ketakutan Viola.


__ADS_3

"dia adalah Dio! dia anak Daniel dan Mona, dia anak Pamanmu!"


"apa?"


semua orang terkejut dengan apa yang Mama Vivi ucapkan, bahkan Viola yang awalnya terkejut melihat kehadiran Mama Vivi dan Alea, kini lebih terkejut lagi dengan sebuah kebenaran yang Mama Vivi ucapkan.


"anak Daniel? anak laki-laki bajing*an itu?" tanya Raja tidak percaya, dia benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.


"apa Mama tidak salah?" tanya Raja kembali, terlihat Mama Vivi menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.


"dia adalah Mona, dia istri Daniel yang meninggal sekitar 18 tahun yang lalu!"


"apa?" semua orang semakin terkejut mendengar apa yang Mama Vivi ucapkan, bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali? itulah yang terbesit dihati mereka semua.


"dia adalah Ibu Mery, dia wanita yang selama ini membesarkan Rio seorang diri," tiba-tiba Viola buka suara, terlihat Raja, Alea dan Mama Vivi beralih melihat kearahnya.


"Vi-Viola!" Mama Vivi melihat Viola dengan mata berkaca-kaca, dia lalu berjalan pelan menghampiri Viola yang juga sedang menatapnya.


Viola yang semula terkejut melihat keberadaan Mama Vivi dan Alea mencoba untuk tetap tenang, dia berusaha sekuat mungkin untuk menganggap tidak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.


"Apa kabar, Ma?"


Mama Vivi langsung memeluk Viola dengan erat seraya menumpahkan segala tangisannya, tubuhnya bergetar dengan debaran jantung yang juga kian menguat.


"ke-kenapa Mama menangis? aku-"


"maafkan Mama, Viola! maafkan Mama!"


Hati Viola bergetar mendengar permintaan maaf dari Mama Vivi, matanya berkaca-kaca saat mengingat semua kenangan yang telah terjadi di masa lalu.


Namun, seketika kenangan itu berubah saat dia mengingat pengusiran yang mereka lakukan.


"aku, aku sudah memaafkan Mama!" ucap Viola, dia mencoba untuk melepaskan pelukan Mama Vivi agar perasaannya kembali tenang.


"Mama, Mama sangat menyesal Viola. Mama telah melakukan kesalahan besar!" Mama Vivi masih terisak di hadapan Viola, membuat Viola semakin dirundung kegelisahan.


Tiba-tiba pandangan Viola tertuju kearah boks bayi yang diletakkan disudut ruangan, sementara putranya sendiri sedang bersama dengan Vedri.


Bruk, Viola yang tadinya melihat ke arah samping beralih melihat lurus ke depan saat mendengar suara sesuatu.


Betapa terkejutnya dia saat melihat Alea sedang berlutut tepat dihadapannya, bahkan bukan hanya dia saja yang terkejut, Raja dan Mama Vivi juga tidak menyangka kalau Alea akan melakukan hal seperti itu.


"apa, apa yang kau lakukan, Al?" tanya Viola dengan tajam.


"aku tidak tau harus mengatakan apa padamu, Vi! sudah terlalu banyak kesalahan yang telah aku lakukan, sampai aku tidak sanggup untuk meminta maaf padamu," lirih Alea, dia menundukkan kepalanya dengan deraian air mata yang terus membasahi wajah.


Viola terpaku melihat apa yang Alea lakukan, dia lalu melihat kearah Mama Vivi yang juga sebelumya meminta maaf padanya.

__ADS_1


"sebenarnya apa yang mereka lakukan? kenapa mereka tiba-tiba ada di sini dan meminta maaf padaku?"


"selama ini aku telah berbuat jahat padamu, padahal kau telah banyak membantuku. Aku juga telah mengusirmu, padahal, padahal aku sendirilah yang memohon dan membawamu untuk hidup bersamaku. Aku bersalah, Vi! aku sangat berdosa, aku memohon pengampunan darimu, tolong maafkan aku!" Alea semakin bersimpuh dilantai seperti orang tiarap, dia menyesali semua yang telah dia lakukan pada Viola.


Viola sendiri tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini, lalu, tiba-tiba dia teringat tentang keberadaan putranya yang pastinya sudah diketahui oleh seluruh keluarga Raja.


"benar! mereka melakukan ini untuk merebut anakku, mereka ingin mengambil anakku!"


Ditengah ketakutan Viola, tiba-tiba Vedri kembali masuk ke dalam ruangan itu sembari menggendong Rayen membuat semua perhatian mereka tertuju padanya.


"Kak, seperti Rayen haus! dia terus menghisap jariku," Vedri mengadukan apa yang Rayen lakukan terhadap jari tangannya.


Viola memperhatikan semua tatapan yang tertuju pada putranya, dia tau kalau Raja dan keluarganya pasti menginginkan anak yang sudah susah payah dia lahirkan.


"Tidak! aku tidak akan membiarkannya!" Viola berlari kearah Vedri dan langsung merebut Rayen dari gendongan sang adik membuat semua orang terkejut.


"tidak! aku tidak akan membiarkan kalian mengambil anakku!"


Semua orang terkejut mendengar ucapan Viola, terlebih-lebih Vedri yang langsung melihat keluarga Raja dengan tajam.


"apa, apa maksudmu, Viola?"


"diam, kau! aku sudah tau kedatangan kalian ke sini pasti ingin merebut anakku, kalian meminta maaf padaku karna ingin memisahkanku dengan putraku!"


Raja yang sudah berjalan mendekati Viola terpaksa menghentikan langkahnya karna mendengar ucapan wanita itu, sementara Mama Vivi dan Alea tampak menggelengkan kepala mereka untuk membantah apa yang Viola katakan.


"Mama sudah membatalkan semua perjanjian kita, kan Ma? Mama sudah memutuskan hubunganku dengan Raja kan? aku bahkan sudah pergi jauh sesuai dengan keinginan kalian! jadi, jadi ini adalah anakku! aku, aku tidak terikat apapun lagi dengan kalian, aku tidak punya hubungan lagi dengan kalian!" Viola memeluk anaknya dengan erat seakan-akan anaknya akan terpisah darinya.


"demi Tuhan, Viola! kami tidak pernah ada niat sedikitpun untuk memisahkanmu dengan bayimu, kami juga tidak akan mengambil putramu, kami tidak-"


"cukup! sudah cukup!" potong Viola, untuk pertama kalinya dia membentak Mama Vivi membuat wanita paruh baya itu terlonjak kaget.


"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi!" Viola mencengkram lengan Vedri seolah-olah sedang berlindung pada adiknya itu.


"Vedri, tolong usir mereka! Mereka ingin membawa bayiku, mereka ingin mengambil anakku!" lirih Viola, dia terisak dalam pelukan Vedri sembari tetap memeluk Rayen dengan erat.


"tenanglah Kak, semuanya akan baik-baik saja!" ucap Vedri, dia mencoba untuk menenangkan Viola agar keadaan tidak semakin runyam.


"Viola, aku-"


"tolong, pergilah dari sini!" ucap Vedri, dia tidak ingin kalau terjadi sesuatu pada Kakaknya.


"tidak! Aku tidak akan pergi, Viola tolong dengarkan-"


"pergilah, Raja! aku mohon," pinta Vedri.


Raja yang tadinya menolak pengusiran itu terpaksa harus keluar karna mengingat kondisi Viola belum stabil, dia juga tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu dengan wanita itu.

__ADS_1


Setelah Raja dan yang lainnya keluar, Vedri membawa Viola kembali ke ranjang. Dia membantu Viola untuk berbaring dan meletakkan Rayen tepat di samping Kakaknya.


"Kakak harus banyak istirahat," ucap Vedri, dia mengusap keringat yang ada dikening sang Kakak.


"jangan biarkan mereka membawa anakku, Vedri!" lirih Viola, dia melihat Vedri dengan mata berkaca-kaca.


"itu tidak akan terjadi, Kak! aku berjanji," ucap Vedri kemudian.


Viola yang sudah merasa sangat lelah langsung terlelap dengan ditemani oleh Vedri, adiknya itu akan selalu berada di sisi Viola dalam keadaan apapun juga.


Sementara itu, ditempat lain terlihat Rio dan Ibunya sedang berada di pinggir danau. Keadaan yang tenang dan hening membuat suasana antara Ibu dan anak itu terasa sedikit canggung.


"apa Ibu bisa menceritakan apa yang dikatakan oleh wanita tadi?" tanya Rio, selama ini dia tidak pernah bertanya mengenai asal usulnya.


Ibu Mery terdiam, dia tidak sanggup untuk menceritakan semuanya pada sang putra.


"apa lelaki yang disebut oleh wanita tadi, benar-benar ayahku?" tanya Rio kembali, dia menggenggam kedua tangan sang Ibu agar mau menceritakan semuanya.


Ibu Merry menghela napas kasar, dia lalu melihat kearah Rio sembari meyakinkan diri kalau saat ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.


"semua yang dikatakan wanita itu benar, ayahmu, ayahmu adalah adik iparnya!"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk ke karya temen aku, dijamin keren dan seru 😍


Blurb.


Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.


"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng


"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo


Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?


Haruskah Ajeng terima?


Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya?

__ADS_1



__ADS_2