Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 69. Aku Kakakmu!


__ADS_3

"membalas dendam! Kami sedang membalas dendam pada Raja, karna dia telah membuat Ibu dan Kakakku tiada," jawab Disty, dia lalu bangkit dan hendak pergi dari ruangan itu.


"Ibumu dan Kakakmu belum mati!"


Disty yang sudah mencapai pintu menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang Viola katakan, dia lalu berbalik dan melihat Viola dengan tajam.


"kau bilang apa?"


"aku bilang keluargamu masih hidup, jadi tolong lepaskan aku dan anakku!" teriak Viola, dia meronta-ronta meminta untuk dilepaskan.


"jangan membohongiku dan mengatakan hal yang mustahil, aku bisa saja langsung membunuhmu saat ini, Viola!"


"dendam kalian tidak berdasar! dan yang seharusnya dibunuh bukan aku dan anakku, melainkan kalian berdua yang sedang sakit jiwa!"


Disty menatap Viola tajam dengan rahang mengeras, dia yang tadinya hanya ingin melihat apa yang Ayahnya lakukan, kini menjadi murka mendengar ucapan Viola.


"kau tidak tau apapun-"


Dor! tiba-tiba ucapan Disty terhenti saat mendengar suara tembakan yang berasal dari luar, dia lalu berlari keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi, sementara Viola sendiri berusaha keras untuk melepaskan ikatan ditubuhnya.


"Papa!" teriak Disty saat melihat anak buah Papanya sudah tergeletak di atas tanah, dia lalu terus berteriak memanggil Papanya dengan tetap menggendong baby Rayen.


"apa yang terjadi, Pa?" tanya Disty setelah menemukan Papanya.


"cepat pergi dari sini dan bawa anak itu! pastikan kau membunuhnya dan buang mayatnya!" perintahnya Daniel, mereka saat ini sedang bersembunyi dibalik sebuah tembok besar.


Disty menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk membawa Rayen sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Papanya.


"jangan berani melangkahkan kakimu, Disty! atau aku akan menembak kepalamu!"


Disty dan Daniel terpaku ditempat mereka saat melihat Raja dan juga Kenan ada di belakang mereka.


"Kenan, urus bedebah gila itu!" perintah Raja, Kenan langsung berjalan kearah Daniel dengan tetap menodongkan pistolnya.


Dor! langkah Kenan harus terhenti saat ada salah satu anak buah Daniel yang menembak kearahnya, untung saja tembakan itu sedikit meleset dan mengenai pipinya, jika tidak mungkin sebuah peluru sudah bersarang dikepalanya saat ini.


Raja dan Kenan terpaksa memutar tubuh mereka dan bersembunyi dibalik tembok karna serangan yang diberikan Daniel, sementara Daniel sendiri merasa senang dan terus menembaki Raja berusaha untuk membunuh lelaki itu.


Dor! Dor! Dor! Brak! suara tembakan menggema di mana-mana saat Raja dan Daniel saling serang.


"cepat pergi dari sini!" teriak Daniel, Disty yang mendengar teriakan Papanya langsung berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Raja yang melihat kepergian Disty berusaha untuk menembaki wanita itu, tetapi dia tidak berhasil karna ada Daniel yang melindunginya.


"sial! Kenan, bereskan dia! aku harus mengejar Disty!"


"baik, Tuan!"


Raja berbalik dan mengejar ke arah Disty pergi membawa putranya. Namun, saat baru beberapa langkah. Raha mendengar suara Viola meminta tolong dari ruangan yang baru saja dia lewati, sontak Raja berbalik dan masuk ke dalam ruangan itu.


"Viola!"


Raja yang melihat Viola sedang terikat langsung melepaskan tali yang melilit ditubuh istrinya, sementara Viola merasa senang karna melihat Raja ada ditempat itu.


"Rayen, anak kita. Selamatkan anak kita, Raja!" ucap Viola setelah tali yang mengikatnya berhasil dilepas oleh Raja.


"kau tenang saja, tempat ini sudah dikepung oleh semua anak buahku! mereka tidak akan bisa pergi ke manapun saat ini," balas Raja.


Viola menganggukkan kepalanya dan memeluk Raja dengan erat, saat ini dia benar-benar senang karna ternyata Raja dan yang lainnya datang menyelamatkannya.


Kemudian mereka berdua segera keluar dari ruangan itu untuk mengejar Disty, sementara Disty yang sudah hampir sampai dimobilnya terpaksa menghentikan kakinya saat ada sebuah pistol berada tepat di depannya.


"Mau ke mana kau?" Rio menodongkan pistol ke kepala Disty membuat wanita itu tidak bisa bergerak.


"aku juga tidak ada urusan denganmu, melainkan dengan bayi yang sedang kau pegang itu!" balas Rio, dia lalu mengulurkan tangannya untuk meminta baby Rayen dari tangan Disty.


"tidak! aku tidak akan menyerahkannya!" tolak Disty, dia berusaha mundur sembari menarik sebuah pistol yang ada disaku belakang celananya.


"jangan bergerak, Disty!"


Disty tidak jadi mengambil pistolnya saat mendengar suara seseorang, dia melihat kearah samping dan tampaklah Alea sedang berjalan mendekatinya.


"apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rio pada Alea, dia tidak menyangka kalau wanita itu ada ditempat berbahaya seperti ini.


"tentu saja aku ingin menyelamatkan anakku!" jawab Alea, dia lalu merebut baby Rayen dari tangan Disty.


"jangan bodoh, Alea! dia bukan anakmu, dia anak-"


"dia anak suami dan sahabatku! itu berarti dia juga anakku," potong Alea, dia memeluk dan mengecup Rayen seraya berusaha untuk menghentikan tangisan bayi mungil itu.


Disty berdecak kesal saat melihat apa yang sedang terjadi, dia lalu menarik pistolnya dan menodongkannya kearah mereka berdua.


"serahkan bayi itu, atau aku akan menembak kalian!"

__ADS_1


Akhirnya, todong-menodong pistol pun terjadi. Alea dan Rio tidak bisa menyerahkan Rayen begitu saja pada Disty, begitu juga Disty yang harus merebut dan membunuh bayi itu.


"sebenarnya apa yang terjadi padamu dan ayahmu, Disty? kalian membalas dendam atas meninggalnya Ibu dan Kakakmu, tapi yang sebenarnya mereka masih hidup!"


"diam! aku tidak butuh kebohonganmu dan Viola, kalian-"


"oh, jadi Viola juga sudah mengatakan kebenarannya padamu? lalu, untuk apa lagi kau melakukan ini?" tanya Alea dengan tajam, dia lalu melirik kearah Rio untuk menyuruh laki-laki itu mengatakan sesuatu.


"benar, Disty! Ibu dan Kakakmu masih hidup, dan akulah Kakakmu,"


deg, Disty merasa terkejut dengan apa yang Rio katakan. Namun, dia tetap menatap mereka dengan tajam karna berpikir apa yang mereka katakan hanyalah sebuah kebohongan.


"tidak! kau tidak mungkin Kakakku, dia sudah-"


"waktu kau berumur 6 tahun, kau pernah melemparku dengan besi tajam dan mengenai kepalaku. Apa ini bukan bukti kalau aku memang Kakakmu?" Rio menatap Disty dengan mata berkaca-kaca, dia menurunkan senjatanya dan menundukkan tubuhnya untuk menunjukkan bekas luka yang ada dikepalanya.


Walau samar dan hampir tertutup oleh rambut, bekas luka yang Rio tunjukkan benar-benar ada.


Tangan Disty bergetar melihat luka yang Rio tunjukkan, walaupun dia masih berusia 6 tahun. Tetapi, ingatan akan kejadian itu tetap membekas dikepalanya.


"kau, kau benar-benar Kak Dio?" lirih Disty, senjata yang sejak tadi dia pegang kini terjatuh ke atas tanah.


"benar, Sweetu! Aku Kak Dio, your Prince!"


Disty berlari dan memeluk tubuh Rio dengan erat seraya menumpahkan segala kerindungan yang dia rasakan, kini dia percaya kalau lelaki yang sedang dia peluk ini adalah Kakaknya, karna panggilan yang Rio ucapkan tadi adalah panggilan yang sejak kecil mereka gunakan.


"Kakak jahat! Kakak ke mana saja selama ini?" tangisan Disty tidak bisa dibendung lagi, begitu juga Rio yang membalas pelukan sang Adik dengan tak kalah erat.


"maafkan, Kakak!"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Nah, kisah mereka semua akan berakhir dalam beberapa bab lagi. Tetap setia dicerita ini yah, pastikan kalian membaca ceritanya sampai selesai 🥰 love you ❤❤

__ADS_1


__ADS_2