Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 71. Semuanya Baik-baik Saja!


__ADS_3

"tidak! jangan lakukan itu!"


Raja yang sudah menarik pelatuknya melihat kearah samping, tampak Mama Vivi dan Ibu Mery sedang berlari menghampirinya.


"jangan lakukan itu, Nak! jangan kotori tanganmu dengan darahnya," tahan Mama Vivi, dia menarik tangan Raja agar menjauh dari Daniel.


"tidak, Ma! aku sudah berjanji kalau aku akan membunuhnya, dia tidak pantas untuk hidup!" ucap Raja dengan tajam, dia lalu kembali mengarahkan pistolnya.


"kematian adalah sesuatu yang terlalu mudah untuknya, Raja! biarkan dia hidup dan merasakan penderitaan dari apa yang sudah dia lakukan," seru Mama Vivi kembali, jika Daniel mati maja Raja pasti akan dihukum atas pembunuhan yang telah dia lakukan.


"pikirkan tentang Rayen, Nak! bagaimana kalau nanti dia sudah dewasa dan mengetahui kalau Ayahnya seorang pembunuh!" Mama Vivi terpaksa harus menyebut nama cucunya agar Raja mau mendengarkan apa yang dia ucapkan.


Benar saja, saat nama putranya disebut. Raja tampak ragu untuk melanjutkan apa yang ingin dia lakukan.


"Aku mengampunimu hanya karna keluargaku, Daniel! tapi jangan berharap kalau kau akan bebas setelah ini, karna aku pasti akan memasukkanmu ke dalam penjara sampai kau membusuk, di sana!" Raja kembali menetralkan pistolnya dan memasukkannya ke dalam saku.


"Disty? bagaimana dengan Disty?" liruh Daniel, dia merasa khawatir dengan keadaan putrinya saat ini.


"aku harap kau sudah puas sekarang, Mas! kau sudah membunuh Kakakmu sendiri, dan bahkan, kau juga membunuh putriku!"


deg, mata Daniel membelalak lebar saat melihat sosok wanita yang berdiri dihadapannya.


Dia yang awalnya tidak bisa bangkit, kini berusaha untuk bangun sambil tetap melihat kearah wanita tersebut.


"kau benar-benar iblis, Mas! kau iblis!" teriak Ibu Mery, tangisan tak kuasa berhenti dari kedua matanya saat mendengar kabar kalau putrinya ditembak oleh Ayahnya sendiri.


"Mo-Mona? kau, kau masih hidup?"


"ya! Aku masih hidup, aku di sini untuk menjemput putriku yang sudah kau tembak!" teriak Ibu Mery kembali, dia mendorong tubuh Daniel yang masih terpaku menatapnya.


"Kau, kau benar-benar masih hidup?" Daniel memegang kedua bahu wanita itu seolah-olah sedang memastikan kalau istrinya benar-benar masih hidup.


"Lepaskan tanganmu! aku tidak sudi disentuh oleh lelaki pendosa sepertimu."


Daniel tidak menanggapi apa yang wanita itu katakan, dia langsung memeluk Ibu Mery dengan erat walaupun wanita itu terus meronta-ronta minta dilepaskan.

__ADS_1


Raja yang melihat semua itu berdecak kesal, dia lalu memanggil Kenan untuk mendekat kearahnya.


"telpon polisi, pastikan kalau dia ditangkap dan dipenjara malam ini juga!" perintah Raja.


Kenan menganggukkan kepalanya untuk mengikuti semua perintah Raja, dia lalu mengambil ponselnya untuk menelpon polisi.


Raja dan Mama Vivi memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu, mereka harus melihat keadaan semua orang yang sedang berada di rumah sakit.


Sementara itu, Disty yang sudah dibawa kerumah sakit terpaksa harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang berhasil menembus punggungnya.


Rio berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi karna merasa sangat khawatir dengan keadaan Disty, sementara Viola dan Alea sedang duduk dikursi yang ada si sampingnya.


"tenanglah, Rio! aku yakin kalau Disty pasti baik-baik saja," ucap Viola, dia bangkit dan mengajak Rio untuk duduk.


"aku takut, Vi! aku takut kalau dia-"


"Ssst! tidak akan terjadi sesuatu padanya, percayalah!" Viola menarik lengan Rio dan mendudukkannya di samping Alea.


Waktu demi waktu terus bergulir, semua orang menunggu dengan gelisah, terutama Rio yang baru saja bertemu dengan adiknya tetapi harus menelan pil pahit seperti ini.


"Raja!" gumam Viola, dia berdiri saat melihat Raja diikuti Alea yang juga melihatnya.


"bagaimana? operasinya belum selesai?" tanya Raja.


Semua orang menggelengkan kepala mereka saat mendengar pertanyaan dari lelaki itu, sementara Mama Vivi beralih mendekati Viola.


"kau baik-baik sana kan, Sayang?" tanyanya, dia sangat takut terjadi sesuatu pada Viola dan Rayen.


"Aku baik-baik saja, Ma! dan Rayen juga baik," jawab Viola, dia menunjuk kearah Alea untuk menunjukkan keberadaan Rayen.


Mama Vivi bernapas lega saat mendengar menantu dan cucunya baik-baik saja, dia lalu menggendong Rayen yang sedang tertidur dengan nyenyak.


Setelah menghabiskan waktu sekitar 3 jam lamanya, akhirnya pintu ruangan operasi terbuka juga.


Semua orang langsung mendekat ke pintu itu, termasuk Ibu Mery yang juga sudah tiba dirumah sakit.

__ADS_1


"bagaimana keadaan adik saya, dokter?" tanya Rio dengan tidak sabar.


"adik anda baik-baik saja, Tuan. Dia sudah berhasil melewati masa-masa kritisnya,"


"Hah!" Semua orang akhirnya bisa bernapas lega mendengar kabar dari Disty.


Setelah dioperasi, Disty dipindahkan keruang perawatan. Mereka sudah bisa menjenguk gadia itu, tetapi tidak boleh ada keributan yang terjadi.


"syukurlah kau baik-baik saja, Nak! maaf Ibu, maafkan Ibu karna telah meninggalkanmu," lirih Ibu Mery dengan diiringi isak tangis yang membuat semuanya ikut merasa sedih.


"sudahlah, Mona! yang terjadi sudah terjadi, dan yang berlalu biarlah berlalu. Lebih baik sekarang fokus saja untuk kesembuhan Disty!" ucap Mama Vivi dan dibalas dengan anggukan dari Ibu Mery.


"pasti, Kak! terima kasih karna telah memaafkanku," balasnya.


Mama Vivi menggenggam tangan Ibu Mery dengan senyum tulusnya, dia sudah mengikhlaskan semua yang terjadi saat ini.


"lalu, apa yang terjadi pada Ayah?" tanya Rio, dia penasaran apakah Raja membunuh lelaki itu atau tidak.


Ibu Mery menceritakan kalau saat ini Daniel sudah dibawa oleh polisi, dia mengakui semua kejahatan yang telah dia lakukan pada Raja dan penembakan yang tidak sengaja dia lakukan pada Disty. Tetapi, dia mengatakan kalau dia tidak pernah membunuh Kakaknya sendiri.


"Daniel mengatakan kalau dia tidak tau mengenai kecelakaan yang menimpa mendiang Kak Renal, dan pada saat kecelakaan itu, dia sedang berada diluar kota," jelas Ibu Mery, sebenarnya dia ragu untuk percaya dengan ucapan suaminya itu. Tetapi lelaki itu sampai bersumpah demi Tuhan kalau dia tidak pernah berniat untuk membunuh Kakaknya sendiri.


"aku rasa apa yang dikatakan Daniel benar, pada saat itu dia memang sedang berada diluar kota. Selama ini dia juga tidak pernah menyakiti suamiku, yang dia incar hanyalah Raja," tambah Mama Vivi.


"aku tidak peduli apakah dia membunuh Papa atau tidak! yang pasti, bajing*an itu tidak akan pernah bisa keluar dari penjara itu,"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


Halo readers kesayangan aku 🥰 terima kasih sudah membaca cerita ini sampai di tahap ini, nah jangan lupa baca bab terakhir yang akan menjadi penutup perjalanan rumah tangga Viola, Raja dan juga Alea. Aku harap diakhir cerita nanti dapat memuaskan hati kalian semua 🥰 peluk jauh dari aku 🤗


__ADS_2