Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 40. Diliputi Kemarahan


__ADS_3

Viola terpaku dengan mata berkaca-kaca saat melihat seseorang yang selama ini dia rindukan berada tepat dihadapannya, tanpa menunggu apapun lagi, Viola berlari dan menghamburkan dirinya dalam pelukan sang Adik yang sedang duduk dikursi roda.


"Ayo, Viola! kita-" Raja yang baru saja berbalik tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Viola sedang berpelukan dengan seorang pemuda.


Raja lalu melihat kearah samping, dan tampaklah seorang Dokter yang selama ini merawat adik Viola.


"selamat datang, Tuan!" sambut Rangga, dia menundukkan kepalanya untuk menyapa Raja.


Raja hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan Dokter tersebut, dia lalu kembali melihat kearah sang istri yang masih menangis dalam pelukan adik iparnya.


"Adikku, kau, kau sudah sembuh?" ucap Viola dengan sesenggukan, dia memeluk tubuh sang adik dengan erat karna benar-benar merasa sangat bahagia.


"aku sudah sembuh, Kak! tapi kalau kakak terus memelukku seperti ini, maka aku akan tewas saat ini juga,"


Viola langsung melepaskan pelukannya saat mendengar apa yang Vedri katakan, dia lalu mencubit lengan sang adik sampai adiknya itu menjerit kesakitan.


"aw! sakit, Kak!" seru Vedri sembari mengusap-usap lengannya.


"makanya! kalau punya mulut itu dijaga," omel Viola, dia sangat tidak suka kalau adiknya bicara seperti itu.


"apa kalian sudah selesai?" ketus Raja sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Viola beranjak bangun saat mendengar suara yang mulia Raja, dia lalu mendorong kursi roda Vedri agar lebih dekat dengan suaminya.


"Raja, ini adikku, Vedri!" Viola memperkenalkan adiknya pada Raja dengan riang gembira.


"bagaimana keadaanmu?" tanya Raja pada Vedri, terlihat Vedri sedang menundukkan kepalanya dihadapan Raja.


"karna bantuan Anda, keadaan saya sudah membaik. Terima kasih," ucap Vedri dengan tulus, dia tau kalau keluarga Raja lah yang telah membiayai semua pengobatannya selama berada diluar negeri.


Viola merasa semakin bahagia, karna Raja memperlakukan adiknya dengan baik, walaupun hanya sekedar menanyakan keadaannya saja.


"aku tidak menyangka kalau Raja akan bertanya mengenai kondisi Vedri, ternyata dia perhatian juga,"


"tentu saja kau harus baik, karna kalau tidak, sia-sia uangku yang sudah kau habiskan untuk biaya pengobatanmu itu!"

__ADS_1


Viola menarik kembali ucapannya yang mengatakan kalau Raja adalah orang yang perhatian, "dia benar-benar iblis bermulut pedas!"


Viola yang tadinya menatap Raja dengan senyum lebar sampai hampir mencapai telinga, kini beralih menatap lelaki itu dengan getir.


"ma-maaf, Tuan! apa anda jadi melakukan pemeriksaan?" tanya seorang Dokter pada Raja, dia lalu langsung menundukkan pandangannya saat Raja menatapnya dengan tajam.


"apa kau pikir aku hamil? yang mau diperiksa itu istriku, bukan aku!" ketus Raja, sepertinya saat ini dia benar-benar sedang kesal dan ingin selalu marah-marah.


"Ma-maaf, Tuan! kalau begitu, mari Nyonya." Dokter itu lalu mempersilahkan Viola untuk berbaring di atas ranjang.


Viola yang tidak ingin semakin menambah kemarahan Raja langsung saja naik ke atas ranjang, begitu pula dengan Vedri dan Rangga yang mengurungkan niat mereka untuk bertanya pada Viola perihal kehamilannya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap Viola. Dia lalu membantu Viola untuk bangkit dan turun dari ranjang.


"bagaimana? apa dia benar-benar hamil?" tanya Raja setelah Dokter itu duduk dihadapannya.


"benar, Tuan! Anda berdua akan menjadi orang tua," jawab Dokter tersebut.


Untuk pertama kalinya Raja tersenyum dengan sangat lebar saat mengetahui bahwa Viola benar-benar hamil, begitu juga dengan Viola yang langsung mengucapkan banyak terima kasih pada Dokter yang telah memeriksanya.


Vedri dan Rangga yang juga masih ada ditempat itu ikut merasa bahagia dengan kabar yang baru saja mereka ketahui, mereka tidak menyangka kalau kedatangan Viola akan membawa sebuah kabar baik seperti ini.


"kenapa kau berterima kasih padanya? yang membuatnya kan aku, seharusnya kau berterima kasih padaku!" seru Raja dengan tidak terima, dia yang sudah capek-capek membuat Viola hamil, tapi malah Dokter itu yang mendapat ucapan terima kasih.


"sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Kakak iparmu, Vedri? kenapa dia terus marah-marah?" bisik Rangga, dia merasa bingung melihat lelaki yang ada dihadapannya saat ini.


"Entahlah kak, mungkin dia lagi pms. Hihihi." Vedri terkikik geli dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


Kemudian mereka semua memutuskan untuk pergi keruangan Vedri, karna memang itulah tujuan Raja dan Viola datang kenegara ini.


Viola meluapkan segala kerinduannya pada sang adik, dan bertanya mengenai kesehatan adiknya itu saat ini.


Raja yang merasa bosan berada dirumah sakit memutuskan untuk pergi kehotel, dia mengajak Viola untuk ikut bersamanya dan akan kembali kerumah sakit esok hari.


"aku masih ingin di sini, Raja!" pinta Viola, dia masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Vedri.

__ADS_1


Raja yang biasanya tidak suka dibantah, kini tampak menganggukkan kepala saat Viola menolak ajakannya. Dia lalu berjongkok di depan Viola membuat semua orang sedikit terkejut.


"Papa pergi dulu, Junior! baik-baiklah bersama Ibumu," ucap Raja sembari mengelus perut Viola.


Mendengar apa yang dikatakan Raja, sontak Viola, Vedri dan Rangga terpaku ditempat mereka masing-masing. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Raja akan melakukan hal seperti itu.


"Kau jaga anakku baik-baik, aku akan datang lagi nanti. Cup." Raja mengecup kening Viola sebelum keluar dari ruangan itu.


Viola terpaku menatap kepergian Raja, dia seperti terhipnotis dengan apa yang baru saja suaminya itu lakukan.


"suamimu benar-benar luar biasa, Viola! dia seperti dua orang yang hidup dalam satu tubuh," seru Rangga, dia benar-benar takjub dengan sikap Raja yang berubah-ubah.


"benar! apa ini, yang disebut dengan kepribadian ganda?" Vedri juga sama takjubnya dengan Rangga saat melihat kepribadian Kakak iparnya.


Sementara itu, ditempat lain terlihat seorang pria sedang berkutat dengan segudang pekerjaan. Perhatiannya lalu teralihkan pada ponselnya yang sedang bergetar di atas meja, dia lalu mengambil benda pipih itu dan mengangkat panggilan masuk dari anak buahnya.


"Tuan Raja dan istrinya sudah berangkat ke Singapura, Tuan!" lapor seseorang yang ada disebrang telpon.


"bagus, jalankan rencana kita malam ini juga!" perintah pria tersebut, dia lalu mematikan panggilan telpon itu dengan senyum lebar diwajahnya.


"kau tunggu saja, Raja. Aku akan menghancurkanmu dan merebut semua yang menjadi milikmu!"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk, ke karya temen aku! Dijamin seru dan bikin kalian betah buat baca 😍


__ADS_1


__ADS_2