Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 50. Perasaan Gelisah


__ADS_3

"Ma, Alea! Aku pamit untuk pergi dari tempat ini saat ini, juga!"


Mama Vivi dan Alea terkejut mendengar apa yang Viola ucapkan, mereka langsung mendekati wanita itu agar lebih mudah untuk berbicara.


"kau, kau bilang apa, Sayang?" Mama Vivi memegang kedua tangan Viola dengan mata berkaca-kaca.


"hari ini aku akan pergi, Ma! aku minta maaf kalau selama ini aku banyak melakukan kesalahan, aku-"


Viola tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tubuhnya dipeluk erat oleh Mama Vivi, wanita paruh baya itu menangis tersedu-sedu membuat pertahanan Viola runtuh.


Dia yang sedari tadi menahan air matanya agar tidak terjatuh, kini mengalir deras membasahi wajahnya yang sendu.


"Maafkan Mama, Viola! maafkan Mama!" Mama Vivi memeluk Viola dengan erat karna tidak rela untuk melepaskan wanita itu, dia yang sedari awal sudah menyukai Viola merasa berat hati untuk merelakan kepergiannya.


Alea menundukkan kepalanya enggan untuk melihat kearah Viola dan Mama Vivi, beberapa kali tampak dia mengusap wajahnya karna merasa sedih harus berpisah dengan madunya.


Viola mulai merenggangkan pelukannya saat kepalanya terasa pusing, dia mengusap air mata yang masih mengalir diwajah Mama Vivi dengan sedikit menarik senyum diwajahnya sendiri.


"Mama tidak perlu minta maaf, dari awal hubungan kita hanyalah sebuah perjanjian-"


"Tidak, Viola! Mama tidak pernah menganggap hubungan kita hanya sebatas itu, Mama sudah menganggapmu sebagai anak Mama sendiri."


Viola tersenyum mendengar ucapan Mama Vivi. "jika kau benar-benar menganggapku sebagai anak, maka kau tidak mungkin memutuskan hubungan kita seperti ini, Mama!"


Viola menarik napas panjang dan menghembuskannya, dia mencoba untuk tenang dan tidak memikirkan apapun lagi saat ini.


"baiklah Ma, Aku harus pergi sekarang!"


"Tunggu, Viola! kau mau pergi ke mana?" Mama Vivi menahan tangan Viola saat wanita itu ingin masuk ke dalam rumah.


"maaf, Ma! Aku tidak bisa memberitahu ke mana aku akan pergi. Aku hanya berharap, suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi," jawab Viola, dia tidak akan pernah mengatakan pada siapapun ke mana dia akan pergi.


"aku juga ingin mengucapkan terima kasih banyak pada Mama, dan juga padamu, Al!"

__ADS_1


Alea mengangkat kepalanya dengan mata berkaca-kaca melihat kearah Viola, dia ingin sekali memeluk wanita itu tetapi hubungan yang terjadi diantara mereka terasa menghalanginya.


"terima kasih karna telah banyak membantuku, kalau bukan karna kalian, aku tidak tau bagaimana nasib adikku saat ini," lirih Viola, dia menangkupkan kedua tangan di depan dada untuk mengucapkan rasa terima kasih yang teramat dalam.


Mama Vivi semakin terisak sembari terus menggenggam tangan Viola, sementara Alea sendiri ikut terisak dengan apa yang sedang terjadi.


Viola melepaskan genggaman tangan Mama Vivi dan berlalu masuk ke dalam rumah, dia mengambil dompet dan ponsel yang tergeletak di atas ranjang.


"Aku tidak boleh membawa apapun dari rumah ini!" Viola mengeluarkan black card yang ada di dalam dompetnya, dia juga melepas sim card yang ada diponselnya dan mematahkannya menjadi dua.


Setelah semuanya selesai, Viola berjalan keluar dari kamar. Untuk sekali lagi dia melihat ke dalam kamarnya, bayangan Raja tampak jelas terlihat disetiap sudut kamar yang biasa dia tempati.


"aku mencintaimu, Raja! aku harap kau selalu hidup bahagia. Biarkanlah aku pergi membawa benih cintaku untukmu."


Viola menutup kamar itu dan berjalan keluar rumah, dia tidak ingin lagi melihat ke belakang yang malah membuat langkahnya menjadi goyah.


"aku pamit, Ma, Al! sekali lagi aku ucapkan terima kasih!" untuk terakhir kalinya Viola memeluk Mama Vivi, dia bahkan mengecup kening mertuanya itu dengan rasa sakit yang terasa mengoyak hatinya.


"di mana barang-barangmu, Viola? kenapa kau tidak membawa apapun?" tanya Mama Vivi, dia melihat Viola hanya memakai kemeja dan celana kulot dengan membawa tas kecil yang cukup untuk dompet dan ponsel saja.


"apa yang kau katakan, Viola? semua yang Raja berikan padamu adalah hakmu, dan semua itu harus kau bawa!" desak Mama Vivi, dia tidak ingin Viola pergi begitu saja tanpa membawa apapun.


"tidak, Ma! aku tidak ingin apapun, biarlah aku pergi dengan kenyamanan seperti ini,"


Mama Vivi tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk memaksa Viola membawa semua barang-barangnya.


Viola lalu beralih melihat ke arah Alea. "Apa aku boleh memelukmu, Al?"


Alea menganggukkan kepalanya membuat Viola menghamburkan diri ke dalam pelukannya, kedua wanita itu menangis secara bersamaan merenungu jalan takdir yang telah Tuhan tentukan untuk mereka.


"jaga dirimu baik-baik, Vi! aku, aku minta maaf-"


"sudahlah Al, anggap saja tidak ada yang terjadi di antara kita. Kau tetap akan menjadi sahabat terbaik yang pernah aku miliki!" potong Viola.

__ADS_1


Viola lalu berjalan keluar meninggalkan pekarangan rumah Mewah Raja dan berjalan menuju jalan raya, air mata tak henti-hentinya mengalir diwajahnya yang tampak sangat berantakan.


Viola segera memanggil taxi, dan masuk ke dalam taxi tersebut tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Biarlah semua yang terjadi padanya tertinggal dirumah itu tanpa ada perasaan apapun yang dia bawa.


"sehat-sehat dalam kandungan Mama, yah Sayang! Mama minta maaf telah membawamu pergi jauh dari Papa."


Taxi yang ditumpangi Viola melaju cepat menuju bandara, dia telah memesan tiket pesawat menuju Singapura sebelum dia keluar dari rumah mewah itu.


Sementara itu, Raja yang sedang berada di dalam pesawat mendadak merasa dadanya sesak. Detak jantungnya terasa sangat kuat seperti sedang ada sesuatu yang terjadi saat ini.


"ada apa ini? kenapa aku merasa gelisah? kenapa dadaku juga terasa sesak?" Raja merasa sangat bingung, dia terus memegangi dadanya yang berdebar keras.


"ada apa, Tuan? apa anda sedang sakit?" tanya Kenan, dia melihat wajah Raja yang tampak sangat pucat saat ini.


"aku merasa gelisah dan tidak nyaman, Kenan! aku rasa ada hal buruk yang sedang terjadi saat ini,"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk, ke karya temen aku! Dijamin keren dan seru 😍


Blurb.


Perjodohan antara dua keluarga yang membuat Jimmy harus menikahi gadis bernama Alisa, teman sekelasnya.


Jimmy pria dingin, cuek, acuh dan datar harus di hadapkan dengan Alisa yang berkepribadian terbalik dengan Jimmy.

__ADS_1


Meski awalnya Jimmy sangat menentang perjodohan itu karena dia masih sekolah, tepatnya kelas 3 SMA, namun pada akhirnya dia mulai bisa menerima Alisa sebagai istrinya.



__ADS_2