Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 41. Topi Kelinci


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Raja dan Viola benar-benar menghabiskan waktu berdua saja selama berada di Singapura. Tujuan awal mereka untuk menjenguk Vedri, malah teralihkan dengan agenda bulan madu kedua.


Namun, Raja tidak memaksakan kehendaknya pada Viola seperti saat mereka bulan madu, karna dia takut kalau sampai terjadi sesuatu pada janin yang sedang dikandung oleh wanita itu.


Saat ini, Raja dan Viola sedang berada disalah satu pusat perbelanjaan. Awalnya, Viola merengek pada Raja untuk menjenguk sang adik dirumah sakit. Namun, matanya teralihkan pada sebuah tayangan ditv tentang perlengkapan bayi dan memaksa Raja untuk menemaninya belanja.


"aaah, ini menggemaskan sekali!" seru Viola saat memegang topi berbentuk kepala kelinci, dia lalu memakaikan topi itu dikepala Raja membuat lelaki itu murka.


"apa yang kau lakukan?" bentak Raja, dia mengambil topi yang ada dikepalanya dan membuangnya ke atas lantai.


Viola berdecak kesal dengan apa yang dilakukan Raja, dia lalu mengambil topi itu dan kembali meletakkannya di atas rak.


"padahal topi itu sangat menggemaskan, anak ini pasti nanti akan sangat lucu saat memakainya," lirih Viola sembari mengusap perutnya.


Raja yang mendengar ucapan Viola menatapnya dengan tajam, "kalau lucu, pakaikan saja padanya kalau nanti dia sudah lahir! kenapa kau malah memakaikannya dikepalaku?"


"Dia kan anakmu, sudah jelas nanti kalau lahir pasti akan mirip denganmu. Dan sekarang, aku ingin melihat dia memakai topi ini." Viola menunjuk kearah topi yang tadi dia pegang dengan kesal, bahkan raut wajahnya sudah seperti pakaian kusut saat ini.


"ya kau tunggu saja dia sampai lahir!" balas Raja tak kalah kesal darinya, dia bahkan sudah berbalik dan hendak pergi meninggalkan Viola.


"Istrimu cuma ingin melihat kau memakai topi itu, Nak!"


tiba-tiba terdengar suara seorang wanita paruh baya yang ada didekat mereka, membuat Raja dan Viola melihat kearahnya.


"dia ingin melihat anak kalian memakai topi ini, tapi karna saat ini anak kalian itu belum lahir, jadilah ayahnya anak ini yang harus memakai topinya," sambung wanita itu kembali, dia tersenyum kearah Viola sembari memberikan topi yang sama seperti apa yang Viola inginkan tadi.


Raja mengerutkan keningnya sembari menatap kearah wanita paruh baya itu, "dari mana datangnya wanita renta ini, kenapa dia sok tau sekali,"

__ADS_1


Raja menatapnya dengan sebal, dia lalu mengambil ponselnya yang sejak tadi bergetar disaku celananya.


"biarkan saja, Nek! dia memang iblis jahat yang tidak punya perasaan," ucap Viola, dia sudah kehilangan mood untuk melihat apa yang tadi dia inginkan.


"aku mendengarmu, Viola! dan jangan sampai aku merobek mulutmu yang mengatai aku iblis!"


Viola dan wanita paruh baya itu terkikik geli saat mendengar ucapan Raja, bukannya merasa takut, mereka malah merasa lucu karna melihat raut wajah Raja yang tampak menggemaskan.


Raja yang sedang sibuk dengan ponselnya tidak menghiraukan apa yang Viola lakukan, dia tetap fokus membaca laporan yang baru saja dia terima dari sekretaris pribadinya.


"ayo, Viola! kita harus segera pulang," ajak Raja kemudian, dia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku dan menggendeng lengan Viola untuk segera mengikutinya.


"tapi aku kan ingin bertemu dengan Vedri, kau pulang duluan saja, nanti aku akan-"


"kita akan pulang ke indonesia, Viola!"


"tapi kenapa? kan kau bilang tadi malam-"


"kau tidak berhak bertanya, Viola! kau hanya harus mengikuti apa yang aku katakan!"


Viola terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat, dia sadar kalau posisinya hanyalah seorang wanita bayaran yang hanya dibayar untuk melahirkan seorang anak.


Setelah semua persiapan selesai, Raja dan Viola segera berangkat ke bandara karna pesawat yang akan mereka tumpangi, akan berangkat 1 jam lagi. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil itu.


Raja terlihat sibuk dengan ponselnya, dan Viola enggan untuk bicara pada Raja karna masih kesal dengan ucapan kasar yang terlontar dari mulut lelaki itu.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah sampai dibandara. Raja dan Viola bergegas untuk mengurus administrasi dan berlalu masuk ke dalam pesawat mereka.

__ADS_1


Suasana terasa sangat sunyi, Viola yang biasanya selalu berdebat dengan Raja kini tampak diam sembari memandang kearah jendela. Sementara Raja sendiri sesekali mencuri pandang pada Viola, dia merasa tidak nyaman karna melihat Viola diam seperti itu.


"apa kau haus?" tanya Raja, dia mencoba untuk mencairkan suasana yang membeku ini.


Viola menggelengkan kepalanya. "Aku tidak haus!"


"apa kau lapar?" lagi-lagi Raja bertanya, berharap kalau Viola sedikit membuka topik pembahasan.


"tidak!"


Raja berdecak kesal saat mendengar jawaban Viola, dia lalu memalingkan wajahnya kearah samping dan enggan untuk kembali bicara pada Viola.


"kenapa dia jawabnya singkat-singkat gitu sih?"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir ke karya temen aku juga yuk! Dijamin seru dan bikin kalian betah buat baca 😍


__ADS_1


__ADS_2