
"tutup mulutmu! mereka bukan ingin menyelamatkannya, tapi ingin membunuhnya!"
"apa?" semua orang merasa sangat terkejut dengan apa yang Raja katakan, mereka tidak mengerti dengan maksud dari ucapannya tersebut.
"Sekarang pergi, dan jangan menghalangiku!" Raja menabrakkan tubuhnya ketubuh Rio dan Vedri mencoba untuk mengejar Viola, tetapi sayang, dua laki-laki itu tidak membiarkan Raja pergi begitu saja.
"aku mohon biarkan aku pergi, aku tidak sanggup kehilangan Viola, aku tidak bisa hidup tanpanya!" akhirnya Raja memohon belas kasihan dari Vedri dan juga Rio, dia bahkan bersimpuh dikaki mereka membuat kedua lelaki itu merasa terkejut.
"sebenarnya apa maksudmu, Raja? kami tidak mengerti kenapa kau terus menghalangi dan mengatakan kalau Dokter akan membunuh Viola, sementara yang dilakukan Dokter itu bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk menyelamatkannya!"
"itu karna Ayahnya meninggal dimeja operasi,"
semua orang langsung melihat kearah Mama Vivi saat wanita paruh baya itu mengatakan sesuatu, termasuk Raja yang melihat kearah sang Mama dengan sendu.
"Sekarang Mama paham, Nak! Mama paham kenapa sejak tadi kau terus menolak Viola untuk dioperasi." Mama Vivi mendekati Raja dan berjongkok tepat di hadapan putranya itu.
Dia lalu memeluk tubuh Raja dengan erat karna tau kalau saat ini Raja pasti merasa sangat sedih, dia baru sadar setelah teringat oleh mendiang suaminya yang meninggal tepat saat operasi sedang dilakukan.
Vedri dan Rio saling pandang seolah-olah sedang bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, mereka lalu melihat kearah Alea yang sedang terisak pilu.
"tolong hentikan mereka, Ma! hentikan operasi itu! aku tidak bisa hidup tanpa Viola, Ma!" mohon Raja, dia memeluk tubuh sang Mama dengan tangis yang sudah membanjiri wajahnya sejak tadi.
"tidak perlu takut, Sayang! Mama yakin Viola dan anakmu akan baik-baik saja, dan mereka pasti baik-baik saja!" Mama Vivi menekankan kata demi kata disetiap ucapannya, agar Raja yakin kalau operasi itu akan berjalan dengan lancar.
"benar, Raja! Viola adalah wanita yang sangat kuat, begitu juga dengan putramu, mereka pasti akan baik-baik saja setelah dioperasi," seru Rio, kini dia mulai paham kalau Raja memiliki trauma mendalam terhadap operasi yang dulu merenggut nyawa Ayahnya.
Raja terpaku sembari melihat kearah Rio, ucapan lelaki itu berhasil membuatnya terdiam dengan pikiran kosong karna mendengar kata putra yang lelaki itu ucapkan.
"putra? maksudmu, Viola akan melahirkan seorang putra?" tanya Mama Vivi, dia bangkit dan mendekat kearah Rio dengan mata kembali berkaca-kaca.
Rio menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Mama Vivi, dia lalu kembali melihat kearah Raja yang masih tetap memandangnya sejak tadi.
"putramu akan lahir, Raja! tapi kalau tetap menghalangi Dokter untuk melakukan operasi, maka kau tidak akan pernah melihat putramu itu,"
mendengar ucapan Rio, Raja langsung bangkit dan berdiri tegak dihadapan mereka semua. "aku, aku ingin menemui Viola!
__ADS_1
"untuk apa? apa kau ingin menghentikan-"
"tidak! aku tidak akan menghentikannya, aku, aku hanya ingin melihat istriku!"
Ria dan Vedri tampak ragu untuk membiarkan Raja keluar dari ruangan itu, mereka takut kalau lelaki itu kembali membuat onar dan akan membahayakan Viola.
"tidak apa-apa, Raja tidak membuat masalah lagi," ucap Mama Vivi, dia lalu menggandeng Raja untuk membawanya menemui Viola.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka semua pergi keruang operasi. Terlihat pintu ruangan itu masih tertutup rapat pertanda operasi belum selesai dilaksanakan.
"percayalah kalau Viola pasti baik-baik saja!" ucap Mama Vivi, dia menggenggam tangan Raja yang saat ini sedang gemetaran.
Semua orang meyakinkan Raja kalau saat ini Viola dan putranya baik-baik saja, karna lelaki itu benar-benar takut sampai membuat seluruh tubuhnya menjadi pucat.
2 jam telah berlalu, tetapi operasi yang dilakukan belum juga selesai. Semua orang menunggu dengan penuh kekhawatiran, tapi mereka mencoba untuk tetap tenang agar Raja tidak lagi berpikir macam-macam tentang keadaan Viola.
Di tengah kekhawatiran itu, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari ruang operasi yang ditempati oleh Viola.
Semua orang langsung berdiri dan mendekat kearah pintu ruangan, mata berkaca-kaca menahan rasa haru dan bahagia karna anak Raja dan Viola sudah lahir kedua dengan selamat.
"apa kau mendengarnya, Raja?" tanya Mama Vivi, dia mengusap lelehan air mata yang berhasil keluar dari kedua matanya.
"Benar, Raja! itu adalah suara anakmu, suara cucuku!" Mama Vivi memeluk tubuh Raja dan mengecup kening putranya itu dengan penuh rasa kebahagiaan, dia tidak menyangka kalau saat ini dia sudah menjadi seorang nenek.
Raja juga tampak sangat bahagia, beberapa kali dia menyebut nama Viola dan mengungkapkan rasa cinta dan kebahagiaan yang saat ini dia rasakan walaupun Viola tidak bisa mendengarnya.
Rio, Vedri dan Alea juga merasa sangat bahagia atas kelahiran anak Raja dan Viola. Tidak ada lagi kebencian yang tersimpan dihati Alea saat ini, selama kepergian Viola, dia terus meratapi semua kesalahannya dan membuatnya sadar kalau apa yang dia lakukan sudah menghancurkan hidup orang lain.
Di tengah kebahagiaan mereka saat ini, tiba-tiba pintu operasi terbuka membuat semua orang melihat kearah pintu tersebut sembari menunggu petugas medis keluar dari sana.
"bagaimana keadaan istri dan anakku?" tanya Raja dengan tidak sabar, dia bahkan sudah ingin masuk ke dalam ruang operasi itu saat ini.
"kondisi putra anda sangat sehat, Tuan! bobot tubuhnya mencapai 3,7 kg, dia sangat aktif dengan suaranya yang cetar membahana itu," jawab Dokter yang sudah melakukan operasi terhadap Viola.
Semua orang tertawa lucu mendengar aoa yang Dokter itu katakan, mereka bahkan sudah merasa tidak sabar ingin melihat segemas apa anak Raja dan Viola saat ini.
__ADS_1
"apa cucuku tampan?" tanya Mama Vivi, dia sudah membayangkan wajah Raja saat lelaki itu kecil dulu.
"tentu saja dia sangat tampan, Nyonya! dia mirip sekali dengan-"
"bagaimana keadaan istriku? kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"
semua orang langsung diam saat mendengar ucapan Raja, mereka baru sadar kalau sejak tadi Dokter tidak memberitahu bagaimana kondisi Viola saat ini.
"Begini, Tuan! istri anda belum sadarkan diri sampai saat ini, karna beliau terlalu banyak kehilangan darah. Itu sebabnya kami masih harus memantau bagaimana perkembangan beliau selanjutnya."
Raja langsung berlari masuk ke dalam ruang operasi untuk melihat keadaan Viola, sementara yang lainnya ikut menyusul lelaki itu setelah mengucapkan terima kasih pada Dokter tersebut.
"Viola!" Raja menggenggam kedua tangan Viola dan mengecupnya penuh kerinduan, dia juga mengecup kening wanita itu dengan mata berkaca-kaca dan berharap kalau istrinya itu akan segera sadar.
"ini bayi Anda, Tuan!"
Raja berbalik dan melihat seorang bayi mungil sedang berada dalam gendongan seorang perawat, lalu perawat itu memberikannya pada Raja yang langsung membuat Raja terdiam sembari memandang makhluk kecil yang sedang menggeliatkan tubuh dalam dekapannya.
"pu-putraku?"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk, ke karya temen aku! Dijamin keren dan seru 😍
Blurb.
Zahra terpaksa harus menikah dengan Alzam, pria asing pilihan ibunya. Pernikahan tanpa cinta membuat Zahra harus menerima perihnya kenyataan. Terlebih saat dia mengetahui jika Alzam telah memiliki seorang tunangan.
__ADS_1
Selama pernikahan Alzam tak pernah sedikitpun menganggap Zahra sebagai seorang istri meskipun mereka berada dalam satu ranjang yang sama. Bahkan Zahra harus berlapang dada ketika Alzam memutuskan untuk menikahi Aira. Mampukah Zahra mempertahankan rumah tangganya?