Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 37. Keputusan Mama Vivi


__ADS_3

"apa?"


Viola dan Alea sangat terkejut saat mendengar apa yang Mama Vivi ucapkan, sementara Raja juga melirik tajam kearah sang Mama karna tidak habis pikir kalau Mamanya akan berkata seperti itu.


"bulan madu kedua? kenapa?" tanya Alea dengan tidak suka, terlihat jelas raut kecemburuan diwajah wanita itu.


Mama Vivi menghela napas berat. "tentu saja supaya Viola cepat hamil, sayang."


Wajah Alea langsung masam saat lagi-lagi kehamilan menjadi topik pembahasan, sementara Viola juga merasa kesal karna terus mendengar pembahasan mengenai hal yang sangat sensitif bagi seorang wanita, terutama bagi Alea.


"aku bisa pergi sendiri Ma, lagipula-"


"kita sudah sangat terlambat!" potong Raja, dia lalu menarik pergelangan tangan Viola dan membawanya keluar dari rumah membuat hati Alea semakin dibakar api kecemburuan.


Mama Vivi melambaikan tangannya saat Raja dan Viola masuk ke dalam mobil, dia merasa sangat senang karna sang putra sudah benar-benar membuka hatinya untuk Viola.


"kenapa Ma?"


Mama Vivi terlonjak kaget saat membalikkan tubuhnya, dia tidak sadar kalau ada Alea tepat di belakangnya.


"apa maksudnya, Sayang?"


"kenapa mereka harus bulan madu lagi? bukannya kemaren mereka baru saja pulang bulan madu!"


Mama Vivi menghela napas kasar, situasi seperti inilah yang dari dulu membuatnya pusing saat menyuruh Raja untuk menikah lagi. Karna biar seikhlas apapun seorang istri saat dimadu, dia tetap akan merasa cemburu dan sakit hati jika suaminya sedang bersama madunya.


"Sayang, kemarilah!" Mama Vivi menarik tangan Alea agar mengikutinya, mereka duduk disofa yang ada diruang keluarga.


"Sayang, Mama tau kalau kau pasti tidak suka saat melihat Raja bersama dengan Viola. Mama juga tau kalau hatimu pasti sangat sakit dengan semua ini, tapi-" Mama Vivi menjeda ucapannya karna dia merasa apa yang akan dia katakan masih sama seperti apa yang dia katakan sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


"Aku mengerti, Ma! hanya saja, hiks. Hanya saja hatiku benar-benar sakit, Ma! aku benar-benar tidak sanggup." Air mata Alea akhirnya berjatuhan membasahi wajah, dia terisak dalam pelukan Mama Vivi karna sudah tidak sanggup untuk menahan segala sakit yang sedang dia rasakan.


Mama Vivi sendiri juga saat ini sedang dilanda kebingungan, dia tidak menyangka kalau semua keputusan yang dia ambil akan menyakiti hati menantunya sendiri.


"aku, aku lebih baik mundur saja, Ma!"


Mama Vivi membulatkan matanya saat mendengar apa yang Alea katakan, dia tidak sangat-sangat terkejut karna Alea bisa mengatakan hal seperti itu.


"mundur? maksudmu mundur itu, cerai?" tanya Mama Vivi, nada suaranya sudah naik beberapa tingkatan saat ini.


Alea menundukkan kepalanya karna tidak sanggup untuk melihat kearah Mama Vivi, dia juga tidak menyangka kalau mulutnya akan bicara seperti itu.


"jawab Mama, Alea!" bentak Mama Vivi, untuk pertama kalinya dia membentak menantu yang sangat dia sayangi, bahkan dia sudah menganggap Alea sebagai putrinya sendiri.


"Aku, aku tidak tau, Ma! aku tidak tau harus bagaimana." Alea kembali terisak.


Sesungguhnya, Alea tidak ada sedikipun niat untuk bercerai dari Raja. Apalagi dia sangat mencintai lelaki itu dan rela berkorban apapun untuk kebahagiaan Raja, tetapi karna rasa cintanya itulah saat ini hatinya terasa sedang dililit oleh ribuan duri yang terus menusuk hatinya dari segala penjuru.


Alea sendiri juga tidak tau kenapa semuanya bisa jadi seperti ini, memang semua yang dikatakan jauh lebih gampang daripada ketika merasakannya secara langsung.


"jika kau memang ingin mundur dari semua ini, maka baiklah!"


Alea terkejut mendengar apa yang Mama Vivi katakan, dia mendongakkan kepalanya dan memandang wanita paruh baya itu dengan tajam.


"Mama akan batalkan perjanjian Mama dengan Viola, dan Mama akan mengurus perceraian Viola dan juga Raja." Mama Vivi bangkit dan meninggalkan Alea yang terpaku ditempat karna mendengar ucapannya, dia merasa kalau hubungan rumah tangga Raja dan Viola sudah tidak bisa diteruskan lagi.


Alea segera bangkit dan mengejar langkah Mama Vivi, dia menarik tangan mertuanya itu dan memeluk tubuh Mama Vivi dengan tangis yang menggelegar diseluruh penjuru rumah.


"tidak, Ma! Aku tidak bermaksud seperti itu," lirih Alea sesenggukan, tubuhnya bergetar hebat saat berada dalam pelukan Mama Vivi.

__ADS_1


Mama Vivi sendiri sebenarnya juga merasa sangat sedih, tapi mungkin semuanya memang harus diakhiri sebelum semakin menambah derita dan air mata.


"sudahlah, Mama mengerti, Sayang! daripada kau berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kalau Viola saja yang pergi dari rumah ini. Raja pun pasti akan sangat marah jika tau kalau kau ingin bercerai darinya," balas Mama Vivi, sungguh dia sangat berat hati mengatakan hal demikian pada Alea.


Alea menggelengkan kepalanya karna tidak setuju dengan apa yang Mama Vivi katakan, dia merasa kasihan dengan nasib Viola kalau sampai Mama Vivi mengusirnya dari tempat ini.


"tidak, Ma! jangan lakukan itu, aku tidak mau membuat Viola menjadi sedih,"


"lalu, kau mau bagaimana lagi?" tanya Mama Vivi dengan frustasi, dia tampak sangat bingung melihat apa yang diinginkan oleh menantunya.


Alea terdiam, lidahnya kaku untuk menjawab pertanyaan dari Mama Vivi. Sejujurnya dia ingin kalau semua kembali seperti dulu, sebelum kedatangan Viola dalam hidup Raja.


"Mama rasa ini adalah pilihan yang tepat, Mama tidak akan menelantarkan Viola. Mama akan tetap memberikan pengobatan dan uang untuk menjamin kehidupannya dan juga Adiknya yang sedang sakit," lanjut Mama Vivi, terlihat Alea memikirkan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu.


"lalu, lalu bagaimana dengan Paman? dia, dia pasti akan menguasai harta almarhum Papa," lirih Alea, dia terlihat sedih jika mengingat perjuangan Mama Vivi dalam mempertahankan apa yang memang seharusnya menjadi milik mereka.


"Jika kau mengkhawatirkan harta, maka Mama akan melakukan cara lain untuk mempertahankannya. Biarlah Viola pergi dan mencari kebebasan lain, sebelum kehadirannya semakin menjadi beban dan penyakit untukmu." Mama Vivi kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar, dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya yang sudah akan terjatuh karna mengingat wajah Viola.


Sesampainya dikamar, Mama Vivi langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia menangis dengan sejadi-jadinya karna merasa bersalah telah memaksa Raja untuk menikah lagi.


"aku tidak tau kalau akhirnya akan ada banyak hati yang terluka akibat keputusanku, aku hanya ingin menjaga warisan suamiku, dan menjaga garis keturunan keluarga ini," gumam Mama Vivi, dia membenamkan wajahnya kebantal agar suara tangisannya tidak terdengar oleh orang lain.


Sementara itu, ditempat lain terlihat Viola sedang merasa tidak enak badan. Sejak naik kepesawat, perutnya terasa mual dengan kepala yang terasa berputar-putar membuatnya merasa lemas ditempat duduknya.




__ADS_1


Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2