Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 47. Pergi Ke luar Kota


__ADS_3

"Kakak tunggu saja, aku akan menjemput Kakak dan membawa Kakak pergi dari mereka semua!"


Viola tercengang saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenali, dia lalu menjauhkan ponselnya dan kembali mendekatkan ponsel itu setelah beberapa saat.


"Vedri?" Viola tidak menyangka kalau saat ini dia sedang berbicara dengan adiknya, bahkan adiknya berkata ingin membawanya pergi jauh.


"maafkan aku, Kak! karna aku, kakak harus menderita," ucap Vedri, suaranya terdengar lirih seakan-akan dia benar-benar menyesal telah membuat Kakaknya susah.


"Kau bicara apa sih? kalau bukan kakak yang menderita karnamu, terus siapa lagi!" Viola terkekeh pelan dengan apa yang baru saja dia ucapkan, begitu pula Vedri yang tertawa akibat ucapannya.


"sudahlah, lupakan apapun yang tadi kau dengar. Kakak di sini baik-baik saja, besok Kakak akan menjemputmu-"


"menjemput siapa?"


Prang, ponsel yang dipegang Viola jatuh membentur lantai akibat terkejut dengan suara seseorang yang sedang berdiri tepat di belakangnya.


Raja mengambil ponsel Viola yang terjatuh, dia lalu melihat siapakah yang sedang berbicara dengan Viola tadi.


"Adikmu sudah boleh pulang?"


Viola merebut ponsel yang masih berada dalam genggaman Raja, dia lalu menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Raja.


"mau ke mana? aku baru saja masuk ke dalam kamarmu!"


Viola yang ingin pergi dari kamar itu tidak jadi melanjutkan niatnya, dia merasa ingin menangis saat melihat Raja ada dihadapannya.


Melihat Viola diam, Raja menariknya dan mendudukkan wanita itu ke atas ranjang. Dia lalu sedikit merunduk dan mengusap perut rata Viola membuat wanita itu terjingkat kaget.


"bagaimana kabarmu, junior? apa kau sudah makan?"


"Pfftt!" Viola menahan tawanya saat mendengar ucapan Raja, dia merasa apa yang Raja ucapkan itu sangat lucu dan menggelitik diperutnya.


"kenapa kau tertawa? apa pertanyaanku salah?" tanya Raja sembari menyandarkan tubuhnya kesandaran ranjang.


"tentu saja! bagaimana mungkin kau bertanya pada janin yang ada dalam kandungan sudah makan atau belum?" balas Viola, senyum merekah terbit dibibirnya dengan diiringi suara tawa yang sesekali terdengar.

__ADS_1


"itu artinya, aku sedang bertanya pada Ibu dari janin itu. Kalau Ibunya makan, udah pasti dia juga makankan?" ucap Raja, dia bangkit dan menarik Viola agar mengikutinya.


Viola tersenyum saat mendengar ucapan Raja, dia merasa lebih baik dengan gurauan yang baru saja lelaki itu lakukan padanya.


Raja menggenggam tangan Viola dan membawanya ke dapur, dia ingin mengajak wanita itu makan siang karna memang sekarang sudah waktunya mengisi kampung tengah.


"kenapa?"


Viola menarik tangannya dari genggaman tangan Raja saat mereka sedang menuruni anak tangga membuat lelaki itu bingung dan menghentikan langkah kakinya.


"itu, aku, aku bisa jalan sendiri!" ucap Viola, dia lalu berjalan meninggalkan Raja yang masih terpaku sembari melihat tajam kearahnya.


Sesampainya didapur, Viola tersenyum canggung saat melihat ada Mama Vivi dan juga Alea dimeja makan sementara Mama Vivi dan Alea juga tersenyum canggung saat melihat Viola ada ditempat itu.


"duduklah! kenapa berdiri saja?" seru Mama Vivi.


Viola menarik sebuah kursi dan duduk tepat dihadapan Mama Vivi, dia merasa sangat tidak nyaman dan ingin sekali pergi dari tempat itu saat ini juga.


"Honey! aku sudah menyiapkan-" Alea tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Raja duduk di samping Viola, lelaki itu tampak mencubit pipi Viola tanpa melihat kearahnya sama sekali.


"itu hukuman karna kau melepaskan genggaman tanganku, dasar!" omel Raja, dia lalu mengambil piring dan mengisi piring itu dengan lauk pauk.


Alea yang masih memperhatikan Raja dan juga Viola sedikit terkejut saat tangannya disentuh oleh Mama Vivi, wanita paruh baya itu menganggukkan kepala seolah-olah menyuruh Alea untuk bersabar.


"besok, aku akan berangkat ke luar kota!" ucap Raja tiba-tiba, terlihat Alea, Viola dan Mama Vivi langsung melihat kearahnya dan menghentikan acara makan mereka.


"kau mau ke mana, Raja?" tanya Mama Vivi, terlihat Alea dan Viola juga penasaran ke mana lelaki itu akan pergi.


"aku mau ke Kota Medan, ada sesuatu yang harus aku kerjakan di sana!" jawab Raja sembari menikmati makanan yang sangat dia sukai.


"Medan? waah, di sana ada tempat terkenal yang namanya danau Toba loh. Pasti asyik kalau bisa berlibur di sana," seru Alea, dia terlihat bersemangat untuk ikut dengan Raja.


"lain kali aku akan membawa kalian ke sana,"


pupus sudah harapan Alea setelah mendengar ultimatum yang diberikan oleh Raja, lelaki itu seperti tau kalau dia ingin ikut pergi bersamanya.

__ADS_1


"oh iya, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan pada kalian,"


Viola menatap Raja dengan tajam, dia sudah harap-harap cemas kalau sampai lelaki itu mengatakan perihal kehamilannya.


"saat ini, Viola-" Raja tidak dapat melanjutkan ucapannya saat pahanya dicengkram kuat oleh Viola, dia lalu melirik kearag wanita itu seperti bertanya apa yang sedang dia lakukan.


Viola sedikit menggelengkan kepalanya untuk menyuruh Raja agar tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan, karna Viola tau kalau lelaki itu ingin memberitahu soal kehamilannya pada semua orang.


"ada apa? apa terjadi sesuatu pada Viola?" tanya Alea dengan tidak suka, dia menatap sinis kearah Viola karna sejak tadi hanya dialah yang diperhatikan oleh Raja.


"dia, dia sedang tidak enak badan. Jadi aku harap kalian bisa merawatnya sampai aku kembali,"


Viola bernapas lega karna Raja tidak jadi mengatakan soal kehamilannya, dia lalu kembali duduk dengan tenang dan menghabiskan makanan dan minuman yang ada dihadapannya.


"mereka tidak boleh tau mengenai kehamilanku! dan besok, aku akan pergi dari sini setelah Raja pergi keluar kota,"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir ke karya temen aku juga yuk! dijamin keren dan seru 😍


Blurb.


Kerumitan hidup membawa tiga saudara bermarga Natadisastra berurusan dengan seorang gadis dari kalangan biasa bernama Aleanska Nara. Rasa benci, obsesi, serta mencintai, membuat mereka harus berkorban, saling membohongi, bahkan saling menyakiti.


"Kembaran gue suka Kakak tiri gue, Kakak tiri gue suka adek gue. Cih, takdir Tuhan macam apa ini?"


__ADS_1


__ADS_2