Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 58. Keberadaan Viola.


__ADS_3

"Apa belum cukup kau membuat aku seperti ini, Al? apa kau ingin menghancurkanku sampai tak bersisa lagi?"


Alea terpaku melihat kearah Raja dengan mata berkaca-kaca, dia merasa senang karna akhirnya Raja mau berbicara dengannya.


"jika kau memang ingin pergi dari sini, maka pergilah, aku tidak akan menahanmu! tapi, kau juga harus tau, bahwa aku tidak akan pernah menunggu kedatanganmu!" ancam Raja, walaupun dia masih marah dengan wanita itu, tapi dilubuk hatinya yang terdalam dia merasa sedih melihat hubungannya dan Alea menjadi seperti ini.


"terima kasih, terima kasih karna kau masih mau berbicara denganku, Raja!" ucap Alea, hatinya merasa senang walaupun saat ini Raja masih terlihat marah padanya.


Raja terdiam mendengar apa yang Alea ucapkan, dia melihat penampilan Alea yang tampak sangat berantakan dengan mata sembab dan rambut acak-acakan.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit sekarang!" Alea mengusap air mata yang menetes diwajahnya, dia lalu tersenyum simpul sembari melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah itu.


"jika kau benar-benar merasa bersalah, maka kau tidak akan melakukan ini!"


Semua orang merasa terkejut saat melihat seorang pemuda sedang berdiri tegak di depan pintu, mata meteka membulat sempurna saat mengenali wajah pemuda tersebut.


"Ve-Vedri?" Raja terpaku di tempatnya saat melihat Vedri berdiri tepat dihadapannya, begitu juga dengan Mama Vivi dan juga Alea yang tidak menyangka kalau adik dari Viola saat ini sedang ada dirumah mereka.


"Vi-Viola! di mana dia?" Raja berlari dan mencengkram kuat kedua bahu Vedri, dia mengguncang tubuh pemuda itu sembari terus bertanya di mana keberadaan Viola saat ini.


Plak, satu tamparan berhasil mendarat tepat diwajah Raja membuat lelaki itu terdiam dengan menoleh ke arah samping.


"beraninya kau menyebut nama kakakku setelah apa yang telah kau lakukan?" teriak Vedri, dia bukan hanya menatap tajam kearah Raja tetapi dia juga melihat kearah Mama Vivi dan juga Alea.


"untuk apa lagi kalian mencarinya? bukannya kalian sendiri yang telah mengusir dan memperlakukan Kakakku seperto sampah!" Vedri meluapkan segala amarah yang dia tahan selama hampir 1 tahun pada mereka sejak dia dan Viola mengasingkan diri.


"aku tau kalau aku berhutang banyak pada kalian, karna kalianlah yang telah membayar seluruh pengobatanku. Tapi bukan berarti kalian bisa melakukan segala macam cara untuk menyakiti Kakakku!"


"hentikan semua ocehanmu, itu! sekarang katakan di mana Viola!" Raja yang sudah merasa tidak tahan untuk mengetahui keberadaan Viola terus memaksa Vedri agar mau membuka mulut.


"kalau saja keadaan Kakak tidak kritis, maka aku tidak akan sudi untuk datang ke tempat ini!"


Raja semakin membulatkan matanya saat mendengar apa yang Vedri katakan, begitu juga dengan Mama Vivi dan Alea yang memohon pada Vedri agar dia mau memberitahu di mana Viola saat ini.


"kasihanilah kami, Nak! tolong beritahukan di mana Viola sekarang, kami, kami ingin melihatnya," mohon Mama Vivi, wanita paruh baya itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada memohon agar Vedri mengatakan semuanya.

__ADS_1


"Benar, Vedri! aku rela melakukan apapun agar kau mau memberitahu keberadaan Viola!" Alea bahkan sampai bersimpuh di hadapan Vedri untuk memohon belas kasihannya.


Vedri terdiam dengan semua permohonan yang mereka ucapkan, dia ingin melihat apakah mereka tulus menginginkan Viola atau hanya sekedar menginginkan bayinya.


"Hah!" Vedri menghela napas kasar, dia menggenggam ponselnya yang sejak tadi terus bergetar karna ada seseorang yang menelponnya.


"Kakak sekarang berada dirumah sakit, dia sedang berusaha untuk menyelamatkan anaknya!"


deg, jantung semua orang terasa ingin lompat keluar dari rongga dada mereka saat mendengar apa yang Vedri katakan. Terutama Raja yang langsung terduduk lemas di atas lantai.


"Kakak, Kakak terus menyebut namamu! itu sebabnya aku datang ke sini,"


"ce-cepat! bawa, bawa aku menemui Viola!" pinta Raja, dia merangkak sampai menyentuh kaki Vedri meminta untuk diantar ke rumah sakit saat ini juga.


Vedri terkejut saat kakinya disentuh oleh Raja, dia buru-buru jongkok dan memegang tangan lelaki itu.


"baiklah, aku akan membawamu ke sana!" ucap Vedri, dia merasa tersentuh dengan apa yang Raja lakukan saat ini.


Setelah kedatangan Vedri yang tidak pernah diduga sama sekali, mereka semua berangkat kerumah sakit tempat Viola berada saat ini.


"jadi, selama ini kalian tinggal di sana?" tanya Mama Vivi, dia menyebut sebuah kota kecil yang sedang mereka tuju saat ini.


"maaf, aku tidak bisa memberitahukan di mana kami tinggal!" jawab Vedri dengan acuh, dia tampak sangat berbeda dari terakhir kali bertemu dengan Raja.


Semua orang menutup mulutnya dan enggan untuk kembali bertanya pada Vedri, karna pemuda itu tidak akan menjawab apapun yang mereka tanyakan, apalagi jika mereka bertanya tentang tempat tinggal yang selama ini Viola tempati.


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga disebuah rumah sakit. Raja langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit tersebut padahal mobil masih menyala dan baru saja berhenti.


"Viola! Viola!" Raja berteriak ke sana ke mari seperti orang gila sembari meneriaki nama Viola membuat keadaan rumah sakit menjadi sangat ramai.


"maaf, Pak! apa yang sedang anda lakukan?" dua orang sekuriti menghampiri Raja yang sedang berteriak-teriak, mereka berdua bahkan sampai memegangi Raja yang tidak bisa diam.


"lepaskan aku! aku harus mencari istriku!"


Mama Vivi dan Alea yang baru masuk ke dalam rumah sakit melihat Raja dengan mata berkaca-kaca, bahkan Mama Vivi memalingkan wajahnya karna merasa sakit melihat Raja seperti itu.

__ADS_1


"tenanglah, Pak! anda mengganggu kenyamanan rumah sakit ini!"


"lepaskan, dia!" seorang pria tampak berjalan mendekati Raja yang masih meronta-ronta minta dilepaskan.


"Tuan, kita bertemu lagi," ucap Rio, dia tersenyum manis kearah Raja dan semua keluarganya.


"kau, kau kan yang sudah membawa Viola pergi?" teriak Raja, dia mencengkram kerah kemeja Rio membuat suasana rumah sakit menjadi tegang.


"tidak, Tuan! aku hanya-"


"Pak, Ibu Viola mengalami pendarahan besar!"


"apa?"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk, ke karya temen aku! Dijamin keren dan seru 😍


Blurb.


Mobil hitam melintas di atas tanah berlumpur, diluar nampak hujan deras yang tak kunjung reda. Dan kilatan guntur terlihat di langit menyambar, dengan gemuruh yang menggelegar.


Malam ini terasa mencekam. Dari kejauhan, bayangan sebuah rumah kuno terlihat di antara pepohonan besar, bersembunyi di balik kegelapan.


"Aah. Perasaan apa ini, kenapa perasaan tidak enak mengganggu pikiranku?" batinku berkata seakan ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.


Ya, benar saja. Kisah mistisku belum berakhir. Meskipun aku telah meninggalkan Desa Nenekku, Desa Rawa Belatung. Aku selalu saja berurusan dengan hal-hal gaib. Penelusuran gaib yang terus membawaku bertemu dengan sosok makhluk tak kasat mata, yang terus mengikuti setiap perjalanan hidupku.

__ADS_1



__ADS_2