Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab 49. Selamat Tinggal.


__ADS_3

"Kakak tenang saja, aku mengenal seseorang yang bisa membantu kita. Dan akan kupastikan, kalau keluarga suami Kakak itu tidak akan pernah bisa menemukan kita!" ucap Vedri.


"siapa? Dokter Rangga?" tanya Viola, siapa lagi yang dikenal oleh adiknya kalau bukan Dokter tersebut.


"bukan, Kak! aku mengenal seorang lelaki dirumah sakit ini, dia sangat baik dan dia juga orang yang berkuasa. Aku yakin kalau dia pasti bisa menyembunyikan kita," jawab Vedri, dari nada suaranya terdengar jelas keyakinan yang ada dalam setiap ucapannya.


"kita tidak bisa mempercayai sembarang orang, Vedri! lagipula-"


"sudahlah kak, kali ini biar aku yang memikirkan semuanya. Selama ini Kakak sudah berjuang mati-matian untukku, jadi izinkan aku gantian berjuang untuk keponakanku!"


Hati Viola sangat terharu mendengar apa yang Vedri ucapkan, tangannya mengusap perutnya dengan rasa syukur karna saat ini dia tidak lagi berjuang sendirian.


"baiklah, Kakak akan mengikuti apa yang kau ucapkan. Besok siang, Kakak akan berangkat ke sana. Kakak harus memastikan kalau Raja sudah pergi, baru Kakak bisa pergi dari sini," ucap Viola kemudian.


Setelah selesai berbicara dengan Vedri, Viola segera mematikan panggilan telpon mereka. Dia lalu naik ke atas ranjang untuk mengistirahatkan diri karna besok dia harus melakukan perjalanan panjang.


***


Keesokan paginya, cuaca terlihat mendung dan berangin. Viola yang sudah membuka kedua matanya tampak enggan untuk bangun, apalagi udara dingin dipagi hari memaksanya untuk kembali menarik selimut.


Namun, tiba-tiba Viola mengingat sesuatu. Dia lalu buru-buru bangun dan berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Viola keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Terlihat beberapa pelayan sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing, dan langsung menyapa Viola saat dia memasuki dapur.


"selamat pagi Nyonya," sapa para pelayan, mereka sedikit menundukkan kepala pada Viola.


"Selamat pagi semuanya, bagaimana pagi ini? cuacanya mendung yah, pengen tarik selimut lagi hihi." Viola tertawa renyah pada para pelayan dan di sambut dengan tawa mereka juga.


Lalu dia sedikit mengobrol dengan beberapa pelayan yang ada didapur sembari menyiapkan makanan untuk menu sarapan.


"hari ini biar aku saja yang menyiapkan sarapannya, tapi kalian bantu juga yah sedikit-sedikit," pinta Viola, dia ingin memasak makanan terakhir untuk orang-orang yang ada dirumah itu, terutama Raja yang pastinya tidak akan lagi bertemu dengannya.


Viola menyiapkan semua bahan masakan dengan dibantu oleh dua orang pelayan, dia bergerak ke sana kemari dengan lihai agar semua masakan dapat diselesaikan tepat waktu.


Raja yang saat itu sudah keluar dari kamar Alea berjalan kearah kamar Viola, dia lalu membuka pintu kamar itu dan mencari keberadaan wanita itu.


"Ke mana dia? apa dia sedang didapur?" Raja kembali keluar dan berjalan menuju dapur, dari kejauhan dia sudah bisa mendengar gelak tawa Viola membuat senyum tipis terbit dibibirnya.

__ADS_1


"bagaimana? apa rasanya sudah pas?" tanya Viola pada salah satu pelayan yang dia suruh untuk mencicipi rasa masakannya, terlihat pelayan itu memberikam dua jempol untuk rasa dari masakan itu.


Viola terlihat sangat bahagia karna telah berhasil menyelesaikan masakannya, dia tidak sadar kalau saat ini Raja sedang memperhatikannya dari arah pintu.


"sekarang kau suka sekali masak, yah! apa anak kita perempuan?"


Viola terlonjak kaget saat mendengar suara Raja, terlebih-lebih saat lelaki itu baru saja mengungkap kehamilannya.


Beberapa pelayan yang mendengar ucapan Raja juga tampak terkejut, mereka semua langsung melihat kearah perut Viola membuat wanita itu dilanda kecemasan.


Viola mendekati Raja sembari memutar otak agar berita tentang kehamilannya tidak sampai ketelinga Mama Vivi dan Alea.


"i-itu, aku harap kalian tidak memberitahukan kehamilanku pada Mama dan juga Alea," ucap Viola, terlihat para pelayan memandangnya dengan bingung, terutama Raja yang merasa sangat tidak suka dengan apa yang Viola ucapkan.


"kenapa? kenapa tidak boleh mengatakannya pada mereka? semalam kau juga seperti ini kan, saat aku ingin mengatakan perihal kehamilanmu!" seru Raja, dia mencoba untuk menahan amarahnya karna sudah berjanji tidak akan berbuat jahat lagi pada Viola.


"aku, aku hanya ingin membuat kejutan untuk mereka! pasti mereka akan lebih senang saat kita mengajak mereka kerumah sakit untuk melihat langsung janin yang ada di dalam kandunganku," ucap Viola dengan pelan, dia melirik ke arah belakang tubuh Raja untuk memastikan kalau tidak ada Mama Vivi dan Alea di sana.


"benarkah?" tanya Raja dengan curiga, dia ragu untuk percaya dengan ucapan wanita itu.


"tentu saja! setelah itu kita akan merayakan kehamilanku, dan memberitahu semua orang. Jadi, aku mohon pada kalian semua untuk menjaga rahasia ini, dan jangan mengatakannya pada Mama dan Alea, sampai aku dan Raja sendiri yang mengatakannya," bohong Viola, dia harus menutup mulut mereka semua agar rencananya bisa berhasil.


"baiklah, hentikan drama ini! aku lapar!" ucap Raja tiba-tiba.


Viola lalu mengajaknya untuk duduk dikursi makan dan menyiapkan makanan dan minuman untuk lelaki itu.


"Inilah makanan dan minuman terakhir yang bisa aku siapkan untukmu, Raja! aku harap, kau mengingatku walau seujung kuku saja. Maafkan aku yang terpaksa berbohong, dan pergi dari kehidupanmu. Semoga pernikahanmu dan Alea selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan." Viola mengusap air mata yang berhasil lolos dimatanya.


Tidak berselang lama, datanglah Alea dan Mama Vivi bergabung bersama mereka. Viola terus menundukkan kepalanya dan enggan untuk melihat kearah Alea yang pastinya tidak suka melihatnya bersama dengan Raja saat ini.


"kau berangkat jam berapa, Raja?" tanya Mama Vivi sembari mengambil makanan yang akan dia makan.


"aku berangkat jam 8, setelah ini aku akan langsung pergi ke bandara," jawab Raja.


Viola meremmas ujung baju yang sedang dia pakai, hatinya terasa begitu sakit karna harus berpisah dengan orang yang sudah dia cintai.


"tidak, Viola! kau harus kuat, kau tidak boleh lemah seperti ini!"

__ADS_1


Selesai sarapan, Raja segera bersiap untuk berangkat kebandara bersama dengan Kenan yang sudah menunggunya diruang tamu. Terlihat Alea dan Mama Vivi mengantar kepergian Raja dihalaman depan rumah mereka.


"Ke mana Viola? kenapa dia tidak mengantarku?" Raja lalu berteriak dengan sangat keras untuk memanggil Viola agar menemuinya saat ini juga.


Viola yang sengaja berdiri dibalik jendela terpaksa keluar saat mendengar teriakan Raja, dia berjalan cepat untuk mendekati lelaki itu sebelum dia menjadi murka.


"istri macam apa kamu ini? suami mau pergi, kok tidak diantar!"


Mama Vivi dan Alea saling lirik mendengar ucapan Raja, sementara Viola hanya menatap Raja dengan mata berkaca-kaca.


"jaga dirimu! dan pastikan kau membalas dan mengangkat panggilan telponku!" perintah Raja, Viola hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan lelaki itu.


Raja segera masuk ke dalam mobil bersama dengan Kenan, Kenan lalu melajukan mobil itu untuk menuju bandara karna memang 40 menit lagi pesawat mereka akan berangkat.


Viola terus melihat kearah mobil Raja, sampai mobil itu tidak lagi terlihat oleh pandangan matanya. "Selamat tinggal, Raja! kau akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan!"


Viola mengusap air matanya dan melihat kearah Mama Vivi dan Alea yang juga masih ada ditempat itu.


"Ma, Alea! Aku pamit untuk pergi dari tempat ini saat ini, juga!"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk, ke karya temen aku! Dijamin keren dan seru 😍


Blurb.


Elnara wanita cantik yang begitu pandai hingga dikagumi oleh banyak orang terutama kaum Adam. Sayangnya, kecantikan dan kepintaran Elnara tidak bisa menaklukan hati Zayan. Segala cara Elnara lakukan demi bisa menikah dengan Zayan, termasuk menggunakan kekuasaan keluarganya agar Zayan mau menikah dengannya.


Mampukan Elnara menaklukan hati Zayan? Atau justru Elnara memilih menyerah dan membebaskan Zayan dari belenggu pernikahan tanpa cinta?

__ADS_1



__ADS_2