Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 44. Salah paham.


__ADS_3

"Aku tidak bisa lagi membiarkan ini! maafkan aku Viola, tapi kau harus segera pergi dari rumah ini!" Alea berbalik, dan berjalan cepat kearah kamarnya sembari menahan tangis yang hampir pecah dimatanya.


Bruk, sangking terburu-burunya. Alea tidak melihat kalau dihadapannya ada Mama Vivi yang sedang menuruni anak tangga, Alea terjatuh dan terbentur pinggiran tangga akibat tabrakan mereka.


"astaga, apa yang terjadi padamu Nak?" tanya Mama Vivi.


Alea semakin terisak saat mendengar pertanyaan dari Mama Vivi, dia lalu bangkit dan memeluk wanita paruh baya itu dengan erat seakan-akan sedang mencurahkan segala kesedihannya.


Mama Vivi yang mulai mengerti apa yang sedang terjadi membawa Alea ke kamarnya, dia mendudukkan wanita itu ke atas ranjang dan memberikan sekotak tisu padanya.


"tenanglah, dan jangan menangis lagi!" ucap Mama Vivi, dia menggenggam kedua tangan Alea untuk menenangkan menantunya itu.


"aku sudah tidak tahan lagi, Ma! aku sudah tidak tahan lagi melihat Raja dan Viola!" seru Alea, terlihat jelas pancaran kebencian dimatanya saat menyebut nama Viola.


Mama Vivi menghela napas kasar, sejujurnya dia tidak mau memutuskan pernikahan Viola dan Raja begitu saja. Tetapi, dia juga tidak tega melihat Alea yang terus saja menangis saat melihat kedekatan Raja dan Viola.


"baiklah, Alea. Nanti Mama akan bicara pada Viola, Mama harap dia akan mengerti," akhirnya itulah kata-kata yang terucap dari mulut Mama Vivi.


Semalaman wanita paruh baya itu tidak bisa tidur, kepalanya terasa berputar-putar karna terus memikirkan Raja dan Viola yang akhir-akhir ini menjadi sangat dekat.


"apa Raja akan menyetujui hal ini? kalau dia tidak setuju gimana?"


"aku keluar dulu, Ma! Aku ingin mandi dan menenangkan diri," pamit Alea, dan dibalas dengan anggukan kepala Mama Vivi.


Alea keluar dari kamar Mama vivi dan berjalan kearah kamarnya sendiri, rasa sesak yang ada dihatinya kini mulai berkurang karna dia sudah menumpahkan segalanya pada mertuanya itu.


"Sayang, kau dari mana saja?"


Alea terpaku di depan pintu saat melihat Raja duduk di ranjang, dia lalu melihat kearah kamar Viola yang saat ini sedang tertutup rapat.


"apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alea dengan sarkastik, dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kuat membuat Raja terlonjak kaget karna suaranya.


Raja menatap Alea dengan bingung, dia tau kalau saat ini istrinya itu sedang marah padanya karna sesuatu yang mungkin saja dia lakukan.


"aku kira kau sudah tidak mengingatku!" sindir Alea, dia mengambil bantal dan meletakkannya dipinggiran ranjang sebagai sandaran.


"apa maksudmu, Alea? bagaimana mungkin aku melupakanmu?" Raja sedikit tersulut emosi, dia merasa tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Alea.

__ADS_1


"Tentu saja kau akan melupakanku, bukannya kau sudah punya istri kedua yang sangat kau sukai itu."


kening Raja berkerut dengan alis mata hampir menyatu karna tidak menyangka kalau Alea akan mengucapkan kata-kata seperti itu, dia lalu bangkit dan duduk tepat di hadapan Alea sembari menggenggam kedua tangannya.


"apa maksudmu, Sayang? aku tidak pernah melakukan itu," ucap Raja dengan lembut, dia mengecup kedua tangan Alea mencoba untuk menenangkan wanita itu.


Bukannya merasa tenang, Alea malah semakin dibakar api kemarahan. Dia menarik paksa tangannya, dan mendorong Raja agar duduk jauh darinya.


"Tidak pernah?" Alea tertawa pelan dengan senyum sinis diwajahnya.


"bahkan kau selalu menempel padanya walaupun kau baru saja pulang dari bulan madumu itu!" suara Alea terdengar ketus dan tinggi, tidak ada lagi wanita lemah lembut yang biasa menenangkan hati semua orang.


Raja bangkit dengan tatapan tajam, dia kini mulai mengerti alasan dibalik kemarahan Alea saat ini.


"begini, Alea! kau salah paham, aku dan Viola-"


"sudahlah, aku tidak peduli! mungkin kau memang sudah tidak mencintaiku lagi, itu sebabnya kau tidak mau lagi tidur bersamaku!" Alea terisak sembari memeluk boneka kesayangannya, dia duduk membelakangi Raja karna tidak ingin melihat wajah lelaki itu.


Raja yang tadinya terpancing emosi kini mencoba untuk menenangkan diri, dia menarik napas panjang dan menghembuskannya agar emosinya tidak semakin besar.


"Alea, dengarkan aku!" Raja menarik kedua bahu Alea agar wanita itu manghadapnya, dia bahkan harus memegangi wajah Alea agar mau menatap matanya.


"Bohong! kau pembohong!" Alea mendorong tubuh Raja agar tangan lelaki itu terlepas dari wajahnya.


"kalau kau memang ingin tidur denganku, kenapa tadi malam kau malah tidur dengannya?"


Raja tertawa lebar saat mendengar apa yang Alea ucapkan, dia lalu kembali mendekati wanita itu dan menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukannya.


"kau salah paham, Sayang! aku tidak tidur dengannya, bahkan aku tidak tidur dirumah ini!"


Alea terkejut dengan apa yang Raja katakan, dia lalu merenggangkan pelukan Raja dan menatap wajah lelaki itu.


"jadi, kau tidur di mana?" tanya Alea dengan curiga.


Raja lalu menceritakan kalau tadi dia menginap diperusahaan karna ada hal penting yang harus dia kerjakan, dan dia baru kembali kerumah ini tepat pukul 6 pagi.


Alea menundukkan kepalanya karna merasa malu dengan apa yang telah dia pikirkan, dia sedikit merasa bersalah karna telah salah paham dengan Raja dan juga Viola.

__ADS_1


"aku, aku minta maaf!" lirih Alea, dia menenggelamkan wajahnya didada bidang Raja.


"sudahlah, lupakan semuanya!" Raja tidak ingin membahas masalah itu lagi karna dia takut kalau Alea akan membenci Viola.


Setelah pertengkaran mereka, Alea menemani Raja tidur di atas ranjang. Lelaki itu benar-benar merasa sangat lelah dan mengantuk karna semalaman dia harus mengerjakan pekerjaan yang sangat penting.


Beberapa jam kemudian, Alea keluar dari kamar meninggalkan Raja yang masih terlelap. Kini dia tampak sangat segar dengan balutan dres berwarna biru muda selutut yang membuat tampilannya sangat cantik dan elegan.


Alea mengetuk pintu kamar Viola sembari memanggil wanita itu, tidak berselang lama keluarlah Viola dengan membawa sepiring roti yang sedang dia nikmati.


"apa aku mengganggumu?" tanya Alea dengan ragu-ragu, dia merasa sedikit gelisah saat ini.


"tidak! aku hanya sedang menonton tv," jawab Viola, dia mempersilahkan Alea untuk masuk ke dalam kamarnya.


"tidak, Vi! ada sesuatu yang ingin aku dan Mama bicarakan denganmu," tolak Alea, dia juga langsung mengatakan maksud dari kedatangannya ini.


"Baiklah, ayo!" Viola mengikuti langkah Alea untuk masuk ke dalam kamar Mama Vivi, terlihat wanita paruh baya itu sedang duduk di atas sofa.


"masuklah!" sambut Mama Vivi, dia menyuruh menantu-menantunya untuk duduk di hadapannya.


"ada apa, Ma? apa yang ingin mama bicarakan denganku?" Viola langsung saja menanyakannya pada Mama Vivi, dia sedikit penasaran tentang apa gang ingin dibicarakan oleh mertuanya itu.


Mama Vivi melirik kearah Alea, dan dibalas dengan anggukan dari wanita itu.


"begini, Viola! apa, apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" Mama Vivi ingin membuka pembicaraan mereka dengan baik, dia tidak tega jika harus langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Viola merasa terkejut dengan apa yang Mama Vivi tanyakan, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang bertanya apakah dia bahagia dengan pernikahannya atau tidak.


"apa yang harus aku katakan, Ma! aku sangat tidak bahagia dengan pernikahanku, tapi itu dulu. Sebelum malaikat kecil hadir dalam hidupku, dan sebelum aku jatuh cinta pada suamiku,"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2