Menjadi Madu Sahabatku

Menjadi Madu Sahabatku
Bab. 59. Penolakan Operasi


__ADS_3

"Pak, Ibu Viola mengalami pendarahan besar!"


"Apa?" Rio berbalik dan berjalan cepat kearah sebuah ruangan.


Raja yang mendengar nama Viola disebut langsung mengikuti langkah Rio, begitu juga dengan yang lainnya yang berlari menuju ruangan di mana Viola berada.


"bagaimana keadaannya?" tanya Rio pada salah satu Dokter, terlihat para petugas medis keluar masuk dari sebuah ruangan.


"Ibu Viola sangat kritis, Pak! kami tidak tau apakah bisa menyelamatkannya atau-"


"Tutup mulutmu!" Raja kembali mencengkram kerah kemeja Dokter yang ada dihadapannya, semenjak Viola pergi, sepertinya lelaki itu menjelma sebagai lelaki pencengkram kerah kemeja.


"beraninya kau berkata seperti itu!" Raja hampir saja memukul wajah Dokter itu kalau saja tidak dihalangi oleh Rio dan juga Vedri, mereka berdua menarik paksa tangan Raja yang masih memegangi Dokter paruh baya itu.


"tenangkan dirimu!" ucap Vedri, dia mencoba untuk mendudukkan Raja kesebuah kursi.


"di mana istriku?" Raja kembali bertanya pada semua yang ada ditempat itu perihal keberadaan Viola.


"Viola ada di sana!" Rio menunjuk kearah ruangan yang ada dihadapannya. "Dia-"


Raja langsung berlari masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh Rio tanpa menunggu ucapan lelaki itu selesai, sementara yang lainnya pun ikut berjalan keruangan tersebut.


"tunggu!"


ucapan Vedri menghentikan langkah Mama Vivi dan Alea yang sudah hampir mencapai pintu, kedua wanita itu berbalik dan melihat kearah Vedri dengan penuh tanda tanya.


"biarkan mereka berdua di sana!" sambung Vedri, dia lalu duduk dikursi yang ada ditempat itu.


Mama Vivi dan Alea saling pandang, mereka mencoba untuk mencerna ucapan yang Vedri katakan.


"Vedri benar, Nyonya! sebaiknya kita memberikan mereka waktu untuk berdua saja, karna saat ini kondisi Viola benar-benar berada dalam bahaya," Rio menyetujui apa yang Vedri katakan, dia lalu menepuk bahu Vedri yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri dan ikut duduk di sampingnya.


Mama Vivi menganggukkan kepalanya pada Alea, mereka lalu duduk dikursi sembari menunggu kabar tentang keadaan Viola saat ini.


Raja yang sudah berada di dalam ruangan terpaku melihat Viola sedang terbaring di atas banker rumah sakit, tubuhnya bergetar saat melihat perut Viola yang membulat sempurna pertanda kalau anaknya masih ada di dalam perut wanita itu.


"Vi-Viola!" Air mata yang menjadi saksi pertemuan mereka menghiasi wajah Raja, terlihat beberapa perawat dan dua orang Dokter merasa terharu saat melihat Raja meneteskan air mata.


Dengan perlahan Raja mendekati Viola yang tampak sangat pucat, matanya terpejam dengan selang infus yang tertancap ditangannya.

__ADS_1


"Vi-Viola, apa, apa yang terjadi?" Raja menggenggam tangan Viola sembari mengusap perut wanita itu, tangis kerinduan dan kekhawatiran bercampur jadi satu saat ini.


"aku sudah menemukanmu, Viola! kau, kau tidak akan bisa meninggalkanku lagi!"


Semua orang yang berada diruangan itu tak kuasa untuk menahan kesedihan mereka saat melihat pemandangan yang tampak sangat menyedihkan, bahkan ada beberapa wanita yang ikut meneteskan air mata saat ini.


"maaf, Pak! kami harus segera mengoperasi pasien,"


deg, jantung Raja seolah sedang dihantam oleh balok besar saat mendengar apa yang Dokter itu katakan.


"o-o-operasi? apa yang terjadi?" tanya Raja, dia memeluk tubuh Viola seolah tidak ingin membiarkan siapa pun menyentuh wanita itu.


"Ibu Viola mengalami pendarahan, dan kondisi beliau sangat kritis. Itu sebabnya kami harus-"


"tidak! Aku tidak akan mengizinkan kalian untuk melakukan operasi!" tolak Raja, terlihat jelas keseriusan diwajah lelaki itu saat mengatakannya.


Dokter dan para perawat yang mendengar penolakan Raja merasa snagat bingung, mereka lalu meyakinkan lelaki itu agar membiarkan mereka membawa Viola untuk dioperasi.


Kegaduhan kembali terjadi akibat penolakan yang dilakukan Raja, Vedri dan yang lainnya langsung masuk ke dalam ruangan saat mendengar keributan antara para petugas medis dengan Raja.


"ada apa ini?" tanya Rio setelah masuk ke dalam ruangan, keadan ruangan yang tadinya rapi kini terlihat seperti kapal pecag karna Raja menghancurkan seluruh barang-barang yang ada diruangan itu untuk melampiaskan penolakannya.


"apa yang kau lakukan? apa kau mau membuat Kakakku mati!" teriak Vedri, dia menarik tangan Raja yang sedang memegangi ranjang Viola.


Semua orang tampak sangat bingung saat ini, mereka bingung melihat penolakan yang Raja lakukan, padahal mereka ingin menyelamat nyawa Viola dan bayinya.


"lepaskan, Raja! apa kau sudah gila!" Rio ikut terbakar emosi karna Raja tetap tidak mau melepaskan tubuh Viola.


Beberapa orang yang berlalu-lalang di depan ruangan itu ikut memperhatikan apa yang sedang terjadi, karna memang keributan mereka membuat para penghuni rumah sakit menjadi penasaran dan tidak nyaman.


"hentikan, Raja! Viola harus segera dioperasi, pikirkan keadaan bayimu!" Mama Vivi ikut turun tangan, dia mencoba untuk meyakinkan Raja agar membiarkan Dokter membawa Viola.


"Tidak! aku tidak akan membiarkannya-"


Buak, satu bogeman mentah melayang kewajah Raja membuat lelaki itu terjungkal ke belakang dan terpaksa melepaskan tubuh Viola.


Darah segar mengalir di sudut bibir Raja yang terluka akibat pukulan yang dilayangkan oleh Rio, lelaki itu tampak sangat emosi melihat keras kepala Raja yang bisa membuat Viola dan anaknya meregang nyawa.


"kalau kau memang ingin membunuh Viola dan bayinya, maka bukan seperti ini caranya!" bentak Rio, dia menatap Raja dengan tajam seolah ingin membunuh lelaki itu saat ini juga.

__ADS_1


"Bawa Viola!" perintah Rio kemudian.


Para petugas media mulai mendorong banker Viola untuk memindahkannya keruang operasi, mereka harus bergerak cepat karna kondisi Viola dan bayinya saat ini benar-benar berada dalam bahaya.


Raja yang mencoba untuk menghentikan para petugas medis dihadang oleh Rio dan juga Vedri, mereka berdua berdiri tegak di depan pintu agar Raja tidak bisa keluar dari ruangan itu.


"aku menyesal sudah memberitahu keadaan Kakak padamu, ternyata kedatanganmu malah ingin membunuhnya!" ucap Vedri dengan penuh emosi, dia sangat takut kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya saat ini.


"minggir kalian! aku harus membawa Viola-"


"sebenarnya apa yang kau lakukan, Raja! selama ini kau terus mencari keberadaan Viola, bahkan kau selalu menyebut namanya dalam sadar dan dalam keadaan tidak sadar sekalipun. Kau terus berjuang untuk menemukannya, tapi apa yang kau lakukan sekarang? kau malah menghalangi Dokter yang ingin menyelamatkan Viola?" Alea ikut terbakar emosi melihat apa yang Raja lakukan.


"tutup mulutmu! mereka bukan ingin menyelamatkannya, tapi ingin membunuhnya!"


"apa?"





Tbc.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk, ke karya temen aku! dijamin keren dan seru 😍


Blurb.


Alhakhan Jose Purnomo 27 tahun adalah seorang laki-laki tampan, dingin dan galak. Dia memiliki trauma saat kecil di culik oleh seorang wanita cantik yang menyukai ayahnya. Dia memimpin perusahaan CEO yang behasil tetapi akan berkeringat dingin dan menggigil saat bertemu atau berhadapan langsung dengan wanita cantik.


Sampai dia bertemu tanpa sengaja dengan seorang wanita berpenampilan tomboy pimpinan panti asuhan bernama Vena Fatmala. Pertemuan keduanya saat Vefe membantu Khan di keroyok oleh perampok di pinggir jalan tol. Hanya bersama dengan Vefe, Khan tidak mengalami trauma karena awalnya menyangka Vefe adalah laki-laki.


Tanpa di sadari Khan jatuh cinta pada Vefe. Hanya saja banyak yang menghalangi cinta mereka karena wanita-wanita cantik yang mengincar harta dan ketampanan Khan. Dan ada perbedaan kesenjangan sosial yang membuat Vefe tidak percaya diri bersama dengan Khan.


Bagaimana Khan meyakinkan Vefe untuk tetap bersamanya. Apakah Vefe menerima cinta Khan?


__ADS_1


__ADS_2