
Tiga hari berlalu. Winter yang sedang memeriksa laporan tiba-tiba terdiam dan memikirkan Ellena. Ia bertanya-tanya kenapa Ellena sama sekali tak memberinya kabar? sedangkan ia terus sibuk dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya, sehingga tak bisa keluar dari istana untuk menemui Ellena.
"Aku mengira semua akan baik-baik saja, nyatanya tak ada wanita itu aku menjadi hampa. Sudah tiga hari aku tak melihatnya. Dia bahkan tak mengirimiku surat. Hanya balasan atas dikirimnya Carlos. Itupun hanya ucapan terima kasih. Hahh ... " batin Winter menghela napas panjang.
Winter berharap Ellena baik-baik saja dan menemukan apa yang dicarinya tanpa kendala. Setelah pikirannya mulai tenang, Winter berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, karena ia berencana menyelinap keluar istana untuk bisa menemui Ellena. Ia tidak bisa lagi menunggu untuk bisa melihat Ellena sampai hari kepulangan Ellena.
***
Di istana Dandelion. Catharina yang kesal karena pesta tehnya berantakan pun memarahi para pelayannya. Ia melampiaskan kekesalannya pada pelayannya. Bertha pun tak luput dari murka Catharina. Bahkan Catharina langsung menampar Bertha dan mengatai Bertha tak becus bekerja.
Bertha kaget, itu adalah kali pertamanya diperlakukan kasar selama ia bekerja sebagai pelayan istana Peony melayani Permaisuri. Bertha kesal, tapi ia tidak bisa apa-apa karena ia sudah mengemban tugas untuk menjadi pelayan Catharina dan menjadi mata kedua Ellena dalam mengawasi gerak-gerik Catharina.
"Ma-maafka saya, Nona." kata Bertha.
"Maaf katamu? aku dipermalukan dan kau hanya berdiri diam di pojokan. Dasar pelayan tidak berguna. Pantas saja kau dikirim padaku oleh Yang Mulia Permaisuri padaku. Rupanya kau pelayan yang tak becus bekerja," kata Catharina terus mengomel tidak jelas.
Bertha kaget, "Bagaimana bisa wanita ini berkata begitu? Tidak tahukah dia arti ucapannya? kata-katanya yag seperti itu secara tak langsung menuduh Yang Mulia tak kompeten karena mengirim sampah pads tamu. Dan kalau dibiarkan saja, maka akan menimbulkan rumor tidak baik, kalau Yang Mulia Permaisuri mengabaikan tamu yang dibawa Kaisar dengan berbagai macam alasan yang tentunya bisa dibuat-buat. Aku tak akan biarkan Yang Mulia Permaisuri mendapatkan cemooh dari orang-orang." batin Bertha.
__ADS_1
Karena ingin menunjukkan ketulusannya melayani Catharina. Bertha pun akhirnya terpaksa berlutut dan meminta maaf. Ia meminta belas kasihan Catharina dan berkata akan melakukan apa saja yang diperintahkan Catharina, karena ia ingin melayani Catharina sepenuh hati. Kata-kata Bertha bergitu menyakinkan seolah ia sungguh-sungguh ingin berada di sisi Catharina.
"Begitu, ya? aku akan percaya ucapanmu, kalau kau akan setia melayaniku. Oleh karena itu, tunjukka kesetiaanmu dengan mencium sepatuku." kata Catharina.
Catharina tahu cara merendahkan seseorang dan melucuti harga diri seseorang tersebut. Mendengar pemintaan Catharina agar sepatunya dicium olehnya, membuat Catharina kesal dan marah. Ia merasa tersinggung, karena bagaimanapun pelayan masih punya harga diri. Hanya saja ia kembali teringat akan permintaan dan perkataan Ellena. Kalau Ellena sangat percaya Bertha bisa melakukan yang terbaik.
"Hanya mencium, kan? baiklah. Akan aku lalukan sesuai keinginan wanita ini. Lagipula aku bisa mrmbuat bibirku tak menyentuh sepatunya." Batin Bertha.
Akhirnya Bertha memumbungkuk dan mejunduk. Mendekatkan wajahnya ke arah sepatu Catharina. Bertha mendekatkan bibirnya ke sepatu seolah mencium sepatu Catharina, padahal bibirya tak menempel. Yang ia tempelkan adalah ujung hidungnya. Catharina kaget, ia lantas tertawa lebar serasa bangga. Ia merasa ia adalah Tuan dari Bertha sekarang dan tentu saja bisa mengatur Bertha sesuka hati.
Catharina ingat kalau ia ada janji bertemu seseorang. Ia pun segera pergi meninggalkan Bertha. Dan meminta Bertha segera meriasnya, karena ia akan pergi keluar istana diam-diam. Bertha mengiakan perkataan Catharina. Ia segera bangkit berdiri dan merapikan seragamnya. Lalu, berjalan mendekati Catharina yang berdiri di depan lemari. Sedang memilih gaun yang akan dikenakannya. Setelah memilih gaunnya, Catharina pun dibantu Bertha mengganti gaun.
***
Tidak lama kemudian Janette menghampiri Carlos dan mengajak Carlos pergi. Janette berkata ingin pergi ke suatu tempat lain, lalu setelahnya akan mengajak Carlos makan siang. Carlos hanya mengangguk dan mengikuti Janette tanpa bertanya apa-apa. Tidak disangka, dalam perjalanan menuju tempat tujuan, Janette melihat sosok yang tak asing sedang berjalan seorang diri dengan mengenakan jubah dan tudung kepala. Sosok itu adalah Catharina.
"Sir, tunggu ... sepertinya ada perubahan rencana. Apa Anda melihat seseorang di sana? Seseorang yang mengenakan jubah cokelat dan bertudung itu?" tanya Janette.
__ADS_1
Carlos memperhatikan sekitaran dan mencari-cari sosok yang dimaksud Janette. Carlos menemukan dan melihat dengan seksama. Carlos berkata, wajahnya memanglah tidak asing. Tiba-tiba mata Carlos melebar dan menatap Janette.
Janette meganggukkan kepala, "Benar, Sir. Itu adalah Lady Rosaro. Kita harus mengikutinya, karena saya penasaran apa yang Lady itu lakukan dengan penampilannya yang seperti itu." kata Janette.
"Baiklah, sesuai perkataan Nona saja." jawab Carlos.
Akhirnya Janette dan Carlos mengikuti Janette. Karena tidak ingin ketahuan, Carlos pun memasang sihir penyamaran untuknya dan Jenette untuk berjaga-jaga. Dengan penyamaran, maka Catharina tidak akan tahu kalau orang yang mengikuti adalah dayang Permaisuri dan kepala pasukan kesatria istana.
Cukup jauh mereka mengikuti. Sampai mereka tiba disuatu gang sempit. Janette dan Carlos mengintip dari balik dinding. Catharine memalingkan pandangan dan celingukan, seperti takut kalau-kalau ada yang melihatnya. Tidak lama seseorang muncul dan menghampiri Cathrina. Seseorang itu menyerahkan sebuah botol berisikan cairan, dan Catharina menyerahkan sekantung koin emas sebagai upah.
"Apa ramuan ini efektif? aku sudah membayarmu mahal," kata Catharina pada seseorang dihadapannya.
"Tenang saja. Itu sangat efektif dan sudah terbukti. Siapa saya yang meminum ramuan itu akan langsung tercuci otaknya dan mengukuti perkataan si pemberi ramuan. Berikan ini bertahap selama seminggu, dan kau akan mendapatkan apa yang kau mau," kata seseorang itu.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Aku pergi dulu," kata Catharina berpamitan.
Carlos meminta Janette mengukuti Catharina dan mereka sepakat bertemu di kedai temoat tadi mereka singgah. Carlos akan menangkap dan mengamankan seseorang yang bertemu Catharina untuk diinterogasi secara rahasia. Janette setuju, keduanya pun berpisah jalan. Janette mengikuti Catharina dan Carlos mengikuti seseorang yang bertemu Catharina.
__ADS_1
Janette melihat Catharina berjalan cepat dan masuk ke dalam sebuah restoran. Janette tak bisa masuk dan terpaksa menunggu di luar. Tidak lama ia melihat seseorang masuk ke tempat yang sama, dan itu adalah Erwan. Janette pun bertanya-tanya, Bagaimana Erwan datang dan apa tujuannya?