Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
13. Peringatan Ellena Untuk Winter


__ADS_3

Di Kastel Grand Duke. Ellena dikejutkan oleh Janette yang tiba-tiba datang dengan keadaan berantakan. Ellena mengira terjadi apa-apa pada Janette. Namun, Janette menepis dan berkata ia tidak apa-apa. Ia hanya buru-buru pulang karena ada hal penting yang ingin disampaikan. Ellema menatap sekitar, bertanya di mana Carlos? dan Janette pun menjawab, kalau Carlos telah kembali ke istana untuk memperingatkan Kaisar.


Ellena mengerutkan dahi, ia tidak tahu apa maksud ucapan Janette. Ia lantas meminta Jannet menjelaskan apa maksud ucapannya. Tak menunda waktu lagi, Janette pun menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya, tentang Catharina yang menemui seseorang asing dan menerima sebuah botol berisikan ramuan yang mana ramuan itu bisa mencuci otak orang yang yang mengkonsumsi. Janette juga menceritakan, pertemuan rahasia Catharina dan Erwan di sebuah restoran. Mendengar cerita Janette, Ellena langsung terkejut dan tidak menyangka Catharina akan melakukan hal sejauh itu.


Ellena melebarkan mata, "Kalau dia membeli ramuan cuci otak. Mungkinkah dia ingin mencuci otak Winter? ahh ... jangan-jangan dikehidupan pertamaku winter otaknya tercuci, makanya dia bersikap acuh tak acuh terkesan mengabaikanku. Tidak akan kubiarkan. Aku harus mencegah pencucian otak Winter oleh Catharina." batin Ellena.


"Apa Carlos benar-benar akan memperingatkan Yang Mulia Kaisar? kau sudah memastikan itu, kan?" kata Ellena menatap Janette.


"Ya, Yang Mulia. Beliau langsung berlari saat saya minta segera kembali. Bagaimanapun kita tidak bisa tahu apa isi pikiran Lady Rosaro dan Tuan Erwan. Yang jelas, sepertinya mereka menjalin kerja sama untuk menguasai Yang Mulia Kaisar." jawab Janette.


"Baguslah. Setidaknya aku bisa bernapas lega karena ia tahu apa yang Catharina atau Erwan akan lakukan padanya." jawab Ellena.


Karena malam sudah cukup larut, Ellena meminta Janette membersihkan diri dan istirahat. Esok pagi ia meminta Janette bersiap untuk kembali ke istana. Janette mengiakan perkataan Ellena dan langsung pergi meninggalkan Ellena.


Ellena tak bisa tenang sebelum bisa memastikan keadaan Winter. Baru saja ia ingin naik ke tempat tidur untuk tidur, Ellena mendengar jendelanya diketuk seseorang dari luar. Ellena langsung melebarkan mata, ia penasaran, siapa orang yang menggangunya. Padaha ia ingin segera berbaring dan memejamkan mata. Karena esok hari ia harus segera bersiap kembali ke istana. Ellena yang penasaran pun berjalan membuka jendela kamar dan kaget saat melihat Winter berdiri dihadapannya dengan mengenakan jubah dan tudung kepala.


"Ya-yang Mulia ... " gumam Ellena.


"Ellena ... " panggil Winter, ia langsung masuk ke dalam kamar dan memeluk Ellena.


Seketika rasa lelah dan penat Winter hilang, begitu ia memeluk Ellena. Winter mengeratkan pelukannya, memendamkan wajahnya ke bahu Ellena. Samar-samar Winter bisa mencium aroma harum rambut Ellena dan lembutnya kulit Ellena, karena Ellena sedang menggunakan gaun tidur.

__ADS_1


Ellena tersentak kaget. Ia tidak tahu apa maksud Winter tiba-tiba memeluknya. Ellena terdiam, ia tidak memungkiri kalau ia sangat mendambakan dipeluk Winter dikehidupan pertamanya. Jangankan dipeluk, bertatapan mata saja mereka sangat jarang karena memang hampir tak pernah bertemu.


"Yang Mulia, jangan seperti ini. Saya kesulitan bernapas," kata Ellena yang merasa sesak dipeluk erat oleh Winter.


Winter yang kaget langsung melepas pelukannya, "Ma-maaf. Aku tidak bermasud menyakitimu," kata Winter.


Ellena menatap Winter, "Ada apa Anda datang larut malam begini? Jangan katakan Anda menyelinap keluar diam-diam," kata Ellena.


Winter terdiam. Sepertinya Ellena sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat ekspresi wajah Winter dihadapannya. Ellena teringat cerita Jenette dan ia langsung bertanya apakah Erwan atau Catharina memberikan minuman pada Winter?


"Apakah Erwan atau Catharina memberikan Anda minuman? Apa Anda sudah meminum sesuatu pemberian mereka?" tanya Ellena penasaran.


Winter kaget karena sorot mata Ellena tampak berbeda. Terlihat kecemasan disertai kekhawatiran, tapi juga terlihat kemarahan. Winter menenangkan Ellena dan berkata ia tidak mendapatkan minuman apa-apa. Winter berkata, ia sudah mendapat peringatan dari Carlos dan Carlos menceritakan semuanya.


"Apa kau khawatir padaku?" tanya Winter.


"Yang aku khawatirka nyawaku. Kalau kau sampai dicuci otak dan membunuhku lagi, bagaimana?" batin Ellena.


Hanya saja Ellena tak bisa berkata demikian. Ia tidak mungkin berkata ia adalah seorang penjelajah waktu dan telah kembali ke lima tahun sebelum ia bunuh. Ellena juga tak mungkin mengatakan, kalau ia ingat dan tahu apa saja hal-hal yang terjadi pada masa depan. Ia pun terpaksa berbohong demi menutupi rasa khawatir akan kematiannya dikehidupan saat ini.


"Te-tentu saja saya khawatir. Jika Anda meminum ramuan itu, lalu pikiran Anda dikendalikan, bagaimana nasib Kekaisaran? jangan-jangan Anda akan menghunuskan pedang pada saya, jika diperintahkan Catharina membunuh saya." kata Ellena.

__ADS_1


Winter kaget, "Tidak mungkin aku melakukan itu. A-aku tidak mungkih membunuhmu. Tidak mungkin!" kata Winter dengan sangat yakin.


"Kau mengatakan itu sekarang, tapi sudah melakukannya, Winter. Berkatmu aku kembali mengulang waktu. Entah aku harus sedih dan mengumpatimu atau aku harus senang, lalu berterima kasih padamu." batin Ellena.


"Kalau begitu Anda harus mendengarkan apa yang akan saya katakan. Jangan minum apapun minuman yang diberikan Erwan atau Catharina. Anda harus menghindari bicara lama-lama dengan dua orang itu. Anda mengerti maksud ucapan saya, kan? saya seperti ini bermaksud baik, tanpa tujuan tertentu." jelas Ellena.


"Ya, aku mengerti dan aku akan mendengar apa katamu." jawab Winter.


"Saya akan bicara dengan Ayah saya esok agar saya bisa mendapatkan ramuan untuk mencegah kalau-kalau Anda lupa dan meminum minuman dari mereka. Hanya saja untuk beberapa hari ini saja, lakukan sesuai ucapan saya," kata Ellena.


"Ya, aku akan ingat." Jawab Winter.


Ellena menatap Winter, "Apa pria ini benar-benar mendengarkanku, atau hanya pura-pura saja? melihatnya menjawab tanpa ragu, dia sepertinya paham apa yang aku katakan dan mengerti. Anehnya, kenapa dia sangat menurut dan hanya mengiakan saja kata-kataku, ya? padahal ia bisa menjawab kalau ia ingin," batin Ellena.


Tiba-tiba Winter mengusap wajah Ellena dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ellena, sehingga hidung dan dahi mereka bersentuhan. Winter memejamkan matanya, ia berkata suhu tubuh Ellena sedikit meningkat.


"Apa kau sakit?" tanya Winter.


"Ti-tidak! kenapa Anda lagi-lagi melakukan hal aneh?" kata Ellena berpaling dengan wajah memerah. Ia tidak mau terbawa perasaan pada winter.


"Hal aneh apa? aku hanya memeriksa suhu tubuhmu saja. Dan kau sedikit demam," kata Winter.

__ADS_1


Ellena mengatakan kalau ia baik-baik saja. Ia tidak sakit atau semacamnya. Meminta Winter untuk tidak khawatir dan kembali ke istana saja. Bukannya menurut apa kata Ellena, Winter malah melepas jubahnya dan berbaring di atas temoat tidur Ellena. Membuat Ellena semakin tak mengerti apa tujuan Winter sebenarnya.


__ADS_2