
Selama dua minggu penuh Ellena dan Winter berlatih. Ellena mengasah kemapuannya dalam menggunakan sihir didampingi sang Ayah, sedangkan Winter mengasah kemapuan berpedangnya dengan seorang rekan dari Erick. Selama itu pula, mereka menyusun rencana terbaik untuk melawan Sebastian.
Ellena kini mampu menggunakan berbagai macam sihir. Seperti sihir penyerangan dan pertahanan. Dan sihir gabungan. Erick berusaha membuat sang Putri menjadi kuat, agar bisa melawan Sebastian dan tidak terluka.
***
"Ayah ... " panggil Ellena.
"Ya, sayang?" jawab Erick.
"Kapan terakhir ayah mengujungi Paman?" tanya Ellena.
Ellena panasaran, apakah Ayahnya tahu kalau ada yang aneh di akademi tempat Pamannya berada. Meski dua minggu berlalu, tetap saya rasa penasaran terus ada dalam benak Ellena.
"Kenapa? apa ada sesuatu? sudah cukup lama Ayah dan Pamanmu tak bertemu." jawab Erick.
"Apa aku katakan saja, kalau aku mencurigai sesuatu, ya? Untuk jaga-jaga sebaiknya aku katakan apa yang aku rasakan saat aku mengunjungi akademi sihir," batin Ellena.
"Begini, Ayah ... aku tidak tahu, apakah perasaanku ini salah atau benar. Aku merasa ada yang aneh dengan Paman. Sehari sebelum aku dan Winter berlatih, kami mengunjungi akademi dan aku merasakan energi kegelapan. Sepulang dari akademi aku mencari-cari buku yang ada menjelaskan tetang energi kegelapan. Dalam buku ditulis, jika energi kegelapan adalah energi yang dihasilkan dari seorang pengguna sihir terlarang. Apa Paman pengguna sihir terlarang? seorang kepala akademi? tidak mungkin, kan." jelas Ellena.
"Tidak mungkin. Pamanmu bukanlah seseoreng yang seperti itu. Ayah sangat yakin," kata Erick.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Ayah sangat yakin? seiring berjalannya waktu, manusia pasti akan berubah, Ayah. Bisa saja Paman memang sengaja mempelajarinya. Aku bukan tidak percaya, tapi aku hanya menyampaikan pemikiranku saja." kata Ellena.
"Ayah tahu maksudmu. Ayah yakin, karena dikeluarga Ibumu, ada istilah penyucian. Dan setiap bayi baru lahir dari keluarga penyihir, pasti disucikan dikuil suci dan baru dibawa pulang setelah tujuh hari. Itu bertujuan untuk melindungi bayi tersebut dari hal-hal tak diinginkan seperti energi buruk. Selama seseorang itu masih bernapas, sampai usia berapaun, maka energi buruk tak akan bisa menjamahnya. Begitu yang dikatakan Ibumu pada Ayah." jelas Erick pada Ellena.
Deg ... Ellena tersentak begitu mendengar cerita Ayahnya.
"Maksud Ayah, selama orang yang disucikan hidup. Seseorang tak akan bisa bermain-main dengan sihir terlarang? namun, bagaimana dengan seseorang yang sudah neninggal? apakah ada kemungkinan tubuh tanpa jiwa menjadi wadah?" tanya Ellena.
Erick mengerutkan dahi, "Ellena ... jangan katakan ... " kata Erick yang langsung diam.
"Tidak, itu tidak mungkin. Tidak mungkin," gumam Erick.
"Ucapanmu benar. Kau curiga, tapi karena tak ada bukti kuat, kau hanya bisa menahan diri. Ayah juga jadi penasaran. Apa sebaiknya Ayah mengunjungi Pamanmu? atau membuat janji dengannya? Ayah harus memastikan apakah Pamanmu baik-baik saja atau tidak." kata Erick.
Ellena diam berpikir, "Kalau memang Paman hanyalah cangkang, maka sudah pasti Sebastianlah yang ada di balik semuanya. Jadi, apakah dia sudah menguasai akademi sihir? kalau Ayah ke akademi, bisa saja Sebastian melukai Ayah. Kalau bertemu di luar, apakah itu mungkin? Seperti mayat para penjaga yang digerakkan dengan sihir, berarti Paman juga akan digerakkan oleh Sebastian dengan sihir. Jika kali ini aku berhasil mengungkap apa yang terjadi di akademi sihir, apakah akhirnya kami akan berperang? aku takut Sebastian memiliki kekuatan jauh lebih besar dari yang tak terduga oleh kami. Bagaimana ini?" batin Ellena bingung.
"Ayah, sebaiknya Ayah tak pergi ke akademi. Seperti yang Ayah katakan, kalau memang energi kegelapalan tak bisa menyentuh Paman yang masih hidup, berarti kemungkina besar Paman telah meninggal dan tubuhnya dimanfaatkan Sebastian. Jika itu benar, sebaiknya Ayah memilih tempat di luar untuk janji temu. Sebastian pasti akan menggerakkan Paman sampai bertemu Ayah dan dia bersembunyi. Kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Paman setelah aku memasukkan sihirku dan memutus sihir Sebastian pada Paman. Itu yang aku lakukan saat menghancurkan mayat hidup yang digerakkan Sebastian. Sebastian tidak bisa mendeteksi sihirku," jelas Ellena.
Erick menganggukkan kepala, "Baiklah, kalau begitu Ayah akan ikuti kata-katamu. Yang terpenting kita pastikan dulu Apakah Pamanmu baik-baik saja atau tidak. Ayah akan segers menulis surat untuk Pamanmu." kata Erick.
"Ya, Ayah. Apa latihan hari ini adalah latihan terakhir?" tanya Ellena.
__ADS_1
Erick mengaiakan pertanyaan Ellena. Erick berkata, kalau Ellena sudah semakin mahir menggunakan sihir. Selanjutnya, hanya perlu mengambangkan sihir itu sendiri sesuai pola pikir Ellena. Erick berpesan, agar Ellena selalu waspada dan hati-hati. Juga tidak boleh memaksakan diri, meski memiliki mana murni tanpa batas. Ellena menganggukkan kepala, mengerti akan perkataan Ayahnya.
***
Di tempat latihan berpedang. Winter juga mati-matian berlatih. Ia tidak mau bersantai-santai karena lawannya begitu kuat. Rekan Erick yang mengajar Winter, memuji kegigihan Winter.
"Gerakan Anda semakin baik dari hari ke hari, Yang Mulia." Puji rekan Erick.
"Terima kasih. Namun, saya masih belum merasa puas dengan pencapaia ini." jawab Winter.
"Kenapa? apa kerena Anda hanya bisa berpedang tanpa kemampuan yang lain? Seperti kemampuan sihir, atau kekutan suci?" tanya rekan Erick.
Winter menganggukkan kepala, "Ya, kurang lebihnya seperti itu. Musuh yang harus dihadapi adalah seorang penyihir. Sedangkan aku hanya bisa memegang pedang," jawab Winter.
"Bukankah pedang Anda juga bisa melukai? menghadapi penyihir, tidak hanya dengan sihir, dengan banyak cara kita dapat lakukan. Saya dulu juga menghadapi banyak penyihir hanya dengan pegang pusaka keluarga saya. Jangan menyerah dan putus asa, Yang Mulia. Penyihir tetaplah manusia yang bisa terluka dan berdarah," kata rekan Erick memberi semangat pada Winter.
"Saya akan ingat perkataan Anda, Tuan. Terima kasih," kata winter.
"Benar. Aku tak boleh berkecil hati karena aku hanya bisa memegang pedang. Demi Kekaisaran, demi Ellena, dan demi semua orang. Aku tak boleh mudur meski selangkah. Aku akan menghancurkan Sebastian sialan itu, meski dia adalah Pamanku." batin Winter.
Karena Winter selesai berlatih, rekan Erick mengajak Winter kembali ke kastel. Pelatihan hari itu adalah pelatihan terakhir. Selanjutnya Winter harus berusaha sendiri mengambangkan semua yang diajarkan oleh teman Ayah mertuanya itu.
__ADS_1