
Ellena terdiam menatap tempat tidurnya. Di sana terbaring Winter. Padahal ia juga sudah sangat lelah dan ingin istirahat. Ellena berjalan mendekati Winter, meminta Winter untuk tidak main-main dan cepat kembali ke istana.
Winter menarik tangan Ellena, sehingga Ellena jatuh menindih Winter. Winter memeluk pinggang ramping Ellena dan menatap Ellena dengan tatapan mata dalam penuh perasaan. Jantung Ellena berdegup kencang. Ia mengakui Winter adalah pria tertampan yang pernah ia temui.
"Yang Mulia ... jangan seperti ini. Saya tidak nyaman," kata Ellena.
Seberapa dalamnya Ellena mendambakan pelukan Winter, ia tak akan pernah lupa kalau Winterlah yang membunuhnya dikehidupan pertama. Jujur saja, Ellene sebenarnya masih menyimpan rasa takut disertai khawatir meski hanya berbincang singkat atau berpapasan dengan Winter. Ia takut tiba-tiba Winter kembai menghunuskan pedang ke arahnya.
Winter sepertinya tak mendengarkan perkataan Ellena dan tetap memeluk Ellena. Tiba-tiba Winter meminta maaf, dan mengatakan kalau Ellena tidak perlu takut padanya. Dan itu membuat Ellena bingung mengartikan maksud Winter.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan dan khawwtirkan. Aku minta maaf, dan aku berjanji tidak akan mengulanginya. Aku akan mendengarkan perkataanmu, melakukan apa yang kau katakan. Tolong jangan menjaga jarak denganku, Ellena. Jangan menghindariku," kata Winter.
Ellena menatap Winter, "Apa yang Anda katakan? saya tidak mengerti," jawab Ellena.
Winter tersenyum, "Entahlah. Apa ya yang baru saja kukatakan. Aku juga tidak mengerti. Asal bisa melihatmu tersenyum, sudah cukup bagiku. Maafkan aku," kata Winter.
Ellene mengerutkan dahi, "Apa maksudnya? pria bicara apa sebenarnya? Apa dia mabuk dan akhirnya bicara melantur tidak jelas? Ada-ada saja," batin Ellena.
Winter membaringkan Ellena di sisinya dan memeluk Ellena, "Tidurlah. Aku akan menemanimu, lalu pergi." kata Winter.
Ellena hanya diam. Ia merasa aneh, tapi enggan untuk menyingkirkan Winter yanh memeluknya. Ellena memejamkan mata, ia sangat lelah dan ingin segera tidur. Perlahan ia merasakan tangan Winter yang membelai rambutnya.
"Apa ini mimpi, atau kenyataan? pria yang membunuhku di masa depan nanti, sekarang sedang memelukku tidur. Meski tau akan mati ditangannya, aku tak bisa mendorong pria ini menjauh dariku. Kenapa? apa yang membuatku tak mampu melakukannya? apa kehangatan pelukan dan kelembutan sentukannya telah menggoyahkan hatiku? apa tujuan pria ini sebenarnya? aku tidak mengerti, kenapa semua berubah menjadi aneh. Seharusnya kan tak begini. Entahlah ... aku tak mampu lagi berpikir karena lelah dan mengantuk. Biarkan saja semua berjalan tak semestinya. Yang terpenting dikehidupan ini aku tak meninggal, itu saja yang kuharapkan." batin Ellena.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, Ellena pun terlelap tidur. Winter melepas pelukan perlahan dan membenahi posisi tidur Ellena. Winter menyelimuti Ellena. Ditatapnya istrinya itu dengan lekat.
"Maafkan aku, Ellena. Kau pasti sangat takut melihatku, kan? padahal kau tak nyaman denganku, tapi aku berusaha berjalan menghampirimu. Maafkan aku." batin Winter.
Winter menunduk, ia terdiam seperti patung. Tiba-tiba Winter mengepalkan tangan, ia pun langsung pergi meninggalkan Ellena yang terlelap tidur. Winter pergi melalui jendela, dan kembali ke istana.
***
Keesokan harinya. Ellena menemui Ayahnya dan meminta penawar. Erick kaget, saat putrinya menceritakan apa yang terjadi. Erick berkata, ia tidak bisa membuat penawar kalau tidak tahu pasti ramuan apa yang digunakan. Namun, demi putri kesayangannya, Erick lantas memberikan sesuatu yang berharga yang ia miliki.
"Ambil ini," kata Erick memberikan sebotol berisikan ramuan untuk Ellena.
"Apa ini, Ayah?" tanya Ellena.
"Sesampainya di istana, minta Yang Mulia Kaisar segera meminumnya. Ini adalah ramuan campuran. Dengan ini Yang Mulia Kaisar akan kebal dengan racun dan pengaruh cuci otak. Meski sementara, tapi setidaknya mencegah lebih baik daripada tidak sama sekali. Kalau kau bisa bawakan ramuan itu padaku, Ayah akan buatkan penawarnya." jawab Erick.
"Tidak apa-apa, sayang. Pergilah dan kembali ke istana. Kau harus bisa melindungi Yang Mulia Kaisar meski hanya dengan bantuan kecil. Ayah juga akan menyelidiki hal ini secara rahasia. Ayah akan mengunjungimu ke istana, kalau menemukan sesuatu." kata Erick.
Ellena menganggukkan kepala. Ia mengiakan perkataan Erick. Ellena dan Erick lantas sarapan bersama, sebelum akhirnya Ellena kembali ke istana bersama Janette dengan menaiki kereta kuda.
***
Begitu sampai di istana, Ellena langsung pergi menemui Winter di ruang kerja Winter. Ellena menyembunyikan botol ramuan penawar yang diberikan Ayahnya dan berdiri di depan pintu ruangan. Entah mengaapa Elle merasa gelisah dan tidak tenang, sehingga tubuhnya sedikit gemetar. Mungkin karena Ellena buru-buru menemui Winter setelah turun dari kereta kuda.
__ADS_1
Ellena menarik napas dalam-dalam, lalu mengambuskan napasnya. Ia berusaha menenangkan diri. Ia mengetuk pintu ruangan dan memberitahukan kedatangannya.
"Yang Mulia, ini saya. Izinkan saya menghadap." pinta Ellena.
"Masuklah, Permaisuri." jawab Winter dari dalam ruangan.
Ellena membuka pintu, dan masuk. Ia kaget saat tahu Catahrina ada di dalam ruangan, dan berdiri di sisi Winter. Ellena semakin kaget saat ia melihat ada cangkir teh tak di meja Winter. Mengira kalau cangkir teh itu dari Catharina. Ellena cemas, tapi ia tidak boleh memeprlihatkan kecemasannya pada Catharina.
"Yang Mulia, ada hal yang ingin saya sampaikan. Ini perihal pembukuan istana." kata Ellena beralasan.
Winter menatap Catharina, "Kau bisa pergi. Aku aka menemuimu nanti," kata Winter.
"Baik, Yang Mulia." jawab Catharina yang langsung pergi. Ia hanya menunduk dan sedikit membungkuk untuk menyalami Ellena.
Begitu Catharina pergi, Ellena cepat-cepat mengambil cangkir dan membuang teh ke tanaman yang ada di ruangan Winter. Ellena demikian karena khawatir.
"Apa dia sudah meminumnya? tapi teh dicangkir masih penuh. Apa aku terlambat? sialan!" batin Ellena marah. Ia mengepalkan tangannya.
"Sa-saya kan sudah katakan. Anda tidak boleh ... " kata-kata Ellena terhenti karena Winter tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku tahu, istriku. Itu bukan minuman buatan Catharina. Aku minta Carlos mengambilnya langsung dari dapur. Jadi, bisakah kau tenang sekarang?" bisik Winter.
Seketika Ellena menjatuhkan cangkir teh dan langsung berbalik memeluk Winter. Ellena menangis tersedu, karena ia sangat takut. Winter memeluk erat Ellena, ia mengusap punggung dan kepala Ellena dengan lembut.
__ADS_1
"Maafkan aku membuatmu khawatir," kata Winter.
Ellena memejamkan mata, Apa ini? kenapa aku sangat takut? apa ini rasa takut karena aku sudah tahu masa depanku? Bahwa aku akan mati? atau takut karena alasan lain? apapun itu aku sangat takut sampai rasanya tercekik dan tidak bisa bernapas. Aku sangat takut ... " batin Ellena mengeratkan pelukan dengan tubuh gemetar.