
Winter dibantu Carlos, berusaha keras mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Baron Rosaro dan Sebastian. Ia juga diam-diam telah menempatkan orangnya ke dalam kediaman Baron, meski dengan susah payah.
"Yang Mulia, di mana Tuan Erwan?" tanya Carlos.
"Izin sakit," jawab Winter.
"Sakit? Hmmm ... apa ini karena efek samping teh itu?" tanya Carlos berbisik.
Winter tersenyum, "Kau masih bertanya, padahal kau yang paling tahu bagaimana efeknya." jawab Winter.
"Lantas, bagaimana dengan wanita itu?" tanya Carlos.
Tanpa bertaya siapa, Winter langsung mengerti. Siapa orang yang dimaksud Carlos. Winter menjawab, keadaannya tak jauh berbeda dengan Erwan.
"Apa kau dapat kabar dari kediaman Grand Duke? apakah Istriku akan kembali?" tanya Winter.
"Saya tidak bisa memastikan itu. Janette tidak berkata apa-apa pada saya," jawab Carlos.
"Sebelum Ellena kembali, kita harus sudah menyingkirkan Erwan dan Catharina, Carl. Aku ingin segera mengasingkan mereka," kata Winter.
"Saya mengerti, Yang Mulia. Untuk menentukan kapan, bukankah sebaiknya kita pastikan dulu keadaan keduanya?" usul Carlos.
Winter menganguk-angguk, "Kau ada benarnya. Baiklah, nanti kita sama-sama melihat keadaan mereka berdua." jawab Winter.
Winter yang banyak pekerjaan, segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menjenguk Erwan sebelum malam datang. Ia meminta Carlos membantunya untuk sementara waktu selama Erwan tak ada. Karena bagi Winter, tidak ada yang bisa ia percayai selain Carlos.
***
Winter dan Carlos mendatangi tempat tinggal Erwan. Pelayan yang ditugaskan Winter menjaga Erwan, melaporkan keadaan Erwan. Pelayan itu juga menyampaikan, kalau ia sudah melakukan apa yang diperintahkan Winter dengan baik. Winter memuji pekerjaan pelayan itu, dan langsung memberikan sekantong uang sebagai upah.
"Pergilah, aku akan lihat keadaannya dulu." perintah Winter pada pelayan itu.
Pelayan itu menunduk, mengiakan perkataan Winter dan berpamitan. Winter dan Carlos pun masuk ke dalam kamar tempat Erwan di ramat. Baru saja Carlos membuka pintu kamar, mereka dikejutkan dengan tingkah Erwan yang tak wajar. Erwan bercermin dan tersenyum, lalu tertawa seperti orang yang kehilangan akal sehat.
"Erwan ..." panggil Winter.
__ADS_1
Erwan menoleh saat tahu ada orang yang datang. Ia menatap Winter tanpa bicara dan hanya tersenyum. Winter memanggil Erwan lagi, tapi tidak ada jawaban. Winter menatap Carlos, meminta Carlos memeriksa keadaan Erwan. Saat di dekati Carlos, Erwan masih tetap diam dan tersenyum tidak jelas. Erwan bergumam-gumam tidak jelas.
"Tuan, apakah anda mendengar saya?" tanya Carlos.
"Tuan ... " panggil Carlos.
Erwan masih tetap diam. Seoalah ia tidak tahu namanya sendiri dan benar-benar kehilangan akal. Carlos menatap Winter dan menggelengkan kepala, berkata kalau Erwan sudah menunjukkan gejala hilang akal.
"Di luar dugaan. Ternyata lebih cepat dari perkiraanku," batin Winter.
Winter memanggil Carlos, ia berbisik sesuatu pada Carlos. Carlos menganggukkan kepala, ia segera mendekati Erwan yang sedang berjalan mendekati cermin, lalu memukul tengkuk leher Erwan, sehingga Erwan jatuh pingsan. Winter memanggil pelayan dan meminta pelayan memanggil kusir untuk membantu Carlos memindahkan Erwan. Pelayan mengiakan perintan Winter, dan segera pergi. Tidak beberapa lama pelayan kembali dengan kusir. Kusir itu langsung membantu Carlos memapah Erwan dan menaikkan Erwan ke dalam kereta kuda.
"Bawa di ke tempat yang sudah aku siapkan. Kau mengerti apa yang selajutnya harus kau lakukan, kan?" kata Winter.
"Saya mengerti, Yang Mulia. Anda bisa percayakan pada saya. Saya pamit undur diri," kata kusir itu.
Kusir itu langsung membawa pergi Erwan atas perintah Winter. Carlos meminta kesatria bayangannya mengikuti kusir itu smapai tujuan. Walau bagaimanapun, saat ini Winter harus selalu waspada. Baik itu dengan pesuruhnya sekalipun. Ia tidak boleh terlena dan lengah, hanya karena sudah memegang kendali keadaan. Ia masih harus menghadapi Baron dan Sebastian yang merupakan kepala dan otak dari semua masalah.
***
Tiba-tiba pintu ruang kerja Winter terbuka. Winter mengira yang datang adalah Carlos. Winter langsung mengatakan, kalau ia akan tidur setelah pekerjaannya selesai.
"Sudah aku katakan berulang kali, aku akan tidur setelah pekerjaanku selesai. Kau pergi sana. Jangan ganggu aku, Carl." kata Winter, tanpa melihat siapa yang datang ke ruang kerjanya.
"Jadi, kau mengusirku?" kata Ellena. Berjalan mendekati Winter.
Mendengar suara Ellena, Winter langsung berpaling dan berdiri dari posisi duduknya.
"E-Ellena ... " gumam Winter.
Ellena berdiri di hadapan Winter, "Apa kau akan menyiksa tubuhmu sendiri? kau tidak tahu ini sudah tengah malam?" omel Ellena.
"Apa kau datang memang untuk memgomel? Dan lagi, kenapa kau bicara santai begitu. Apa ini artinya kau sudah bosan bicara formal padaku? Kau berubah, sejak ..." kata-kata Winter terpotong oleh Ellena.
"Ahh sudahlah, aku mau kembali ke kamarku, lalu tidur. Datang ke sini sia-sia saja," kata Ellena. Ia berbalik dan hendak berjalan munuju pintu.
__ADS_1
"Tunggu ... " panggil Winter memegang tangan Ellena.
Ellena memalingkan pandangan menatap Winter, "Ada apa?" tanya Ellena.
"Kau mau pergi sendirian? bagaimana denganku?" gumma Winter dengan wajah murung.
"Lihat wajahnya. Siapapun pasti kaget melihat wajah Sang Kaisar saat ini. Dia seperti anak-anak saja," batin Ellena.
"Lantas? kau mau aku bagaimana? mengajakmu ikut ke kamarku?" tanya Ellena memancing.
Winter tersenyum, "Kalau kau tak mau, aku tak keberatan membawamu ke kamarku." jawab Winter.
Ellena melebarkan mata, "Jangan tersenyum. Memangnya aku akan tergoda kalau kau tersenyum dan merayuku?" kata Ellena.
Winter memeluk pinggang Ellena, "Lalu aku harus apa? katakan," kata Winter menatap dalam mata Ellena.
"Le-lepaskan dulu. Kau ini kenapa menjadi aneh? Bukankah kau tak menyukaiku? kenapa selalu menggodaku?" tanya Ellena mengeryitkan dahi.
"Kapan aku bilang begitu? aku tak pernah bilang, tidak menyukaimu. Apa kau sedang salah paham padaku, Permaisuriku?" tanya Winter membelai wajah Ellena dengan lembut.
"Ya, kau memang tak pernah bilang begitu pada kehidupan saat ini. Namun, di kehidupan pertamaku, kau mebunuhku karena Catharina. Aku tak bisa bilang begitu, kan?" batin Ellena.
"Apa yang wanita ini pikirkan? apa dia memang salah paham denganku karena sikapku yang acuh tak acuh padanya? Mengira aku mendekatinya hanya karena tujuan semata, dan terpaksa. Karena sebenarnya aku tak menyukainya?" batin Winter.
"Aku menyukaimu, Ellena. Sangat ... " ucap Winter tiba-tiba.
Ellena kaget, "Apa? kau me-menyukaiku? kau suka padaku? aku?" kata Ellena.
"Ya, aku sangat menyukaimu. Karena kau sudah tahu perasaanku padaku. Bisakah kau hilangkan kesalahpahamanmu tentangku? aku minta maaf, kalau aku sudah mengabaikanku atau hanya bicara sekadarnya saja. Aku hanya tidak tahu cara mengekspresikan persaanku. Aku takut kamu berpaling dan berlari menjauhiku saat tahu perasaanku yang sebenarnya." jelas Winter.
"Ellena ... aku ... aku ... a ... " kata-kata Winter terhenti saat bibir Ellena mendekat dan menempel ke bibir Winter.
Ellena memejamkan mata dan mengalungkan dua tangannya ke leher Winter. Ia tidak tahu harus bicara apa, yang jelas ia ingin mencium Winter saat itu juga.
Winter sempat terkejut, tapi ia merasa senang Ellena memulai lebih dulu. Ia memeluk erat pinggang Ellena dan membalas ciuman Ellena. Winter ingin Ellena tahu, jika ia tak hanya sekadar menyukai Ellena.
__ADS_1