Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
7. Apa Aku Salah paham? [Ellena]


__ADS_3

[Ellena]


Mendengar pertanyaan winter. Aku sama sekali tidak mengerti apa alasan pria ini bertanya kabarku. Setelah menikah, malamnya aku tidur sendirian dan esoknya aku dengar kabar dia pergi berperang. Aku sama sekali tak mendapatkan kabar darinya selama dua bulan. Dan saat dia pulang, dia membawa seorang wanita.


Catharina Rosaro, nama wanita itu. Catharina adalah putri seorang Baron. Aku tidak tahu apa dia sungguh punya hubungan dengan Winter, atau tidak. Apa ucapan Winter itu sungguhan? Catharina bukan simpanannya? tapi kenapa dia memperlakukan wanita itu dengan begitu baik, lemah lembut hati-hati seolah benda berharga yang tak bole tergores sedikit pun? kenapa ...?


Bahkan Winter membunuhku deminya. Karena aku sudah menyinggung dan membuatnya marah. Saat aku bertanya, Winter langsung mengabaikanku. Pria ini tak mau memberiku kesempatan bicara walau sepatah katapun. Aku terasingkan. Aku adalah seorang Permaisuri yang diabaikan oleh Kaisar. Sampai saat aku dihunus pedang, aku tidak tahu alasan Winter bersikap begitu padaku. Kalau memang dia tidak mau menikah denganku, kenapa sejak awal menerimaku? kalau hanya untuk memenuhi wasiat mendiang Kaisar dan Permaisuri sebelumnya, dia bisa saja mengabaikannya, kan?


Lima tahun hidup bersamanya, selama itu pula aku terus berusaha mencari perhatian dan berharap Winter akan berpaling padaku walau sesaat. Aku berusaha keras pagi, siang sampai malam mengerjakan semua tugasku sebagai Permaisuri. Aku hanya ingin pria itu memberiku senyuman atau tatapan senang atas pekerjaanku, tapi itu tak pernah terjadi. Sampai aku mendengar sesuatu yang mengejutkan, kalau Baron ... ah iya, Baron Rosaro adalah orang jahat yang memanfaatkan putrinya untuk menggulingkanku. Ya, aku baru ingat akan hal itu.


"Ellena ... " panggil Winter mendekatkan wajahnya padaku.


Aku kaget dan langsung berpaling, "Ya? maaf, saya melamun." jawabku.


"Kau tak dengar perkataanku?" tanyanya.


"Perkataan apa, Yang Mulia?" tanyaku pura-pura tak tahu.


"Aku bertanya kabarmu selama aku pergi perang. Apakah kau merasa kesulitan?" tanyanya.


"Tidak sama sekali. Semua baik-baik saja. Kenapa Anda bertanya kabar saya? Anda bahkan tak datang menemui saya di malam pernikahan kita dan tak berpamitan keesokan harinya saat Anda berangkat berperang." kataku mengungkapkan isi hatiku.


Aku melihat wajah Winter yang tersentak kaget. Ia memalingkan pandangan menatapku dan mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut. Dia berkata, jika ia sudah memberitahu keberangkatannya lewat Sekretarisnya, Erwan. Bahkan Winter mangatakan pada Sekretarisnya itu untuk membantuku selama dia pergi.

__ADS_1


"Apa Erwan tak melakukan apa kuperintahkan? dia juga tak memberitahumu kalau aku buru-buru pergi menyesal para pasukan yang sudah lebih dulu berangkat sebelum aku?" tanyanya.


Aku lansung memijat lembut pelipisku. Dan mencerna ucapan winter. Kalau memang begitu, masalahnya ada pada Erwan. Apa tujuanya tak memberitahuku dan hanya diam saja? padahal selama lima tahun selama aku diabaikan Winter, dia selalu membantuku dan tersenyum. Jangan-jangan, itu semua hanya akting semata. Dia punya maksud tak baik padaku, ya?


"Ellena, kau baik-baik saja?" tanya Winter mengenakan jubahhya padaku.


Aku menatap Winter, "Anda belum menjawab pertanyaan saya yang satu lagi. Tentang malam pernikahan. Apa alasan Anda tak menemui saya?" tanyaku.


"Kata Erwan kau tak mau diganggu. Dan aku kira kau memang ingin sendirian. Mengingat pernikahan kita memang tak meiliki dasar apa-apa, selain menjalankan wasiat nendiang Kaisar dan Parmaisuri terdahulu." jawabnya.


Aku melebarkan mata, "Erwan berkata demikian?" tanyaku serasa tak percaya.


"Ya, dia bilang begitu. Padahal malam itu aku ingin menemuimu dan memberitahumu, jika aku akan pergi berperang esok harinya. Karena itulah aku meninggalkan pesan pada Erwan dan langsung pergi esok paginya." jelas Winter padaku.


Aku menatap Winter, "Yang Mulia. Saya punya permintaan dan juga pertanyaan." kataku.


"Apa pertanyaanmu?" tanya Winter.


"Apa Erwan itu sangat membantu Anda? sangat berharga bagi Anda?" tanyaku.


Aku memastikan apa yang dipikirkan Winter tentang Erwan. Karen aku tahu bagaimana Erwan bekerja membantu Winter selama lima tahun. Dia pria yang berbakat dan cepat tanggap. Hanya saja aku tak sangka, pria itu melalukan siasat seperti ini padaku. Aku akan mencari tahu tujuannya seperti itu.


"Ya, aku cukup menyukainya. Meski terkadang menyebalkan juga. Dia cekatan dan cepat tanggap." kata Winter.

__ADS_1


Sesuai pemikiranku. Winter menilainya sama seperti penilaianku yang sudah dekat dengan Erwan selama lima tahun. Lantas apa tujuannya memalsukan informasi tentangku di malam pernikahan? dan apa alasan dia tak memberitahuku apa-apa tetang kepergian Winter? inilah yang harus aku selidiki dan cari tahu.


"Yang Mulia, saya akan utarakan permintaan saya. Seandainya saya membuat masalah dengan menyeret Erwan turun dari jabatannya, apakah Anda akan marah? atau Anda akan membela Erwan, meski tahu dia bersalah? jujur saja, saya tak pernah sekalipun mmeberitahu informasi apa-apa pada malam pernikahan kita. Lantas, apa tujuan Erwan melarang Anda datang dengan berkata saya tak mau ditemui? kenapa juga dia tak menyampaikan pesan Anda? bukankah ini artinya ada sesuatu hal yang Erwan sembunyikan.  Dia sengaja membuat saya salah paham dan berpikiran buruk tentang Anda. Dan membuat Anda juga berpikir hal sama seperti saya." kataku.


"Kalau memang ada hal seperti itu. Maka aku juga perlu menyelidiki Erwan diam-diam. Aku tidak peduli seberapa keras dan lamanya dia mengabdi padaku. Kalau dia berani mengabaikan perintahku, maka akupun tak akan tinggal diam." jawab Winter.


Jawaban Winter di luar dugaanku. Apa dia memang ada masalah dengan Erwan? Apapun itu aku tak mau tahu juga. Kalau dia berkata seperti ini, artinya aku boleh melakukan apa yang aku ingin lakukan, kan? karena  aku akan benar-benar menyeretnya turun dari jabatannya dan menghukumnya tanpa berkedip.


"Maaf ... " ucap winter tiba-tiba.


Aku menatap Winter, "Maaf untuk apa, Yang Mulia?" tanyaku.


"Karena aku tak menemuimu dan tak berpamitan. Ahh ... sial! Aku rasa kau juga pasti langsung salah paham begitu aku membawa Catharina ke istana, kan? karena itu kau memutuskan untuk mejauhiku dengan tak mau makan bersamaku." katanya mengumpat. Wjahanya terlihat kesal.


Aku semakin tak mengerti. Kenapa dia bicara seolah dia terpaksa membawa Catharina? sebenarnya apa yang terjadi? Pada saat aku ingin bertanya untuk memastikan, Catharina tiba-tiba datang dan menempel pada Winter dengan tidak tahu malunya. Membuatku langsung ingin memuntahkan isi perutku.


"Yang Mulia. Saya pamit undur diri, terima kasih atas waktunya," kataku.


Aku langsung pergi meninggalkan Winter dan Catharina. Aku dan wanita ular itu sempat saling memandang. Wanita itu dengan tak tahu diri berani menatapku tanpa menunduk atau memberikan salam, padahal statusnya hanyalah bangsawan rendahan.


Dalam perjalanan kembali ke istanaku, aku baru ingat kalau aku lupa bertanya tentang Baron Rosaro pada Winter. Di kehidupan pertamaku, Baron Rosaro ternyata adalah seorang mata-mata yang menyebabkan kekacauan. Karena itulah aku berusaha untuk menguaknya, dan ternyata usahaku gagal. Aku justru yang menjadi korban dan meninggal.


Tekatku semakin kuat. Aku tak akan membuat orang-orang itu bernapas lega ataupun duduk tenang. Erwan, Catharina, Baron Rosaro, aku akan menguak kejahatan kalian satu-satu. Dengan bantuan ingatanku dikehidupan pertama, aku pasti bisa menghadapi kehidupan kali ini.

__ADS_1


__ADS_2