
Hari sebelumnya, Ellena menulis surat untuk kepala akademi sihir, dan langsung mendapatkan balasan di hari yang sama. Dan hari ini, ia bersama Winter pergi ke akademi sihir untuk berkunjung. Dalam kereta kuda, Ellena diam tanpa bicara. Entah mengapa perasaanya tidak nyaman. Winter yang duduk di hadapan Ellena, terus memandangi Ellena dengan rasa ingin tahu, apa yang sedang istrinya itu pikirkan? Ia lantas memberanikan diri bertanya pada Ellena.
"Ada apa? kau tampak tak bersemangat, istriku." tanya Winter.
"Bagaimana aku menjelaskannya? rasanya aku tak nyaman datang ke sini. Padahal kemarin aku baik-baik saja. Entahlah ... rasanya ada yang aneh saja." jawab Ellena.
"Apa ada hal khusus yang kau pikirkan?" tanya Winter.
Ellena menggelangkan kepala pelan, "Tidak ada sama sekali," jawab Ellena.
"Aneh, ya. Biasanya perasaan kita tidak tennag karena ada yang dipikirkan. Apa mungkin tubuhmu sedang tidak sehat? sehingga perasaanmu pun terpengaruh. Lukamu kan belum sepenuhnya sembuh, ditambah kemarin kau mengeluarkan banyak energi untuk menghadapi Sebastian." kata Winter.
"Mungkin saja," jawab Ellena.
Tidak beberapa lama, kereta kuda sampai di depan gerbang menara utama tempat kepala Akademi tinggal dan bekerja. Kereta kuda berhenti. Penjaga membuka pintu dan membungkuk hormat. Winter turun lebih dulu, ia mengulurkan tangan membantu sang istri turun. Ellena menggenggam tangan Winter, perlahan turun dari kereta kuda. Ellena dan Winter menatap bagunan tinggi dihadapan mereka.
Deg ... deg ... deg ... jantung Ellena berdegup kencang. Tiba-tiba ia merasakan perasaan yang sama saat berhadapan dengan sebastian. Meski samar, ia yakin merasakan adalah sihir kegelapan di area sekitar.
Ellena mengertukan dahi, "Apa ini? perasaan tak asing. Seharuanya di sini tak ada sihir kegelapan, karena itu merupakan sihir terlarang. Namun, samar-samar aku merasakannya. Dari mana asalnya?" batin Ellena.
Winter menatap Ellena, "Istriku, ayo masuk." ajak Winter.
__ADS_1
Ellena menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia mengikuti Winter berjalan masuk ke dalam menara. Baru saja pintu utama dibuka, Ellena disuguhi bau tak sedap yang menusuk. Ellena langsung mengerutkan dahinya karena sepertinya hanya Ellena yang bisa mencium bau tersebut. Winter tampak baik-baik saja, begitu juga pelayan yang memandu mereka menuju ruang kerja Kepala akademi.
"Benar-benar mencurigakan. Rasanya tempat ini dipenuhi dengan energi jahat seperti yang ada dalam tubuh sebastian." batin Ellena.
Karena tak mau berburuk sangka, Ellena terus menahan diri dari bau menyengat dan perasaan tak nyaman. Ia berharap itu hanyalah pemikiran negatifnya saja. Ia tidak boleh sembaranga menuduh tanpa alasan dan bukti yang jelas. Terlebih tempat yang ia datangi adalah menara utama tempat tinggal dan tempat bekerja kepala akademi sihir Kekaisaran De Veloz.
Letak ruang kerja kepala akademi ternyata cukup jauh dari pintu utama. Di dalam menaea ternyata dibagun sebuah taman. Meskipun ada udara, tetap saja Ellena merasakan sesak dan tidak nyaman.
***
Ellena dan Winter pun sampai di depan pintu ruang kerja kepala akademi. Pelayan mengetuk pintu, dan menyampaikan kedatangan Winter juga Ellena. Jawaban 'Persilakan beliau berdua masuk' dilontarkan seseorang dari dalam ruanga. Dan seseorang itu tidak lain adalah kepala akademi.
Jantung Ellena semakin kencang berdegup, bersamaan dengan pelayan yang membuka pintu. Dan benar saja, energi gelap pekat langsung mencuat dari dalam ruangan.
Ellena tersentak, saat mendengar seseorang bicara dan menyambut kedatangannya juga Winter.
"Selamat datang di menara utama, Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri. Semoga Anda berdua selalu diberi kebahagiaan dan kedamaian," kata seseorang yang baru keluar dari dalam ruangan.
Ellena tersenyum, "Maaf, atas ketidaksopanan kami yang mendadak datang, Tuan Kepala Akademi." kata Ellena.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya minta maaf, karena sibuk, jadi tidak bisa menyambut Anda berdua kedepan. Pekerjaan saya baru saja selesai. Kita bisa bicara panjang lebar di dalam, silakan masuk." kata kepala akademi mempersilakan Winter dan Ellena masuk.
__ADS_1
Winter dan Ellena saling menatap. Keduanya bersama-sama masuk ke dalam ruangan. Kepala akademi sihir meminta pelayan peibadinya menyiapkan minuman untuk kedua tamunya. Setelah itu kepala akademi mengikuti Winter dan Ellena masuk ke dalam ruangan juga.
Winter dan Ellena duduk berdampingan. Ellena menyentuh tangan Winter dengan sengaja memberikan isyarat. Karena mereka perlu waspada pada semua orang, sebelum mereka melakukan kunjungan, mereka membuat tanda isyarat. Seperti, bahaya, hati-hati, tidak boleh, dan mencurigakan. Karena tidsk mungkin bagi keduanya untuk bicara langsung didepan orang yang bersangkutan.
Ellena mengisyaratkan 'hati-hati' untuk Winter. Dan Ellena langsung menyibakkan rambutnya, sebagai tanda 'mencurigakan'
"Hati-hati dan mencurigakan. Kenapa Ellena memperingatkanku seperti itu, ya? Apa maksudnya?" batin Winter bingung, karena ia tidak merasakan adanya tanda bahaya.
Ellena melihat sekeliling tanpa berpaling. Bola matanya bergerak cepat ke kiri dan kanan menyelisik sekitaran. Ellena cepat-cepat mengubah ekspresi wajah begitu melihat kepala akademi duduk dihadapannya.
"Jadi, ada hal penting apa yang ingin Anda sampaikan?" tanya Kepala akademi.
Ellena menatap kepala akademi, "Begini, Tuan kepala, ahh ... maksud saya, Paman. Ada hal mendesak dan sangat penting yang ingin saya sampaikan. Ini perihal seseorang bernama Sebastian. Anda pasti tahu, siapa dia, bukan? dia merupakan saudara berbeda Ibu dari mendiang Kaisar terdahulu. Kemarin, saya bertemu dengannya dan kami sedikit melakukan perlawanan karena dia menyerang kami. Bisakah Anda menyelidiki soal ini? karena Sebastian merupakan penyihir, maka akan lebih baik, jika para penyihir yang menanganinya. Bukannya kami lepas tangan, kami hanya ingin pihak akademi sihor tahu jelas akan situasi ini dan membantu kami." kata Ellena.
Kepala akademi menganggukkan kepala perlahan, "Begitu, ya? Hm ... baiklah, saya akan coba mencari tahu. Apakah anda berdua terluka dalam pertarungan melawan Sebastian? saya sendiri kurang mengerti tentangnya. Yang saya tahu, dia adalah seorang pemeberontak dan terobsesi untuk naik menjadi Kaisar." jelas kepala akademi.
"Apa Paman sengaja memberitahukan pentunjuk? Atau dia memang tidak sadar, dan berusaha menenangkan kami saja? padahal aku tak berharap apa-apa, tapi aku langsung dapat petunjuk jelas apa yang diinginkan Sebastian sebenarnya." batin Ellena.
Pelayan datang membawa teh, dan menyajikan teh pada Ellena dan Winter. Lagi-lagi Ellena menyibakkan rambutnya perlaha sambil tersenyum. Ia tidak ingin dicurigai kepala akademi sihir, telah menunjukakn bahasa isyarat pada Winter. Ellena berpura-pura merapikan gaunnya, dengan cepat ia mendekatkan kakinya perlahan menyentuh kaki Winter, tanda 'Tidak boleh' artinyaa Ellena melarang Winter untuk minum apa yang diberikan orang asing. Winter membalas isyarat Ellena, ia langsung menyentuh kaki Ellena dengan kakinya sebagai jawaban 'Mengerti'. Ellena memang tidak tahu, apakah dalam teh ada sesuatu atau tidak, tapi firasatnya tidak baik dan pastinya takut kalau-kalau tehnya beracun atau dicampur obat yang tidak diketahui.
"Silakan di minum," kata kepala akademi sihir.
__ADS_1
Ellena dan Winter saling menatap, mereka bersama-sama mengangkat cangkir teh dan pura-pura meminum teh itu, padahal mereka menuang sedikit deh ke dalam lengan baju mereka agar terlihat teh dalam cangkir berkurang. Ellena meletakkan cangkir teh, di susul Winter. Ellena jelas melihat Pamannya itu melihat ke arah cangkirnya, lalu cangkir Winter. Memastikan apakah teh yag disajikan berkurang atau tidak. Melihat teh berkurang, wajah kepala akademi tampak lega. Apa yang dilihat Ellena semakin membuat Ellena curiga akan sosok 'Paman' sekaligus kepala akademi sihir di hadapannya.