Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
35. Kesempatan Kedua


__ADS_3

Winter dan Ellena berciuman mesra. Winter memperdalam ciumannya, membuat Ellena sesak dan tak bisa bernapas. Ellena mendorong Winter dan terpakasa melepas ciuman, ia ingin bernapas karena sudah tidak tahan lagi.


"Ellena ... kau baik-baik saja?" tanya Winter menatap Ellena.


Terlihat Ellena terengah-enggah dan berusaha mengatur napasnya. Waajah Ellena memerah, ia berpikir yang tidak-tidak tentang Winter.


"Pria ini ... bisa-bisanya membuatku seperti ini. Kalau begini terus aku akan mati muda." batin Ellena.


"Yang Mulia, bisakah kita pergi ke kamar dan tidur saja?" tanya Ellena.


Winter menganggukkan kepala, "Ya, baiklah. Ayo, aku antar ke kamarmu. Jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam." kata Winter.


Ellen hanya diam dan pergi dari ruang kerja Winter. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi, karena canggung. Ia merasa aneh setelah berciuman cukup lama dengan Winter. Karena hal itu juga, ia mersa tubuhnya lemas. Energi dalam tubuhnya seperti terkuras habis.


"Aneh sekali. Padahal kami hanya berciuman. Kenapa tubuhku langsung lemas seperti ini? apa karena aku gugup dan tegang? padahal ini bukan kali pertama kami berciuman. " batin Ellena.


"Apa dia baik-baik saja? ku rasa tidak. Wajahnya memerah, tapi perkataannya dingin. Seolah aku sudah membuatnya kesal dan marah. Bagaimana ini? apa hubungan kami akan baik-baik saja, atau tidak? aaahhh ... sialan! seharusnya tadi aku tak tiba-tiba menciumnya dan tak berlebihan." batin Winter.


Winter berjalan di samping Ellena. Ia mengkhawatirkannya Ellena. Ia juga takut Ellena akan marah padanya. Tanpa mereka sadari, langkah kaki telah membawa mereka sampai di depan kamar. Ellena memegang pegangan pintu. Ia menatap Winter dan memminta maaf, karena tadi tiba-tiba mendorong Winter. Ellena menjelaskan, ia tanpa sadar telah melakukan sesuatu yang tak seharrusnya.


"Apa kau marah?" tanya Ellena.


"Kenapa marah? aku tidak marah. Aku justru khawatir padamu. Dan ingin tahu apakah kau baik-baik saja atau tidak.  Maaf, aku sudah membuatmu tidak nyaman. Apa kau marah padaku?" tanya Winter balik.


Ellena menggelengkan kepala, "Tidak. Dibandingkan marah, mungkin aku hanya tegang dan gugup. Padahal ini kan bukan ciuman pertama kita." jawab Ellena pelan.


Tiba-tiba suasana canggung. Winter dan Ellena terdiam satu sama lain larut dalam pemikiran masing--masing. Winter tidak tahu harus berkata apa, begitu juga Ellena.


"Kenapa dia diam saja?" batin Winter.


"Kenapa dia diam saja?" batin Ellena.


Keduanya sama-sama mengatakan kalimat yang sama dalam hati mereka.

__ADS_1


"Emmh ... Winter ... " panggil Ellena ragu-ragu.


"Ya?" jawab Winter.


"Apa kau mau masuk? minum teh atau mengobrol denganku?" tanya Ellena.


"Apa boleh begitu?" tanya Winter.


Ellena menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia mendorong pintu kamarnya agar terbuka dan mempersilakan Winter masuk dalam kamarnya. Winter pun masuk ke dalam kamar, ia berjalan mendekati jendela kamar Ellena.


"Winter ... " panggil Ellena.


"Ya, istriku, Ada apa?" jawab Winter


"Apa yang sudah kau lakukan pada Erwan dann Catharina? Aku sudah dengar semuanya dari Carlos. Apa kau yang sudah merencanakan semuanya? sendirian? dan sejak kapan?" tanya Ellena.


Winter membuka sedikit jendela kamar Ellena, "Apa kau akan percaya, jika aku jawab aku melakukannya karena tak mau dibunuh untuk kedua kali? aku tak bisa gunakan sihir, aku bukan keturunan penyihir. Namun, bukan berarti aku lemah dan tak bisa bertarung dengan kemapuan fisik. Kau tentu tahu, pedang kekaisaran bukanlah panggilan tanpa makna, Ellena." jawab Winter.


Ellena mengerutkan dahi, "Tunggu, Winter. Bisakah kau ulangi lagi perkataanmu itu. Apa takut salah dengar. Kau bilang, tak mau dibunuh untuk kedua kali? itu apa maksudnya?" tanya Ellena penasaran.


"Kenapa dia diam saja? apa maksudnya dia pernah akan dibunuh sebelumnya, tapi rencana itu gagal? kapan itu? saat dia masih kecil? atau sebelum menikah?" batin Ellena bertanya-tanya.


"Ellena ... " panggil Winter.


"Ya?" jawab Ellena.


"Menurutmu, berapa banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan kedua dan apa alasannya?" tanya Winter.


"Kesempatan kedua?" tanya Ellena.


"Ya, kesempatan kedua hidup kembali. Sebenarnya ... ini adalah kehidupan keduaku, Ellena." kata Winter jujur.


Ellena kaget, "Apa?" gumam Ellena menutup mulutnya.

__ADS_1


"Ja-jangan bilang Winter ... tidak mungkin! kami sama-sama mengulang waktu?" batin Ellena melebarkan mata.


Winter berbalik, "Kau pasti terkejut. Aku juga demikian, saat pertama kali membuka mata dalam kemah saat istirahat. Saat dalam perjalan pulang dari berperang." kata Winter.


"Wi-Winter ... kau benar-benar mengulang waktu? apa yang kau maksud tak ingin terbunuh dua kali, karena dikehidupan pertama kau dibunuh? si-siapa yang melakukannya? apa itu Baron?" tanya Ellena.


"Erwan. Erwan yang melakukannya. Karena dia sejak awal memang mengincar tahtaku. Kau mungkin baru tahu akan hal ini, kalau Erwan sebenarnya adalah sepupuku dari pihak Ibu. Erwan juga ternyata adalah kekasih Catharina," jawab Winter.


"Apa? Jadi mereka ... ahh ... mereka sudah gila. Bahkan mereka berani bersekongkol membunuh Kaisar?" gumam Ellena.


Winter tiba-tiba berlutut di hadapan Ellena. Membuat Ellena terkejut. Winter menunduk dan memegang kaki Ellena. Winter menyampaikan permintaan maafnya, jika dikehidupan pertamanya, ia telah membunuh Ellena. Ellena terkejut, seketika tubuh Ellena bergetar karena ia ingat akan kejadian buruk itu.


"Maafkan aku, Ellena ... maaf ... aku bersalah padamu. Maafkan aku ... " kata Winter menangis.


Air mata Ellena menetes. Ia tidak tahu harus menjawab apa melihat Winter yang sedang berlutut dan memengang kakinya.


"Berdirilah. Kau itu Kaisar, kau tak boleh sembarangan berlutut, Winter." kata Ellena.


"Aku tidak peduli. Aku akan berlutut dan memohon ampunan atas kesalahanku. Aku sudah mem ... melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Mungkin karena itulah Dewa memberiku kesempatan kedua. Dewa ingin aku menebus semua kesalahanku, dan karena itu juga aku tak menyia-nyiakan kesempatan membalas dendam pada mereka." kata Winter.


Ellena juga berlutut. Ia menadahkan wajah Winter sehingga pandangan keduanya bertemu. Ellena menyeka air mata Winter.


"Kau tidak bersalah. Kau melakukan itu karena kau sedang dalam pengaruh cuci otak. Jadi, jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa, Winter." kata Ellena.


"Ka-kau tahu dari mana saat membunuhmu aku dalam perngaruh cuci otak? aku kan tidak mengatakannya," tanya Winter.


Ellena keget, "i-itu ... itu karena kehidupan kali ini mereka berencana seperti itu, pasti dikehidupan sebelumnya juga begitu. Kau kan bilang kau mengulang waktu," jawab Ellena beralasan.


"Tetap saja aku bersalah padamu, Ellena. Jika aku mengingat hal itu, dadaku langsung sesak. Bagaimaba bisa aku membunuhmu? bahkan tanpa berkedip. Aku membunuh wanita yang kucintai, aku membunuhmu ... " kata Winter kembali menangis.


Ellena memeluk Winter, "Kalau kau menyesal. Mulai sekerang kau harus memperlakukanku dengan baik. Mengerti? ayo, kita buat mereka membayar semuanya," kata Ellena.


"Ya, memang itu yang ingin aku lakukan." jawab Winter.

__ADS_1


Ellena dan Winter masih tetap berpelukan. Mereka terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.


__ADS_2