
Malam itu Winter dan Ellena berjalan-jalam di pasar. Di belakang mereka adan Janette dan Carlos yang mengawal. Ellena masih memikirkan perkataan Winter. Ellena melirik ke arah Winter, ia ingin tahu sebenarnya apa yang Winter pikirkan saat meminta Ellena membunuhnya, jika Winter terpengaruh oleh ramuan cuci otak?
"Pria ini semakin aneh. Sejak pulang perang ia bersikap tak bisa kupahami. Dia tidak seperti Winter yang kutahu dikehidupan sebelumnya. Harusnya dia mengabaikanku, kan? apa ini terjadi karena efek cuci otaknya tak berpengaruh karena dia sudah minum penawar? Tidak, tidak. Kau tidak boleh berpikir yang macam-macam, Ellena. Kehidupan sebelumnya memanglah menyedihkan dan mengerikan, tapi kau tak boleh fokus ke sana, karena kau sudah mengulang waktu. Yang harus kau pikirkan adalah cara membantu Winter menghadapi Catahrina dan Erwan." batin Ellena.
Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk fokus pada kehidupan yang sekarang. Dan memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk membantu Winter agar tidak terpengaruh efek ramuan cuci otak yang diberikan Catharina.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Winter.
"Memikirkan perkataan Anda. Saya heran saja, apakah Anda mengatakan itu untuk membujuk saya dan menenangkan saya yang kesal, atau sungguhan. Saya masih tidak habis pikir, kenapa Anda mengatakan itu?" jawab Ellena.
"Aku sungguhan dengan kata-kataku. Aku mengatakannya agar kau bersiap-siap," jawab Winter.
"Saya tidak akan melakukannya. Saya akan membuat Anda sadar dan tidak terpengaruh dengan ramuan itu. Saya akan menemukan penawarnya untuk Anda. Hanya saja saat ini saya sedang kesulitan mendapatkan sampel ramuan itu. Bertha pelayan yang saya tugaskan di sisi Catharina mengatakan kalau dia tak punya kesempatan mengambilnya. Ah, benar juga. Kalau Anda berpura-pura terpengaruh, maka Anda bisa mengambilnya dengan mudah, kan. Bagaimana kalau Anda membuat Catharina meninggalkan kamar agar Bertha bisa mengambil sedikit ramuannya untuk diteliti Ayah saya? apa Anda bisa melakukannya?" pinta Ellena.
Winter mengerutkan dahinya, "Apa yang aku dapatkan kalau aku melakukannya?" jawab Winter.
"Apa itu artinya Anda meminta imbalan? padahal itu kan untuk kebaikan Anda sendiri." sahut Ellena.
"Aku akan melakukannya, kalau kau mau melakukan satu hal juga untukku." jawab Winter.
Ellena menatap Winter, "Katakan, apa itu? " tanya Ellena penasaran.
Winter mendekatkan wajahnya dan berbisik. Winter minta Ellena mencium bibirnya sebelum dan sesudah Winter melakukan apa yang diinginkan Ellena. Tentu saja Ellena langsung kaget dan wajahnya merona. Bagi Ellena itu hal yang sangat memalukan, tadi saja ia masih ingat jelas rasa dari ciumannya dengan Winter.
"Jangan macam-macam, Yang Mulia. Saya menolak keinginan Anda," gumam Ellena.
"Baiklah, kalau kau tidak mau men .... mmhh ... " Saat bicara Ellena langsung membekap mulut Winter.
__ADS_1
Ellena mengerutkan dahinya, "Tolong jangan ucapkan kata-kata yang nantinya akan menimbulkan kesalahpahaman, Yang Mulia. Anda mengerti maksud saya, kan?" ucap Ellena.
Winter menganggukkan kepala. Ia mengerti apa yang Ellena katakan. Karena Winter sudah mengiakan kata-kata Ellena, Ellena pun melepas bekapan tangannya dan kembali berjalan mengelilingi pasar. Winter tersenyum tipis, berjalan mengikuti Ellena.
Carlos dan Janette saling menatap, Carlos mengangkat ke dua bahunya, sedangkan Janette menggelengkan kepalanya. Keduanya sama-sama tidak tahu apa yang terjadi pada dua orang yang berjalan di depan mereka. Carlos dan Janette sama-sama menerka dalam hati, jika ada sesuatu diantara Winter dan Ellena.
"Pasti telah terjadi sesuatu diantara Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia permaisuri." batin Janette.
"Apa yang terjadi diantara beliau berdua, ya? Beliau berdua mencurigakan," batin Carlos.
Janette dan Carlos berjalan beriringan mengikuti Winter dan Ellena yang sedang mengelilingi pasar.
***
Malam harinya. Winter sedang makan malam bersama Ellena dan Catharina. Winter melihat Catharina sibuk sendiri menyiapkan makan malam untunya. Ia mencuri-curi pandang menatap Ellena. Ellena juga sama, ia kaget karena saat ingin mencuri pandang pada Winter, ia melihat Winter menatapnya.
"Yang Mulia, silakan." kata Catharina dengan nada lembut.
"Oh, ya. Terima kasih," kata Winter.
Winter langsung memakan makan malam yang disiapkan Catharina. Winter menatap Catharina dan tersenyum tampan, seolah ia senang sedang dilayani Catharina. Melihat Winter tersenyum pada Catharina, membuatnya teringat akan kehidupan sebelumnya. Meskipun Winter hanya berakting, tapi hatinya terasa penuh sesak. Dan itu membuatnya lagsung tak bernafsu untuk makan.
Catharina menatap Winter, "Yang Mulia ... apa boleh saya mengajukan permintaan?" tanya Catharina.
"Permintaan? apa itu?" jawab Winter.
"Apa kau akan minta anggaranmu ditambah karena kau harus mendekor ulang istana Dandelion? kau meminta sesuatu yang tak masuk akal, Catharina." batin Ellena.
__ADS_1
"Berikan saya anggaran lebih. Karena saya ingin mendekorasi ulang istana tempat tinggal saya. Saya bosan dengan dekorasi yang lama," kata Catharina.
"Kalau itu mintalah anggaranya pada Permaisuri," kata Winter.
"Ini giliranku berakting, kan? baiklah, ayo kita mulai pertunjukan ini. Kau pasti puas melihatku bertengkar dengan Winter. Tidak, bukan hanya puas, tapi itulah yang diinginkan wanita ular ini. Dia tahu aku tak akan memberikan dia sepeserpun koin, karena itu dia memanfaatkan Winter yang dia kira sedang terpengaruh ramuan cuci otak agar memerintahku memberikan anggaran yang diminta. Licik sekali," batin Ellena.
"Saya keberatan, Yang Mulia." kata Ellena.
Winter menatap Ellena tajam, "Apa maksudmu, Permaisuri? apa kau tak akan memberikan Catharina anggaran lebih?" tanya Winter.
"Tidak akan. Apa Anda lupa, siapa wanita itu? dia kan hanya Lady yang Ands bawa tanpa status apa-apa. Dia hanya orang asing!" kata Ellena menatap Catharina.
Winter memukul meja. Membuat Ellena dan Catharina kaget. Winter tidak peduli pendapat Ellena dan meminta Ellena memberikan anggaran untuk Catharina. Winter dan Ellena pun akhirnya bertengkar. Keduanya beradu mulut. Catharina menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia diam-diam tersenyum puas.
"Bagus, bagus. Ayo, lanjutkan pertengkaram kalian. Aku ingin kalian saling membenci satu sama lain," batin Catharina.
"Meksi Anda memaksa pun, saya tetap menolak, Yang Mulia. Anggaran Lady sudah lebih dari cukup bahakan anggaran yang saya berikan adalah anggaran untuk empat sampai lima tamu." kata Ellena.
"Aku tidak peduli. Aku berkata beri, ya beri!" sentak winter.
"Maaf, Ellena. Aku tak bermaksud begini. Ini hanya sandiwara. Kau mengerti, kan?" batin Winter.
"Saya tetap menolak. Saya permisi," kata Ellena.
Winter yang marah pun menporak porandakan meja makan. Ellena kaget, akting Winter benar-benar totalitas. Seoalah Winter sedang menghayati peran sebagai seseorang yang memang sungguhan terpengaruh ramuan cuci otak.
Ellena mengerutkan dahi, "Bisa-bisanya Anda melakukan ini, Yang Mulia. Anda keterlaluan. Apa Anda berpikir saya akan memberikan hanya karena Ands memporak porandakan meja makan? Silakan Anda berusaha keras, karena saya tidak akan menerima permintaan orang asing." kata Ellena.
__ADS_1
Ellena langsung pergi meninggalkan Winter dan Catharina di ruang makan. Begitu keluar dari ruang makan, Ellena langsung menghela napas di depan para pelayan yang berjaga di depan pintu. Ellena meminta pelayan segera membersihkan ruang makan setelah Winter dan Catharina pergi. Ia lantas berjalan pergi untuk kembali ke istananya.