
Keesokan harinya. Winter bangun lebih dulu, dan pergi meninggakan Ellena yang masih tidur. Setelah mandi dan berganti pakaian, Winter kembali ke kamar Ellena. Ia menunggui Ellena bangun. Karena tidak ada kegiatan, Winter membuka pintu dan mengintip keluar kamar, berniat memanggil pelayan. Namun, Janette dan Carlos datang tergesa-gesa menghdap Winter. Melihat dua orang berlari sampai terengah-enggah, Winter sudah menduka akan adanya sesuatu yang tak beres. Winter memalingkan pandangan melihat ke arah Ellena, terlihat Ellena masih terlelap tidur. Buru-buru Winter keluar kamar dan menutup pintu.
"Yang Mulia, Apa Yang Mulia Permaisuri masih tidur?" tanya Janette.
"Ya, dia masih tidur. Ada apa kalian berlarian? ah ... lebih baik kita bicara di ruang kerja saja, kalau di sini hanya akan mengganggu Ellena." kata Winter.
Winter berjalan menuju ruang kerja. Janette dan Carlos saling nenatap, lalu mereka berjalan berdampingan mengikuti Winter ke ruang kerja.
***
Di ruang kerja. Winter bertanya apa yang terjadi? sambil menatap Janette dan Carlos bergantian. Janette dan Carlos saling menatap, Janette meminta Carlos menyampaikan pesan dan surat yang mereka terima.
"Yang Mulia. Kami menerima surat untuk Anda dan Yang Mulia Permaisuri dari kepala kebun istana. Setelah saya bertanya, dia mengatakan pengirim tidak menyebutkan identitas karena Anda akan tahu setelah membaca isi surat." kata Carlos menjelaskan.
Carlos memberikan kedua surat itu pada Winter. Winter menerima dan melihat kedua sirat itu. Memang benar, di masing-masing surat tertulis untuknya dan istrinya. Mengingat surat teesebut dicap tapa menggunakan lambang keluarga dan sejenisnya, membuat Winter curiga.
Karena penasaran Winter pun membuka dan membaca surat itu. Janette dan Carlos kembali saling bertatapan karena mereka merasa khawatir. Winter mencengkram kuat surat ditangannya dan terlihat marah.
"Janette ... kembalilah ke istana Permaisuri. Setelah istriku bangun, bantu dia mandi dan berganti pakaian, lalu antarkan ke ruang makan. Jangan katakan apa-apa soal surat ini, karena aku sendiri yang akan memberikannya nanti saat kami sarapan bersama. Kau mengerti?" kata Winter menatap Janette.
"Baik, Yang Mulia. Saya permisi," kata Janette langsung pergi meninggalkan Winter dan Carlos.
Winter menatap Carlos, "Pergi dan periksa kediaman Grand Duke, Carl. Sebastian berkata dalam suratnya, jika dia telah meratakan kediaman Grand Duke." kata Winter.
__ADS_1
"A-apa? bagaimana bisa? dia benar-benar keterlaluan sekali. Saya akan segera pergi dan mencari tahu semuanya, Yang Mulia." kata Carlos yang langsung pergi.
Winter menatap surat yang digenggamnya, "Sialan! Kau memang tak bisa dibiarkan bergitu saja, Sebastian. Aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku nanti." batin Winter yang langsung membuang surat Sebastian ke tempat sampah.
Winter berpikir, Ellena pasti sangat terkejut nanti saat ia beritahu. Ia tidak bisa melihat kesedihan di wajah istrinya lagi. Namun, ia juga tidak bisa diam saja menyembunyikan semuanya. Terlebih ia harus memberikan surat dari Sebastian. Winter sampai berpikir untuk membuka surat itu, tapi surat itu ditujukan untuk Ellena. Hati dan pikiran Winter mulai kacau.
***
Ellena bangun tidur dan segera mandi, ia dibantu Janette bersiap-siap. Untuk selanjutnya didampingi pergi ke ruang makan. Sesuai permintaan Winter, Janette hanya diam tak bersuara perihal surat yang diberikan. Ellena merasa aneh, karena Janette terlalu diam. Padahal Janette biasanya banyak bertanya dan bicara sampai membuat telinganya sakit.
"Kenapa kau hanya diam saja, Jane ... " tanya Ellena.
"Apa ada sesuatu, Yang Mulia?" tanya Janette.
Ellene menghentikan langkah dan menatap Janette, "Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu? apakah Ada sesuatu, sampai kau hanya diam saja sejak aku bangun sampai sekarang? kau tidak seperti kau yang biasanya," kata Ellena.
"Kau sakit? seharusnya kau istirahat, Jane. Aku bisa dibantu pelayan lain atau melakukannya sendiri. Lain kali jangan memaksakan diri, kau mengerti?" tanya Ellena memegang tangan Janette.
Janette menganggukkan kepala, "Saya mengerti, Yang Mulia. Sebaiknya Anda segera melanjutkan perjalanan. Yang Mulia Kaisar pasti sudah menunggu Anda di ruang makan untuk sarapan bersama," kata Janette.
"Oh ... sesaat aku lupa. Ayo, suamiku pasti sudah sangat menahan lapar karenaku." kata Ellena.
Ellena melanjutkan berjalan sampai di pintu ruang makan. Dua pelayan membuka pintu, mempersilakan Ellena masuk. Ellena masuk dan melihat Winter yang sedang duduk melamun sampai tidak sadar akan kedatangannya.
__ADS_1
"Yang Mulia ... " panggil Ellena.
Ellena mengerutkan dahi, "Dia kenapa? sedang melamun, ya?" batin Ellena.
Ellena menghampiri Winter dan menepuk bahu Winter, "Suamiku, kau sedang melamun?" tanya Ellena.
Winter kaget,"Oh, sayang. Kau sudah datang? maaf, aku melamun sampai tak sadar kau datang." kata Winter.
Winter langsung berdiri dari kursi tempatnya duduk, ia menarik kursi di sebelahnya agar Ellena bisa duduk. Setelah melihat Ellena duduk, Winter meminta pelayan menyajikan sarapan. Winter kembali ke tempat duduknya. Ia dan Ellena menunggu pelayan yang sedang menyiapka sarapan mereka. Winter masih kepikiran, bagaimana caranya menyampaikan surat Sebastian pada Ellena, dan ia berniat melakukan itu setelah Ellena sarapan. Setelah menyajikan sarapan, Winter pun meminta semua pelayan keluar dari ruangan. Winter mengatakan, jika ia sendiri yang akan mengambil alih melayani Ellena.
"Aku bisa sendiri, tidak perlu kau layani." kata Ellena.
"Aku meminta pelayan membuatkan bubur. Dan beberapa roti. Apa kau mau makan makanan lain?" tawar Winter.
"Tidak, tidak. Ini saja sudah cukup. Lagi pula aku tak seberapa nafsu makan. Ayo, kau juga makan." kata Ellena menatap Winter.
Winter segera menyendok bubur dan memakaannya. Rasanya ia tidak enak makan karena terus kepikiran. Namun, ia tidak mau membuat Ellena salah paham kalau melihatnya makan lambat seolah tak suka dengan bubur yang sudah tersaji. Winter pun makan pelan-pelan sambil mengamati Ellena. Ia melihat Ellena makan dengan tenang.
Setelah Ellena selesai makan bubur, dan sedang makan roti, Winter pun mulai bicara. Ia bertanya apakah Ellena sedang dalam keadaan baik-baik saja? Mengingat semalaman mereka melakukan hal panas yang menguras energi. Ellena tersenyum, dan berkata kalau ia baik-baik saja.
"Ellena ... sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu. Namun, aku takut untuk menyampaikannya. Aku khawatir kau akan terguncang. Karena sudah pasti isi suratnya bukan hal baik. Hanya saja, aku tetap harus menyampaikan ini. (Mengeluarkan surat dari Sebastian dan diletakkan di atas meja) ini surat dari Sebastian. Dia juga mengirimiku surat dan mengatakan kalau dia sudah meratakan kediaman Grand Duke." jelas Winter.
"Apa? kau bilang apa?" tanya Ellena terkejut. Ellena sampai menjatuhkan roti yang dipegangnya.
__ADS_1
Ellena dengan cepat mengambil surat di atas meja dan membukanya. Ia membaca surat itu dengan seksama. Ternyata Sebastian mengakui sudah membawa pergi Erick, Ayahnya. Dan menawarkan sesuatu, jika ingin Erick selamat. Ellena harus menyerahkan diri, kalau tak mau Erick yang merupakan satu-satunya keluarga berakhir tragis. Sebastian memberikan waktu tiga hari untuk Ellena berpikir dan memberikam jawaban.
Ellena marah. Ia mengumpati Sebastian. Winter yang juga ikut membaca pun langsung Emosi. Ia meminta Ellena tidak terpancing dan melakukan hal bodoh. Ellena mengatakan, ia harus menyelamatkan Ayahnya, karena Ayahnya adalah satu-satunya kelaurganya yang tersisa. Winter memeluk Ellena, Wjnter berkata, ia akan mencari cara untuk bisa membantu Ellena.