Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
41. Kecurigaan Ellena


__ADS_3

Ellena dan Winter selesai bicara dengan kepala akademi dan sedang melihat-lihat akademi. Keduanya dipandu oleh Asisten prinadi kepala akademi. Ellena tidak melihat adanya keanehan dari pemandu yang berjalan di depannya. Itu artinya tidak ada masalah dengan akademi.


Melihat Akademi baik-baik saja, dan murid-murid yang punya bakat sihir sedang belajar, membuat Ellena lega. Perasaanya mulai goyah, antara yakin dsn tidak yakin, jika apa yang dirasakannya di ruangan Kepala akademi adalah energi kegelapan.


Ellena mengerutkan dahi, "Manaku tak mungkin salah merasakan. Seperti aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuh, mana juga mengalir ke seluruh tubuh untuk bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan melimdungi organ tubuh. Apa aku perlu betitahu Ayah soal ini, ya? namun, apa semua akan baik-baik saja kalau aku bercerita? apa Ayah akan percaya?" batin Ellena.


Winter memegang tangan Ellena, "Apa kau baik-baik saja istriku?" bisik Winter.


Ellena menatap Winter, "Sepertinya tidak begitu baik. Bagaimana kalau kita percepat saja lihat-lihatnya dan kembali, Yang Mulia." kata Ellena.


"Ya, begitu juga tidak apa-apa. Aku lebih khawatir kau jatuh sakit," kata Winter.


Winter pun meminta pemandu memandu tempat-tempat yang penting saja, dengan alasan kesehatan Permaisuri. Pemandu mengiakan, ia pun menunjukkan tempat-tempat yang penting saja. Setelah cukup lama berkeliling, tibalah mereka di tempat terakhir. Yaitu perpustakaan Akademi sihir. Tempat dimana buku-buku sihir berkumpul. Setelah masuk dan melihat-melihat, Ellena pun berniat pergi. Namun, ia merasakan kembali energi gelap pekat sama seperti di ruang kerja kepala akademi.


Ellena melihat pemandu sedang berbincang dengan Winter, dan karena ia penasaran, ia pun mencoba mencari sumber energi yang dirasakan. Diam-diam Ellena mengikuti energi kegelapam tersebut dan ia sampai disebuah ruangan yang letaknya berada di paling dalam perpustakaan.


"Energi gelapnya dari sini. Apa yang ada di dalam ruangan ini, ya?" batin Ellena.


Beru saja Ellena ingin masuk ke dalam ruanga. Ia dikejutkan oleh Winter yang memanggilnya. Winter mendekat dan mengajak Ellena pergi kembali ke istana. Ellena bimbang, ia penasaran dengan isi ruangan di hadapannya, tapi ia juga ingin segera kembali ke istana.


"Winter ... apa kau tak penasaran apa isi ruangan ini?" gumam Ellena.


"Untuk apa aku penasaran. Ellena, meski kita adalah Kaisar dan Permaisuri, tetap saja salah kalau terlalu ingin tahu tempat dari kekuasaan orang lain. Jangan melibatkan diri dalam masalah, atau bahaya. Kau mengerti maksudku, kan?" kata Winter.

__ADS_1


Ellena menghela napas, "Winter benar. Kalau aku memaksa menerobos masuk, dan di sana tidak ada apa-apa, itu hanya akan mempermalukan nama kami saja. Meksi penasaran, sebaiknya aku tidak terlalu ikut campur.


"Ayo, kita pulang." Kata Ellena.


Winter memegang tangan Ellena dan mengajak Ellena keluar dari perpustakaan. Meski begitu penasaran, tapi Ellena tak mau mencari masalah yang bisa menimbulkan peperangan. Terlebih belum tentu yang dirasakannya benar dan tidak adanya bukti yang mendukung adanya sihir kegelapan di akademi. Karena semuanya hanya dugaan dan prasangka.


***


Asisten kepala akademi pergi menemui kepala akademi. Di dalam ruangan, terlihat kepala akademi yang duduk diam bak mayat. Dan seseorang lain berdiri dibelakang kepala akademi.


"Mereka sudah pergi?" tanya seseorang itu kepada Asisten kepala akademi.


"Sudah, Tuan. Seperti yang Anda perkirakan, wanita itu bisa merasakan energi kegelapan. Dan saya melihatnya mendekati ruang pelatihan khusus diperpustakaan." kata si Asisten.


***


Ellena sedang membaca buku tentang sihir di perpustakaan istana. Ia ingin tahu lebih banyak tentang aihir terlarang atau sejenisnya. Karena selama ini tak pernah belajar tentang sihir sedikitpun. Jadi, ia tidak begitu memahai tentang sihir, selain apa yang diajarkan Ayahnya.


Saat membaca, pikirannya tiba-tiba teralihkan. Ia ingat akan energi kegelapan yang ia rasakan di ruang kepala akademi sihir dan perpustakaan akademi. Ellena bertanya-tanya, bagaimana bisa energinya sama seperti energi Sebastian? apa benar hanya sebuah kebetulan? atau kepala akademi sihir memanglah seorang pengguna sihir terlarang.


"Mana mungkin Paman melakukan itu. Beliau bukan orang yang rela mati demi orang lain. Namun, kalau bukan Paman siapa pemilik enegi pekat itu? Ahhh ... ini membuatku gila. Kepalaku langsung sakit memikirkannya." batin Ellena.


Karena sibuk berpikir, Ellena bahkan tak sadar, jika Winter sudah berdiri di belakangnya dan terus mengamatinya. Ellena baru sadar saat ia berdiri dari dusuknya untuk mencari buku bacaan lain. Ellena menatap Winter dan kaget.

__ADS_1


"Winter ... aku kira kau sibuk kerja" kata Ellena.


"Pekerjaanku sudah selesai. Carlos membantuku, jadi kami bisa cepat menyelesaikan pekerjaan dari waktu yang seharusnya. Melihatmu sibuk membaca, apakah kau masih kepikiran soal ruangan di perpustakaan itu," tanya Wimter.


Ellena langsung menganggukkan kepala,"Hm, aku curiga. Aku juga khawatir kalau-kalau ada yang tidak beres di ruangan itu. Sebenarnya ... tak hanya di perpustakaan aku merasakan adanya energi kegelpan, Winter. Sejak awal kita memasuki, dan ruangan kepala akademi, di sana aku merasakan kuat sekali energi kegelapan." jelas Ellena.


"Apa? kenapa kau baru bilang padaku? apa karena itu juga kau memperingatkan, sampai memberi isyarat aku tidak boleh minum teh di sana?" tanya Winter.


"Ya, kau benar. Maafkan aku, Winter. Maaf ... aku tak bermaksud menyembunyikan ini. Hanya saja aku takut kau berpikirkan lain padaku." kata Ellena.


Winter meraih tangan Ellena, "Tidak apa-apa, istriku. Aku senang kau memperingatkanku tadi. Memang sejak awal aku enggan minum teh, tapi kita kan tak bisa memberikan kesan buruk dihadapan kepala akademi. Soal energi kegelapan ... intinya kau mencurigai sesuatu, kan? kalai begitu, kita harus membuat banyak rencana untuk jaga-jaga. Aku percaya padamu. Jadi, kau jangan mengkhawatirka sesuatu yang tak perlu seperti aku akan berpikiran lain, atau apalah itu. Paham?" jelas Winter menyakinkan sang istri.


Ellena menganggukkan kepala, ia tersenyum pada Winter. Winter memuji kecantikan Ellena, ia berkata senyum Ellena memukau. Ellena terlihat sangat cantik saat tersenyum. Perkataan Winter membuat Ellena tersipu malu.


"Oh, ya. Apa kau sudah dapat kabar tentang Erwan dan Catharina?" Tanya Ellena menatap Winter. Ellena sengaja mengubah topik pembicaraan agar suasana tak canggung.


"Ahh, benar juga. Aku tadi mencarimu mau memberitahu sesuatu terkait mereka. Pesuruh yang aku minta datang ke sana kemarin, berkata kalau saat datang dia tak menemukan siapa-siapa. Dan dia melakukan pencarian sampai tadi baru memberi kabar. Erwan dan Catharina tak ditemukan. Mereka menghilang tanpa jejak," jelas Winter.


"Sudah aku duga. Ini semua pasti perbuatan Sebastian, si bedebah itu. Aku curiga dia membawa Erwan dan Catharina untuk dijadikan bonekanya. Kau ingat empat penjaga yang menjadi mayat hidup, kan? itu adalah salah satu boneka Sebastian. Dia memasukkan sihir ke mayat-mayat penjaga dan mengegerakkan mereka menyerang kita. Benar-benar pria gila!" kata Ellena kesal.


Ellena teringat akan kata-kata kepala akademi. Yang mena kepala akademi berkata, jika Sebastian mengincar tahta Kaisar. Ellena mengerutkan dahinya menatap Winter.


"Aku tak akan biarka siapapun mencelakaimu, Winter. Aku akan melindungimu," imbuh Ellena, tampak sangat serius.

__ADS_1


Deg ... winter kaget. Tak lama Winter tersenyum tampan dan menganggukkan kepalanya perlahan. Winter berterima kasih, karena Ellena mau melindunginya. Seperti Ellena yang mau untuk melindunginya, Winter pun ingin melindungi Ellena juga. Meski dia hanya punya pedang di tangan.


__ADS_2