Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
6. Kenapa Berubah?


__ADS_3

Ellena masuk ke dalam ruang makan dan mendapati Winter telah tiba lebih dulu darinya. Ellena perlahan berjalan mendekati meja makan, menarik kursi dan duduk di kursinya.


"Sajikan hidangan makan malamnya," perintah Winter pada salah seorang pelayan.


"Baik, Yang Mulia." jawab pelayan itu membungkukkan sedikit badannya.


Pelayan langsung keluar dan meminta orang dapur segera menyiapkan makan malam, karena Kaisar telah memeritahlan untuk segera menyajikan hidangan makan malam.


"Apa ada sesuatu? kenapa wajahmu terlihat kesal, Permaisuri?" tanya Winter. Yang diam-diam sedang mengamati Ellena.


Ellena menatap Winter, "Bu-bukan apa-apa, Yang Mulia. Mungkin saya hanya lelah karena saya terus berada di ruang kerja tadi. Ada beberapa hal yang perlu saya urus terkait masalah dalam istana." jawab Ellena.


"Apa ada masalah serius?" tanya Winter menatap Ellena.


"Tidak ada. Hanya masalah kecil dan saya bisa mengurusnya." jawab Ellena.


Winter diam, masih dengan pandangan lekat menatap Ellena. Ia memperhatikan gaun, aksesoris sampai gaya rambut Ellena. Di satu sisi, Ellena yang tak bisa menatap Winter pun merasa hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Ia merasa tak nyaman, tapi tak berani memalingkan pandangan.


"Apa, ya? kenapa perasaanku tidak enak? memang seharusnya aku tidak datang saja tadi dan beralasan sakit." batin Ellena.


Tiba-tiba Winter bertanya, apakah Ellena baru membeli gaun? karena ia juga mendapat laporan dari Sekretarisnya. Ellena langsung mengiakan. Ellena berkata semua gaunnya sudah lusuh dan modelnya tidak tren lagi. Ia ingin model baru yang terlihat mewah. Ellena juga menambahkan, ia menggunakan uang anggarannya sendiri yang belum ia pakai dua bulan.

__ADS_1


"Apa ada masalah, Yang Mulia?" tanya Ellena.


"Tidak ada. Aku senang kau menggunakan uang yang kuberikan. Memang seharusnya kau serperti ini sejak awal. Angaranku akan aku tembahi, aku ini bukan suami yang tidak pengertian." kata Winter.


Ellena yang sedang makan pun langsung tersedak. Ia tidak percaya seorang Winter yang selalu acuh tak acuh padanya dan menatapnya dengan tatapan dingin, berkata bahwa dirinya adalah seorang suami yang penegrtian. Melihat Ellena tersedak, Winter langsung berdiri dan mendekati Ellena, memberikan Ellena minum dan menepuk-tepuk punggung Ellena pelan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Winter.


Ellena berhedem untuk menghilangkan rasa tak nyaman di tenggorokannya. Ia lantas menganggukkan kepala, berkata kalau ia sudah tidak apa-apa. Ellena meminta Winter kembali duduk dan lanjut makan. Winter mengiakan perkataan Ellena, ia duduk dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


Ellena kembali makan. Ia berpikir untuk tidak bicara lagi dan ingin cepat-cepat menghabiskan makannya, lalu kembali ke kamarnya. Ia tidak tahu kenapa Winter bisa bicara demikian padanya. Itu bukanlah sosok Winter yang dikenalnya.Ellena menatap Winter, Winter manatapny lekat dan membuat Ellena langsung berpaling.


"Aku mengulang waktu, bukankah seharusnya Winter masih tetap dengan sikapnya yang dingin dan tak banyak bicara? bukankah dia mengabaikanku, menatapku saja dia serasa enggan. Namun, saat ini pria yang bernama Winter itu justru lekat menatapku. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa sifat pria ini terasa bertolak belakang? aku bisa gila kalau seperti ini. Tidak, tidak. Aku tidak boleh tertipu perlakuan baik dan ucapan Winter. Bisa saja saat ini dia sedang mengujiku. Pria yang tanpa menghunuskan pedangnya padaku tanpa berkedip, tidak mungkin berubah begitu saja, kan. Winter ... meski aku mengulang waktu, aku tak akan membiarkanmu mebunuhku untuk yang kedua kalinya. Aku akan membuatku menyesal membunuhku pada kehidupan pertama. Kehidupan kali ini akulah yang akan memegang tali kekang dan alur cerita. Ya ... aku yang tahu tentang masa depan, pasti akan bisa melakukanya. Pasti!" batin Ellena.


Ellena melebarkan mata. Ia sadar kalau selama ini ia tidak pernah mengirimi surat setelah acara pernikahan. Sudah pasti Ayahnya sangat khawatir. Ellena takut terbawa perasaan dan menceritakan kesusahannya pada sang Ayah. Karena itulah Ellena pada kehidupan pertama sama sekali tak mengirim kabar ataupun surat sampai Grand Duke meminta bertemu secara formal. Ellena berpikir, dikehidupan ini ia tidak akan melakukan hal yang sama lagi. Ia akan mencritakan apa yang terjadi pada Ayahnya, karena sang Ayah adalah satu-satunya keluarganya. Ia juga ingin tahu bagaimana pendapat sang Ayah tentang Catharina yang dibawa oleh Winter ke Istana.


"Saya akan datang berkunjung. Tolong sampaikan itu, kalau Anda mengirimkan surat balasan." jawab Ellena.


"Baiklah, akan aku sampaikan. Kapan kau mengunjungi kediaman Grand Duke?" tanya Winter.


Ellena diam berpikir. Ia mengingat kembali tentang jadwal hariannya dan menjawab kalau ia akan pergi ke Kastel Grand Duke esok lusa. Besok ia masih harus menyelesaikan pekerjaan. Winter berkata, kalau lusa ia akan ada rapat dan tak bisa ikut menemani Ellena. Winter lantas menyayangkan hal tersebut. Ellena kaget, ia langsung mengatakan kalau ia bisa pergi sendiri. Meminta suaminya itu untuk tidak repot-repot dan fokus pada pekerjaan saja.

__ADS_1


Makan malam pun usai. Karena piringnya sudah kosong, Ellena pun langsung pamit undur diri kembali ke kamarnya. Winter mencegah, ia berkata ia ingin mengajak Ellena jalan-jalan dulu sebelum kembali ke kamar.


"Mau temani aku jalan-jalan di taman?" tanya Winter.


Ellena kaget, "A-apa? sa-aaya?" tamya Ellena menatap Winter.


"Ya, kau. Siapa lagi. Di sini kan hanya ada kau dan aku saja," jawab Winter.


"Apa lagi ini? tadi bicara aneh tentang suami pengertian, sekarang jalan-jalan. Pria ini sungguh tak bisa kutebak isi kepalanya." batin Ellena.


"Yang Mu ... " kata-kata Ellena langsung dipotong oleh Winter. Padahal Ellena berniat menolak ajakan Winter.


"Aduh ... (memegang kepala) kenapa kepalaku sakit, ya? apa aku terlalu giat bekerja dan stres? aku butuh jalan-jalan ... " kata Winter yang langsung pergi.


Sepertinya winter sudah tahu kalau Ellena akan menolak ajakkannya, karena itu ia langsung memotong perkataan Ellena. Agar Ellena tak bisa menolaknya.


Melihat kepergian Winter, membuat Ellena kesal. Kalau Winter pergi begitu saja tanpa mendengarkan perkataannya, itu berarti Winter tak mau ditolak. Ellena lantas mengikuti Winter mau tak mau. Dan keduanya berjalan bersama menuju taman.


***


Di taman belakang istana Kaisar. Winter dan Ellena berjalan-jalan. Taman itu dipenuhi oleh bunga mawar, yang menunjukkan kalau itu adalah taman istana mawar yang ditinggali Kaisar. Winter menghentikan langkah melihat taman mawarnya, Ellena berdiri di sisi Winter.

__ADS_1


Winter menatap Ellena, "Bagaimana kabarmu selama dua bulan ini, Ellena?" tanya Winter.


Ellena lagi-lagi dibuat kaget. Winter bertanya sesuatu hal yang tak pernah ditanyakan Winter padannya pada kehidupan pertama. Bahkan saat Ellena terbaring sakit dan tidak berdaya. Winter hanya terus sibuk bekerja dan menempel pada Catharina seperti perekat.


__ADS_2