Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
24. Asal Mula Ramuan-2


__ADS_3

Keesoakan harinya. Karena Erick ada pertemuan keluarga dengan kerabat jauh, Sebastian pun hanya bisa menunggu Erick di kamar Erick. Karena bosan, Sebastian pergi ke ruang penelitian Erick untuk mencari buku bacaan tentang sihir. Erick memang tak melarang Sebastian masuk ruang penelitiannya, karena sejak kecil Sebastian sudah terbiasa keluar masuk ruangan itu. Hanya saja, Erick yang jatuh sakit dan tiba-tiba mendapat kunjungan, tidak sempat merapikan ruangannya.


Sebagai teman yang baik, Sebastian membantu merapikan ruang penelitian Erick yang sangat bersntakan. Sebastian bahkan mengatai, kalau itu tidak layak disebut ruang penelitian, melainkan kandang kuda karena sangat berantakan.


"Pelayan pasti tak membereskan ruangan ini, karena Erick melarang siapapun menyentuh ruang penelitiannya tanpa izin. Hanya aku yang boleh menyentuh apa-apa di sini. Jadi, mau tak mau akulah yang merapikan. Dasar ... " gumam Sebastian mengomel.


Sebastian memungut kertas-kertas yang berserakan. Dan menemukan sebuah formula sihir asing yang belum pernah ia pelajari di akademi. Sebastian yang memiliki memapuan hampir setara Erick, langsung tahu kalau itu adalah ramuan baru yang ditemukan Erick dan mempunyai efek yang mengerikan bagi sebagian orang, dan sangat mengagumkan bagi sebagian lainnya. Saat  sibuk memeriksa, tiba-tiba seorang pelayan masuk dan memanggil Sebastian.


"Tuan Muda Bastian ... " panggil pelayan membuka pintu.


Sebastia yang kaget langsung meremat kertas dan menggenggam kertas tersut. Ia menatap pelayan da bertany ada keperluan apa? pelayan mengatakan kalau Erick mencari Sebastian. Sebastian mengiakan perkataan pelayan dan berkata kalau ia akan pergi menemui Erick setelah merapikan ruangan tidak lama lagi. Pelayan lantas keluar, dan Sebastian buru-buru merapikan semua kertas yang berserakan. Sebastian memasukkan kertas yang dirematnya dalam saku celanaya dan pergi setelah ruang penelitian itu rapi. Ia bergegas menemui Erick.


Erick sudah menunggu sebastian di halaman kastel. Sebastian keluar dari dalam kastel dengan terengah-enggah karena berlari. Erick melihat Sebastian, ia bertanya kenapa Sebastian berlari? ia akan menunggu meskipun lama. Sebastian menjawab, kalau ia tidak akan membuat Erick menunggu kalau memungkinkan. Erick tersenyum, dan berterima kasih karena Sebastian mau repot merpaikan ruang penelitiannya. Sebastian menganggukkan kapala, dan berkata kalau Erick harus bersyukur memiliki teman sebaik dirinya. Tidak ada lagi teman sebaik dirinya di dunia itu. Keduaya lantas tertawa bersama. Sesuai perkataan Erick, hari itu mereka pergi ke pasar ibu kota dengan naik kereta kuda keluarga Grand Duke.


***


Sesampainya di pasar. Erick dan Sebastian berjalan mengelilingi pasar untuk melihat-lihat sekitar. Erick membeli beberapa makanan untuk Sebastian yang suka makan. Sebastian senang, Erick memanglah orang yang paling peduli padanya lebih dari siapapun. Bahkan sering kali Erick memberikan jatah makanannya pada Sebastian karena Erick tidak terlalu suka makan daging.


"Besok kita akan kembali ke akademi, karena besok ada acara penyambutan murid baru." kata Erick.


"Aku tahu, aku tahu. Kau terus mengingatkan aku sejak kemarin." kata Sebastian menggerutu.


"Jika tidak diingatkan, kau pasti akan datang ke akademi terlambat. Kau kan suka semaumu sendiri," kata Erick.

__ADS_1


Tiba-tiba ada suara teriakan seseorang yang mengejutkan Erick dan Sebastian. Mereka saling memandang dan berlari bersama mengikuti arah suara. Tepat disebuah jalan sempit, ada seorang wanita yang hendak disakiti pria. Tak lama muncul seseorang mengenakan jubah dan bertudung menarik krah pria itu lalu membanting pria itu ke lantai. Pria itu marah dan ingin membalas perlakuan seseorang berjubah itu. Seseroang itupun langsng mengeluarkan sihirnya dan menghujam pria itu dengan sihirnya. Efek sihir dari seseorang itu sangatlah mengejutkan. Seketika pakaian pria itu koyak dan tubuhnya dipenuhi luka.


"Beraninya pada watina. Dasar pria sialan!" umpat seseorang itu.


Sebastian dan Erick melihat dari jarak jauh. Mereka saling bertatapan dan kembali memerhatikan apa yang akan terjadi.


Seseorang itupun menurunkan tudungnya dan berbalik. Barulah terlihat jelas wajah dari seseorang itu. Seseorang itu ternyata adalah seorang wanita muda yang cantik dengan rambut perak bermata merah muda. Sebastian yang melihat kecantikan wanita itupun langsung berdebar dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Berbeda dengab Sebastian, Erick yang kurang begitu peduli wanita hanya merasa biasa saja melihat wanita itu.


"Ayo, kita pergi." ajak Erick.


"Eh, sudah mau pergi? padahal aku masih mau melihat Nona itu. Dia cantik sekali," kata Sebastian.


"Di matamu semua wanita cantik. Kapan kau berkata tidak cantik saat bertemu wanita, huh?" sahut Erick.


"Hei, kau dengar perkataanku, tidak?" kata Sebastian.


"Aku tidak tuli, Bastian. Tentu aku dengar," jawab Erick.


"Lantas, kenapa kau hanya diam saja? apa kau tak melihatnya? Maksudku tak melihat wajahnya?" tanya Sebastian.


"Aku diam karena mendengarkan ceritamu. Aku juga melihat wajah dari wanita itu. Kenapa? kalau kau beetanya apa wanita itu cantik atau tidak di mataku, jawabannya adalah .... biasa saja. Ibuku adalah wanita paling cantik di kekiasaran ini." jawab Erick dingin.


"Cih! dasar kepala batu. Bisa-bisanya kau bicara dengan hati dingin seperti itu. Kalau Nona itu melihat kau akan dihabisi." kata Sebastian.

__ADS_1


"Dia juga penyihir. Kalau kau sesuka itu, carilah tahu tentangnya. Dan nyatakan perasaanmu secara langsung. Sebagai teman aku akan mendukungmu," kata Erick.


"Hm ... kita lihat saja nanti. Aku tak yakin mudah mencaritahu tetangnya. Lagipula belum tentu kita bisa melihatny kan. Melihat kemampuan sihirnya, dia penyihir tingkat atas." kata Sebastian.


"Sepertinya begitu," sahut Erick.


Erick berpikir, di kekaisaran tidak ada lagi penyihir tingkat tinggi selain gurunya, Alrech, dirinya dan Sebastian. Erick berpikir kalau wanita itu kemungkin  berasal dari negara lain dan kebetulan lewat.


"Hahh ... kenapa juga aku peduli pada identitasnya. Siapa dia tidak penting bagiku," batin Erick.


Erick dan Sebastian kembali jalan-jalan. Sebelum pergi kembali ke kediaman Grand duke, mereka menyempatkan mengunjungi toko buku. Erick membeli beberapa buku yang menurutnya menarik. Sedangkan Bastian hanya melihat-melihat saja karen baginya membaca buku sangat membosankan. Ia lebih memilih melihat lomba pacuan kuda atau melakukan kegiatan lain selain membaca buku.


***


Malam harinya. Di kediaman Grand Duke. Grand Duke Laros mengatakan pada Erick, jika ia dan istrinya, akan segera mempertemukan Erick denga calon istri Erick. Mendengar hal itu Erick kaget dan mengatakan, kalau ia belum ingin menikah.


"Saya masih dua puluh tahun, Ayah. Saya belum ingin menikah," kata Erick tegas.


"Jangan seperti itu, Erick. Kau adalah calon Grand Duke selanjutnya. Dulu seusiamu Ayah sudah memilikimu," kata Grand Duke.


"Sayang, jangan terlalu keras pada putra kita," kata Grand Duchess.


Grand Duchess menatap putranya, "Ibu tahu kau belum ada ketertarikan pada wanita dan belum ingin menikah. Namun, setidaknya kau harus menemui calonmu dulu beberapa kali. Keluarga kita dan keluarganya sudah menjalin kesepakatan sejak Kakek dan Nenekmu masih ada, Erick. Tolong dimengerti, ya. Perintah leluhur tak bisa begitu saja diabaikan, bukan?" kata Grand Duchess menengahi.

__ADS_1


Erick terdiam. Ia tidak sangka akan tiba waktu baginya untuk diam saja tanpa bisa berkata apa-apa. Karena apa yang dikatan Ibunya adalah sesuatu hal yang dibenarkan.


__ADS_2