
Keesoakan harinya. Di akademi sihir. Sebagai lulusan terbaik akademi sihir, Erick dan Sebastian diundang oleh Alrech untuk datang ke akademi menyambut junior mereka. Ternyata murid baru yang mendaftar dan yang diterima lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Erick dan Sebastian membantu para guru akademi yang sibuk. Dan mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang menghampiri. Salah satu dari dua orang yang datang itu adalah wanit yang dilihat Erick dan Sebastian di jalan waktu itu. Sebastian kaget, ia tidak sangka akak bertemu wanita yang disukainya.
"Permisi. Maaf, di mana tempat pendaftarannya?" tanya wanita itu.
"Di sebelah sana," jawab Erick singkat. Pandangannya kembali teralihkan pada hal lain.
Sebastian mengerutkan dahinya, ia menilai perlakuan Erick sangat mengecewakan di depan lawan jenis. Sebastian pun menawarkan bantuan. Ia akan mengantar ke tempat pendaftaran. Wanita itu dan seseorang yang dibawanya pun langsung mengikuti Sebastian.
Erick melihat Sebastian tampak akrab bicara dengan wanita itu. Dan wajah sebastian juga tampak senang. Tiba-tiba Erick kepikiran dengan ucapan Ayah dan Ibunya tentang pernikahannya yang sudah ditentukan oleh Kakek dan Neneknya. Memikirkan itu, Erick serasa tak bisa bernapas.
***
Karena tak pernah bisa memendam apapapun dan terbiasa bercerita, Erick mengatakan apa yang mengganggu pikirannya pada Sebastian. Ia berkata kalau ia akan menemui calon istri yang sudah ditentukan Kakek dan Neneknya. Mendengar cerita Erick, Sebastian pun menertawakan Erick.
"Hahaha ... aku tak bisa membayangka pria dingin sepertimu tiba-tiba menikah. Siapa wanita itu? dari keluarga bangsawan mana?" tanya Sebastian penasaran.
Erick menggelengkan kepala, "Soal itu aku tidak tahu, aku juga tak bertanya. Kau kan tahu aku tak tertarik pada wanita apalagi pernikahan."jawab Erick.
Sebastian tahu jelas bagaimana keseharian Erick, karena mereka tumbuh besar dan bermain bersama-sama sejak mereka berusia sepuluh tahun. Sedikit banyak mereka sudah tahu satu sama lain. Erick bertanya, apakah pendekatan Sebastian dengan wanita idamannya lancar? Dan sebastian menjawab, kalau ia masih dalam tahap mendekati wanita itu. Sebastian memberitahu Erick nama wanit itu. Wanita itu bernama 'Erren'.
***
__ADS_1
Setelah satu bulan berlalu sejak pendaftaran murid baru akademi sihir, Sebastian dan Erren tampak akrab bicara. Erren dan Erick pernah beberapa kali saling menatap, tapi Erick tak memedulikan Erren. Saat sedang bersama Sebastian dan Erren muncul, Erick akan langsung pergi dengan berbagai macam alasan.
Hal tidak terduga terjadi. Pada saat Sebastian menyatakan perasaannya pada Erren, Erren menolak secara halus dengan menagatakan kalau ia sudah memiliki calon suami yang dipilih pihak keluarga. Sebastian sedih, ia yang patah hati langsung mengadu pada Erick.
Sebastian meluapkan kekecewaannya. Erick hanya bisa menghibur Sebastian ala kadarnya saja. Erick mengatakan, kebanyakan dari keluarga bangsawan memanglah demikian. Erick sendidi salah satunya. Erick mengatakan, mungkin Sebastian dan Erren tidak berjodoh.
"Hahhh ... sialan! Kenapa dikalangan bangsawan harus ada yang namanya pernikahan yang ditentukan? kenapa tidak pernikahan atas kemauan sendiri?" kata Sebastian kesal.
"Entahlah. Soal itu aku tidak bisa menjawab." kata Erick.
Sepanjang hari itu, Erick terus menghibur sebastian yang patah hati. Dan setelah hari itu, Sebastian pun mulai menjauhi Erren. Erren sedih, tapi ia tidak bisa apa-apa. Karena ingin menyampaikan sesuatu pada Sebastian, dan tidak bisa menemukan Sebastian, Erren memberanikan diri menemui Erick dan bertanya akan keberadaan Sebastian. Erick menjawab, jika sebastian ada urusan ke luar wilayah.
***
Usai makan malam bersama, Grand Duchess meminta Erick mengajak jalan-jalan Erren ke taman. Karena para orang tua hendak berdiskusi perihal pernikahan. Erick tak bisa menolak, akhirnya ia dan Erren jalan-jalan di taman. Keduanya hanya saling diam. Larut dalam pikiran masing-masing.
Erick berpikir, orang yang membuat Sebastian patah hati ternyata adalah dirinya sendiri. Ia serasa mwngkhianati pertemanan dengan Sebastian.
"Bagaimana aku akan menjelaskannya pada Bastian?" batin Erick.
Erren melirik ke arah Erick, "Bagaimana bisa ini terjadi? ternyata calon suamiku adalah Erick. Orang terdekat Sebastian. Kalau Sebastian tahu, akankah hubungan persahabatan mereka baik-baik saja? Saat aku menolak perasaannya saja dia sudah langsung menghindariku. Saat tahu calon suamiku adalah Erick, apa dia akan terima?" batin Erren.
"Itu ... emh ... soal Sebastian ... " gumam Erren.
__ADS_1
Erick menatap Erren, "Ternyata kau juga memikirkannya," jawab Erick.
Erren menganggukkan kepala, "Aku merasa bersalah karena sudah menolak perasaannya. Meski dia orang yanv baik dan banyak membantuku, tapi aku kan sudah punya calon suami. Kata Ibuku, aku tidak boleh memikirka pria lain selain calon suamiku, meski Ibu tidak pernah menceritakan padaku siapa dan seperti apa calon suamiku itu. Karena itulah aku menolak Sebastian. Karena perintah Ibuku itu mutlak." jelas Erren.
Erick menghela napas panjang. Ia mengatakan kalau ia juga bingung. Ia tidak tahu apa yang harus ia sampaikan pada Sebastian. Ia berkata, ia tidak mau Sebastian salah paham dengan mengira ia telah merebut Erren darinya.
Tiba-tiba Sebastian datang mengejutkan Erick. Dan Sebastian kaget, saat tahu dibelakang Erick ada Erren yang tidak terlihat olehnya karena tertutup pohon. Melihat Erick dan Erren bersama, Sebastian langsung terdiam.
"Kenapa mereka berduaan di taman? kenapa Erren ada di kediaman Grand Duke?" batin Sebastian bertanya-tanya.
"Bastian ... bisakah kau tenang dan mendengar penjelasanku?" kata Erick.
"Memangnya apa yang perlu aku dengar?" jawab Sebastian.
"Begini ... tiba-tiba saja rumahku kedatangan tamu dan itu adalah Erren beserta orang tuanya. Dan aku juga baru tahu, kalau Erren adalah calon istri yang saat itu aku bicarakan denganmu. Yang identitasnya tak kuketahui." jelas Erick.
"Sebastian ... aku juga tidak tahu kalau Erick adalah calon suamiku. Aku menolakmu karena kata Ibuku aku tak boleh melihat pria lain selain calon suamiku. Bisakah kau mengerti keadaan ini, dan tidak salah paham?" kata Erren.
Sebastian kaget. Tiba-tiba Sebastian tertaaa keras dengan air matanya yang berderai. Ia berkata seharusnya ia tidak datang menemui Erick agar tidak tahu kebenaran yang ada.
"Tidak apa. Aku mengerti. Aku pergi dulu karena masih ada urusan," kata Sebastian.
Sebastian langsung pergi meninggalkan Erick dan Erren begitu saja. Perasaan Sebastian campur aduk, ia marah, kesal dan juga sedih. Ia bukannya marah pada pada Erick dan Erren, karena keduanya sudah menjelaskan bahwa mereka tak tahu identitas calon pasangan masing-masing. Ia marah pada diri sendiri, kalau ia hanyalah orang biasa tanpa status apa-apa.
__ADS_1
"Andai statusku lebih tinggi daripada Erick. Akankah ada perbedaan?" gumam Sebastian.