
[Winter]
Entah apa yang terjadi padaku. Begitu membuka mata, aku sudah berada tenda kemah. Padahal aku seharusnya di istana dan aku ... ah, sial! aku melihat sesuatu yang tak tak pantas saat aku baru keluar dari ruang kerjaku. Aku melihat Sekretarisku Erwan, dan Catharina sedang bercumbu mesra. Dan aku baru tahu kalau mereka sebenarnya adalah pasangan kekasih sejak sebelum Cathrina diminta Baron untuk kubawa ke istana. Saat aku memergoki mereka, aku bertengkar dan yakin aku sudah dibunuh Erwan.
Saat kuraba leherku tak ada darah, tak ada luka, dan rasa sakit. Artinya aku dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Aku pun bertanya-tanya, kenapa aku berada di tenda kemah? padahal aku yakin sekali kalau perang yang terakhir kali sudah berakhir. Tiba-tiba aku kaget saat Carlos masuk dan mengatakan kalau ia keberatan dengan pendapatku. Saat kutanya, apa maksudnya? Dan Carlos bercerita, barulah aku sadar kalau aku telah kembali ke masa lalu.
"Bagaimana bisa aku mengulang waktu?" Pikirku bingung serasa tak percaya.
Jika sesuai dengan apa yang Carlos ceritakan, berarti aku mengulang ke lima tahun sebelum aku dibunuh Erwan. Di mana setelah ini aku harus kembali ke istana dan nantinya membawa Catharina. Aku tak mengerti, kenapa aku harus kembali di waktu yang tak tepat? Setelah membawa Catharina ke istana, dia pasti akan berulah dan mebuat Ellena menderita. Dan dia pasti akan membuatku tunduk padanya. Bodohnya aku tidak tahu hal itu dikehidupan pertamaku. Jika aku akan dikendalikan dengan ramuan yang mengandung sihir cuci otak. Aku juga baru tahu kenyataan itu setelah memergoki dua ular itu bercumbu. Sialan! mereka benar-benar sangat licik.
"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Carlos.
"Hm, aku sedikit sakit kepala. Sekarang sudah tidak apa-apa. Katakan padaku, apa alasanmu tak setuju dengan keputusanku?" tanyaku menatap Carlos.
__ADS_1
"Karena itu pasti akan menyakitkan bagi Yang Mulia Permaisuri. Apakah Anda tak memikirkan beliau? Di malam pernikahan Anda tak menemui beliau, hanya karena beliau tak ingin ditemui. Dan keesokan harinya Anda langsung berperang. Itupun hanya berpesan pada Tuan Erwan. Tidak langsung pada Yang Mulia Permaisuri. Dua bulan setelahnya Anda kembali dari perang dan tiba-tiba membawa wanita lain. Bukankah itu sudah pasti akan membuat hati Yang Mulia Permaisuri terluka? maafkan kelancangan saya berkata seperti ini. Saya hanya ingin mengutarakan pendapat saya," jelas Carlos.
Begitulah komandan kesatriaku mengutarakan isi pikirannya. Penjelasannya membuatku tak bisa berkata-kata lagi. Andai saja aku kembali sebelum bertemu Baron Rosaro, aku pasti akan menolak permintaan konyol itu. Sayangnya aku kembali saat sedang istirahat di tenda kemah dalam perjalanan menuju istana.
"Tidak perlu khawatir. Bukankah aku sudah menolak putri Baron sebagai selir ataupun wanita simpanan? Kau harus ingat, kalau hukum kekaisaran tak akan pernah dibubah. Pasangan Kaisar hanya Permaisuri, tidak ada tempat untuk wanita lain, sekalipun putri seorang pahlawan perang. Aku tidak akan membuat Permaisuriku kecewa, Sir Wishtone." kataku menjelaskan dan menyakinkannya.
Tampak wajah Carlos merasa lega. Sepertinya dia percaya akan ucapanku. Begitulah Carlos, teman baik sekaligus Komandan Kesatria kekaisaran. Sekerang, aku hanya perlu memikirkan hal-hal yang pasti akan terjadi pada masa depan. Karena punya ingatan dari kehidupan pertama, maka aku bisa memperbaiki semuanya pada masa depan saat ini. Karena Catharina akan masuk dalam istana, maka aku harus mengawasi gerak-geriknya.
***
Di ruang kerja aku mondar-mandir menunggu kedatangan Ellena. Aku juga memikirkan kalau hal yang baru saja terjadi di meja makan, adalah sesuaty yang tidak pernah terjadi di kehidupan pertamaku. Aku ingat jelas, Ellena yang datang langsung duduk dengan tenang. Ia tidak peduli walaupun tak diberi salam oleh Catharina dan hanya makan dengan tenang.
Ellena datang, ia mengatakan hal-hal yang tak terduga saat bertemu denganku. Ia bukanlah Ellena yang aku tahu. Ia seperti orang lain. Cara bicaranya yang tegas, juga tatapannya yang tajam membuatku terus membandingkan Ellena yang ada dikehidulan pertama dan kehidupan kedua. Ellena salah paham, mengira kalau Catharina adalah wanita simpanan. Kalau aku dikehidupan sebelumnya, pasti akan mengaiakan perkataan Ellena karena aku dalam pengaruh cuci otak. Kalau aku yang sekarang, tentu saja aku menolak tegas. Aku katakan kalau tidak punya wanita lain selain selain permaisuri. Dan kata-kataku ternyata membuatnya malu. Wajahnya sedikit memerah.
__ADS_1
Hm ... dia lucu dan menggemaskan. Aku baru sadar kalau Permaisuriku adalah wanita cantik, bahkan sangat cantik. Karena tak mau membuatnya terbebani, aku pun mengiakan semua perkataannya dan keinginannya.
***
Dua hari berlalu. Aku benar-benar taj bisa makan bersama Ellena dan hanya makan dengan Catharina. Meksi tak nyaman, aku menahan diri. Aku diam-diam mengorek isi hati Catharina, karena ingin tahu apa yang dipikirkan Catharina.
Kejadian tak terduga terjadi. Aku dengar dari kepala pelayan, kalau Ellena menghukum pelayan Catharina yang menumpahkan teh. Ellena menghukum dengan keji dan sampai mengurung pelayan itu ke penjara. Aku berpikir, kalau Ellena benar-benar berubah. Jika Ellena yang aku tahu, ia hanya akan tersenyum dan berkata tidak apa-apa meski sebenarnya kenapa-kenapa.
Catharina menemuiku dan disaat yang sama Ellena menemuiku juga. Aku sengaja mempertemukan keduanya karena ingin tahu apa yang terjadi. Lagi-lagi Ellena menegaskan statusnya, kalau ia adalah Permaisuri dan perkataan Permaisuri itu mutlak, tidak boleh ada tawar menawar. Catharina diminta pergi oleh Ellena karena Cathrina ingin bicara denganku. Begitu kata Ellena. Lagi-lagi Ellena salah paham, mengira aku akan membela Catharina.
Kami pun bicara. Setelah bicara Ellena berpamitan. Aku menghentikannya dan mengajaknya makan malam bersama. Aku ingin menebus kesalahanku, sekarang aku ingin lebih memperhatikan Ellena. Aku senang saat Ellena mengiakan permintaanku.
***
__ADS_1
Aku dan Ellena makan malam bersama. Aku terus memerhatikannya. Sejujurnya aku masih tidak habis berpikir, bagaimana biss ada wanita secantik ini? Pikiranku pun sudah langsung berimajinasi. Padahal aku tahu ia pasti tidak nyaman ditatap lekat, tapi aku tidak bisa berpaling darinya
Aku melihatnya makan dengan tenang dan anggun. Ia begitu menikmati makanannya. Entah mengapa aku merasakan ia akan langsung pergi setelah makanannya di dalam piring habis? Dugaanku tidak salah, dia memang akan langsung pergi setelah ini. Karena itu aku mengajaknya jalan-jalan, dan aku tidak mau dia menolaknya.