Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
15. Penawar Sementara


__ADS_3

Ellena melepas pelukan Winter dan menatap Winter. Ia segera mengeluarkan botol berisi penawar yang langsung ia berikan pada Winter. Ellena meminta Winter untuk cepat minum ramuan itu sebelum ada yang datang ke ruang kerjanya.


Winter menerima dan segera membuka penutup botol. Tanpa ragu Winter meminum ramuan itu. Ellena lega, setidaknya Winter akan baik-baik saja saat ini. Ia mengambil botol dari tangan Winter dan menyimpannya kembali agar tak ketahuan orang lain.


"Apa kau sudah merasa lebih baik setelah membuang teh dan memberiku penawar?" tanya Winter menatap Ellena.


"Saya minta maaf untuk tehnya, saya akan siapkan yang baru. Terima kasih sudah berkenan meminum penawar yang saya berikan tanpa bicara apa-apa. Padahal saya khawatir Anda akan banyak bertanya," kata Ellena.


"Aku tidak akan melakukannya. Mulai sekarang, aku akan percaya apapun yang kau katakan. Karena aku tak mempercayai siapa-siapa selain istriku," jawab Winter.


"Ya?" kata Ellena tertegun.


"Tadi dia juga memanggil istriku, kan? Sekarang dia memanggil isttiku lagi. Apa dia sadar akan ucapannya?" batin Ellena.


Winter membelai wajah Ellena, "Lagi-lagi kau terdiam dan berpikir hal rumit, ya." kata Winter.


Ellena hendak bertanya sesuatu, tapi pintu ruang kerja Winter diketuk seseorang dari luar. Dan orang itu adalah Erwan. Karena malas bertemu, Ellena latas pamit undur diri. Ellena kembali mengingakan Winter untuk berhati-hati dan tidak lengah. Winter mengiakan kata-kata Ellena. Dan Winter mempersilakan Erwan masuk ke ruang kerjanya.


Ellena pun pergi, tepat saat Ellena berada didepan pintu, Erwan membuka pintu dan masuk. Erwan kaget melihat Ellena. Namun, Erwan cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya dan tersenyum menatap Ellena. Erwan pun memberikan salam pada Ellena.


"Salam untuk Bulan Kekaisaran, Yang Mulia Permaisuri Ellena De Veloz. Apakah Anda baru berbincang dengan Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri?" tanya Erwan.


"Ya, tapi aku harus kembali. Karena beliau terlihat sangat sibuk." jawab Ellena dingin.


Erwan menegrutkan dahinya sesaat. Ia merasa ada yang aneh dengan Ellena. Padahal Ellena yang dikenalnya selama dua bulan ini adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Sedangkan Ellena yang dihadapanya tampak seperti Serigala yang sedang menunjukkan taring dan siap menerkam mangsa.

__ADS_1


"Apa ini? kenapa wanita ini tampak kesal dan ingin meledakka amarahnya? apa ini hanya perasaanku saja? aku merasa tertekan hanya dengan tatapan matanya." batin Erwan.


"Yang Mulia Kaisar memanglah sangat sibuk. Karena itu beliau tidak bisa menemui Anda. Anda pasti sangat sedih dan kecewa, Yang Mulia. Maafkan saya yang tidak bisa membantu pekerjaan Yang Mulia Kaisar." kata Erwan.


"Hah ... tikus ini bicara seolah dia mengasihaniku yang tak bisa bertemu Winter. Dasar pria busuk. Kau pandai menyembunyikan wajah aslimu dibalik topeng rupanya. Silakan saja perlihatkan sisi baikmu yang hanya kepura-puraan itu. Setelah aku dapatkan bukti tentangmu, kau akan aku musnahnya sepenuhnya." batin Ellena.


"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga sibuk. Permaisuri Kekaisaran itu banyak pekerjaan. Apa kau tahu, Tuan Sekretaris? akhir-akhir ini aku punya kegemarab baru. Aku senang menghukum orang yang bersalah. Jadi aku harap kau bekerja dengan baik tanpa kesalahan, karena jika kesalahanmu terlihat olehku. Aku tak akan tinggal diam." kata Ellena yang langsung pergi meninggalkan Erwan.


Mendengar perkataan Ellena, Erwan langsung terdiam. Tubuhnya serasa beku karena merasakan hawa dingin menawkutkan terpancar dari Ellena.


"Apa-apaan wanita itu. Apa maksudnya dia bicara seperti itu padaku? Dia belajar bicara seperti itu dari mana?" batin Erwan.


Perkataan Ellena adalah sebuah peringatan, tapi Erwan tidak sadar akan hal itu. Erwan masih mengira, jika Ellena adalah wanita polos yang mudah dipengaruhi hanya dengan perkataan manis dan perhatian.


"Ada apa, Erwan?" tanya Winter. Membuyarka lamunan Erwan.


" jawab Erwan.


Erwan langsung mengatakan apa yang ingin disampakannya terkait rapat esok. Agenda untuk rapat esok adalah pembahasan kerja sama Kekaisaran dengan pasukan prajurit bayaran Baron Rosaro. Winter kaget, ia mengerutkan dahinya menatap tajam ke arah Erwan. Sedangka Erwan terus bicara, melaporkan apa saja yang akan dibahas dalam rapat dan lain sebagainya.


"Erwan ... " panggil Winter.


"Apa kau yakin Baron Rosaro itu orang yang bisa dipercaya?" tanya Winter.


"Ya? A-apa maksud Anda, Yang Mulia. Apa Anda meragukan seorang Baron Rosaro?" tanya Erwan dengan ekspresi wajah yang bingung.

__ADS_1


"Semua orang bisa saja aku ragukan. Termasuk kau!" jawab Winter tiba-tiba.


Deg ....


Erwan kaget. Erwan lantas berkata, kalau Winter tak perlu meragukannya. Ia akan mengabdi sampai akhir hayat untuk Kekaisaran.


"Oh, hanya untuk Kekaisaran, ya. Bukan untukku?" sahut Winter.


Erwan langsung meralat perkataannya dan mengatakan akan setia pada Winter sampai akhir hayat. Ia berjanji akan bekerja keras pagi, siang malam bahkan rela mendekam dalam ruang kerja semalaman bila diperlukan.


Winter menertawakan Erwan dalam hati. Ia merasa ia sangat menyedihkan karena bisa percaya perkataan Erwan yang hanya bualan.


"Kau sangat bodoh, Winter. Bisa-bisanya kau percaya ucapan bedebah ini. Kalau itu aku yang sebelum mati, maka aku akan langsung mengiakan semua perkataanmu dan memujimu. Namun, kalau aku yang sekarang tidak akan bisa kau bodohi, Erwan." batin Winter.


"Begitukah? baiklah, aku akan pegang kata-katamu. Apa hukuman yang akan kau terima, jika kau mengingkari perkataanmu, Erwan?" Tanya Winter.


Wajah Erwan langsung pucat. Erwan bertanya apa maksud Winter dengan hukuman? Erwan menegaskan, jika ia tidak akan melakukan hal yang tidak berkenan bagi Winter dan akan setia. Winter juga menegaskan, jika ia butuh bukti nyata, buka hanya sekadar perkataan atau janji. Kalau Erwan hanya bisa berjanji, maka Erwan perlu memberitahunya apa hukumam yang akan Erwan terima sebagai balasan kalau melanggar ucapannya sendiri.


Erwan langsung berlutut. Ia berkata siap mati, kalau ia melanggar ucapanya sendiri. Dan jawaban Erwan langsung membuat Winter tertawa keras.


"Hahahahaha .... "


"Bagus, bagus! percaya dirilah seperti ini karena semua ini tak akan ada gunanya lagi nanti. Setelah aku mendapatkan apa yang kuinginkan, saat itulah aku akan menebas lehermu seperti apa yang kau lakukan padaku." batin Winter.


Erwan mengerutkan dahi menunduk. Ia tidak tahu, apa yang membuat Winter tertawa sampai seperti itu. Padahal ia hanya mengikuti apa yang Winter inginkan.

__ADS_1


"Kenapa beliau tertawa, ya? apa beliau sangat puas dengan apa yang aku sampaikan? Tentu saja, pasti sangat puas. Karena aku melakukan apa yang disuruhnya. Cih! kenapa dia memintaku melakukan ini? kalau bukan karena tujuanku, aku tidak akan mau repot seperti ini. Kau harus bersabar, Erwan. Harus bersabar. Setelah Yang Mulia Kaisar bisa dikuasai, maka menggulingkanya akan sangat mudah. Hahaha .... ya, sangat mudah." batin Erwan.


__ADS_2