Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
46. Perang


__ADS_3

Winter kedatangan beberapa tamu penting. Mereka adalah bangsawan yang ingin membantu Winter melawan pemberontak seperti Sebastian. Para bangsawan itu ikut iba atas hancurnya kastel Grand Duke dan hilangnya Grand Duke juga para pelayan kastel. Winter senang, ia merasa terbantu dengan dukungan yang diberikan.


Para bangsawan memberikan saran dan arahan tentang perang yang kemungkinan besar akan terjadi. Winter memberitahu, jika mustahil bagi mereka untuk bisa meminta bantuan dari menara sihir, karena sepertinya Sebastian telah menguasai menara sihir lebih dulu. Mendengar hal itu, semua orang terkejut. Mereka pun ribut dan mempertanyakan, apa yang terjadi? dan bagaimana bisa hal itu terjadi? Karena tanpa adanya bantuan dari para penyihir, maka mereka semua tak akan bisa apa-apa.


Winter lantas mengucapkan permintaan maafnya. Ia juga baru tahu setelah Sebastian menulis surat padanya. Salah seorang bangsawan bergelar Marquis pun bertanya apa isi surat dari Sebastian? bangsawan itu meminta maaf atas kelancangannya bertanya. Ia hanya murni ingin tahu. Winter lantas meminta Carlos mengambil surat yang dibuangnya di sampah dan membawanya ke ruang rapat. Carlos pun bergegas pergi ke ruang kerja Winter untuk mengambil surat yang sudah dibuang dan tidak beberapa lama kembali. Karena warna kertas surat berbeda dari sampah yang lain, maka dari itu Carlos dengan mudah menemukannya.


Winter mengatakan, kalau ia sudah meremat suratnya karena kesal. Meminta para bangsawan memaklumi. Para bangsawan satu per satu membaca surat itu. Mereka kaget karena Sebastian benar-benar seseorang yang tidak tau malu.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Apa yang sudah terjadi pada Grand Duke Laros?" kata Bangsawan bergelar Duke.


"Benar-benar tidak tahu malu. Dia menganiaya seseorang yang bahkan tak bisa lagi menggunakan sihir. Tidak hanya menganiaya, pemberontak itu bahkan menculik dan meratakan kediaman Grand Duke. Kita tak bisa diam begitu saja, Yang Mulia. Anda harus mengambil keputusan." kata Bangsawan lain bergelar Viscount.


"Ya, itu benar. Saya sependapat dengan Tuan Duke dan Tuan Viscount." kata yang lain.


Beberapa orang yang lain tampaknya juga setuju dengan pendapat kedua orang yang sudah mengemukakan pendapat. Mereka ingin Winter segera mengambil keputusan dan bertindak. Winter diam berpikir, dan saat ingin mengatakan pendapatnya, tiba-tiba saja Carlos mendapatkan pesan dari salah satu penjaga. Ternyata gerbang depan istana sudah berhasil ditembus musuh.


"Yang Mulia, pertahana di gerbang utana telah ditembus musuh." kata Carlos mendekati Winter.


"Apa?" gumam Winter terkejut.


Tidak hanya Winter, para bangsawan pun terkejut dengan kabar yang mereka dengar. Padahal mereka masih berdiskusi tentang cara melawan dalam peperangan, tapi nyatanya pihak musuh sudah menyerang lebih dulu.


Winter menatap Carlos, "Di mana Permaisuri? bawa dia dan semua pelayan ke tempat aman, Carlos. Juga bawa para bangsawan yang berads di sini." kata Winter.


"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Anda mau melawan mereka sendiri?" tanya salah seorang bangsawan.


"Apa aku harus mengorbankan kalian semua? Bagaimana dengan istri dan anak-anak kalian? atau saudara dan orang tua kalian? Kalian ikutlah Carlos," kata Winter.


Para bangsawan menolak. Mereka ingin membantu Winter bagaimana pun caranya. Winter tidak mau berdebat, ia meminta Carlos untuk menunjukka jalam bagi para bangsawan. Winter langsung pergi dari ruang rapat. Ia berjalan cepat menuju ruang persenjataan. Winter tidak punya banyak waktu lagi.

__ADS_1


***


Sesampainya di ruang persenjataan. Winter melihat Zirah yang sudah lama tak dilihatnya. Itu adalah Zirah milik mendiang Ayahnya. Winter berlutut satu kaki, ia memejamkan mata dan bedoa pada sang Ayah.


"Ayah, maafkan aku. Aku adalah Kaisar yang gagal. Hari ini Kekaisaran diserang dan aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Maafkan aku, Ayah. Maaf ... namun, aku tetap akan melindungi Kekaisaran ini semampuku. Sampai titik darah terakhirku." kata Winter.


Winter segera menganbil Zirah milik sang Ayah dan mengenakannnya. Ia juga mengambil pedang Sang Ayah yang terletak di samping Zirah. Winter tidak berharap apa-apa karena ia tak sekuat Sebastian, Pamannya. Namun, ia harus menghadang jalan Sebastian untuk bisa duduk ditahta. Karena jika itu terjadi, maka sudah pasti Kekaisaran akan dimusnahkan.


"Winter ... " panggil seseorang yang masuk ke ruang persenjataan. Seseorag itu tidak lain adalah Ellena.


Winter berbalik mendengar suara yang tak asing baginya, "Ellena ... kenapa kau di sini? bukankah aku sudah meminta Carlos membawamu ke ruang rahasia? ruang bawah tanah istana?" kata Winter.


"Lalu? apa kau kira aku akan pergi ke sana dan bersembunyi, sementara suamiku menghadapi musuh sendirian?" sentak Ellena.


"Aku tidak bisa membiarkanmu terluka," sahut Winter.


"Tapi ... " gumam Winter yang langsung diam.


Ellena mengusap wajah Winter, "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku juga memikirkan hal yang sama tentangmu. Selain Ayah, hanya kau satu-satunya kelaurgaku, Winter. Kita pasti melakukannya, jika bersama. Kau mengerti?" kata Ellena.


Ellena berjinjit, ia mencium kening Winter. Ellena memegang pedang yang dipegang winter, ia memejamkan mata dan memberi kekuatan sihir dipedang Winter. Setelah itu, keduanya bersama-sama keluar dari ruang persenjataan. Mereka pergi menuju aula utama, tempat yang pasti menjadi tujuan utama Sebastian.


***


Winter dan Ellena di kelilingi para prajurit. Mereka sudah bersiap-siap merima kehadiran tamu yang tidak diundang. Winter bertanya di mana Carlos? pada Ellena. Ellena menjawab, jika Carlos ia minta menggiring para palayan dan semua orang ke ruang bawa tanah. Hanya prajurit yang tersisa.


Tidak lama Sebastian datang. Ia bersama beberapa orang yang berjalan dibelakangnya. Sebastian mengamati keadaan aula utama, ia berkata ia tak suka corak dan dekorasi aula karena terlihat tak cocok denganya. Dan ia pun menghancurkan sebuah pilar dengan kekuatan sihirnya. Sebastian menatap Winter dan Ellena yang berdiri berdampingan dan berada jauh di belakang para prajurit.


"Apa kalian berdua akan seperti tikus? berlindung pada prajurit yang bahkan bisa aku singkirkan dengan jentikan jari?" kata Sebastian.

__ADS_1


"Beraninya kau menyerbu Kekaisaran, Sebastian. Kau sekali lagi memberontak," kata Winter.


Sebastian menggunakan kekuatan sihirnya berusaha menyingkirkan semua prajurit yang melindungi Winter dan Ellena. Sayangnya itu tidak mudah, karena Prajurit berada dalam lingkaran sihir perlindungan yang dibuat Ellena. Baik itu kekuatan sihir ataupun senjata tak akan biss menembus perisai yang dibuat Ellena.


"Begitu, ya. Dia memang putri Erick dan Erren. Kalau begini, aku tak punya pilihan." kata Sebastian.


Sebastian tak tinggal diam karena ia tam bisa menembus pertahaman Ellena. Ia pun menggerakkan Erick, yang ternyata sudah dibuatnya sebagai boneka. Melihat sang Ayah yang sudah menjadi boneka mainan Sebastian, membuat Ellena marah besar.


"Ayah ... " gumam Ellena.


"Tidak, tidak boleh terpancing. Dia hanya ingin mebuatmu lengah dan tidak fokis Ellena." batin Ellena.


"Kau kira aku akan terpancing? meski kau menggunakan Ayahku, aku tak akan melemahkan pertahananku, Sebastian." kata Ellena.


"Kau yakin? Apa kau tidak tahu, ayahmu ini masih hidup dan bernapas. Dia belum mati," kata Sebastian.


Ellena kaget, "Apa? dia juga menggerakkan orang yang masih hidup sebagai boneka mainan?" batin Ellena.


"E-Ellena ... Ellena ... " gumam Erick.


"Ayah ... " gumam Ellena menangis. Ia sedih melihat Ayahnya diperlakukan tidak manusiawi oleh Sebastian.


Sebastian tidak menyangka, triknya tidak mempan. Ia pun menghentika menggerakkan Erick dan melempar Erick sampai terpental ke dinding dan jatuh ke lantai.


"Dasar tidak berguna!" sentak Sebastian marah.


"Tidak! Ayaaaahhh!" teriak Ellena.


Ellena membuat kesalahan. Pertahananya melemah karena Ellena hilang fokus melihat Ayahnya dilempar ke dindinh dan akhirnya jatuh ke lantai. Sebastian melihat celah. Ia pun berhasil menyingkirkan prajurit dengan menggunakan sihirnya. Ia membuat beberapa prajurit juga ikut terpental. Ellena kaget, buru-buru ia hendak mengaktifkan lingakran sihir perlindungan, tapi lingkaran sihirnya telah dihancurkan Sebastian.

__ADS_1


__ADS_2