
Ellena tiba di Kastel Grand Duke. Kedatanganya langsung disambut oleh Grand Duke sendiri.
"Selamat datang, Yang Mulia Permaisuri." sapa Grand Duke menyambut Ellena.
"Ayah ... " sapa Ellena memeluk sang Ayah.
Grand Duke membalas pelukan Ellena. Ia begitu merindukan putri kesayangannya itu. Ellena juga mengatakan, kalau ia merindukan Ayahnya.
"Saya merindukan Ayah," kata Ellene melepas pelukan dan menatap Ayahnya.
"Saya juga sangat merindukan Anda, Yang Mulia. Maafkan saya karena tidak mengunjungi Anda dua bulan ini, karena saya tidak bisa meninggakan Kastel." kata Grand Duke Laros, Ayah Ellena.
"Ayah ... saya akan menginap di sini. Apakah Anda mengizinkan?" tanya Ellena.
"Tentu saja, Yang Mulia. Silakan Anda menginap dan melakukan apa yang Anda inginkan. Kastel ini juga merupakan tempat tinggal Anda dulunya," jawab Grand Duke Laros.
Ellena tersenyum senang. Ia lantas berpamitan untuk pergi ke kamarnya. Karena ia sudah memberitahukan akan kedatangannya, maka pelayan rumah pun langsung mempersipakan kebutuhan Ellena dan merapikan kembali kamar Ellena.
Ellena membuka pintu kamarnya. Ia melihat sekeliling dan meraba dinding kamarnya yang sudah dua bulan ia tinggalkan. Semua masih sama dimatanya. Kamarnya juga tampak bersih dan rapi.
"Apa pelayan selalu membersihkannya setiap hari? padahal tidak ditempati. Seminggu dua kalipun cukup." batin Ellena.
Ia langsung pergi membuka jendela kamarnya. Dari sana tampak taman bunga mawar kesukaan Ellena dan itu juga mengingatkannya akan tamab bunga di istana Kaisar. Pikirannya kembali memikirkan semu hal yang sudah terjadi dikehidupan sebelumnya, lalu membandingkannya dengan kehidupan yang saat ini. Banyak hal berubah. Dikehidupan pertama ia tidak akan pergi meninggalkan istana, dan hanya mengahabiskan waktu lima tahunnya di sana sampai mati pun ia tetap menginjakkan kakinya di istana. Sedangkan saat ini ia berada di rumah lamanya, rumah yang sebenarnya sangat ia rindukan.
__ADS_1
"Masa depanku yang sekarang akan berbeda, kalau aku mengatasi masalah yang timbul dengan baik dan membereskan serangga sebelum mereka keluar dari sarangnya. Mulai sekarang aku akan mempersiapkan dengan matang segala sesuatunya. Bagiku, saat ini beetahan hidup adalah hal utama. Aku tak peduli pada perhatian, pujian atau apalah itu. Nyawaku hanya satu, meskipun aku mengulang waktu, bukan berarti kalau aku mati, lalu aku bisa kembali hidup lagi. Anggaplah Dewa mengasihiku, sampai membantuku. Karena itu, kali ini aku tak akan menyia-nyiakan waktuku." kata Ellena menatap taman bunga mawar kediaman Grand Duke.
Pintu kamar Ellena diketuk. Janette mengatakan kalau ia akan masuk kamar mengantar kudapan dan teh. Janette membuka pintu dan ia membawa nampan berisikan teh dan kudapan untuk Ellena.
"Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?" tanya Janette.
Ellena memalingkan pandangan menatap Janette, "Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih kau selalu memperhatikanku, Jane. Apa aku boleh minta tolong padamu?" tanya Ellena.
"Janette pasti mau melakukannya, lagipula ini kesempatakanmu mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum aku kembali ke istana. Setelah masuk istana, aku akan sulit keluar masuk lagi, dan pasti akan terlihat mencurigakan." batin Ellena.
"Silakan bicara, Yang Mulia. Apa yang Anda butuhkan?" tanya Janette.
"Carilah informasi tentang Baron Rosaro dan pergerakannya secara diam-diam. Juga carilah informasi tentang Erwan, Sekretaris Kaisar." perintah Ellena.
Janette keget, saat dimintai mencari informasi tentang Sekretaris Kaisar. Pasalnya ia tidak pernah tahu orang tersebut menyinggung Ellena. Janette yang penasaran pun bertanya, apa alasan Ellena ingin menggali informasi tentang Erwan.
"Sepertinya begitu. Karena itu aku mint tolong padamu. Dia memang selalu baik dan tersenyum ramah padaku. Memperlakukanku dengan penuh perhatian. Namun, apakah semua itu menjamin isi hatinya? bagaimana isi hati orang itu, aku kan sama sekali tidak tahu. Bisa saja dia sebenarnya membenciku, tapi terpaksa melayaniku karena aku Permaisuri." jawab Ellena.
"A-apa maksud Yang Mulia? Apa Anda mencurigai sesuatu darinya?" tanya Janette.
Ellena pun menceritakan tentang Erwan yang berbohong mengatakan ia tak mau ditemui Kaisar pada malam pengantin. Dan pada saat Kaisar pergi berperang. Ellena pun mengutarakan isi pikirannya, kalau Erwan pasti punya tujuan atau diperintah seseorang melakuka hal seperti itu.
"Jadi tolong cari sebanyak-banyaknya informasi tentangnya. Karena waktu kita di luar istana hanya satu minggu, kita harus memanfaatkan waktu kita dengan baik, Janette. Kalau kita sudah kembali ke istana, akan sulit bagi kita keluar masuk istana dan pasti akan timbul rumor kalau Permaisuri atau pelayanya suka menyelinap pergi tidak jelas." jelas Ellena.
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia. Saya akan menerima perintah Anda. Mulai hari ini saya akan langsung melakukan penyelidikan dengan bantuan orang-orang dari keluarga saya. Apa saya boleh izin pergi sekarang, Yang Mulia? Anda bisa melakukan semuanya tanpa saya, kan?" tanya Janette.
Ellena menganggukkan kepala, "Ya, pergilah. Hati-hati dalam perjalanmu, Janette. Jangan terluka dan selalu waspada," pinta Ellena.
"Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan minta Mieta untuk melayani Anda selama saya tidak ada. Tolong jangan melakukan tindakan berbahaya selama saya tidak ada. Anda mengerti?" kata Janette menatap Ellena.
Ellena memeluk Janette. Ia berjata ia sangat sayang pada Janette. Ia merasa bersalah harus mengurus Janette pergi, padahal bisa saja ada bahaya yang muncul tanpa diduga. Janette berterima kasih atas kekhawatiran Ellena. Ia berkata akan kembali dengan selamat.
Pintu kamar diketuk. Mieta pelayan kediaman Grand Duke memberitahukan kalau seorang kesatria dikirim Kaisar menghadap Yang Mulia Permaisuri. Ellena langsung memerintahkan Kesatria itu masuk ke kamarnya. Pintu dibuka Mieta dan seorang Kesatria masuk menghadap Ellena.
"Kesatria Carlos Wishtone memberi salam kepada Bulan Kekaisaran, Permaisuri Ellena De Veloz." kata Carlos berlutut dan menundukkan kepala.
"Bagunlah, Sir Wishtone. Aku menerima salammu. Apa ada pesan dari Yang Mulia Kaisar?" tanya Ellena.
Carlos berdiri, ia mengeluarkan sehuah surat dan menyerahkan pada Ellena. Carlos berkata, surat itu harus disampaikan langsung untuk Ellena. Ellena menerima surat dan langsung membaca surat dari Winter. Dalam surat tertulis, jika Winter mengirim Carlos untuk menjadi kesatria pelindung bagi Ellena. Winter juga mengatakan, kalau Carlos adalah orang yang sangat bisa dipercaya, karena merupakan tangan kanannya, sekaligus teman masa kecilnya. Winter juga berharap Ellena baik-baik saja selama berada di kastel Grand Duke.
Ellena tersenyum, "Aku akan berikan balasannya sendiri nanti, dan meminta orang lain mengirimnya. Kebetulan aku butuh seseorang menemani dayangku. Apa kau bersedia mengawal dayangku, Sir Wishtone?" tanya Ellena menatap Carlos.
"Saya akan melakukan apa saja perintah Anda, Yang Mulia." jawab Carlos.
Ellena menatap Janette, "Janette ... pergilah dengan sir Wishtone. Sebelum kalian pergi, lebih baik kalau kalian ganti pakaian dulu agar tidak terlihat mencolok mata." kata Ellena.
Janette mendekati Carlos, "Mohon maaf, Sir. Saya akan jelaskan detailnya nanti, tapi untuk sekarang sebaiknya kita bergegas," kata Janette pada Carlos.
__ADS_1
"Baik, Nona." jawab Carlos.
Kedua orang itu lantas berpamitan pada Ellena dan pergi. Mereka meninggalkan Ellena di kamar seorang diri. Ellena segera duduk, ia mengeluarkan selembar kertas dari laci meja dan menulis surat balasan untuk winter. Ellena hanya menulis beberapa kata singkat, dan berterima kasih karena sudah dikirimi kesatria untuk melindunginya.