
Sudah satu minggu, sejak Erick terbaring sakit. Setelah dirawat dengan penuh kasih sayang dan kesungguhan, kesehatan Erick berangsur pulih. Selama itu pula pekerjaan istana di kerjakan Ellena di kastel Ayahnya. Ellena memang sibuk mengurus sang Ayah, tapi ia tidak akan mengabaikan tanggung jawabnya. Meski ia harus terus merepotkan pekerja istana untuk bolak-balik istana-kastel.
Ellena mendapatkan banyak laporan. Petugas yang mengantar dokumen ke kastel bercerita, kalau Catharina semakin berulah. Bahkan Catharina baru saja minta pada Kaisar dibelikan permata ungu langka yanh bahkan Ellena saja sulit mendapatkannya meski sudah memesan selama satu tahun sebelumnya. Pelayan itu tidak tahu saja, jika permata ungu yang diberikan Winter pada Catharina adalah peramata milik Ellena. Tentu saja sebelum diambil, Winter sudah izin pada Ellena.
"Apa lagi yang terjadi?" tanya Ellena menatap pesuruh istana itu.
"Itu, Yang Mulia. Sepertinya Lady Catharina bertengkar dengan seorang Lady bangsawan, dan pesta berakhir ricuh." kata pesuruh itu.
Ellena tersnyum tipis memalingkan pandanganya, "Bagaimana ini? aku tak bixa menahan tawa. Tidak boleh, Ellena. Kau tidak boleh terlihat senang di depan pesuruh, bisa saja dia berpikir yang tidak-tidak. Mari tertawa sepuasnya nanti bersama Janette dan Carlos." batin Ellena.
Ellena menatap pesuruh, "Baiklah. Kau boleh pergi. Bawakan lagi dokumen yang harus aku stempel esok pagi. Aku akan periksa dulu laporan ini dan kuberikan padaku esok saat kau datang." kata Ellena.
"Baik, Yang Mulia. Saya pamit undur diri," kata pesuruh itu.
"Hm, ya ... " jawab Ellena.
Pesuruh itupun pergi. Dan tidak lama Janette datang menemui Ellena. Janette menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu memanggil Ellena menghadap Erick.
"Yang Mulia, Grand Duke ingin bertemu Anda dan saat ini sedang menunggu di taman. Saya akan membantu Anda bersiap," kata Janette.
Ellena menatap Janette, "Ada apa sampai Ayah mencariku? kau tahu alasannya, Jane?" tanya Ellena.
Janette menggelengkan kepala, "Saya sama sekali tidak tahu apa-apa, Yang Mulia. Beliau hanya meminta saya menyampaikan pada Anda, kalau beliau ingin bertemu dan saat ini sedang menunggu di taman." jawab Janette menjelaskan.
Ellena masih tidak paham maksud dan tujuan Ayahnya memanggil. Biasanya kalau perlu sesuatu atau ingin bicara, Erick selalu menemui Ellena di kamar atau bicara saat Ellena sedang berada di kamar Ayahnya. Meski bingung dan penasaran, ia tidak bisa mengabaikan panggilan sang Ayah dan segera bersiap.
***
__ADS_1
Di taman. Erick berdiri menatap taman mawar yang dirawat Ellena. Erick memikirkan banyak hal selagi menunggu putri kesayangannya datang. Mungkin saja di mata orang lain Erick adalah seorang Ayah yang dingin bagi Ellena. Namun, sebenarnya Erick melakukan itu untuk menutupi kelemahannya. Jika orang- orang yang tidak suka padanya atau tahu, jika Ellena lah kelemahan tersebesar Erick, maka orang-orang itu akan dengan mudah mengusik Ellena untuk memprovokasinya. Bagi Erick, kasih sayang tak harus dipamerkan. Melindungi dan menjaga keselamatan putrinya juga adalah bentuk dari kasih sayang itu sendiri.
"Erren ... terima kasih sudah melahirkan Ellena. Dan maaf, jika aku membesarkan putri kita dengan tidak baik. Kau tahu, bukan? aku menyayangi Ellena, sama seperti kau yang juga sayang padanya." batin Erick.
"Ayah ... " panggil Ellena, berjalan menghampiri Erick.
Erick memalingkan pandangan menatap Ellena, "Ellena, kau sudah datang? apa Ayah menganggumu bekerja?" tanya Erick.
"Tidak, Ayah. Pekerjaanku sudah selesai. Apa Ayah sedang jalan-jalan?" tanya Ellena.
"Ayah masih belum berkeliling. Kau mau temani Ayah? Sudah sangat salam sejak terakhir kita berkeliling taman, kan?" ajak Erick.
Ellena tersenyum. Ia merangkul lengan Erick dan mengiakan ajakan Erick. Keduanya berjalan perlahan masuk ke dalam taman mawar.
Erick menceritakan masa kecilnya pada Ellena. Erick bertaka, jika dulu Nenek Ellena suka sekali mengajak Erick berkeliling taman. Setelah menikah, Erick berkeliling taman bersama Ibu Ellena, dan setelah Ellena lahir, Erick berkeliling taman dengan Ellena.
Erick menganggukkan kepala, "Tentu saja.
Nenek dan Ibumu adalah dua dari tiga wanita berharaga dalam hidup Ayah." jawab Erick.
Ellena tersentuh mendengar jawaban Erick. Karena tidak tahu harus menjawab apa, Ellena hanya bisa diam saja. Tiba-tiba langkah kaki Erick terhenti, membuat Ellena kaget. Ellena menatap Erick yang berdiri membelakanginya.
"Ada apa, Ayah?" tanya Ellena.
Erick berbalik dan memberikan sebuah botol berisi cairan ramuan pada Ellena. Erick meminta Ellena meminum ramuan itu segera, tanpa banyak bertanya ini dan itu. Ellena memgambil botol berisikan ramuan dari tangan Erick, ia segera membuka tutup botol dan menegak habis cairan ramuan dalam sekali minum.
"Tunjukkan dua telapak tanganmu," kata Erick.
__ADS_1
Ellen mengikuti perkataan Ayahnya tanpa bertanya. Dan menadahkan dua tangannya, sehingga dua telapak tangannya terlihat. Erick menggigit ujung jari telunjuk tangan kanannya sampai mengeluatkan darah dan menggambar simbol di dua telapak tangan Ellena. Setelah merapal sesuatu, tiba-tiba simbol yang tadinya terlihat lenyap seperto terserap ke dalam tubuh Ellena.
Ellena mengerutkan dahinya, ia merasa mual dan ingin muntah. Rasanya, dadaya juga penuh sesak.
"Kenapa badanku jadi aneh?" batin Ellena.
"Tahanlah, jika kau ingin segel manamu terbuka." kata Erick.
"Ayah sedang membuka segel manaku?" tanya Ellena.
Erick menganggukkan kenapa, "Ayo duduk, kau harus mengatur napasmu dan merasakan aliran mana menjalar menyelimuti seluruh tubuhmu." ajak Erick.
Ellena dan Erick duduk di taman. Erick menatap Ellena yang hanya diam mengerutkan dahi karena merasa tubuhya seperti tersayat-sayat. Erick terus meminta Ellena mengatur napas.
"Apa yang kau rasakan? tanya Erick.
"Rasanya perih seperti tersayat-sayat, tapi tak lama rasa perih itu hilang dan tubuhku terasa lebih baik. Seolah rasa sakit itu langsung terobati." Kata Ellena.
"Bagus, manamu sudah mulai menyebar. Jika sangat sakit katakan langsung, Ayah akan membantumu." kata Erick.
Ellena menggelengkan kepala, "Tidak perlu, Ayah. Aku akan menahannya." kata Ellena.
Erick menghela napas panjang. Ia memberitahu Ellena, jika saat malam tiba nanti, Ellena pasti akan merasakan kesakitan. Dan itu biasanya terjadi sekitar dua sampai tiga hari. Terlebih mana Ellena adalah mana murni, maka Ellena akan semakin merasa kesakitan. Karena itu juga, Erick meminta Ellena tetap tinggal di kastel sampai seminggu kedepan.
"Ayah akan mengirim surat untuk Yang Mulia Kaisar. Kamu hanya harus istirahat untuk bisa menstabilkan aliran manamu. Setelah manamu stabil, baru kita akan belajar cara mengendalikan mana, lalu menggunakan sihir. Meksi ini sulit dan tidak mudah, Ayah yakin putri ayah yang pintar ini akan cepat belajar." kata Erick.
Ellena menganggukkan kepala, mengiakan perkataan Ayahnya. Melihat putrinya pucat, Erick lantas mengajak putrinya itu pergi meninggalkan kamar dan masuk dala kastel untuk istirahat. Erick berharap keputusannya membuka segel mana Ellena tak membuat Ellena terluka atau celaka. Ia ingin putrinya bisa bertahan, dan bisa melindungi diri sendiri.
__ADS_1