
Tengah malam, Winter diam-diam menyelinap masuk ke kamar Ellena. Ia berbaring di sisi Ellena, menemani Ellena tidur. Winter membelai wajah Ellena, dan membuat Ellena terbangun. Ellena terkejut melihat Winter sudah ada di ataa tempat tidur, di sisinya.
"Winter ... ah, ma-ma-maksud saya Yang Mulia ... " kata Ellena gagap, ia segera bangun dari posisi berbaringnya.
"Bodoh sekali kau Ellena. Kenapa kau langsung menyebut namanya begitu saja. Itu kan tidak sopan," batin Ellena.
"Katakan lagi," kata Winter.
Elle kaget, "A-apa yang katakan lagi?" tanya Ellena.
"Namaku. Coba kau panggil aku dengan namaku," pinta Winter.
Ellena menunduk, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak sadar telah memanggil nama Anda sembarangan. Itu karena saya terkejut melihat Anda," jelas Ellena. Mengakui kesalahannya.
Winter mengusap kepala Ellena, "Itu bukan kesalahan. Aku kan tidak pernah melarangmu memanggil namaku. Justru aku senang, kau memanggil namaku seperti tadi. Ayo, coba panggil aku lagi." pinta Winter.
Ellene mamalingkan pandanganya, dan menolak permintaan Winter. Winter tersenyum, tiba-tiba menarik tangan Ellena dan memeluknya tidur. Ellena kaget, ia tidak bisa apa-apa dan hanya bisa pasrah.
"Apa boleh begini? dia kenapa sebenarnya?" batin Ellena.
"Ellena ... " panggil Winter.
"Ya?" jawab Ellena. Ia melepas pelukan Winter dan menatap Winter.
"Maafkan aku untuk yang tadi. Apa kau sakit hati dengan sikap dan kata-kataku?" tanya Winter.
Ellene menggelengkan kepala, "Kalau sebatas itu masih bukan apa-apa. Lagipula aku tahu kalau Anda tidak benar-benar serius memarahi saya. Sebaliknya, saya yang merasa tidak enak karena bicara kasar pada seorang Kaisar." kata Ellena.
__ADS_1
"Tidak apa, itu kan karena kau memag harus menetangku dan meluapkan emosimu. Hal-hal seperti ini kedepannya pasti akan terulang. Sampai semua bukti dan saksi terkumpul. Sampai itu saja, aku mohon kau bertahan dengan keadaan ini. Aku tahu hatimu pasti sakit, tapi ini adalah satu-satunya cara agar penyelidikam kita tak dicurigai. Catharina sudah senang, kita bertengkar. Meksi begiru dia pasti tak akan puas. Dia seperti Ayahnya yang serakah dan keras kepala." kata Winter.
"Saya mengerti. Saya akan melakukan sesuai keinginan Anda, Yang Mulia. Saya berencana mengirim Janette ke kastel Ayah untuk meminta beberapa penawar. Sepertinya Anda memerlukannya karena kita tidak tahu sampai kapan dan seberapa banyak dosis ramuan yang wanita itu gunakan. Ayah juga pasti kesulitan membuat penawar pastinya kerena tidak tahu jenis ramuan cuci otak yang digunakan pada Anda. Seperti yang saya katakan, Anda harus membantu saya agar saya mendapatkan setidaknya sedikit saja dari ramuan itu untuk diteliti Ayah." kata Ellena.
"Ya, aku akan melakukannya. Begini saja, bagaimana kalau lusa? minta Bertha mengambil ramuan dari kamar Catharina. Lusa aku akan ajak dia keluar istana dan mengosongkan istana Dandelion dengan dalih istana akan didekorasi ulang." kata Winter.
"Hm ... baiklah. Seperti itu tidak buruk. Besok saya akan mengirim Janette untuk memberitahu Bertha diam-diam sebelum ia pergi ke kastel Ayah." jawab Ellena setuju.
Winter tersenyum. Ia meminta Ellena kembali tidur karena sudah tengah malam. Ellena bertanya, kenapa Wimter datang menemuinya? apa hanya ingin menyampaikan apa yang mereka bicarakan? Winter menggelengkan kepala dan menjawab, kalau ia merindukan Ellena.
"Aku merindukanmu," jawab Winter.
Ellena melebarkan mata, "Apa? Anda merindukan saya? apa Anda sedang mengigau? ada-ada saja," kata Ellena. Menganggap perkataan Winter sebagai candaan.
"Kau tidak menganggap serius perkataanku, rupanya. Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?" tanya Winter mendekatkan wajahnya ke wajah Ellena.
Ellena menjauhkan wajahnya, "Tidak, tidak. Anda tidak perlu melakukan apa-apa. Sa-saya tidak menganggap perkataan Anda sebagai candaan. Tidak seperti itu." kata Ellena tiba-ta gugup.
Melihat wajah Ellena yang merah, dan ekspresi wajah Ellena yang menggemaskan, membuat Winter tertawa. Ia merasa istrnya itu sangatlah lucu, seperti kelinci yanh sedang terpojok oleh serigala yang sedang lapar.
Ellena mengerutkan dahi, "Apa yang Anda tertawakan? Anda menertawakan saya, ya?" tanya Ellena.
Winter menahan tawa dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak. Aku tak menertawakanmu. Kau pasti salah paham," kata Winter.
Ellena merengut. Wajahnya tampak kesal. Ia lantas balik badan membelakangi Winter. Ellena berkata kalau Winter itu menyebalkan. Sangat menyebalkan. Winter memeluk Ellena, ia berkata Ellena boleh mengatainya apa saja. Asalnya Ellena senang.
"Ya, aku memang menyebalkan. Sangat menyebalkan serperti yang kau katakan," bisik Winter.
__ADS_1
Ellena menggigit bibir bawahnya. Ia merasa canggung juga tegang. Ia merasa aneh kalau Winter memeluknya tidur dari belakang, tapi kalau ia berbalik dan tidur berhadapan dengan Winter, maka itu lebih membuatnya tak nyaman.
Jantung Ellena berdegup kencang. Ia mencoba meredam rasa tegangnya juga canggungnya dengan memejamkan matanya. Berharap ia bisa segera tertidur. Sama seperti Ellena, sebenarnya Winter juga tegang dan berdebar. Ia merasa senang, ia bisa dekat dengan Ellena meski hanya sebatas berpelukan dan berdampingan saat tidur.
Winter mencium rambut Ellena, "Selamat tidur, permaisuriku. Mimpikan aku," bisik Winter menggoda Ellena.
"Ya, Selemat tidur juga Yang Mulia. Anda tidak perlu memimpikan saya karena saya juga tidak ingin memimpikan Anda." jawab Ellena.
Mendengar jawaban Ellena, Winter mengeratkan pelukannya. Ia mengambil kesempatan utuk lebih menggoda Ellena. Diciumnya tengkuk dan punggung Ellena. Membuat Ellena terkejut dan langsung berbalik menghadap Winter.
"Apa yang Anda lakukan Yang Mulia? jangan mengganggu waktu istiraha saya," kata Ellena kesal.
Winter tersenyum tampan, "Apa kau tahu? apa yang arti dari pernikahan?" tanya Winter.
"Saya tidak tahu dan tidak tertarik dengan itu. Jika Anda terus mengganggu saya, lebih baik Anda kembali ke istana Anda." kata Ellena.
Ellena ingin kembali berbalik, tapi Winter langsung menangkup wajah Ellena dan kenbali mencium Ellena. Winter melepas ciumannya dan berkata, kalau Ellena harus bersiap menerima serangan yang mendadak dilancarkannya. Ellene menatap Winter, baru saja ia ingin bicara, Winter lagi-lagi menciumnya. Winter sengaja melakukan itu. Ia mau serakah untuk bisa semakin dekat dengan Ellena.
"Pria ini ... apa seorang mesum? dia bahkan tak mebiarkanku bicara," batin Ellena.
Ciuman Winter begitu lembut dan semakin dalam. Ellena memejamkan matanya, mencengkram erat pakaian Winter. Ia merasa aneh, tapi juga senang. Dadanya bergemuruh. Winter melepaskan ciumannya dan menatap dalam ke arah Ellena. Ia mencium kening dan juga hidung Ellena. Ia mencium kedua pipi Ellena, lalu turun ke dagu dan leher Ellena.
"Ya-Yang Mulia ... " gumam Ellena merasa geli, saat lehernya dicium Winter.
"Ya?" jawab Winter menatap Ellena.
"Hentikan dan tidurlah. Kenapa Anda terus mengganggu saya?" tanya Ellena.
__ADS_1
"Karena kau menggemaskan," jawab Winter.
Wajah Ellena memerah karena perkataan Winter yang mengatakan Ellena menggemaskan. Winter mendekatkan wajahnya ke wajah Ellena hingga hidung mereka bertemu. Winter memejamkan mata, ia merasa senang dikehidupan kali bisa bersama dan lebih dekat dengan Ellena.