Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
47. Akhir Perang


__ADS_3

Sebagian prajurit yang melindungi Winter dan Ellena sudah tumbang. Karena tak ingin ada korban lagi, Winter memutuskan untuk maju menghadapi Sebastian. Winter berlari ke arah Sebastian, ia tidak bisa diam saja Sebastian bertindal sesuka hati. Sebastian mengambil salah satu pedang prajurit dan menangkis serangan Winter.


"Mau adu kekuatan fisik, Keponakanku?" kata Sebastian.


"Jangan banyak bicara dan kerahkan seluruh kemampuanmu menghadapiku," kata Winter.


Winter menekan pergerakanya dan memukul mundur Sebastian beberapa langkah ke belakang. Sebastian mengakui kehebatan berpedang Winter. Bagaimanapun Sebastian memang bukan ahli pedang, karena ia adalah seorang penyihir. Sebastian pun memasukkan sihir dalam pedangnya dan berbalik menyerang Winter. Winter menghindari dan menyerang secepat mungkin, tetapi Sebastian berhasil menghindar. Sebastian menyerang lagi. Kali ini melakukan serangan bertubi-tubi pada Winter dan Winter pun menangkis serangan seolah bisa membaca pergerakan Sebastian.


Ellena bertarung dengan pasukan mayat hidup yang dibuat Sebastian. Ellena menghancurka semua mayat hidup menjadi debu. Ia pun berhadapan dengan Pamanya, Adik dari Ibunya. Berbeda dengan yang lain, kemampuan kepala akademi berbeda, meski mayat hidup, namun tubuh kepala akademi merupakan tubuh seorang penyihir tingkat atas. Ellena menyerang, tetapi serangn Ellena berhasil dihindari.


Ellena mengerutkan sahi berpikir, bagaimana caranya menghabisi mayat hidup yang tingkat kekuatannya berbeda? Ellena yang terdiam tiba-tiba di serang oleh Pamannya dan hampir saja terluka, jika Ellena tak cepat menghindar. Ellena kembali diserang, ia sampai berguling di lantai agar tak terkena ledakan sihir. Ellena melihat Pamannya tepat berada dibawah lampu gantung. Ellena pun membuat tali lampu gantung putus dan lampu jatuh menimpa sang Paman. Pada saat yang sama, Ellena segera menghampiri sang Paman dan membuat lingkaran sihir. Ia lantas mengaktifkan lingkaran sihir itu, membuat Paman Ellena terkurung dan tubuhnya terbakar habis. Ellena langsung terkulai lemas, energinya terkuras habis. Ia bersandar dinding dan melihat sekeliling. Para prajurit masih subuk melawan para mayat hidup. Sedangkan Winter dan Sebastian juga sedang beradu pedang.


"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Carlos yang baru datang.


"Carlos ... hah hah ... apa kau sudah melakukan apa yang kusuruh? Hahh ... " Kata Ellena menatap Carlos.


"Sudah, Yang Mulia. Anda istirhatlah dulu, saya akan menangani mereka." kata Carlos.


Saat Carlos hendak pergi, Ellena mencegah. Ellena memegang pedang Carlos dan merapalkan sesuatu. Ellena memasukkan sihir dalam pedang Carlos, ia berharap Carlos bisa dengan mudah menghancurkan para mayat hidup. Ellena tiba-tiba muntah darah, membuat Carlos panik dan khawatir.


"Yang Mulia ... " kata Carlos mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Ti-tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Bantulah Yang Mulia Kaisar, Tuan Kesatria." kata Ellena.


Carlos menunduk, ia menerima perintah Permaisuri Kekaisaran dan pergi meninggalkan Ellena untuk menghadang musuh. Ellena bersandar dinding, ia menyeka bibirnya dan melihat darah di tangannya. Ellena menggenggam erat tangannya, ia merasa dirinya sangat lemah, sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Ellena memalingkan pandangan, tak jauh darinya ia melihat tubuh sang Ayah yang tergeletak. Ellene berusaha berdiri dan berjalan perlahan mendekati tubuh sang Ayah. Jaraknya tak begitu jauh, tapi karena tubuh Ellena lemas, langkah kaki Ellena pun melemah. Ellena langsung duduk dan memeluk tubuh sang Ayah. Ia memanggil-manggil Ayahnya.


"Ayah ...."


"Ayah, bangunlah!"


"Ayah ... " panggil Ellena lagi.


"E-llena ... lenaaa ... " gumam Erik lemah.


"Maafkan A ... ayah, Nak. Ayah tak bi ... sa menjaga ... mu. Ayah me ... nyesal." kata Erick terbata-bata.


"Ayah, jangan bicara. Aku akan lihat luka Ayah dulu." kata Ellena ingin memeriksa keadaan Ayahnya.


Dengan tangan gemetar, Erick berusaha memegang wajah Ellena. Ellena menunduk, ia mendekatkan wajahnya agar sang Ayan tak kesulitan mengusap wajahnya. Ellena masih menangis, memegang tangan Ayahnya.


"Ayah sangat sayang padamu. Ayah menyayangimu ... " kata Erick yang tiba-tiba lemas meregang nyawa.

__ADS_1


Ellena terkejut, "Ayah ... Ayah ... Ayaaahhh ... " teriak Ellena memeluk Erick.


Ellena mengingat kenangan demi kenangan yang ia lalui bersama sang Ayah. Ia belajar bersama Ayahnya, meski sudah belajar bersama guru, ia sering ikut Ayahnya pergi ke gunung dan menyamar sebagai pria, karena mengenakan pakaian pria. Sampai saat menikah, Erick menggandeng tangannya sebelum akhirnya menyerahkannya pada Winter. Kenangan saat mereka belajar sihir bersama, berbincang, tertawa dan bercanda. Ellena tak bisa melupakan itu semua.


Ellena sangat marah, ia ingin sekali menghabisi orang yang membuat Ayahnya meregang nyawa. Ellena mengangkat kepala mencari-cari keberadaan Sebastian. Ia melihat Sebastian bertarung dengan Winter. Terlihat Winter sudah kehabisan tenaga, dan terluka. Ellena mengambil pedang yang berada tak jauh darinya, ia berdiri perlahan dan menyeret pedang itu berjalan perlahan mendekati Sebastian.


Ellena menatap lurus kedepan, menatap tajam ke arah Sebastian penuh amarah. Tiga mayat hidup menyerang Ellena, karena tidak mau perjalananya menghabisi Sebastian di ganggu, Ellena langsung menebas ketiga mayat hidup itu dengan pedang yang sudah dimasuki sihir. Dengan sekali tebas, tubuh ketiga mayat hidup langsung hancur.


Sebastian menghentikan menyerang Winter, karena ia merasakan energi kuat mendekatinya. Sebastian melihat Ellena menyeret pedang berjalan ke arahnya. Sebastian menertawakan Ellena. Ellene mengerutkan dahi, ia mencengkram kuat pedang ditangannya dan menyalurkan kekuatan sihir penuh pada pedang Itu, Ellena pun berlari dan menyerang Sebastian. Sebastian tidak sadar, jika Ellena bisa tiba-tiba melakukan telepotrasi dan tiba-tiba berada di belakang Sebastian. Sebastian kegat, saat Ellena yang tadinya berlari tiba-tiba tidak ada.


"Mencariku?" tanya Ellena yang berada di belakang Sebastian.


Sebastian berbalik, dan Ellena langsung mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Sebastian. Ellena langsung memenggal kepala Sebastian, dan membuat tubuh Sebastian langsung jatuh. Winter kaget, melihat sang istri dengan mudahnya menghabisi Sebastian.


Tidak lama tubuh Sebastian berubah, ternyata Sebastian bukan lagi manusia, melainka jelmaan iblis. Sebastian telah menyerahkan tubuhnya sendiri sebagai ganti kekuatan yang akan didapatnya. Iblis itu menyerang Ellena, Ellena segera menangkis serangan dan menyerang balik. Ellena merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya, ia merasa tubuhnya baik-baik saja, padahal tadi sangat lemas karena energinya terkuras. Namun, sekarang rasanya energi dalam tubuhnya penuh meluap-luap.


Ellena diserang, dan berhasil menghindar. Iblis itu mengincar Winter, Ellene segers mendorong Winter dan menyerang iblis itu. Ellena akhirnya berhasil memojokkan iblis. Tak ingin kehilangan kesempatan, Ellena merapalkan mantra sihir dan membuat segel sihir, ia menyegel isblis itu agar tidak lagi berulah. Iblis berhasil disegel dalam sebuah pedang oleh Ellena. Dan pasukan mayat-mayat hidup yang tersisa tiba-tiba lenyap. Ellena langsung lemas, membuat segel sihir, dan melakukan penyegelan seorang diri sangat menguras energi. Pandangan Ellena tiba-tiba menjadi gelap dan Ellena pun pingsan.


***


Satu minggu kemudian. Ellena yang pingsan baru bangun setelah satu minggu berlalu. Karena tidak bisa membiarkan mayat terlalu lama, maka upacara pemakaman Grand Duke dan yang lain diadakan saat Ellena masih terbaring tidak sadarkan diri. Setelah sadar dan memulihkan diri, Ellena datang berkunjung ke pamemakaman. Ellena menatap nisan sang Ayah membawa buket bunga mawar. Ellena menangis, ia merasa bersalah karena tak bisa menjadi putri yang baik dan tak bisa melindungi Ayahnya. Winter menepuk punggung Ellena, berusaha menenangkan Ellena. Tak jauh dari Ellena dan Winter berada, Janette juga menangis di nisan Mieta. Carlos mendampingi Janette, dan menenangkan Janette.

__ADS_1


^Tamat^


__ADS_2