Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
38. Melarikan Diri Dari Sebastian


__ADS_3

Ellena menatap tajam ke arah Sebastian. Melihat putri teman baiknya menatapnya tajam seolah ingin menghabisinya, membuat Sebastian tertawa. Ia lantas memprovokasi Ellena agar menyerangnya.


"Apa Erick pernah mengatakan sesuatu tentangku, Nak? apa yang kau pikirkan, dan kenapa kau menatapku penuh rasa benci, hm?" tanya Sebastian tersenyum.


"Tutup mulutmu itu. Jangan sebut nama Ayahku dengan mulutmu, bedebah! apa kau tidak malu bicara begitu di depan putri seseorsng yang sudah kau hancurkan?" sentak Ellena marah.


Sebastian mengerutkan dahi, "Ahh ... sepertinya aku mengerti maksudmu. Apa Erick sangaaaat menderita? Pasti begitu, karena sejak saat itu ia tak bisa lagi menggunakan sihir. Bukankah dia sekarang seperti boneka? penyihir tanpa mana, apa artinya? hahaha ... oh, maaf. Aku jadi menertawakan Erick." kata Sebastian mulai memprovokasi.


Ellena memejamkan matanya sesaat, "Tidak boleh terpancing. Aku harus tetap mempertahankan akal sehatku. Dia sangat pandai memprovokasi. Kalau aku terpancing dan menyerangnya sekarang, maka dia akam tahu pergerakanku. Apa itu memang tujuannya? dia ingin mengamatiku?" batin Ellena.


"Ellena, bolehkah aku maju dan membunuhnya?" bisik Winter.


Ellena menggeleng, "Tidak boleh. Apa kau sudah gila? dia memang sengaja memprovokasi. Baik aku atau kau, kita sama sekali tak boleh terpancing. Apa kau tahu siapa dia?" tanya Ellena berbisik.


Winter menggelengkan kepala, "Tidak tahu," jawab Winter berbisik.


"Dia Saudara beda Ibu dari Ayahmu. Yang tak lain adalah Pamanmu. Namanya Sebastian," jawab Ellena memberitahu.


Winter melebarkan mata, "Tidak mungkin. Dia sangat berbeda dari yang aku lihat saat keluar dari rumah Baron dan saat di rumah lelang," batin Winter.


Sebastian kesal, karena provokasinya ternyata tak mempan. Padahal ia sudah sangat yakin kalau apa yang ia katakan langsung bisa menarik perhatian putri dari temannya itu.


"Sialan! dia tak sepolos Ayahnya ternyata. Apa dia menurun sifat Ibunya? apapun itu aku harus membuatnya goyah." batin Sebastian.


"Apa kau masih belum menyerah sudah diusir Ayahku, Tuan Sebastian? apa aku harus memanggilmu, Paman?" kata Winter.


Sebastian menatap Winter, "Oho ... siapa ini? karena fokus pada putri teman baikku, aku jadi melupakan keponakan tersayangku. Apa aku perlu memberikan salam untuk Yang Mulia Kaisar? dan Yang Mulia Permaisuri Kekaisaran?" jawab Sebastian.


"Apa maumu? apa kau yang membuat penjagaku seperti ini?" tanya Winter.

__ADS_1


"Kenapa? apa kau khawatir aku akan menyebarkan rumor kalau kau sudah mengasingkan Sekretaris dan putri Baron Rosaro? aku tidak tahu, bagaimana bisa kau terlepas dari pengaruh ramuan cuci otak itu, tapi itu bukan masalah lagi sekarang. Aku hanya perlu membunuhmu saja, kan? sekalian saja, aku bawakan buah tangan pada Erick. Hahaha ... " kata Sebastian.


"Mundur Ellena ... " kata winter menghadang Ellena dengan tangan kirinya.


"Winter, aku tidak apa-apa. Pada saat seperti ini, kita lebih baik satukan kekuatan. Kau tak punya kekuatan sihir, meksi kau seorang ahli pedang sekalipun, akan sulit menghadapinya. Dia itu orang licik yang bahkan tega membunuh Ayahnya sendiri. Tidakkah kau pikirkan betapa gilanya dia?" kata Ellena menatap Winter.


Winter geram, ia ingat apa yang dibacanya dalam buku harian sang Ayah. Kalau Kakeknya terbunuh oleh Anaknya sendiri, yakni Sebastian. Padahal saat itu Kakek Winter sedang dalam masa kritis melawan penyakit.


"Kalian mau maju duluan atau aku? Jangan banyak berdiskusi hal yang tak diperlukan dan terima saja seranganku," kata Sebastian.


Sebastian menegelurkan sihirnya kearah Winter dan Ellena. Melihat itu, Ellena langsung mendorong Winter dan ia menghindar dari sihir yang diarakan Sebastian. Melihat Ellena bergerak lincah, membuat sebastian senang. Ia jadi teringat akan Erren, wanita yang dicintainya.


Ellena menatap Winter, "Winter ... kau tidak apa-apa?" tanya Ellena.


"Aku baik-baik saja," jawab Winter.


Ellena berlari mendekati Winter. Ia memeganh tangan Winter dan merapal mantra, ia membagi mananya dengan Winter. Agar Winter bisa terlindungi dan bisa bergerak lebih cepat. Winter kaget saat tahu Ellena bisa menggunakan sihir bahkan melakukan sesuatu padanya.


"Meski kau tak sehebat penyihir, tapi aku yakin kau adalah seorang master pedang terbaik. Kau adalah Pedang Kekaisaran dan Matahari Kekaisaran. Meski ini sulit, mari kita bertahan, Winter." ucap Ellena menatap Winter.


Winter mencium tangan Ellena, "Bulanku, aku tak akan menyerah dan aku akan melindungimu." kata Winter.


Winter melihat Sebastian mengeluarkan sihir dan kali ini dia menggerakkan empat penjaga menjadi mayat hidup. Penjaga itu meyerang winter dan Ellena. Keduanya langsung mengambil posisi, saling memunggungi satu sama lain. Ellena memperingatkan Winter untuk hati-hati, meski sudah memasukkan sihir perlindungan dalam tubuh Winter.


"Sebisa mungkin jangan terluka, karena sihir kegelapam itu sangat menyukai aroma darah. Mengerti?" kata Ellena.


"Ya, sayang. Aku mengerti," jawab Winter.


Ellena kaget, "Ka-kau bilang apa? jangan bergurau, Winter." kata Ellena.

__ADS_1


Belum sampai Winter menjawab, Winter sudah disibukkan dengan menangkis serangan dari salah satu penjaga yang menjadi mayat hidup. Karena tidak mau menunjukkan kemampuannya, Ellena hanya menggunakan sihir secukupnya saja. Ia ingat akan pesan Ayahnya, jika orang lain tak boleh ada yang tahu, jika Ellena adalah pemilik mana murni. Karena bisa saja ada orang jahat yang akan memanfaatkannya.


Ellena menyerang dengan memasukkan sihir dalam tubuh penjaga yang menjadi mayat hidup, dan langsung menghancurkannya. Sebastian kaget, saat tiba-tiba mayat hidup yang digerakkannya hancur dan menjadi abu.


"Ba-bagaimana bisa?" gumam Sebastian.


"Kau menganggapku remeh hanya karena aku seorang wanita dan putri dari penyihir yang mananya cacat?" kata Ellena. Ellena mengepalkan tangan dan satu lagi mayat hidup itu hancur.


Ellena mengepalan kedua tangan dan langsung menghancurkan dua mayat hidup yang tersisa. Winter pun kaget, karena tiba-tiba saja dua mayat hidup yang di lawannya hancur begitu saja menjadi abu.


"Bakat sihirmu luar biasa. Apa kau tak tertarik jadi muridku saja? sayang sekali, jika aku harus memenggal kepalamu dan membawanya pada Ayahmu." kata Sebastian.


"Aku akam jadi apa, jika belajar dari iblis sepertimu? kau sudah mencuri formula sihir yang diteliti Ayah, kan? kalau kau bernakat dan jenius, kenapa tak membuat formulamu sendiri? apa aku bisa mengartikan kalau kau tersingkirkan oleh bakat dan kemampuan temanmu, yang merupakan Ayahku?" kata Ellena. Ellena sengaja memprovokasi Sebastian.


"Aku harus memprovokasinya, agar dia mengerahkan kekuatannya. Kalau tidak begitu, aku tak tahu seberapa besar kemampuannya." batin Ellena.


"Wanita sialan! apa kau tak diajarka sopan santun oleh Ayahmu, huh? kau membuatmu marah. Jangan salahkan aku akan menghabisimu lebih dulu," kata Sebastian yang langsung menyerang Ellena.


"Bagus, dia menyerang. Sekerang saatnya," batin Ellena.


Saat Sebastian mendekat dan ingin mencengkram wajah Ellena, pada saat bersamaan Elle melangkah mundur dan langsung mengaktifkan lingkaran sihir yang diam-diam ia buat bersamaan dengan ia memprovokasi Sebastian.


Sebastian yang tidak sadar menginjak tepat pada titik tengah lingkaran sihir digambar. Dan saat lingkaran sihir diaktifkan, lingkran sihir itu berbentuk seperti sangkar yang mengurung Sebastian.


Sebastian terjebak. Ia tidak bisa keluar dari kurungan sihir berbentuk sangkar itu. Meski ia telah berusaha menghancurkan sihir itu, tapi tetap tidak bisa.


"Apa yang sudah kau lakukan? Dasar wanita sialan!" sentak Sebastian marah.


Ellena mendekati Winter, "Winter, ayo pergi. Sihirku hanya akan bertahan beberapa jam saja. Kita tak akan punya kesempatan lain kalau bukan sekarang. Kita juga tak bisa melawannya, kita butuh banyak bersiapan." kata Ellena.

__ADS_1


Winter menganggukkan kepala, ia menggenggam erat tangan Ellena dan berlari mendekati kuda. Winter menaikkan Ellena ke punggung kuda, ia juga segera naik dan memacu kudanya berlari sekencang mungkin.


__ADS_2