
Setiap malam selama tiga hari berturut, Winter menemani Ellena. Hal itu tidak Ellena sadari, karena setiap Ellena bangun tidur, Winter sudah pergi. Winter meminta Erick, dan Janette tidak memberitahu Ellena kalau Winter lah yang menjaga dan menemani Ellena.
Ellena yang sudah membaik mulai mendapatkan bimbingan Erick untuk menggunakan mana, seharian berlatih Ellena sudah langsung bisa belajar. Hari berikutnya, Erick langsung melatih sihir dasar dan meminta Ellena mengikutinya. Erick ingin tahu, sebarapa besar kemampuan Ellena. Sesuai dugaannya, mana murni yang dimiliki Ellena sangatlah luar biasa. Hanya saja Ellena masih perlu banyak belajar agar sihirnya bisa berkembang.
Ellena senang, ia yang dulunya berpikir tidak bisa apa-apa, ternyata ia bisa menggunakan sihir. Ia berjanji pada diri sendiri akan terus berlatih agar bisa menjadi sekuat Ayah dan mendiang Ibunya. Ellena berterima kasih pada Ayahnya, yang sudah bersedia membimbing dan mengajarinya mengendalikan mana juga menggunakan sihir.
"Terima kasih, Ayah." kata Ellena tersenyum cantik.
"Kau sesenang itu? baguslah," jawab Erick.
"Tentu saja aku senang. Saat kemampuan sihirku lebih berkembang, dan aku bertambah kuat, pada saat itulah aku akan melindungi Ayah. Karenanya, sampai saat itu tiba, Ayah harus tetap sehat. Mengerti?" kata Ellena.
Erick mengusap kepala Ellena, "Ayah tidak kan pernah meninggalkanmu sebelum Ayah memastikan kau benar-benar bahagia, putriku. Ayah hanya punya kau sebagai harta berharga satu-satunya. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ayah juga." sahut Erick.
Mata Ellena berkaca. Ia terharu mendengar ucapan Ayahnya. Ia segera memeluk dan menangis dalam pelukan Ayahnya.
Erick mengeratkan pelukan dan mengusap punggung Ellena dengan lembut. Ia bangga pada Ellena yang terus gigih berlatih mengejar ketertinggalan. Ada rasa bersalah yang terbesit dalam pikiran Erick. Namun, ia tidak pernah menyesal sudah menyegel mana Ellena. Berkat mana yang tersegel, putrinya masih tetap hidup.
***
Di istana. Catharina berulah lagi. Ia memarahi pelayan yang sudah menyakitinya. Pelayan itu menyisir rambut Catharina, tapi karena rambut Catahrina yang kusut, pelayan itupun kesulitan menyisir sehingga tanpa sengaja menarik rambut Catharina.
Kebetulan disaat yang sama Winter datang berkunjung ke istana tempat tinggal Catharina. Winter bermaksud mengorek informasi dari Catharina perihal rencana Ayah Catharina, Baron Rosaro.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Winter melihat sekeliling. Kamar Catharina tampak kacau. Semua barang pecah dan berserakan.
"Ya-Yang Mulia. Anda datang? Ma-maafkan saya menunjukkan kekacauan ini." kata Catharina.
Winter mendekati Catharina, "Jelaskan pelan-pelan, apa yang terjadi? kenapa kau marah?" tanya Winter mengusap rambut Catharina.
Catharina lantas menceritakan pada Winter apa yang terjadi padanya. Mendengar cerita Catharina, Winter senang dan hampir saja ia tertawa. Namun, Winter langsung mengubah ekspresi wajahnya dan berpura-pura marah. Ia menatap Bertha, dan meminta Bertha mengganti semua pelayan istana Dandelion. Bertha menundukkan kepalanya, mengiakan perkataan Winter dan langsung mengurus semua pelayan yang ada di sana.
"Baguslah, aku tidak perlu melakukan apa-apa agar bisa mengganti pelayan di sini. Semua pelayan yang masuk adalah orang-orang yang nantinya akan membantuku. Mereka adalah mata dan telingaku." batin Winter.
"Ada keperluan apa yang Mulia datang menemui saya?" tanya Catharina.
"Memangnya menemui kesayanganku harus ada keperluan lebih dulu? aku baru tahu itu. Hm ... aku akan pikirkan dulu alasannya. Sebentar ..." kata Winter sedang berpikir.
"Tamu? apa itu Sebastian?" batin Winter.
"Begitu, ya. Pasti itu tamu yang sangat penting sampai Baron memanggilmu pulang. Aku bisa apa kalau Baron memanh membutuhkanmu. Tidak apa-apa, lakukan senayamanmu saja," kata Winter.
"Ya, beliau adalah tamu penting kami. Saya sendiri belum tahu pasti beliau siapa. Namanya Tuan Sebastian. Beliau adalah teman Ayah dari wilayah lain yang kebetulan sedang mengunjungi wilayah ini dan mampir ke kediaman kami." jelas Catharina.
"Hm, begitu. Aku mengerti. Oh ... aku datang mau memberimu sesuatu. Kepala dapur membuatkan aku minuman segar. Jadi, aku ingin kau mencicipinya juga. Aku ingin kau menjadi yang pertama mencicipi setelah aku." kata Winter.
Winter menatap pelayan. Pelayan mendekat dan menyajikan minuman yang dimaksud Winter di atas meja. Winter mengambil gelas dan memberikannya pada Catharina. Winter tersenyum lebar, membuat Catharina mau tak mau menerima pemberian Winter dan meminumnya.
__ADS_1
Catharina terkejut, "Umhh ... ini enak. Apa ini? Rasanya segar, manis dan ada sedikit asam." batin Catharina.
"Bagaimana?" tanya Winter.
Catharina menganggukkan kepala, "Ini sangat enak, Yang Mulia. Saya menyukainya." kata Catharina.
"Baiklah. Aku akan minta pelayan dapur mengirim minumam ini setiap hari ke sini. Tidak hanya minuman, sepertinya aku juga harus mengirim makanan yang dibuat juru masak dapur utama ke sini, ya." kata Winter.
Catharina tersenyum. Ia senang mendapatkan lebih banyak perhatian Winter. Ia berpikir, ia harus segera menyingkirkan Ellena sesuai rencana. Agar Erwan bisa merebut tahta Winter dan ia menjadi Permaisuri Kekaisaran.
Winter senang, Catharina sama sekali tak waspada padanya dan mengira ia sudah dijinakkan. Padahal minuman yang baru saja diminum Catharina adalah minuman yang sibuat dari bahan terlarang. Winter mendapatkan itu dengan harga yang mahal, karena seseorang yang meminum minuman itu akan kehilangan akalnya dan bahkan tak mengenali dirinya sendiri. Winter terpaksa membuat Catharina demikian, agar bisa diam-diam mengasingkan Catharina. Ia berencana menyerang balik Baron Rosaro tanpa mengibarkan bendera perang.
Tidak hanya Catharina yang diberikan minuman terlarang itu, tetapi Erwan juga. Erwan justru lebih dulu meminumnya daripada Catharina, dan efeknya sudah terlihat. Erwan yang biasanya selalu kompeten. Untuk pertama kalinya melakukan kesalahan dan beberapa kali mengulangi kesalahan itu. Bahkan Erwan pernah juga bertingkah aneh, tapi Winter membiarkannya saja. Karen Ia tahu akan seperti apa Erwan setelah meminum minuman yang terbuat dari bahan terlarang itu.
***
Malam harinya. Ellena berdiri dibalkon kamarnya menatap taman mawar di bawah sinar bulan. Angin berembus menerpa wajahnya dan membuat rambutnya yang terurai berantakan. Ia menatap sinar bulan, dan tiba-tiba memikirkan Winter.
"Dia sedang apa, ya? apa dia baik-baik saja? sudah berapa lama aku tak melihatnya ... " batin Ellena.
Ellena tidak sadar akan keberadaan Winter yang sedang mengawasinya di bawah, dari balik pohon. Malam. Itu Winter datang untuk memastikan keadaan Ellena, dan ternyata Ellena baik-baik saja. Winter senang, melihat Ellena tersenyum cantik dan tidak mengerang kesakitan seperti malam sebelumnya.
"Sebaiknya aku pergi. Dia terlihat baik,baik saja dan sudah pasti tidak membutihkanku," Batin Winter. Yang berbalik dan langsung pergi.
__ADS_1
Ellena mengerutkan dahi melihat seseorang mirip Winter pergi menjauhi pohon di dekat taman mawar. Ellena yang penasaran pun segera pergi dari balkon menuju taman bunga mawar. Ia ingin memastikan ia sungguh melihat Winter, atau hanya halusinasinya saja.