
Ellena berbaring di tempat tidurnya di temani Winter yang duduk di tepi tempat tidur. Winter memegang erat tangan Ellena, wajahnya tampak sangat khawatir.
"Ellena ... apa kau baik-baik saja? Ingin kupanggilkan Dokter?" tanya Winter.
"Tidak perlu. Aku tidak merasa sakit. Tadi aku mimpi buruk dan terkejut saja," jawab Ellena.
"Kau yakin?" tanya Winter menyakinkan.
Ellena menganggukkan kepala, "Ya ... " jawabnya pelan.
"Baiklah. Untuk jaga-jaga aku akan menemanimu. Tidurlah lagi," kata Winter. Membenahi selimut Ellena.
"Winter ... " panggil Ellena memegang tangan Winter.
"Ya? kau perlu apa? minum atau ingin sesuatu mungkin?" tanya Winter.
"Aku mau mengatakan sesuatu. Mau dengar?" tanya Ellena.
Ellena merasa, jika ia harus segera mengungkapkan yang sebenarnya pada Winter. Jika ia juga mengulang waktu, sama seperti Winter. Meski seharusnya ia melakukannya lebih awal, tapi masih belum terlambat untuk menceritakan semuanya.
Winter mengusap wajah Ellena, "Katakan, ada apa?" tanya Winter dengan suara lembut.
__ADS_1
"Sebenarnya ... mmh ... itu, sebenarnya aku sama sepertimu. Aku mengulang waktu. Jika kau merasa yang berbeda dariku setelah kau pulang berperang, itu karena aku tak ingin menjalani kehidupan yang sama seperti kehidupan pertama. Kehidupan kedua, aku bermaksud untuk melakukan apa saja yang kusukai. Asalakan aku tak terbunuh olehmu. Dan tadi ... aku bermimpi buruk, mimpi pada saat kau menghunus pedangmu keperutku. Hiks ... " jelas Ellena menangis.
Winter terkejut, "Apa? kau juga mengulang waktu?" gumam Winter seolah tak percaya.
"Maaf, aku bukannya ingin menyembunyikan hal ini darimu. Tapi kan kau tahu, sulit bagiku menceritakannya saat itu. Saat kau mengatakan, jika kau mengulang waktu. Saat itu aku sangat terkejut, dan hampir tidak percaya. Namun, setelah aku pikirkan, semuanya jadi masuk akal. Winter di kehidupan pertama dingin dan mengabaikanku. Dia hanya mementingkan satu wanita, yaitu Catharina. Setiap aku dan Catharina bertengkar, kau selalu mebela Catharina dan akan menyelahkanku. Sampai saat aku hendak mengatakan kebenaran, kau menikamku hingga aku meregang nyawa. " ucap Ellena menjelaskan.
"Ellena ... itu karena aku terpengaruh cuci otak. Sedangkan aku yang sekarang tak akan begitu. Aku tahu sulit bagimu memaafkanku, tapi aku berharap kau masih bisa memberiku kesempatan memperbaiki tindakanku dikehidupan sebelumnya. Aku bersalah, maafkan aku ... " kata Winter menunduk.
Ellena membelai lembut wajah Winter, "Kenapa jadi kau yang minta maaf? harusnya kan aku, karena aku tak berkata jujur padamu." kata Ellena.
Winter memegang tangan Ellena dan menggelengkan kepalanya, "Tidak Ellena. Akulah yang bersalah. Semua hal buruk yang terjadi padamu dikehidupan sebelumnya, itu karena aku yang terlampau bodoh sehingga dengan mudahnya diperdaya. Aku terlalu percaya apa kata Erwan dan tak menyangka, jika aku akan dipermainkan oleh orang terdekatku sendiri." kata Winter.
"Tidak apa-apa, Winter. Jujur aku memang takut kau akan membunuhku lagi dikehidupan kali ini. Dan karena itu sebisa mungkin aku menghindarimu, melakukan sesuatu semauku sendiri. Namun, sekarang semuanya telah terungkap. Dan kedua orang yang sebelumnya membuatmu jadi pembunuh sudah tak ada lagi. Yang lebih mengejutkan, kita tahu siapa dalang dibalik semuaya. Bukankah menurutmu ada hal baik yang dipetik? Dewa punya alasan, kenapa kau dan aku harus mengulang waktu." kata Ellena menjelaskan.
"Aku belum mengakui satu hal lain ... " kta Ellena melepas pelukan.
"Apa itu? sepertinya hal yang tak kalah pentingnya dari mimpimu," jawab Winter.
"Sebenarnya, aku menyukaimu. Baik itu dikehidupan pertama maupun dikehidupan kali ini, perasaanku tak berubah. Hmm ... aku ... " gumam Ellena.
"Apakah itu benar? kau menyukaiku?" tanya Winter dengan wajah serius.
__ADS_1
"Ya ... " jawab Ellena.
"A-apa dia marah? aku tidak tahu perasaannya seperti apa. Meksi dia pernah mengatakan kata-kata manis padaku, belum tentu dia memiliki perasaan yang sama denganku, kan? pernikahan ini hanyalah pernikahanku dengannya hanyalah pernikahan politik. Ahh ... rupanya aku sudah salah bicara." batin Ellena.
Tanpa sadar Ellena menghela napas panjang. Winter mengecup kening Ellena dan mengatakan kalau ia juga menyukai Ellena. Winter juga menyatakan perasaannya. Jika ia memanglah menyukai Ellena sejak sebelum menikah. Saat Ellena debut dipergaulan kelas atas. Hanya saja, ia memanglah tidak pandai mengekspresikan perasaannya.
Winter menceritakan, betapa cantik dan memesonanya Ellena saat itu. Sampai-sampai wajah Winter memanas karena ia malu sempat ketahuan mencuri pandang pada Ellena. Winter mengatakan, kalau ia juga tidak suka dengan para Tuan Muda bangsawan yang melirik Ellena. Ingin rasanya Winter menutup mata semua pria muda seumurannya yang lekat menatap Ellena.
Mendengar cerita Winter, Ellena pun tertawa. Ia tidak memperhatikan detail saat itu, karena ia hanya fokus pada pembicaraan para Lady yang sedang berkumpul untuk sama-sama merayakan hati kedewasaan. Ellena memgakui, saat itu memang banyak melihat Lady cantik menggemaskan dan para Tuan Muda yang tampan.
"Kau tak melihatku? padahal aku terus-terusan menatapmu," kata Winter menggerutu.
Ellena tersenyum mengusap wajah Winter, "Hm, entahlah ... Putra mahkota saat itu kan bersinar. Siapa yang tak melihat? Dan ... apakah sopan kalau seorang Lady menatap putra mahkota dengan lekat? yang bisa dilakukan bukankah hanya mencuri-curi pandang sesekali, karena aku cukup penasaran apa yang sedang putra mahkota perhatikan. Haha ... " jawab Ellena.
"Intinya, kau melihatku. Benar, kan?" tanya Winter.
Ellena menganggukkan kepala, "Ya," jawab Ellena.
"Kau tahu? Bagaimana perasaanku saat ini? aku sangat senang, jantungku terus berdegup. Dan aku tak bisa mengalihkan pandanganku darimu. Aku ingin menciummu, dari sini (mencium punggung tangan kanan Ellena) sampai sini (mencium lengan tangan) dan terus naik sampai sini (mencium bahu). Ellena ... boleh aku menciumu sampai puas? namun, aku tak yakin bisakah aku puas hanya dengan mencium?" tanya Winter.
Ellena hanya tersenyum cantik. Winter mendekatkan wajahnya dan langsung mencium Ellena. Kali ini Winter dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian melakukannya. Ia tidak mau membuat Ellena tidak nyaman. Ellena mengalungkan kedua tangannya, dan membalas ciuma Winter. Setelah mengungkapkan semuanya, hatinya terasa lega. Kini ia tidak memiliki apapun yang ia rahasiakan dari Winter. Ciuman keduanya semakin dalam. Winter mendorong tubuh Ellena berbaring. Ia melepaskan ciuman dan menciumi leher Ellena. Ciuman Winter mendarat di mana-mana, demikian tangannya yang sudah menyusup dibalik pakaian Ellena.
__ADS_1
Malam itu hal yang mereka dambakan terjadi. Malam pertama setelah pernikahan yang belum pernah terjadi karena Winter harus pergi berperang. Malam bermakna bagi suami dan istri, yang terlewatkan begitu saja karena banyaknya kendala yang ada, dan hal-hal yang tak diinginkan terjadi.