Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
43. Serangan Mendadak


__ADS_3

Ellena dan Winter berpamitan pulang. Ellena meminta Ayahnya mengabari, jika surat balasan dari Pamannya datang. Padahal setiap hari mereka bertemu selama dua minggu berturut, bahkan sesekali Ellena dan winter menginap karena lelah, jika harus pulang pergi dari istana ke kastel Grand Duke setiap harinya.


Ellena menatap sang Ayah, "Entah mengapa, rasaya aku tak ingin kembali. Namun, kemarin aku sudah menginap dan besok aku ada peninjauan. Jika saja besok tidak ada acara, aku akan menginap lagi malam ini," batin Ellena.


"Ada apa? mau menginap saja? Kita bisa kembali besok pagi-pagi sekali," kata Winter.


"Tidak bisa. Besok pagi aku tak boleh terlambat meninjau tempat yang akan digunakan untuk rapat besar." kata Ellena.


"Benar juga, rapat besar tinggal seminggu lagi. Aku sampai lupa karena terus fokus berlatih." kata Winter.


"Ada apa? Apakah butuh sesuatu?" tanya Erick melihat Anak dan menantunya berbisik-bisik.


"Tidak ada, Ayah. Baiklah, kami pergi dulu. Sampai jumpa lagi, Ayah. Paman juga ... " kata Ellena menyapa teman Erick.


"Ayah mertua, saya pamit." kata Winter.


Erick tersenyum, "Ya, Yang Mulia. Hati-hati di jalan," kata Erick.


Ellena dan Winter berjalan keluar kastel. Di depan sudah ada kereta kuda berlambangkan Kekaisaran menunggu dengan dua kusir kuda. Satu kusir turun membuka pintu, Winter mempersilakan Ellena masuk lebih dulu, baru ia menyusul naik ke dalam kereta. Tidak beberapa lama kereta kuda berjalan meninggalkan kastel Grand Duke.


***


Malam harinya. Saat Erick dan temannya makan malam bersama, tiba-tiba pelayan rumah berlarin masuk menemui Erick, pelayan pria itu segera mendekat dan berbisik. Erick terkejut, dengan apa yang dikatakan palayan.


"Di mana dia?" kata Erick mengerutkan dahi.


"Beliau di ... " kata-kata pelayan itu terhenti saat tiba-tiba seseorang mengenakan jubah dan bertudung masuk ke dalam ruang makan.


"Aku di sini," kata seseorang itu.


"Hei, siapa kau? Apa kau tak punya sopan santun!" sentak teman Erick kesal melihat tamu tak diundang datang.


"Begitukah ... mengunjungi teman lama juga perlu sopan santun, Erick?" kata seseorang itu membuka tudung kepala.


Erick melebarkan mata, "Sebastian ... " gunam Erick kaget.

__ADS_1


"Kau terkejut? tak menyambutku untuk duduk?" tanya Sebastian.


"Perlukah itu? untuk apa kau datang malam-malam begini?" tanya Erick.


"Kau masih tidak berubah, Tuan. Ah, sekarang kau bukan Tuan Muda, melaikan Tuan Besar, ya. Apa aku juga harus memanggilmu Tuan Grand Duke?" kata Sebastian seolah mengejek Erick.


"Jangan membuatku bertanya dua kali, Sebastian. Katakan apa maumu?" tanya Erick, masih bersabar menghadapi Sebastian.


"Baik, baik. Aku akan katakan tujuanku datang. Aku ingin membawamu bersamaku. Ayo, kita bekerja sama, Tuan Grand Duke." ajak Sebastian.


Erick tersenyum, "Bekerja sama untuk apa? apa kau pikir aku akan melakukannya? aku tidak tertarik berurusan dengan pemberontak. Pergilah, aku akan anggap kau tak pernah datang." kata Erick.


Sebastian tersenyum, "Begitu, ya? Padahal aku datang baik-baik, tapi kau tak menerimaku dengan senang hati rupanya. Baiklah, aku tak punya pilihan selain meratakan kastel ini, kan? Hahaha ... " kata Sebastian.


"Jangan gila kau!" sentak Erick marah.


Sebastian menatap Erick dan tersenyum lebar, "Sudah terlamabat, teman." kata Sebastian.


Tidak beberapa lama terdengar suara jeritan-jetitan diikuti suara-suara lain. Dan sebagian kastel sudah dihancurka. Sebastian tertawa melihat situasi yang kacau. Tiba-tiba teman Erick menyerang Sebastian.


Teman Sebastian tak menghiraukan Erick berteriak. Karena Sebastian seorang penyihir, tentu saja ia bisa langsung melakukan serangan jarak jauh. Dan Sebastian langsung menghabisi nyawa teman Erick itu.


"Tidak ... Elliot! Tidak ... " teriak Erick berlari menghampiri temannya yang terkapar meregang nyawa.


Sebastian senang, ia bisa melihat wajah sedih Erick setelah sekian lama. Wajah itulah yang Sebastian rindukan.


"Kau ... kau mengulang kesalahan yang sama, Sebastian. Dewa pasti akan menghukummu!" kata Erick marah.


Sebastian berjalan mendekati Erick, "Kau bilang apa? Dewa akan marah? kau pikir aku peduli dengan itu?" kata Sebastian berbisik.


"Enyah!" sentak Erick.


Melihat kemarahan Erick, Sebastian sangat senang. Ia semakin ingin menghancurkan semua yang dimiliki Erick. Sebastian memerintah orang-orangnya untuk meratakan kastel dan membunuh semua orang. Erick yang tidak terima terpaksa melawan Sebastian. Sayangnya ia hanya bisa melakukan sihir-sihir biasa saja karena memang mananya sudah hancur.


"Hahahaha ... kau bergurau? kau mau menyerangku dengan sihir yang biasa anak-anak gunakan? Ckckck ... kau menyedihkan sekali, teman. Kau bahkan tak bisa membanggakan diri lagi sebagai penyihir terhebat." kata Sebastian.

__ADS_1


"Tutup mulut busukmu. Aku tidak peduli, mau kau mengataiku apa. Aku memang lemah, tapi aku masih punya harga diri. Aku bukan pencuri sepertimu." kata Erick.


Sebastian rupanya mulai kehilangan kesabarannya. Setelah tersenyum, tiba-tiba menyerang Erick dengan sihirnya. Membuat Erick terpelanting ke lantai. Sebastian mendekati Erick yang tersungkur di lantai, dia mencekik leher Erick.


"Semakin lama, kau semakin membosankan, ya. Sayang sekali, aku tak bisa langsung membunuhmu. Karena aku harus memancing putrimu datang menyelamatkanmu. Setelah aku mendapatkan putrimu, aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit." kata Sebastian.


Erick melebarkan mata, "Ja ... ngan sentuh pu-putriku, si ... alan!" gumam Erick.


Sebastian langsung mengangkat Erick dan melempar Erick ke dinding. Ia kesal dikatai oleh Erick. Sebastian masih melihat Erick bergerak, ia lantas menginjak punggung Erick sampai Erick muntah darah.


"Kau masih tetap tangguh, Erick. Aku senang kau tidak lemah dan langsung mati. Hahaha ... " kata Sebastian.


Sebastian semakin kuat menginjak Erick. Membuat Erick tidak bisa bernapas. Erick terus bertahan, dalam pikirannya hanya memikirkan Ellena. Erick tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada putri kesayangannya itu.


"Ellena ... Ellena ... " panggil Erick dalam hatinya.


Karena tidak sanggup lagi bertahan, Erick pun pingsan. Sebastian memerintah orangnya membawa Erick ke kereta kudanya dan membereskan semua mayat. Sebastian juga membawa semua mayat dari kastel ke tempat penelitianya. Ia ingin menjadikan mayat-mayat itu seorang mayat hidup yang nantinya ia akan gunakan untuk menyerang kekaisaran. Mayat hidup ciptaan Sebastian tak akan mudah terbunuh hanya dengan senjata. Mayat hidup akan kembali hidup setelah mati. Akan benar-benar mati, jika tubuhnya dihancurkan. Yang tahu kebenaran itu hanyalah Ellena, karena Ellena sudah pernah menghancurkan mayat hidup ciptaan Sebastian. Dan karena itulah Sebastian takjub akan sosok Ellena. Sebastian dan orang-orangnya pun pergi meninggalkan kastel.


***


Ellena yang terlelap tidur, tiba-tiba terjaga. Ellena bermimpi buruk. Wajahnya seketika pucat, dan keringat bercucuran. Ellena belum pernah bermimpi buruk selama ia kembali mengulang waktu. Ia pun ketakutan dan panik memanggil Janette. Namun, panggilannya tak ada jawaban


"Jane ... kau di luar? Janette ... " panggil Ellena.


Ellena mengerutkan dahi, "ke mana dia? apa dia pergi?" gumam Ellena gemetar.


Ellena pun turun dari tempat tidur. Ia berjalan keluar dari kamar. Ia tidak melihat siapapun di istananya, dan itu semakin membuatnya ketakutan. Ia kembali teringat akan mimpi buruknya, mimpi di mana Winter menghunuskan pedang ke arahnya.


"Tidak! itu cuma mimpi. Tidak!" gumam Ellena.


Tiba-tiba Winter muncul dan kemunculan Winter mengejutkan Ellena. Sampai-sampai Ellena berteriak karena keget.


"A-ada apa? ini aku, suamimu, Winter." kata Winter.


Melihat yang datang Winter, Ellena langsung menghela napas lega. Kakinya langsung lemas dan Ellena hampir jatuh. Beruntung Winter langsung menangkap tubuh Ellena dan menggendong Ellena kembali ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2