
Ellena mengusap kepala Winter dengan lembut. Ellena mengatakan, kalau ia baik-baik saja. Meminta Winter untuk tidak khawatir berlebihan.
"Jika sakit, aku akan langsung memberitahumu." kata Ellena.
Winter menatap Ellena, "Kau tahu, aku sangat khawatir saat kau tidak ada di kamarmu tadi. Aku mencarimu ke seluruh istanamu dan kata salah satu pelayanmu kau tiba-tiba keluar menuju istana Dandelion. Aku langsung berlari ke istana Dandelion dan berharap kau baik-baik saja. Saat datang aku justru melihatmu menghadang serangan Catharina." kata Winter.
Ellena tersenyum cantik, "Wah ... Yang Muliaku keren sekali." puji Ellena.
Winter mengerutkan dahi, "Aku tidak sedang bergurau, Ellena." kata Winter.
"Aku juga tidak bergurau. Aku serius memujimu," kata Ellena.
"Karena kau terluka, kita akan tunda jadwal hari ini. Kita akan melihat Erwan dan Catharina di lain hari." kata Winter.
Ellena menarik lengan baju Winter, "Kau bercanda denganku? Kau kan bilang akan membawaku hari ini. Dasar pembohong," kata Ellena memalingkan pandangannya.
Winter mengerutkan dahi, "Pembohong? Aku kau sebut pembohong? dari mananya aku berbohong, Ellena? Aku kan sudah mengatakan kita hanya me-nun-da bukan tak akan pergi sama sekali ke mengunjungi mereka." jawab Winter.
"Aku tidak peduli. Kau sudah berkata akan mengajakku, dan karena luka kecil ini kau menundanya. Itu hal tak masuk akal. Pergilah, aku tak mau melihatmu. Jangan katakan apa-apa padaku, karena aku tak mau mendengarnya." kata Ellena marah.
Winter manarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napasnya. Ia pun membelai wajah Ellena dan mencium kening Ellena.
"Istirahatlah sebentar, kita akan berangkat setelah ini. Bagaimana?" tanya Winter dengan suara lembut.
Ellena menatap Winter dan tersenyum cantik, "Ya ... " jawabnya.
"Dasar licik! sekarang kau pandai mengancam, ya. Kali ini akan kumaafkan," kata Winter.
Ellena tak menjawab, ia hanya tersenyum cantik menatap Winter. Ia senang karena sudah tahu kelemahan Winter. Melihat Ellena menatapnya dan tersenyum membuat Winter penasaran apa yang sedang dipikirkan Ellena.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Winter mengusap kepala Ellena.
"Entahlah. Apa, ya? hmm ... sepertinya aku memikirkan kalau aku sudah menemukan kelemahan sang Kaisar." jawab Ellena.
Winter tersenyum, "Dasar ... kau akan dihukum karena kejahatanmu mempermainkan hati dan perasaan Kaiasar, Permaisuri." kata Winter.
__ADS_1
Ellena pura-pura kaget, "Apa hukuman yang Anda berikan, Yang Mulia?" jawab Ellena.
Winter mendekatkan wajahnya ke wajah Ellena, lalu mengecup bibir Ellena lembut. Winter berkata, jika hukuman yang diberikan adalah mencium Ellena sepuasnya. Winter sengaja menggoda Ellena, hukuman itu hanya gurauan.
Ellena mengusap wajah Winter, "Akan kuterima dengan senang hati hukuman itu." jawab Ellena.
Pintu kamar Ellena diketuk, Bertha masuk dan membawakan obat yang sudah diseduh.
"Maaf, Yang Mulia. Sudah waktunya minum obat," kata Bertha.
Bertha mendekati Ellena dan Winter. Meihat Ellena kesulitan bangun, Winter membantu Ellena. Ia mengambil gelas berisi larutan obat dan memberikanya pada Ellena. Dengan bantuan Winter, Ellena langsung menghabiskan larutan obat tersebut.
"Bertha ... istirhatlah untuk hari ini. Kau pasti lela dan terkejut," kata Ellena.
"Saya baik-baik saja, Yang Mulia. Terima kasih atas kebaikan Anda." jawab Bertha.
"Apa pelayan sudah membersihkan istana Dandelion? pastikan kejadian kali ini tak terdengar sampai keluar, kau mengerti maksudku, kan?" kata Ellena.
"Saya mengerti. Saya sudah menutup mulut semua pelayan dan memperingatkan mereka semua. Anda tidak perlu khawwatir, yang Mulia." Jawab Bertha.
Ellena tersenyum, "Bagus. Pergilah ... hari ini aku dan Yang Mulia akan pergi berdua saja. Selagi kami tidak ada, kau tolong awasi istana dan langsung melapor kalau ada apa-apa." kata Ellena berpesan.
Bertha pun pergi meninggalkan kamar Ellene dengan membawa nampan berisi gelas kosong.
Winter membuka lemari, ia mengeluarkan jubah dan mengenakannya pada Ellena. Ia juga memasang tudung kepala agar wajah Ellena tak terlihat. Winter juga mengenakan jubah dan memasang tudung, ia menggandeng tanga Ellena pergi meninggalkan kamar. Mereka berjalan cepat menuju halaman belakang istana, karena kuda Winter sudah disiapkan di sana.
***
Dengan menunggai kuda, Winter dan Ellena pergi menuju tempat pengasingan Erwan dan Catharina. Catharina memeluk erat Winter, ia diminta Winter tidur dalam perjalanan dan akan dibangunkan saat sudah sampai.
"Winter ... " panggil Ellena.
"Ya? kau sudah bangun?" tanya Winter.
"Sudah. Apa masih jauh?" tanya Ellena.
__ADS_1
"Tidak. Sebentar lagi sampai," jawab Winter.
Tidak lama Winter dan Ellena yang menunggang kuda sampai di sebuah rumah. Winter kaget, saat melihat beberapa penjaga tergeletak tidak sadarkan diri di depan rumah. Winter turun dari kudanya, ia membantu Ellena turun dari kuda dengan menangkap Ellena.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ellena.
"Aku tidak tahu. Kenapa mereka malah tergelatak seperti ini?" jawab Winter.
Winter menggandeng tangan Ellena mendekati para penjaga yang tergeletak. Winter melihat wajah penjaga menghitam dengan mata terbuka, untuk memastikan apakah penjaganya masih hidup atau sudah meninggal, Winter menjulurkan tangan hendak memeriksa.
Ellene menepis tangan Winter, "Jangan, Winter. Berbahaya!" sentak Ellena.
"Ya? apa maksudmu, Ellena?" tanya Winter terkejut karena Ellena tiba-tiba menepis tangannya.
Ellena melihat sekeliling. Ia melihat satu per satu penjaga memiliki ciri-ciri kematian yang sama. Tanpa luka, tidak berdarah dan tubuh keempat penjaga menghitam. Dan yang lebih mengerikan, mayat para penjaga seolah mengering. Samar-samar Ellena merasakan energi gelap pekat, sampai bulu tangannya berdiri.
"Sihir terlarang. Seseorang telah menggunaka sihir terlarag," gumam Ellena.
"Ada apa Ellena? kau tampak khawatir," tanya Winter.
Ellena manarik lengan Winter untuk mundur, "Kita harus meninggalkan tempat ini, Winter. Di sini berbahaya. Aku bisa merasakan adanya energi kegelapan di sekitar sini. Kita tak boleh di sini, atau kita akan terjebak." kata Ellena.
Baru saja Ellena dan Winter berbalik, ingin pergi dari tempat itu, mereja dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang mengenakan jubah dan bertudung, tepat di hadapan mereka.
"Si-siapa kau?" tanya Ellena ragu-ragu.
Ellena mengerutka dahi, "Dia bau! di dalam tubuhnya penuh energi kegelapan. Tidak salah lagi, dialah pelaku yang sudah membuat para penjaga meregang nyawa." batin Ellena.
"Wuahh ... apa aku salah melihat? kau putri Erick dan Erren?" kata seseorang itu.
"Kau kenal Ayah dan Ibu?" tanya Ellena.
"Hahaha ... (tertawa keras) tentu saja. Karena aku adalah teman baik Ayahmu. Apa kita juga perlu berkenalan?" kata seseorang itu membuka tudung kepalanya.
Ellena dan Winter kaget, mereka melihat seorang pria dengan energi gelap pekat, mata merah menyala bak iblis kelaparan dan wajah yang sebagian menghitam. Winter dan Ellena saling bertatapan, mereka seolah saling bertanya siapa pria di hadapan mereka.
__ADS_1
Ellena menatap seseorang itu, "Siapa pria ini? kalau teman baik, apa mungkin ... (Ellena melebarkan mata) apa dia seseorang bernama Sebastian? orang yang memimpin pemberontakan dan membunuh Ayahnya sendiri? Dan dia pria yang melukai Ayah. Menghancurkan mana Ayah? batin Ellena marah.
"Ellena ... kenapa Ellena diam saja dengan tubuh gemetaran? dia terlihat marah," batin Winter.