
Ellena sampai di taman mawar. Ia melihat sekeliling taman, ia juga melihat di balik pohon yang sebelumnya dijadikan Winter tempat sembunyi. Ellena tidak menemukan siapa-siapa di sana. Entah mengapa, ia merasa kecewa.
"Padahal aku jelas melihatnya," gumam Ellena.
Ellena yang sedih berbalik dan hendak pergi. Tiba-tiba Winter datang dan memeluk Ellena dari belakang. Ellena kaget dan ingin meronta, tapi ia mencium aroma tak asing.
"Winter ... " gumam Ellena.
"Hm?" gumam Winter yang mendengar Ellena memanggilnya meski bergumam.
"Ya-yang Mulia. Anda ... ba-bagaiman bisa Anda datang kemari?" tanya Ellena.
"Memangnya aku tidak boleh datang melihat istriku?" tanya Winter.
"Bu-bukan begitu. Hanya saja ... " kata-kata Ellena terpotong oleh Winter.
"Aku merindukanmu, Ellena. Sangat ... kau tidak tahu saja, setiap saat aku memikirkanmu. Sampai aku tidak bisa fokus melakukan apa-apa. Aku benar-benar merindukanmu sampai hampir gila," kata Winter.
Ellena melepaskan tangan Winter yang melingkari perutnya dan berbalik menatap Winter. Ellena kaget, wajah Winter tampak kurus dan kusam. Sekitaran mata Winter pun menghitam.
"Wajah Anda ... Anda tidak istirahat dengan baik rupanya," kata Ellena mengusap wajah Winter.
Winter memegang tangan Ellena, dan mencium tangan Ellena. Winter mengatakan, kalau ia sama sekali tak bis tidur karena memikirkan Ellena.
"Apa kau sudah baik-baik saja? tidak ada yang sakit lagi, kan?" tanya Winter.
Ellena mengerutkan dahi, "Apa maksudnya sakit yang kualami saat menstabilkan mana? Ya, tiga hari aku mengalami sakit yang luar biasa mulai siang sampai tengah malam. Meski anehnya aku merasakan seseorang terus menjagaku dan membuatku hangat." batin Ellena.
Ellena menganggukkan kepala, "Ya, saya baik-baik saja." jawab Ellena.
"Baguslah. Aku langsung datang memastikan keadaanmu, dan aku melihatmu di balkon kamarmu. Hari-hari sebelumnya kan kau mengerag kesakitan. Aku sa ... "Winter menghentikan kata-katanya dan melebarkan mata. Ia tanpa sadar berkata yang tak seharusnya.
Ellena menatap Winter, "Apa di malam sebelumnya Anda juga datang melihat saya?" tanya Ellena.
Winter menggelengkan kepala cepat, "Tidak. Aku sibuk. Jadi, tidak ada waktu." jawab Winter dengan wajah memerah.
__ADS_1
Ellena mendekatakan wajahnya ke wajah Winter, "Jawab jujur, Yang Mulia. Anda tidak boleh berbohong," kata Ellena.
Ellena berkata, kalau ia merasakan seseorang menemaninya tidur di sisinya. Ia berpikir itu mimpi, tapi selama ia sakit, seseorang itu seperti terus menjaganya. Kalau memang mimpi, apakah adan mimpi bersambung? atau ia memimpikan mimpi yang sama setiap harinya?
"Itu Anda, kan? orang menemani saya Anda, kan?" tanya Ellena lagi.
Winter menghela napas panjang dan akhirya mengakui itu adalah dirinya. Winter menjelaskan, jika ia tidak bermaksud tidak sopan atau ingin melakukan sesuatu hal yang tidak disukai Ellena. Ia hanya ingin mrmbantu Ellena meringankan rasa sakit, meskipun hanya sedikit. Ia ingin Ellena merasa hangat dan bisa tidur dengan nyaman.
"Ma-maaf. Kau boleh marah dan menghukumku atas tindakanku." kata Winter menunduk.
"A-apa maksudnya? apa dia pikir aku akan marah karena dia diam-diam menyelinap dalam selimutku? itukan bukan masalah serius sampai dia harus meminta maaf seperti ini. Lagipula kita kan pasangan suami-istri." batin Ellena.
Ellena mengusap wajah Winter, "Yang Mulia ... saya tidak marah. Saya hanya bertanya saja. Apa yang menbuat Anda berpikir saya akan marah?" tanya Ellena.
Winter menatap Ellena, "Entahlah. Kau terlihat tidak suka padaku saat aku mendekatimu." jawab Winter.
Ellena melebarkan mata, "Itu karena aku takut akan kau bunuh lagi dikehidupan kali ini. Dan lagi aku sudah tahu alasanmu melakukannya dikehidupan pertama, jadi aku tak mempermasalahkannya lagi." batin Ellena.
"Maaf, kalau Anda merasa tidak nyaman dengan sikap saya sebelumnya. Sekerang saya baik-baik saja, saya juga tidak merasa tidak nyaman dengan Anda." kata Ellena.
"Benarkah? jadi, sekarang aku boleh mendekatimu?" tanya Winter.
Winter tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Ellena sampai dahi keduanya saling bersentuhan. Winter mendekatkan hidungnya, ia menatap Ellena yang memejamkan mata karena berpikir Winter akan menciumnya.
Winter tersenyum, "Kenapa menutup mata? memangnya apa yang akan kulakukan?" tanya Winter.
Ellena kaget dan langsung membuka mata, "Ya? sa ... " ucapan Ellena terhenti karena Winter tiba-tiba menciun bibir Ellena.
Ellena melebarkan matanya, lalu memejamkan matanya. Ia mengalungkan dua tangannya ke leher Winter. Tidak mendapat penolakan, Winter memeluk pinggang ramping Ellena dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya menahan tengkuk leher Ellena. Ia semakin memperdalam ciumannya. Tidak lama kemudian, ciuman terlepas, Winter mengusap wajah Ellena dan mencium kening Ellena dengan penuh perasaan.
"Apa kau tidak menyukainya?" tanya Winter.
Ellena menatap Winter bingung, "Me-nyukai apa?" taya Ellena.
"Ciumanku. Apa ciumanku buruk?" tanya Winter lagi.
__ADS_1
"Tidak, tidak buruk. Saya menyukainya," jawab Ellena dengan wajah memerah.
"Begitu, ya. Berarti aku boleh menciummu lagi? aku sangat ingin menciumu dan memelukmu sampai matahari terbit esok." kata Winter.
Ellena tersentak, "Ya-Yang Mulia." kata Ellena malu.
Winter tersenyum, ia senang menggodai Ellena. Winter memegang tangan Ellena, lalu mencium punggung tangan Ellena bergantian.
"Aku hanya menggodamu saja. Aku datang karena memang ingin memastikan keadaanmu dan aku harus pergi karena ada urusan." kata Winter.
"Anda sudah mau pergi? sekarang?" tanya Ellena seolag tak rela.
"Ya, aku harus menemui seseorang." jawab Winter.
Ellena terdiam. Wajahnya muram. Melihat wajah muram Ellena, Winter sedih dan bertanya apa ada yang Ellena inginkan? Ellena tanpa ragu menjawab, kalau ia ingin bersama Winter.
Ellena memeluk Winter, "Aku mohon ... jangan pergi." kata Ellena.
Winter kaget. Untuk pertama kalinya ia mendengar Ellena memohon dan bicara tidak formal padanya. Winter mengeratkan pelukannya dan berbisik, kalau ia tidak akan pergi.
Ellena menatap Winter, "Jangan bergurau ... " kata Ellena.
"Aku sungguh-sungguh. Aku tidak akan ke mana-mana. Dan akan terus bersamamu. Jadi, kau mau membawaku ke mana?" tanya Winter.
"Karena di luar dingin. Bagaimana kalau kita ke kamar saja," ajak Ellena.
"Kau serius? mau tanggung semua akibatnya?" tanya Winter.
"Apa maksudnya?" tanya Ellena tak mengerti. Karena maksud Ellena hanya ingin mengajak Winter ke kamar agar bisa mengobrol santai dan menghabiskan waktu bersama Winter.
"Kau mengajakku ke kamar. Kau harusnya tahu apa artinya. Seorang wnaita dewasa, mengajak pria dewasa ke kamarnya. Kira-kira apa yang akan terjadi? tidak mungkin kan kau berpikir hanya ingin mengobrol denganku sepanjang malam?" jawab Winter menjelaskan.
Ellena meganggukkan kepala, "Ya, itulah yang aku maksud. Kita tidak mungkin mengobrol di bawah pohon dengan cuaca dingin seperti ini, kan?" sahut Ellena.
Winter memijat dahinya, "Wanita ini benar-benar membuatku hilang akal." batin Winter.
__ADS_1
Ellena menatap winter, "Ka-kau tidak mau?" tanya Ellena bergumam.
Winter tidak menjawab, ia langsung menggendong Ellena dan membawa Ellena ke balkon kamarnya. Mereka masuk lewat balkon agar tak mengganggu penghuni kastel yang tidur di lantai bawah.