Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
17. Mengulang Waktu-2 [Winter]


__ADS_3

[Winter]


Aku tahu apa yang dipikirkan Ellena saat berjalan bersamaku menuju taman. Bibirnya memang tak bersuara, tapi wajah dan gerakan tubuhnya seolah memberitahuku, jika wanita ini sedang resah. Seperti tak nyaman denganku. Wajar baginya seperti itu, karena aku tiba-tiba mengajaknya bicara dan jalan-jalan, padahal aku tak seperti ini sebelumnya. Jujur aku merasa sangat bersalah pada Ellena. Ribuan kali kata maaf, jika kuucapkan padanya sambil berlutut pun tak akan menghapus rasa kecewanya padaku.


Saat aku dan Ellena berada di taman mawar, di istanaku. Aku melihatnya terdiam, lalu bertanya sesuatu yang mengejutkanku. Ia bertanya, kenapa aku tak datang menemuinya pada malam pernikahan? dan kenapa keesokan harinya saat pergi ke medan pertempuran  aku tak berpamitan? Ini aneh. Bukankah dia berkata pada Erwan kalau dia tak mau ditemui? akupun sudah menyampaikan pada Erwan, untuk membantu Ellena selama aku tidak ada. Aku juga menitipkan pesan untuk menyampaikan kepergianku, juga permintaan maafku.  Karena aku tak mau Ellena salah paham, aku pun mengatakan yang sebenaarnya padanya. Barulah aku tahu, ternyata Ellena tak mendapatkan pesanku. Dan yang lebih mengejutkan adalah, Erwan membohongiku dengan mengatakan kalau Ellena tak mau ditemui. Ellena terdlihat sedih, akupun merasa sangat bersalah. Benar kata Carlos, seharusnya aku datang meski Ellena melarang. Seharusnya aku menemuinya dan berpamitan langsung. Ellena mencurigai Erwan punya maksud dan tujuan dengan berbohong. Dan dia bertanya padaku tentang Erwan. Tentu saja aku tak bisa mengatakan yang sesungguhnya, jika Erwan adalah seseorang yang jahat dan kejam, yang bisa  membunuh seorang Kaisar. Aku berkata Erwan adalah seseorang yang cepat tanggap dan giat bekerja, karena itulah kenyataan yang ada. Dia bagsawan berkemapuan, tapi ternyata sangat licik dan haus akan kekuasaan. Sejujurnya Erwan adalah keponakan Ibu, yang artinya dia adalah sepupuku. Hanya saja tidak


Sialnya Catharina datang di saat tidak tepat, membuat Ellena pergi dan aku harus berduaan dengan wanita tidak jelas  bernama Catharina. Pandanganku lekat menatap kepergian Ellena, sayang sekali rasanya kita hanya bicara sebentar. Selepas kepergian Ellena, aku harus dihadapkan dengan kenyataan untuk mendengar omong kosong Catharina. Ya, dia mengadu kalau ia merasa bosan dan jenuh. Tanpa disebutkan pun aku tahu maksudnya. Apa dia berpikira aku akan menuruti perkataannya? tidak semudah itu setelah aku tahu maksud dan tujuan sebenarnya dia mendekatiku. Aku berusaha memendam amarahku dan kekesalanku agar aku tak murka padanya. Karena aku sudah muak, aku mengatakan ia boleh pergi jalan-jalan keluar dan melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuhnya. Aku beralasan kalau aku sedang sakit kepala, dan ingin istirahat. Aku minta ia untuk kembali ke istana tempatnya tinggal dan istirahat. Untuk sekarang aku harus bersikap baik dan menunjukkan sisi bodohku, agar dia terpancing dan menunjukkan kelemahannya. Tak ada yang lebih baik, dengan berpura-pura bodoh, padahal aku tahu jalan cerita yang akan mereka buat.


***


Keesokan harinya. Ellena berpamitan pergi ke kediaman Grand Duke. Aku mengiakan dan bertanya kapan dia akan kembali. Dia mengatakan, kalau ia akan menetap di kastel Ayahnya selama seminggu. Aku cukup kaget, tapi aku tak melarangnya. Biarlah ia melakukan apa ia  inginkan. Ellena menatapku dalam penuh arti, tapi aku tak bisa mengatakan apa-apa selain memintanya untuk berhati-hati.

__ADS_1


Tak lama setelah kepergian Ellena, aku memanggil Carlos dan memintanya pergi ke kastel Grand Duke setelah urusannya selesai. Aku ingin Carlos mengawal Ellena, karena bisa saja sesuatu hal terjadi tanpa diharapkan. Carlos langsung mengiakan perintahku dan pergi untuk menyelesikan tugasnya melatih para prajurit Kekaisaran.


Aku harap Ellen baik-baik saja. Karena aku tidak akan bisa mengawasinya langsung. Yang harus aku lakukan adalah menyelesaikan pekerjaanku dan memikirkan cara mencegah masa depanku yang suram. Apa yang harus aku lakukan untuk menghindar dari pengaruh cuci otak Catharina? kalau sampai aku melakukan kesalahan yang sama, apakah aku akan sanggup menanggung akibatnya? aku tak boleh membunuh Ellena. Aku cukup melakukannya dikehidupan sebelumnya saja. Aku juga harus menghindari kematian tragisku di tangan Erwan.


***


Tiga hari berlalu begitu saja. Hariku terasa hampa tanpa Ellena. Wanita itu tak memberi kabar ataupun surat. Hanya balasan surat saat aku mengirim Carlos yang datang, itupun isi suratnya singkat, padat dan jelas. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku hari ini, karena aku berencana menyelinap pergi keluar istana nanti malam.


"Saya telah menyekap penjual ramuan itu. Dan saya titipkan pada salah seorang penduduk. Setelah ini saya berencana mengurusnya. Saya harap Anda mendengar baik-baik perkataan saya, aagr Anda menghindari sementara Lady Catharina dan Tuan Erwan agar tidak terjadi masalah." kata Carlos.


"Aku mengerti. Pergilah dan tolong urus penjual ramuan itu. Apapun yang terjadi, suruh dia buka mulut tentang ramuan itu dan cari tahu juga penawarnya. Kalau tak mau buka mulut, kau boleh lakukan kekerasan padanya sampai batas tertentu. Kuserahkan dia padamu, Sir Wishtone." kataku memerintah Carlos.

__ADS_1


"Saya menerima perintah Anda, yang Mulia. Saya pamit undur diri," kata Carlos.


Carlos pun berlalu. Dan aku segera pergi meninggalkan Perpustakaan menuju ruang kerjaku menyelesaikan pekerjaanku yang sempat kutunda karena aku lelah berhadapan dengan tumpuka dokumen.


Dan malam harinya ...


Aku menyelinap masuk kastel Grand Duke. Aku langsung ke balkon kamar Ellena dan mengetuk jendela kamar Ellena. Cukup lama aku menunggu dan jendela baru dibuka Ellena. Melihatku datang, Ellena terkejut.  Melihat Ellena, rasanya aku kembali hidup. Rasa lelah, letih dan penantku seketika menghilang. Aku memeluknya, dan tanpa sadar aku mengeratkan pelukan membuatnya sesak. Aku pun melepaskan pelukan dan meminta maaf padanya.


Ellena bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak? dan apakah dua orang jahat, Catharina dan Erwan memberiku minuman atau tidak. Dia tampak khawatir. Aku menenagkannya dan mengatakan aku tak menerima minuman dari mereka. Ellena terlihat langsung lega begitu aku menjawab "tidak".  Aku mendengarnya mengomel, ia memperingatkanku dan mengataka aku harus mengikuti perkataannya. Aku pun menjawab dan mengiakan semua perkataannya.


Ellena terdiam, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan menempelkan dahiku ke dahinya, aku merasa suhu tubuhnya hangat. Aku berpikir ia sedang sakit, karena wajahnya juga merona. Namun, Ellena dengan tegas mengatakan ia baik-baik saja. Dia lantas memintaku pergi, padahal aku baru saja datang, dan belum puas melihatnya. Aku menggodanya, aku langsung melepas jubah yang kukenakan dan berbaring di tempat tidurnya. Aku berkata aku akan pergi setelah melihat Ellena pergi. Begitulah, sampai akhirnya aku benar-benar pergi setelah ia terlelap tidur. 

__ADS_1


"Aku akan mempertaruhkan semuanya untuk melindungimu, Ellena. Sebelumnya aku memang bersalah dan membuatmu menderita sampai aku dengan teganya menghunus pedangku padamu. Dikehidupan kali ini, izinkan aku menebus dosaku." kataku dalam hati.


__ADS_2