Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
36. Catharina Menggila


__ADS_3

Keesokam harinya. Bertha mengetuk pintu kamar Ellena dengan tergesa-gesa. Ellena yang terlelap pun terjaga ia perlahan bangun dan duduk. Winter yang tidur disamping Ellena juga terjaga, tapi masih berbaring.


"Ada apa?" gumam Winter.


"Entahlah ... " jawab Ellena.


"Siapa?" teriak Ellena menatap pintu.


"Ya-yang Mulia, ini Bertha." jawab Bertha.


Ellena segera turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Ia melihat Bertha berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir.


"Bertha ... " panggil Ellena.


"Yang Muli Permaisuri. Yang Mulia ... itu ... Lady Catharina ... " kata Bertha panik.


Ellena menepuk bahu Bertha, "Atur napasmu dulu, Bertha. Baru bicara pelan-palan," kata Ellena.


Bertha mengatur napasnya pelan-pelan. Tiba-tiba Winter muncul dan bertanya apa yang sedang terjadi? Bertha kaget, ia tidak tahu kalau Winter ternyata bermalam di istana Ellena.


"Sa-salam Yang Mulia Kaisar. Maaf sudah membuat keributan," kata Bertha.


"Tidak apa-apa. Ada apa? kenapa kau terlihat panik?" tanya Winter.


"Itu, Lady Catharina baru saja mengamuk. Saya sudah mencoba menenagkan beliau, tapi beliau semakin marah dan menghancurkan semua barang." kata Bertha.


"Panggila kusir, sudah tiba waktunya membawanya pergi." Perintah Winter.


"Baik, Yang Mulia." jawab Bertha yang langsung bergegas pergi meninggalkan Ellena dan Winter.


"Apa dia akan kau bawa ke tempat yang sama dengan Erwan?" tanya Ellena pada Winter.


"Ya," jawab Winter.


"Apa aku boleh melihat mereka?" tanya Ellena


"Boleh saja. Nanti kita pergi bersama. Kau bersiaplah, aku juga akan kembali ke istana mawar." kata winter mengecup kening Ellena dan langsung pergi.


Ellena diam beberapa saat, sebelum akhirnya ia menutup pintu kamarnya dan bersiap-siap untuk melihat apa yang terjadi pada Catharina.


***

__ADS_1


Ellena berada di istana Dandelion. Ia melihat banyak pelayan sibuk bersih-bersih dan merapikan barang-barang yang berserakan.


"Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa kacau begini?" batin Ellena.


Melihat Ellena datang, semua palayan menggentikan pekerjaan mereka dan memberi salam. Ellena menerima salam dari pelayan, dan meminta para pelayan kembali bekerja. Ellena pergi mencari keberadaan Bertha, tapi ia tak menemukan Bertha di manapun.


Sampai Ellena mendengar suara gelas pecah dari kamar Catharina. Ia buru-buru berjalan ke arah kamar dan membuka pintu kamar. Ternyata Bertha ada di kamar bersama Catahrina.


"Bertha ... " panggil Ellena.


"Ya-yang Mulia ... " panggil Bertha kaget saat tahu yang membuka pintu adalah Ellena.


"Apa yang terjadi?" tanya Ellena menatap Catharina yang sudah memporak porandakan seisi kamar.


"Tidak tahu, Yang Mulia. Tadi pagi saat saya ingin membangunkan Lady, dan Lady sudah seperti ini. Saya berniat mengobati luka di tangan Lady, tapi Lady menolak dan semakin marah." jelas Bertha.


Ellena mendekati Catharina yang duduk di lantai dengan masih mengenakan pakaian tidur. Ellena melihat lengan Catharina terluka, kemungkinan Catharina melukai diri sendiri tanpa sadar.


"Lady ... Anda mendengar saya?" tanya Ellena.


"Lady ... " panggil Ellena lagi.


Karena tak ada jawaba. Ellena lantas menepuk bahu Catharina. Rupanya hal itu membuat Catharina kaget dan seketika menyerang Ellena. Catharina hendak menikam Ellena dengan pisau kecil yang ternyata sedari tadi dipegangnya. Untung saja Ellena segera menghindar, dan pisau yang dibawa Catharina hanya menggores lengannya.


"Yang Mulia ... tidaaak!" seru Bertha.


Bertha kaget, dan berteriak. Ia tidak sangka Catharina memegang pisau dan hendak mencelakai Ellena.


"Sial! hampir saja aku tertikam. Bisa-bisanya wanita ini memegang benda berbahaya," batin Ellena.


Ellena melihat Catharina menatap ke arahnya dengan tatapan penuh amarah. Catharina kembali menyerang Ellena, dan Ellena langsung menepis pergelangan tangan Catharina sehingga pisau yang dipegang Catharina jatuh. Ellena menendang pisau itu ke arah Bertha. Meminta Bertha segera menyingkirkan pisau itu dan memanggil penjaga. Bertha segera pergi, ia berlari mencari bantuan.


Ellena memegang dua tangan Catharina, "Tenagamu kuat juga, Catharina. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padamu. Namun, aku tak akan membiarkanmu mencelakaiku begitu saja," kata Ellena.


"Penyihir cantik ... hahahaha ... ada penyihir ... " kata Catharina tertawa lagi.


"Apa?" gumam Ellena mengerutkan dahi.


Ellena tidak mengerti maksud ucapan Catharina apa. Ia menganggap Catharina sudah hilang akal sepenuhnya. Tiba-tiba Winter datang dan berteriak memanggil nama Ellena.


"Ellena ... Ellena ..." panggil Winter.

__ADS_1


"Yang Mulia ... " panggil Ellena menatap Winter.


Winter terkejut, melihat Ellena yang memegang tangan Catharina seolah sedang melakukan pertahanan. Winter segera mendorong Catharina ke atas tempat tidur dan merengkuh Ellena.


"Ellena, kau tak apa-apa. Maaf, aku terlambat datang." kata Winter.


"Winter, aku tidak apa-apa. Aku ... ouchh ... " erang Ellena tiba-tiba karena ia merasakan rass perih dan nyeri di lengannya.


Winter kaget melihat luka dilengan Ellena, "Kau terluka? apa wanita sialan itu melukaimu?" tanya Winter.


"Aku akan jelaskan nanti, di mana penjaga? aku tadi minta Bertha memangil penjaga.


Tak lama Bertha datang bersama dua penjaga, dan Winter langsung meminta penjaga itu membawa Catharina ke kereta kuda yang sudah menunggu. Dua penjaga langsung memapah Catharina dari ataa tempat tidur. Mata Ellena dan Catharina bertemu. Lagi-lagi Catharina memanggil Ellena sebagai penyihir cantik, lalu tertawa keras.


"Cepat bawa dia!" sentak Winter.


"Baik, Yang Mulia." jawab dua penjaga bersamaan.


Dua penjaga membawa pergi Catharina. Winter langsung menggendong Ellena pergi dan meminta Bertha memanggil Dokter istana segera. Winter terlihat panik, ia melangkah cepat menuju istana Peony, istana Ellena tinggal.


***


Di kamar Ellena, Dokter istana memeriksa luka Ellena dan mengatakan, jika pisau yang melukai Ellena beracun. Winter tampak marah, bercampur kecewa. Sedangkan Ellena berusaha tenang, dan menahan rasa sakit.


"Seberapa berbahaya racunnya?" tanya Ellena.


"Karena langsung dikeluarkan, sudah tidak ada masalah, Yang Mulia. Anda bisa minum ramuan obat yang sudah saya resepkan dan membubuhkan bubuk obat sebelum luka dibalut." jawab Dokter.


"Begitu rupanya. Terima kasih, Anda sudah bekerja keras, Viscount James." kata Ellena.


"Ini adalah tugas saya sebagai Dokter istana, dan merawat Anda juga Yang Mulia Kaisar." jawab Dokter.


"Kau sudah bekerja keras, Viscount James. Kau bisa pergi dan istirahat," kata Winter.


"Terim kasih, Yang Mulia. Saya pamit undur diri," kata Dokter.


Dokter istana itu langsung pergi meninggalkan kamar Ellena. Winter menghela napas panjang, dadanya masih penuh sesak sampai-sampai ia ingin berteriak kencang.


"Aku tak akan mengampuni wanita itu!" batin Winter.


"Winter ... aku baik-baik saja. Jadi, bisakah kau tidak mamasang wajah seram seperti itu? kau membuatku takut," kata Ellena.

__ADS_1


Winter mendekati tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur, "Kau yakin baik-baik saja? katakan saja kalau kau merasa tubuhmu tak baik-baik saja," kata Winter panik.


Winter memegang tangan Ellena dan memendamkan wajahhya di tangan Ellena. Winter benar-benar takut, kalau sesuatu terjadi pada Ellena. Ia tidak mau kehilangan Ellena untuk kedua kali.


__ADS_2