
Jenette dan Carlos telah pergi, dan tak tahu kapan keduanya akan kembali. Untuk sementara Ellena akan dilayani oleh Mieta. Ellena terus bergelut dengan pemikirannya, ia berharap Janette tak terluka saat mencari informasi, begitu juga Carlos.
"Mieta ... " panggil Ella, menatap ke cermin.
"Ya, Yang Mulia. Ada perintah?" jawab Minta sekaligus bertanya apa yang Ellena butuhkan setelah memanggilnya.
"Besok mau pergi jalan-jalan denganku? ayo, kita ke pasar dan kepertokoan pusat. Kapan lagi aku bisa bersenang-senang kalau tidak sekarang," kata Ellena.
"Baik, Yang Mulia. Saya akan persiapkan kebutuhan Anda untuk esok. Apa ada yang perlu saya siapkan khusus?" tanya Mieta.
Ellena menganggukkan kepala dan tersenyum. Ia meminta Mieta menyiapkan gaun sederhana saja, karena ia akan menyamar sebagai rakyat jelata. Ia tidak mau membuat kehebohan dengan menunjukkan identitasnya sebagai seorang Permaisuri. Ellena menjelaskan singkat apda Mieta apa yang perlu dijelaskan dan Mieta pun mengerti.
Tujua Ellena keluar kali ini adalah, ia ingin pergi menemui seseorang kenalan. Dikehidupan pertamanya, seseorang itu merupakan teman pertama yang didapat Ellena setelah menjabat sebagai Permaisuri, tapi seseorang itu tak lama meninggal diracuni, dan itu adalah perbuatan Catharina.
"Meski ini belum waktunya kami bertemu, tapi aku akan menemuinya dulu kali ini. Seperti harapanku yang tak ingin Janette meninggal, aku juga tak mau Countess Izrel meninggal juga. Aku tak akan membuat cela untuk wanita ular itu menggangguku." batin Ellena.
Ellena mendapat kabar dari Istana, kalau Catharina mengadakan pesta teh lagi dan kali ini ia mengundang para Nona bangsawan. Ellena tahu apa tujuan Catharina melakukan itu. Supaya ia bisa mendominasi kelas atas meski hanya seorang putri Baron. Mau memerkan kalau ia adalah orang yang dibawa langsung oleh Kaisar seolah ia akan dijadikan selir.
"Haha ... " Ellena tertawa keras.
Mieta kaget. Mieta menatap Ellena sekilas dan merasa aneh. Ia pun gemetar ketakutan. Ellena memalingkan pandangan menatap Mieta dan meminta maaf. Ellena tak bermaksud menertawakan Mieta, ia mengatakan kalau ia sedang memikirkan sesuatu dan menertawaka seseorang lain.
"Maaf membuatmu terkejut, Mieta. Pergilah, dan sampaikan pada Ayah aku akan keluar untuk makan malam." kata Ellena memerintah.
__ADS_1
"Ba-baik, Yang Mulia. Saya permisi," kata Mieta yang langsung pergi.
Ellena tak habis pikir, apa yang dipikirkan Catharina sampai berlagak seperti simpanan dikehidupannya pertama. Apa mungkin karena Winter memenuhi semua keinginanya? atau Winter diancam? Tiba-tiba mata Ellena melebar, ia seperti memikirkan sesuatu.
"Jangan-jangan Winter dipaksa dan diancam oleh Baron Rosaro, sehingga ia mau tak mau mengabaikanku. Apa seperti itu? karena aku salah paham padanya, aku mengira dia mengabaikanku, padahal sebenarnya tidak. Kenapa aku jadi curiga Erwan ikut terlibat dalam rencana Baron Rosaro, ya? Aku harus menemukan kelemahan Baron Rosaro. Setelah aku genggam kelamahanya aku akan menghancurkan keluarga itu sampai rata dengan tanah. Beraninya mereka ... " gumam Ellena geram sambil menatap cermin di hadapannya.
Ellena tersadar kalau ia sudah harus keluar kamar untuk makan malam dengan Ayahnya. Ellena berdiri dari tempat duduknya dan pergi keluar dari kamar. Ia berjalan menuju ruang makan. Dalam perjalanan Ellena berpikir untuk mendekati orang-orang yang berhubungan baik dengan Baron Rosaro dan membujuk mereka semua dipihaknya, tentu saja dengan imbalan yang sangat besar dibandingkan imbalan yang ditawarkan Baron Rosaro.
"Ayah ... " sapa Ellena, saat melihat Ayahnya dari jauh.
Grand Duke menundukkan kepala memberi salam. Ellena mendekati Ayahnya dan berkata kalau di Kastel Geand Duke, ia bukanlah Permaisuri Kekaisaran, tapi Anak seorang Grand Duke. Ellena mengaku kurang nyaman saat Ayahnya harus bicara formal. Dan meminta untuk Ayahnya bicara santai karena ia ingin lebih akrab dengan Ayahnya. Meski sedikit keberatan dan setelah berkali-kali dibujuk, Grand Duke akhirnya mau menerima permintaan Ellena.
"Jadi, coba Ayah panggil namaku." kata Ellena.
Ellena kaget, ia merasa seolah ia kembali ke masa kecilnya. Di mana Ibunya masih bersamanya. Ellena menyeka air matany yang jatuh, ia berkata kalau ia senang Ayahnya memanggilnya dengan nama kecilnya.
"Oh, ya ... Ayah, besok aku dan Mieta akan keluar. Kami akan naik kereta kuda biasa, bukan kereta kuda yang ada lambang keluarga." kata Ellena.
Grand Duke menatap Putrinya, "Mieta sudah mengatakannya. Memangnya kau ke mana?" tanyanya.
"Melihat-lihat saja. Setelah menikah mana bisa aku pergi sesuka hati, bisa-bisa seluruh penghuni istana mencemohku Permaisuri tak beretika dan tak bertanggung jawab karena sering keluar tidak jelas." jawab Ellena.
"Ya, baiklah. Lakukan sesukamu. Ayah tidak akan melarangmu. Ucapanmu memang benar, setelah tinggal di Istana, pasti kau hanya akan menjadi burung dalam sangkar emas. Padahal kau sangat suka bepergian meski hanya berkeliling pasar dengan Janette. Bicara soal Janette, Butler bilang Janette dan seorang Kesatria pergi atas perintahmu. Apa ada sesuatu?" tanya Grand Duke.
__ADS_1
"Ayah belum tahu kabar beritanya?" tanya Ellena.
"Tentang Baron Rosaro yang nenyerahkan putrinya?" jawab Grand Duke.
"Apa maksud Ayah? menyerahkan apa?" tanya Ellena tak mengerti.
Grand Duke pun menceritakan apa yang diketahuinya pada Ellena. Mendengar cerita Ayahnya, Ellena mengerutkan dahi menahan rasa kesal.
"Apa Kaisar berniat mengangkat selir?" tanya Grand Duke.
"Kaisar berkata apa-apa. Kalaupun wanita itu menjadi selir, aku juga tidak peduli. Asalkan dia tak mengusikku." jawab Ellena.
"Jadi itu alasannya. Karena jasa perang rupanya. Bisa-bisanya Baron itu tidak punya rasa malu memberikan putrinya pada Winter? Satu per satu mulai kuketahui, mulai dari kebenaran tentang hubungan Winter dan Catharina, juga alasan Catharina masuk ke istana." batin Ellena.
"Apa yang kau pikirkan, Putriku? katakan pada Ayah kalau kamu merasakan sesuatu yang tidak nyaman." kata Grand Duke.
"Ayah, boleh aku bertanya? apakah Kelurga Baron Rosaro itu sangat berpengaruh? dan seberapa besar pengaruhnya?" tanya Ellena. Ingin tahu pandangan Ayahnya.
"Bisa dibilang cukup kuat. Baron Rosaro dulunya itu hanya rakyat jelata. Hanya seorang prajurit bayaran yang memenagkan perang. Karena berjasa, Mendiang Kaisar terdahulu memberikan gelar Baron, seorang istri dan wilayah kecil untuk wilayah kekuasaannya. Keunggulan keluarga Baron Rosaro adalah, mereka memiliki pasukan kuat yang terlatih. Bahkan pasukannya lebih kuat dibandingkan pasukan Kekaisaran karena Baron merekrut orang-orang dari anggota prajurit bayaran untuk bergabung dengannya. Dengan kata lain, dia memegang kendali untuk kekuatan. Karena itu juga Kaisar selalu memanggilnya kalau menghadapi perang besar. Hanya saja ... " tiba-tiba cerita Grand Duke terhenti.
"Hanya saja, apa?" tanya Ellena tak sabar.
"Tidak, tidak. Bukan apa-apa. Ayah mungkin sana salah. Bagaimanapun Ayah tak boleh mengatakan sesuatu hal buruk untuk pahlawan perang, kan. Jadi, lupakan saja." jawab Grand Duke.
__ADS_1
Ellena menatap Ayahnya dengan tatapan mata yang tajam. Ia tidak mengerti kenapa Ayahnya seolah ingin merahasiakan sesuatu darinya.