Menjadi Permaisuri Kejam

Menjadi Permaisuri Kejam
30. Sakit Yang Menyiksa


__ADS_3

Di Istana. Di ruang kerja Kaisar. Winter menerima surat dari Ayah Mertuanya. Surat itu diberikan Carlos langsung pada Winter saat menghadap. Sekalian Carlos ingin menyampaikan sesuatu hal penting yang sifatnya rahasia.


"Jadi, apa yang pembawa pesan sampaikan?" tanya Winter.


"Grand Duke mengatakan, kalau Yang Mulia Permaisuri masih ingin tinggal sekitar seminggu lagi di kastel. Anda boleh datang mengunjungi, jika tidak sibuk. Tentu saja Anda harus berkunjung secar sembunyi-sembunyi agar tak diketahui orang-orang istana." Kata Carlos.


"Hm, aku mengerti. Bagaimana dengan hal yang kuminta kau selidiki beberapa hari lalu?" tanya Winter.


"Itu hal yang sekarang ingin saya laporkan pada Anda. Silakan lihat daftar nama  ini, Yang Mulia." kata Carlos memberikam seoembar kertas pada Winter. "Ayah saya memberitahu, jika Baron Rosaro kemungkinan besar bekerja dibawah seseorang ini. Ayah mengatakan Anda harus segera mencari tahu tetang orang dalam daftar." tambah Carlos.


Winter membuka lembaran kertas yang terlipat dan membaca. Mata Winter melebar melihat nama yang Sebastian yang tak asing baginya. Winter lantas mengambil buku harian mendiang Ayahnya dalam laci dan membuka cepat lembar halaman yang membahas tentang Sebastian. Dan akhirnya Winter menemukamnya. Setelah membaca ulang buku catatan harian milik sang Ayah, barulah Winter mengerti. Betapa mengerikannya sosok Sebastian. Sampai-sampai dalam buku catatan, sang Ayah memperingatkannya untuk waspada dengan seseorang bernama 'Sebastian'.


"Kalau Ayah memperingatkan dengan keras sampai menuliskan dalam buku catatan hariannya, berarti orang itu sangatlah berbahaya." batin Winter.


"Cari tahu seseorang bernama sebastian ini, Carlos. Minta pesuruh khusus mengawasinya bila itu diperlukan. Orang ini bisa jadi adalah otak dari Baron Rosaro." kata Winter.


"Baik, Yang Mulia." jawab Carlos.


Winter tidak pernah membaca detail catatan harian yang dibuat mendiang Ayahnya. Nama sebastian itupun ia lihat secara tak sengaja. Namun, hari itu ia ingin lebih banyak tahu tetang sebastian, sehingga ia mau tak mau membaca buku catatan peninggalan Ayahnya. Dan Winter menemukan fakta mengejutkan, di mana Sebastian ternyata adalah Pamannya. Adik dari ibu yang berbeda dengan Ayahnya. Kakeknya sengaja menyembunyikan sosok Sebastian karena tidak ingin Permaisurinya marah dan menceraikannya, tetapi pada saat Kakek Winter sakit, Sebastian beserta pendukung justru melakukan pemberontakan. Beruntung Ayah Winter yang saat itu menjabat sebagai Putra Mahkota, sampai tepat waktu, sesaat sebelum Sebastian menaiki tahta dan mengenakan mahkota Kaisar.


"Sialan! pria ini ... " gumam Winter.


"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Carlos.


"Ini gila, Carl. Seseorang bernama Sebastian itu ternyata adalah Pamanku. Dia anak Kakek dengan wanita lain." kata Winter.


Carlos kaget, "Apa? maksudnya seseorang bernama Sebastian itu adalah anak di luar nikah mendiang Kaisar pertama?" Kata Carlos.

__ADS_1


"Ya, dalam catatan harian Ayahku tertulis seperti itu. Dia sempat melakukan pemberontakan saat Ayah masih menjadi putra mahkota." kata Winter.


Carlos mengerutkan dahi, "Hm ... jika saat itu, yang pasti saya dan Anda belum lahir ke dunia ini. Seseorang yang tahu detail kisah pemberontakan seharusnya ... ah, iya. Sudah pasti beliau." kata Carlos.


"Siapa?" tanya Winter.


"Siapa lagi, tentu saja Ayah Mertua Anda. Beliau kan Penyihir tingkat atas di kekaisaran. Beliau juga sempat ditunjuk sebagai Kepala akademi sihir, tapi karena kesehatan beliau tidak bagus, beliau menyerahkan posisi itu pada Adik ipar beliau. Ayah saya mungkin juga tahu, tapi Ands tahu sendiri, beliau tidak suka terlibat urusan politik." jawab Carlos menjelaskan.


Winter menganguk-anggukkan kepalanya. Ia berkata, jika ia harus menemui Ayah mertuanya guna memperjelas semuanya. Bagaimanapun ia harus tahu apa yang terjadi agar ia bisa menghadapi Sebastian si pemberontak.


***


Malam harinya. Seperti apa yang sudah Erick katakan sebelumnya. Ellena mengalami kejang dan rasa sakit yang luar biasa. Bahkan Dokter pun tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa melihat apa yang terjadi pada Ellena. Melihat putrinya mengerang kesakitan, membuat Erick ikut terseret rasa sakit. Hatinya serasa tercabik-cabik.


"Inilah yang aku takutkan. Melihatmu seperti ini sama seperti kau menerima hujaman seribu pedang. Aku tahu kau sedang sangat menahan diri saat ini, Putriku." batin Erick.


"Apa ini efek dari membuka segel yang anda katakan, Tuan?" tanya Dokter.


"Ya, Tuan. Saya akan pergi dan kembali esok pagi memeriksa keadaan Yang Mulia Permaisuri. Tolong Anda juga menjaga kesehatan. Anda tidak boleh terjaga semalaman," kata Dokter.


Erick menganggukkan kepala. Erick meminta Janette mengantar Dokter sampai ke depan rumah. Erick kembali memalingkan pandangan ke arah Ellena. Ia mendekat dan memegang tangan putrinya.


"Tubuhnya sangat dingin seperti es," batin Erick.


"Bertahanlah, Putriku. Ini tidak akan lama. Saat dini hari nanti, semua akan baik-baik saja. Kau bisa mendengar perkataan Ayah, kan?" Kata Erick.


Ellena menganggukkan kepala, "Ya, Ayah. Uhh ... mmm ... " jawab Ellena mengepalkan tangannya. Ellena menangis  menahan rasa sakit yang menyiksanya.

__ADS_1


Erick merasa bersalah, tapi ia juga tidak berdaya. Ia menunduk dan menunggui Ellena. Winter yang datang langsung bertanya apa yang terjadi pada Ellena. Kedatangan Winter pun mengejutkan Erick.


"Grand Duke ... tidak, maksud saya Ayah mertua. Apa yang terjadi? kenapa Ellena ... " tanya Winter.


"Oh, Yang Mulia." kata Erick.


Erick berdiri dan menghampiri Winter, "Saya akan jelaskan di luar. Mari ikut saya, Yang Mulia." ajak Erick.


"Ta-tapi ... " kata Winter menatap Ellena.


"Setelah kita bicara, Anda bisa menemani Ellena." kata Erick.


Winter mau tak mau mengikuti Erick pergi meninggalkan kamar Ellena. Meski sebenarnya hatinya berat. Melihat keadaab Ellena yang menurutnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


***


Winter masuk dalam kamar Ellena. Ia bertemu Janette. Melihat Winter sudah datang, Janette pun pamit undur diri. Winter mendemat dan mengusap wajah Ellena. Ellena yang memejamkan mata dan merintih kesakitab membuka sedikit matanya. Samar-samar Ellena melihat Winter.


"Wi-Winter ... mmm ...." gumam Ellena.


"Ya, ini aku. Pasti ini sangat sakit, kan? Berikan sakitmu padaku, Ellena. Berikan ... " kata Winter tidak tega melihat keadaan Ellena.


Winter yang sudah diberi penjelasan pun akhirnya mengerti apa yang terjadi pada Ellena. Erick juga sudah mengatakan, jika keadaan Ellena akan membaik dengan sendirinya saat memasuki dini hari. Tetap saja, meski akan membaik, baginya Ellena terlihat sangat menderita dan tersiksa sampai-sampai membuatnya marah karena tidak bisa melakukan apa-apa sebagai suami.


Ellena memegang tangan Winter, dan berkata kalau tangan Winter hangat. Mendengar kata-kata Ellena, Winter menjadi semakin putus asa.


"Bagaimana tubuhnya bisa sedingin ini? padahal dia sudah mengenakan tiga selimut tebal." batin Winter.

__ADS_1


"Hangat ... mmm ... hangat ... " gumam Ellena semakin erat memegang tangan Winter. Ellena terlihat nyaman saat tangan Winter menyentuh wajahnya.


Winter lantas terpikirkan sesuatu. Meski ia tak bisa mebgambil sebagian rasa sakit Ellena, tapi ia bisa menjadi penghangat Ellena. Winter naik ke tempat tidur dan memeluk Ellena. Winter benar-baner kaget saat memeluk tubuh Ellena. Ia serasa memeluk gumpalan salju beku.


__ADS_2