
Tiba-tiba ada yang datang menghampiri, dan langsung berdehem mengagetkan kami bertiga.
Saat aku menoleh, "eh Mas Rehan.., sudah makannya mas?" Tanyaku
"Sudah, ngapain kamu merhatiin cowok itu?" Rehan
"Gak ah mas, mereka nih yang merhatiin, aku mah jadi pendengar aja."
"Hemm.. , ya udah Mas duluan ya?" Rehan
"Iya mas.."
Setelah mas Rehan pergi.
"Sepertinya kak Rehan cemburu deh Mel?" Ucap Ipi.
"Hmm.. iya, biarin aja deh, kan aku emang gak merhatiin cowok lain. Itu kerjaan kalian kan? Hehehe.."
"Hmm.. iya kerjaan orang jomblo." Jawab Ipi
"Ngaku dia. Hahaha.." Ucap Sulis
"Sudah-sudah sesama jomblo jangan saling mengejek. Ups.. hehe" Ucapku, lalu aku melangkahkan kakiku pergi sejauh mungkin dari mereka. Hehehe
Ternyata mereka berlari menyusulku karena mereka juga sudah selesai makan. Kami meneruskan istirahat kami hanya dengan mengobrol dan sesekali aku membuka HP berharap ada pesan masuk dari mas Rehan.
Sudah 10 menit berlalu ternyata tak ada pesan masuk, mungkin mas Rehan masih marah pikirku. Jika aku mengirim pesan lebih dulu pasti dicuekin, jika minta maaf dulu, ntar dikira aku beneran merhatiin cowok lain. Akhirnya aku berniat membereskan masalah ini ketika pulang ke kosan.
Waktu istirahat habis, kami masuk kembali untuk melanjutkan pekerjaan kami.
Saat aku berpapasan dengan mas Rehan, dia melewatiku seolah-seolah tak melihatku.
Ya ampun, mas Rehan masih marah, cemburunya kekanak-kanakkan sekali sih. Keluhku dalam hati
__ADS_1
Tidak terasa waktu terasa begitu cepat berlalu, waktu pulang pun datang. Aku pulang bersama mas Rehan, namun sepanjang jalan tak ada pertanyaan ataupun jawaban darinya, ketika aku bertanya pun diabaikan. Hingga akhirnya aku menutup mulutku dan berharap bisa menyelesaikan ini di kosan.
Sesampainya di kosan, aku bergegas mandi karena tubuhku terasa lengket lalu ku ambil wudhu dan melaksanakan shalat ashar, sementara mas Rehan tidur di kasur yang sempit itu. Sungguh jelas sekali kalau mas Rehan menunjukkan kemarahannya, marah dalam diam.
Aku Pun bergegas menyiapkan makanan untuk makan malam nanti, ku bangunkan dia saat adzan magrib berkumandang.
Mas Rehan bangkit dan melaksanakan sholat magrib, aku memulai pembicaraan.
"Mas.. mas masih marah?"
"Hmm.. menurutmu dek? Ya gak pantes lah dek kamu udah nikah masa merhatiin cowok lain, kalau temen-temen kamu sih gak apa-apa kan mereka masih jomblo." Rehan
"Mas.. Mas itu salah paham, aku tau ko batasan aku mas. Aku harus menjaga pandanganku, aku gak berani lah merhatiin cowok lain, kan dosa."
"Bener..?" Rehan
"Iya mas." aku menghampirinya, menggenggam kedua tangannya, lalu ku kecup pipi kanannya.
Mas Rehan akhirnya luluh, dia mulai tersenyum, lalu kami makan malam bersama. Setelah selesai makan dan sholat isya kami pun menonton TV dengan santai.
"Iya.."
"Kenapa tadi nanggung banget ciumnya cuma pipi kanan aja dek. Hmm…" Ucap mas Rehan sambil menyodorkan pipi kirinya
Cup..
Ku kecup pipi kirinya, "Tuh.. udah ya kanan kiri" Ucapku
Dan ternyata mas Rehan malah menyodorkan bibirnya padaku, ya ampun, bilang aja minta jatah. Ucapku dalam hati
Dan benar saja, terus saja mas Rehan meminta lebih dan akhirnya terjadilah ibadah pernikahan yang berpahala itu. Sebagai tanda juga kalau kita sudah berbaikan.
Setelah pertarungan selesai, aku pun mengambil wudhu dan berniat tidur.
__ADS_1
Keesokan harinya aku terbangun saat alarm ku berbunyi, aku bergegas mandi dan sholat subuh, tak lupa aku membangunkan mas Rehan.
Karena hari ini hari minggu dan kami memang libur bekerja, aku mengajak mas Rehan untuk lari pagi menggunakan sepatu baru, membuatku tambah bersemangat.
Kami berlari pagi di sekitaran alun-alun, dan disana banyak penjual yang memang sengaja berdagang disitu setiap hari minggu.
"Wah… ramai yah mas?" Tanyaku sambil melirik berbagai pedagang makanan yang membuatku ngiler.
"Iya dek, kamu pasti mau beli cemilan banyak lagi. hemm.." Rehan
"Mas tau aja." Akupun berlari ke setiap pedagang makanan yang menggugah seleraku, memang lari pagi itu menyenangkan apalagi setelah selesai dan pulang membawa banyak makanan. Hehehehe…
Akhirnya aku mendapatkan 5 kantong dengan makanan berbeda, tentu saja dengan tingkat kepedasan yang lumayan, karena aku pecinta pedas.
Mas Rehan yang melihatku menenteng banyak makanan hanya menggelengkan kepalanya,
"Dek .. habiskan semuanya ya..! Mubazir kalau dibuang, dosa..!"
"Hehe.. tenang aja mas, kalau gak habis kan ada mas yang bantu menghabiskan."
"Hmm.. ko jadi mas yang tanggung jawab, gak mau ahh, jajanan kamu pedas semua. Mas mau beli minuman segar aja." Rehan
"Mas… ko gitu."
"Abisnya kamu dek, kalau liat jajanan tuh.. kayak anak kecil, semuanya dibeli.. hmm" Rehan
Kami pun pulang saat telah puas berjalan-jalan, ku bawa makanan ku dengan hati senang. Kami pulang dengan bergandengan tangan, jalan kaki sampai kosan.
Mas Rehan tiba-tiba berhenti, "Dek, lihat itu Desi kan..?"
***
Katakanlah kepada wanita yang percaya, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan perilakunya, dan merekalah yang memperlihatkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari Anda. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke belakang, dan janganlah perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menunjukkan objek agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan..” (QS. An-Nuur: 30-31)
__ADS_1
***
Bersambung…