
Hari berganti hari, Melisa mulai melupakan slip gaji itu, dia tidak menanyakan hal yang menurutnya ganjal itu.
Namun suatu hari suaminya belum pulang juga membuat dirinya merasa khawatir, " Biasanya mas Rehan akan pulang jam 4 sore tapi ini sudah jam 7 malam kenapa dia belum pulang ya?" Gumam Melisa pelan, bahkan kedua anaknya kini sudah terlelap.
Melisa menunggu dengan gelisah, dia memeriksa ponsel dan mencoba menghubungi Rehan, namun hasilnya nihil, ponsel Rehan sepertinya mati.
Melisa menghangatkan lauk pauk tadi siang, lauk yang masih utuh karena dia berniat makan bersama dengan sang suami, dia juga sekarang tidak bisa makan dalam keadaan cemas.
Kamu kemana mas? Batin Melisa.
Hingga jam kini menunjukan pukul 8 malam, terdengarlah suara motor milik Rehan, Melisa dengan berlari dia segera membuka pintu dan mendapati suaminya dalam keadaan kacau, tanpa salam tanpa bicara apapun Rehan langsung masuk dan menjatuhkan diri di atas sofa.
"Mas kamu kenapa?" Tanya Melisa bingung.
Tapi tak ada jawaban, Rehan terlihat frustasi, entah apa yang dialami namun itu membuat Melisa penasaran setengah mati.
"Mas kamu mau makan? Biar aku ambilin," ucap Melisa lagi, dia ingin mendengar suaminya itu berbicara sepatah kata saja, namun lagi-lagi suaminya diam.
"Mas, kamu ini bikin aku bingung tau gak? Kamu sebenernya kenapa? Kamu kan bisa cerita sama aku..!' ucap Melisa kesal, perasaannya kini bercampur aduk.
Terlihat Rehan bangkit, dia kemudian duduk, menatap Melisa dengan tatapan sedihnya, bahkan terlihat matanya berkaca-kaca seakan menahan tangis.
__ADS_1
"Dek, uang Mas hilang dibawa kabur sama teman, dan dia juga meninggalkan hutang yang banyak atas nama Mas," ucap Rehan.
"Apa, kok bisa Mas?" Tanya Melisa yang begitu kagetnya, dia merasa aneh kenapa bisa suaminya kehilangan uang sebegitu banyaknya, apa itu banyak? Padahal suaminya selalu mengaku tak punya uang dan mereka hidup hemat selama ini, untung hutang, kenapa juga Rehan bisa menjadi penanggung hutang temannya? Itulah yang ada dipikiran Melisa.
"Ceritanya panjang, Mas belum ingin cerita, Mas lagi merasa kacau," jawab Rehan kemudian tertunduk seperti orang linglung, ditanya beberapa kali oleh istrinya pun dia diam kembali tanpa jawaban.
Melisa kemudian memeluk suaminya itu, mencoba menguatkan Rehan, "Mas, uang itu hanya titipan dari Allah, kalau pun hilang itu berarti bukan rezeki kita, sudahlah Mas, bukankah kita sudah terbiasa hidup hemat, jangan memikirkan sesuatu yang bukan milik kita, Allah sudah mengambilnya melalui jalan teman Mas itu, ikhlaskan saja..!" Ucap Melisa pelan.
"Tapi uang itu banyak dek, berjuta-juta dan selama ini Mas simpan di bank, tapi entah mengapa Mas percaya pada teman Mas itu, memberikan kartu ATM Mas, dan dia mengambil semua uangnya lalu kabur," jawab Rehan lagi yang masih belum bisa ikhlas, tapi dia mulai mau bercerita.
Apa , berjuta-juta? Jadi selama ini Mas Rehan bohong , dia selalu bilang tidak punya uang, astaga… apakah ini seperti doa yang terkabul karena dia selalu bilang tidak punya uang makanya hilang? Benar-benar Mas Rehan ini, batin Melisa.
"Hmm, tetap saja Mas itu bukan rezeki kita, makanan yang sudah tertelanlah itu baru rezeki kita, bahkan kalau punya rumah pun suatu saat Allah akan mengambilnya jika mau, bisa saja rumah itu kebakaran atau runtuh, sudahlah Mas, ikhlaskan..!" Jawab Melisa lagi menasehatinya.
"Oke Mas bisa ikhlaskan, tapi dia juga meninggalkan hutang puluhan juta yang bahkan harus Mas tanggung, Mas gak sanggup Dek..!" Ucapnya lagi yang tak kalah mengejutkan dari kabar sebelumnya, puluhan juta itu tidaklah sedikit dengan gajih Rehan yang hanya beberapa juta.
"Kok bisa sih Mas?" Tanya Melisa dengan spontan karena kaget.
"Iya, Mas meminjamkan uang atas nama Mas tapi uang itu dipakai teman Mas, Mas terlalu percaya pada dia, Mas juga senang karena komisi yang didapat," jawabnya lagi.
Melisa benar-benar merasa ingin meluapkan emosinya, dia sejujurnya ingin marah pada suaminya itu yang pandai berbohong selama ini, dia tidak tahu bisnis suaminya yang riba dan haram itu, bahkan dia tidak tahu simpanan uang itu, tapi dia hanya tau saat uang itu telah hilang dan seakan suaminya hanya berbagi kesedihan dan kesengsaraan padanya.
__ADS_1
Seharusnya saat dia punya uang, dia bahagiakan istrinya, apa uangnya akan habis jika aku tahu? Padahal aku tidak seboros itu, mungkin Mas Rehan memang tidak percaya padaku, batin Melisa sangat kecewa namun sebisa mungkin tidak dia tunjukan pada Rehan.
Melisa berusaha menahan semua rasa gemuruh di dada, dia tidak mau ada pertengkaran hebat, dalam kondisi suaminya yang kacau, dia takut kalau akan terjadi KDRT jika dia menyalahkan Rehan atau suaminya malah semakin terpuruk dan melakukan hal nekat.
***
Hari berganti hari, kehidupan Melisa dan Rehan kini dihantui hutang, hidup mereka seakan tak jelas dengan hutang teman yang dibebankan pada suaminya itu.
Awalnya Rehan bersikeras tidak mau membayar hutang itu karena itu bukan hutangnya, namun beberapa orang yang menagih tentu tahu jika Rehan menggunakan data dirinya untuk berhutang, jadi mereka tentu menagih pada Rehan.
Rehan mulai frustasi, dia membiarkan hutang itu tanpa membayarnya karena memang gajinya tidak cukup untuk melunasi semua hutang itu.
Keadaan semakin kacau setelah Rehan pulang ke rumah dalam keadaan babak belur.
"Astaga Mas, kamu kenapa?, Biar aku kompres ya Mas," ucap Melisa.
"Mas gapapa Dek," ucap Rehan berlalu pergi ke kamar dan tidur, dia sepertinya tidak mau diganggu, Melisa pun tak bisa berbuat banyak, dia memilih membiarkan suaminya dan fokus pada kedua anaknya.
Ya Allah kuatkan lah hamba dan suami hamba..! ampunilah dosa kami ya Allah, semoga ada jalan keluar, batin Melisa dia berdoa di dalam sujudnya.
Bersambung….
__ADS_1