
"Emm.. sebenarnya sih mas, aku ingin mandiri dan membangun keluarga kecil kita, tapi jika itu yang terbaik aku ikut aja, untuk masalah kerja, aku akan berhenti saat tutup buku saja, biar gajinya pas gak ada gantungan."
"Iya dek, kita juga disini habisin tanggal aja.. kan sayang sudah dibayar kosan nya, makasih ya dek kamu memang pengertian," Ucap Mas Rehan sambil mengecup keningku.
Hari pindahan pun tiba, akhirnya aku tinggal di rumah mertuaku, sementara mertua menginap di Ruko agar tidak kecapean.
Aku yang tidak mudah bersosialisasi dengan orang lain, sangat merasa kesepian. Ditambah jarak yang jauh dengan pabrik membuat mas Rehan semakin kelelahan, belum lagi disini banyak teman bermainnya, hingga waktu untukku berkurang.
Aku begitu bersyukur diberikan kepercayaan oleh allah, saat usia kandunganku menginjak 2 bulan tiba-tiba aku merasakan mual muntah, selama seminggu penuh aku merasa pusing, tidak mau makan dan badan terasa lemah.
Sejenak aku mengingat,
"Ibuku dulu pasti berjuang sama sepertiku saat ini, terimakasih mah sudah kuat sampai melahirkanku dan merawatku, terkadang aku mengabaikan perintah mamah yang hanya sekedar menyuruhku pergi ke warung, aku bener-bener ngerasa bersalah, kini aku merasakan hamil itu seperti apa."
Tak terasa air mataku menetes, ingin rasanya kupeluk ibuku yang jauh disana.
Aku sungguh tersiksa dengan rasa pusing ku ditambah mual selama seminggu, jika bisa memilih, lebih baik aku merasakan sakit kepala saja yang masih bisa ku tahan.
"Nak.. jangan nakal ya..! Bantu ibu dong, mau makan ya.. jangan dimuntahin lagi!," Bujukku kala itu sambil mengelus perutku
Mas Rehan tahu jika aku mengalami mual muntah, tapi… ia hanya akan menanyakan keadaanku saja dan menawarkan untuk diantar ke dokter.
Aku merasa mas Rehan sedikit berubah, disini aku merasa asing, sementara buat mas Rehan ini adalah tempat kelahirannya, dia akrab dengan semua orang dan terkadang menghabiskan waktu bersama temannya untuk futsal atau makan nasi liwet bersama.
Entah itu benar, atau hanya perasaan seorang wanita hamil yang sensitif yang ingin diperhatikan, terkadang aku pun cemburu pada ibu mertuaku ketika mas Rehan harus menunggu Ruko sampai sore dan membiarkanku di rumah sendirian, astagfirullah.
__ADS_1
***
"Mas, mau kemana?"
"Mau main futsal dulu sama temen-temen, ini kan hari libur, boleh ya? Aku jenuh kalau libur diam dirumah." Mas Rehan
"Iya Mas, jangan pulang terlalu malam"
Sebenarnya ingin hatiku berkata jangan pergi, tapi aku tak mau mas Rehan marah padaku, jika bicara jenuh.. aku harusnya menjadi orang yang paling jenuh, seharian di rumah, dilingkungan yang baru, suami sibuk kerja dan ini itu, tapi ya sudahlah.. aku hanya bisa sabar.
Hari sudah gelap, bahkan jam sudah menunjukan pukul 10 malam, tapi mas Rehan belum pulang. Aku benar-benar mencemaskannya, tapi jika dia sengaja pulang telat karena keasyikan, itu sangat keterlaluan.
"Assalamu'alaikum" Rehan
"Wa'alaikumsalam" jawabku lalu menyambut dan mencium tangan mas Rehan.
"Oh iya, tadinya Mas mau main satu ronde tiba-tiba ditambah lagi, kamu sudah makan?" Rehan
Benarkan mas Rehan keasyikan main, sementara aku dibiarkan sendirian. Keluhku dalam hati
"Sudah Mas," Lalu ku langkahkan kaki menuju kamar dan berusaha tidur, ku tinggalkan mas Rehan yang masih di ruang tamu.
"Kamu kenapa dek?" Rehan
"Gak kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Tapi ko kayak yang marah sama mas." Rehan
"Habisnya mas baru pulang jam segini, tadi katanya gak akan lama dan gak pulang terlalu malam."
"Kali-kali lah dek, ini kan hari libur, aku tuh udah capek kerja, masa gak boleh futsal juga, kamu jangan ngatur-ngatur mas deh..!" Mas Rehan marah
Kenapa jadi dia yang marah. Keluhku dalam hati
Sudah 2 hari aku tak menegurnya, ku siapkan semua kebutuhannya, makanan, baju kerja dll. Tapi tanpa terucap satu kata pun dari mulutku.
Memang jika aku marah aku akan diam, tapi sayang mas Rehan tak peka, dia malah ikut-ikutan mogok bicara bukannya minta maaf.
Ketika malam tiba, kita tidur saling membelakangi, aku selalu kurang tidur karena kepikiran, tiap malam aku hanya pura-pura tidur dan menangis sembunyi-sembunyi, sementara mas Rehan sudah lelap dan terdengar suara dengkuran yang sangat keras.
Mas Rehan bisa-bisanya ia tidur tanpa beban, sementara aku tersiksa begini, huh.. apa semua laki-laki seperti itu, menyebalkan. keluhku dalam hati.
Hingga di titik dimana aku lelah, aku pun mengalah mencoba bertanya dan melupakan pertengkaran kami.
Mas Rehan pun sepertinya bersikap biasa lagi, tanpa ada kata maaf dari mulutnya, padahal aku hanya perlu satu kata "MAAF".
Aku juga mengerti jika bekerja itu melelahkan, bukankah aku juga pernah bekerja, Aku pasti merasakannya, hanya saja aku ingin dia jangan terlalu sibuk dengan dunianya dan melupakan perhatiannya padaku.
Aku memperbolehkannya berbaur, main bersama teman-temannya tapi tau waktu saja sih, aku pun tidak akan mempermasalahkannya. Tapi kenapa seakan aku yang egois.
"Ibu sedih nak.. tapi ibu gak sendirian, ibu punya kamu, nanti kalau kamu lahir, kamu harus selalu nemenin ibu, jangan biarkan ibu kesepian seperti ini nak, ibu bener-bener merasa sendirian."
__ADS_1
Tangisanku pun pecah di tengah malam, sendirian, kini aku merindukan kedua orang tuaku dan adik-adikku di kota B.
Bersambung...