Menyembunyikan Status Sah

Menyembunyikan Status Sah
Kembali


__ADS_3

Melisa melihat jika suaminya datang sendirian tanpa Andea yang juga sangat dirindukan.


"Dek, Mas nya gak disuruh masuk?" Tanya Rehan pada istrinya yang malah melamun itu.


”Oh iya, masuk Mas…! Pasti Mas capek banget perjalanan luar kota pake motor." Melisa


Hari itu Raihan menginap dirumah mertuanya selama satu malam saja, dia berniat pulang besok siang karena dia hanya mengambil cuti 2 hari kerja saja.


Melisa pun harus memahami keadaan suaminya yang memang tidak bisa libur sesuka hati.


*


*


*


Setelah sarapan, Melisa memberanikan diri menanyakan hal tentang Dea.


”Gimana kabar Dea Mas? Dia sehat, Mamah juga sehat kan?" Melisa


"Alhamdulillah baik kok Dek." Rehan


"Mas… kenapa Andea gak dibawa kemari? Aku benar- benar kangen loh sama dia," tanya Melisa dengan mata yang berkaca-kaca.


Ibu itu begitu merindukan anak perempuan yang manja yang selalu menempel padanya, apa apa selalu minta bantuan dirinya, dengan suaranya yang cadel nan menggaskan.


Ibu, pengen pipis.


Ibu, aku lapel.


Ibu, pengen itu, pengen emen.


Ibu, aku Atit pelut.


Dan banyak lagi celotehan-celotehan lucu yang diucapkan Andea yang terngiang-ngiang di telinga wanita itu.


"Sudahlah Dek, dia kan masih kecil susah bawanya." Rehan


"Kamu kan bisa Mas, kesininya bareng sama saudara biar ada yang megangin Dea, aku… hmm sudahlah gapapa Mas," Melisa tidak mau bersikap keras, dia tidak mau kalau malah membuatnya bertengkar dengan suaminya.


"Gak bisa Dek, gak enak lah nyuruh saudara ikut, kamu tenang aja..! Dea baik-baik aja kok," ucap Rehan sambil memeluk istrinya.


Rehan mengerti jika istrinya itu merindukan anaknya, namun dia tidak mau kalau dia dibuat kerepotan saat diperjalanan.

__ADS_1


Siang itu Rehan pamit untuk kembali ke kota A, dia menitipkan uang untuk persiapan persalinan istrinya, juga untuk kebutuhannya sehari-hari.


"Maaf ya Dek, usahakan kamu menghemat pengeluaran karena Mas kesulitan membagi uang gaji untuk kita di dua tempat yang berbeda yang terpisah seperti ini." Rehan


"Iya Mas… ," jawab Melisa lalu mencium punggung suaminya yang akan pulang kembali.


Melisa memperhatikan motor itu sampai tidak terlihat lagi olehnya, dia pun masuk kembali kedalam rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya.


*


*


*


Melisa mulai berpikir untuk memakan buah durian, buah yang bisa memicu kontraksi.


Namun dia berpikir kembali, dia takut bayinya kenapa-kenapa. Dia selalu berdoa untuk meminta disegerakan persalinannya, lancar dan selamat, dia selalu berjalan di pagi hari agar kakinya tidak bengkak karena kehamilannya.


Saat siang hari wanita itu mendapati bercak darah dan lendir, Melisa tersenyum senang.


"Akhirnya, ada tanda-tandanya juga, tapi kok belum mules ya?" Ucap Melisa sambil mengelus-ngelus perutnya.


"Kenapa Mel?" Tanya Bu Tina.


"Tunggu aja bentar lagi Mel, mudah-mudahan prosesnya cepat dan selamat, Aamiin…" Bu Tina


"Aamiin, makasih Mah." Melisa


Saat perutnya mulai mules, Melisa masih bisa tersenyum, dia sudah tidak sabar menantikan kelahiran sang buah hati, perutnya juga sudah besar sekali, rasanya berat.


Saat perutnya semakin sakit, dia yang sudah berpengalaman itu tidak panik sama sekali.


"Ah ini pasti baru pembukaan dua, masih bisa ditahan," Gumamnya pelan.


"Kak, aku antar ke bidan oke? Ayo kak..!" Fitri


"Hmm, boleh.. kakak mau periksa dulu sudah pembukaan berapa, tapi ini masih bisa ditahan kok." Melisa


Mereka pun berjalan kaki menuju rumah Bidan yang tak jauh dari sana, Melisa berjalan sambil meringis saat ras amulas itu melanda, ya mulas yang hilang timbul itu.


"Baru pembukaan dua Bu, bisa pulang dulu, atau menunggu disini sampai pembukaan lengkap." Bu Bidan


"Saya pulang saja dulu Bu, biasanya dari pembukaan dua ke sepuluh lumayan lama.hmm… " Melisa

__ADS_1


Melisa pun pulang untuk makan terlebih dahulu, dia makan cemilan saja karena dia sudah tidak nafsu makan nasi lagi, perutnya sudah mulas namun dia sadar kalau proses melahirkan perlu tenaga.


Melisa kembali ke klinik Bidan saat hari sudah gelap, dia ditemani keluarganya, Fitri lah yang memberi kabar pada kakak iparnya (Rehan). Melisa sudah merasa kewalahan dengan rasa sakit diperutnya.


Dia menunggu di klinik, dia mencoba melakukan berbagai macam cara agar pembukaan persalinannya itu bisa berjalan cepat.


Dia mencoba berjalan kaki di sekitar klinik, dia sudah merasakan sakit yang luar biasa, namun dia tahu kalau itu bukanlah ******* dari rasa sakitnya, dia tahu, karena dia pernah melahirkan sebelumnya.


Bu Tina yang tidak sanggup melihat anak sulungnya kesakitan saat melahirkan, Bu Tina memilih melihat dari jauh, sementara yang menemani Melisa adalah adiknya yang ke 2. Adiknya itu sudah menikah dan melahirkan, hingga tahu bagaimana cara mengatasi Masalah kakaknya itu, adiknya menikah diusia muda saat berusia 18 tahun.


Hingga tangisan bayi yang nyaring itu mampu membuat semua orang mengucapkan rasa syukurnya tak terkecuali Melisa.


"Alhamdulillah…" Melisa


Dia tersenyum memandang wajah anak keduanya yang mirip sekali dengan Dea, ya … jenis kelaminnya pun perempuan.


Melisa tidak mau berlama-lama di kota A dan merepotkan orang tuanya, dia berpikir untuk secepatnya kembali ke kota B.


Waktu berjalan begitu lambat bagi Melisa, namun akhirnya dia bisa melewati masa pemulihannya, kini dia usia bayinya genap 40 hari. Melisa merasa kehamilan keduanya itu sangat berat karena harus banyak bersabar dengan keadaan yang bahkan memisahkannya dengan anak pertamanya.


Melisa membuka pesan yang masuk ke ponselnya.


(Sayang, kapan pulang?) Rehan


(Insyaallah beberapa hari lagi Mas.) Melisa


(Kita jadi ngontrak ya Dek, soalnya Mamah pindah lagi ke rumah ini, ruko nya sudah tidak ditempati, katanya mau jualan di depan rumah aja biar gak ada biaya sewa ruko.) Rehan 


(Iya Mas, kan aku memang maunya kita mandiri.) Melisa


(Apa kamu bisa Dek, jagain dua anak sekaligus, apalagi masih kecil-kecil?) Rehan


(Insyaallah bisa Mas, mengurus bayi yang masih merah pun aku sudah bisa karena sudah berpengalaman juga Mas, soal Keisha Mas gak usah khawatir, aku bisa kok ngurusin dia. ) Melisa


(Syukurlah, tapi Mas udah bilang sebelumnya kan kalau kamu harus lebih menghemat Dek, kamu mau? ) Rehan


(Iya Mas, aku pasti lebih nyaman dikontrakan, gapapa kalau aku harus menghemat jika memang uang Mas gak cukup.) Melisa


Hingga waktunya pun tiba, Rehan sudah menyiapkan semuanya, sehingga Melisa bisa langsung menempati tempat baru.


Saat Melisa tiba disana bersama rombongan keluarganya, mereka memberhentikan mobilnya di rumah Bu Maryam terlebih dahulu, Keisha digendong oleh Bu Tina, sementara Melisa berlari karena dia tidak sabar ingin bertemu Andea yang sudah tidak ia temui selama 3 bulan lebih itu.


Namun Melisa harus menelan rasa kecewa.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2