
Bu Yusi yang semakin emosi membuat sebagian orang khawatir apalagi Melisa sedang hamil, jika terjatuh sedikit saja akan membahayakan janin.
"Mah, tutah, emen, pengen emen." Dea
Bahkan keluhan anak kecil itu tak terdengar oleh semua orang.
Dea menatap ibunya, menarik baju Melisa agar ibunya itu memperhatikan anaknya.
Itu berhasil membuat Melisa ingat kalau ada Dea disana, astaga kenapa aku tersulut emosi juga?
Melisa menggendong anaknya lalu pergi meninggalkan bu Yusi yang berteriak terus menerus, "Kemari kau! Bilang aja takut!"
Wanita itu segera masuk ke dalam rumah, sebentar lagi adzan magrib berkumandang. Dia bahkan lupa membeli pampers untuk Dea, haruskah dia kembali ke warung nanti malam?
Wanita itu membiarkan Dea bermain dengan mainannya bahkan mengacak-ngacak mainan itu, sementara Melisa mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah 3 rakaat itu.
Dia merasa bersalah karena ikut tersulut emosi, dia seharusnya bisa lebih bersabar menghadapi wanita yang lebih tua darinya.
"Astagfirullahaladzim…." Melisa
Kemudian dia mengaji selama Dea masih asyik bermain, dia ingin menenangkan hatinya yang sempat dikuasai amarah tadi.
Ingin rasanya aku pindah saja dari sini. Keluh Melisa
Dea yang asyik bermain ternyata sampai ketiduran, Melisa pun merapikan tempat tidur, memasang beberapa kain yang ditumpuk untuk tidur Dea takut dia mengompol malam, Melisa sudah tidak ingin kembali ke warung lagi apa lagi ini sudah malam dan harus meninggalkan Dea tertidur di rumah sendirian.
Melisa menunggu Rehan sambil menonton televisi, dia ingin membicarakan apa yang diinginkannya. Sampai-sampai Melisa ketiduran di sofa karena terlalu lama menunggu suaminya pulang.
Ceklek
"Assalamu'alaikum…" Rehan
Lelaki itu melihat istrinya tertidur di sofa dengan badan terlentang, sofa yang digunakan Melisa memang sofa yang panjang, muat untuk badannya.
Rehan yang tak kuasa membangunkan istrinya itu, dia terlebih dahulu menyimpan tas dan mengganti pakaiannya, lalu dia bergegas makan.
"Istriku belum bangun juga? Dia mungkin terlalu lelah apalagi menjaga Dea disaat dia hamil muda." Rehan
Rehan membopong istrinya itu berniat memindahkannya ke dalam kamar. Namun alangkah terkejutnya Rehan saat tiba-tiba istrinya itu bangun dan lepas dari pangkuannya.
"Astagfirullah, untung kamu tidak jatuh Dek." Rehan
"Mas, udah pulang? Aku kok baru tahu." Melisa
"Iyalah baru tahu, dari tadi kamu tidur sambil ngorok, hehe.." Rehan
__ADS_1
"Mana ada Mas, aku gak pernah ngorok, ada juga kamu Mas setiap malam berisik," protes Melisa lalu dia duduk disofa.
"Hmm, kamu pikir Mas bohong? Oke nanti Mas videoin." Rehan
"Mas…." Melisa
"Kenapa Dek?" Rehan
"Aku ingin pindah dari sini, ngontrak di tempat lain Mas." Melisa
"Hmm, gimana ya? Mas masih bingung karena kamu kan mau lahiran kalau ngontrak pasti biayanya bertambah, tapi kalau disini terus kamu pasti stress dengan tetangga yang kurang kerjaan." Rehan
"Memangnya Mas tahu kelakuan tetangga yang kurang kerjaan itu seperti apa?" Melisa
"Ya begitu Dek, kurang kerjaan jadinya ngomongin orang, ngegosip yang non faedah, malah nyakitin perasaan orang lain." Rehan
"Iya akhirnya Mas tahu, jadi gimana dong, mau ya Mas?" Melisa
"Pasti mau lah kalau dipijitin kamu Dek, hehehe…" Rehan
"Mas…… ," keluh Melisa.
Rehan malah bercanda saat Melisa mengajaknya berbicara serius, membuat Melisa menjadi kesal.
Namun akhirnya wanita itu memijat suaminya berharap Rehan mengabulkan apa yang diinginkannya.
"Mas…. Malah tidur sih?" Melisa
Melisa akhirnya menyerah, dia kembali ke kamar lain untuk melihat Andea dan menemani anaknya tidur.
***
Saat pagi datang, pasangan suami istri itu begitu kompak mengangkat kasur busa yang kena pipis Andea, karena tidak memakai pampers mereka harus menjemur kasur yang basah dan bau ompol itu.
"Kok bisa sih Dek anak kita ngompol di kasur? Biasanya juga enggak kan?" Rehan
"Itu, aku kehabisan pampers Mas." Melisa
"Emm, ya udah kita beli aja yuk..! Ke supermarket sekalian jalan-jalan." Rehan
"Ayo Mas." Melisa
Aku sepertinya memang memerlukan hiburan. Pikir Melisa
Melisa juga sedang tidak ingin mengingat atau memberitahukan masalah semalam pada Rehan. Wanita itu lebih memilih memperbaiki mood nya yang jelek, dengan jalan-jalan.
__ADS_1
Sesampainya disana, Dea begitu senang saat dia dibawa bermain mandi bola, masa-masa dimana dia penasaran dengan semua hal yang baru.
Melisa menemani Dea bermain, sementara Rehan berbelanja untuk kebutuhan di rumah. Menurut Melisa, tak perlu dia liburan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, cukup dengan begitu mood nya menjadi lebih baik karena bahagia menurutnya itu simpel.
"Mas cepetan!" Melisa
"Bentar Dek, kamu kok gak sabaran banget sih, memangnya kamu mau apa? Kalau mau pipis ya tinggal ke toilet aja dulu!" Rehan
"Bukan Mas, tapi kasur kan belum diangkat, lihat deh Mas, udah mendung begini," keluh Melisa.
"Astagfirullah, Mas baru ingat. Gimana kalau sampai kehujanan?" Rehan
Rehan ikut merasa khawatir, dia tidak mau kasur yang niatnya dikeringkan malah jadi basah kuyup.
"Mas, Jangan ngebut, hati-hati Mas ada 4 nyawa disini!" Melisa
"Tiga Dek." Rehan
"Sama Dede utun Mas, pelan-pelan aja..!" Melisa
"Oh iya, tapi kasurnya gimana Dek?" Rehan
"Pasrah aja lah Mas, bisa beli lagi kan? Dari pada nyawa yang melayang, hmm.." Melisa
Rehan tak tahu harus menjawab apa lagi, dia bisa sampai lupa dengan kasur yang dijemur dan dia malah keasyikan bermain disana.
Untunglah tepat waktu, setelah kasur masuk kerumah, hujan pun turun begitu derasnya.
"Alhamdulillah…" Rehan dan Melisa.
"Mah, andi ola lagi ..!" Dea
"Iya besok ya sayang.." Melisa
Bahasa Dea memang cuma bisa dimengerti ibunya. Pikir Rehan
Andea pun tertidur, sepertinya dia kelelahan, sementara hujan membuat dua pasang suami istri itu menginginkan kehangatan, mereka membuat dua mangkuk mie instan sambil ngobrol.
"Mas gimana masalah pindahan?" Melisa
"Hmm, kamu kan mau lahiran, kita harus menabung, kalau kamu tetap mau ngontrak, ya kamu harus siap lebih menghemat uang belanja harian untuk membayar uang kontrakan." Rehan
Deg
Gimana ini? Padahal segini aja udah pas, udah hemat. Pikir Melisa
__ADS_1
Bersambung....